
Marcella terus menatap Zidane yang sejak tadi mengatakan bahwa dirinya sengaja membuat Zidane cemburu terhadapnya.
" Aku tidak melakukan hal itu!" ucap Marcella sambil menoleh ke jendela.
" Terus kenapa kau sekarang tidak berani menatapku?" tanya Zidane lagi.
Mendengar pertanyaan dari Zidane. Marcella hanya bisa memutar bola matanya dengan malas.
" Sudah katakan saja. Kau sebenarnya mau memberikanku makan atau tidak? Kalau tidak aku akan turun dari sini dan pergi mencari makanan untuk diriku sendiri!" ucap Marcella kesal sekali.
" Bisa nggak sih? Penyakit narsis kamu tuh dihilangin sedikit?" tanya Marcella dengan Jengah sambil menatap malas kepada Zidane.
" Aku layak kok untuk narsis kan aku memiliki kualitas itu!" ucap Zidane dengan penuh percaya diri.
" Tetapi hati-hati kalau jatuh pasti terasa sakit!" ucap Marcella.
" Sekali lagi kau mau mengolok-olok aku. Aku pasti akan memberikan hukuman untukmu!" ucap Zidane sambil menatap kepada Marcella.
Marcella membulatkan matanya dengan sempurna ketika dia mendengarkan kata hukuman yang dikatakan oleh Zidane dengan begitu fasih.
" Hukuman apa yang kau maksud?" katanya Marcella mengambil menatap Zidane dengan perasaan terancam.
" Sudah pasang sabuk pengamanmu. Aku akan membawamu ke sebuah restoran yang pasti akan kau sukai!" ucap Zidane kemudian dia mulai menstarter mobilnya dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan stabil.
" Wah keren juga gaya naik mobilmu!" ucap Marcella memuji calon suaminya.
" Bukankah sama orang naik mobil seperti ini? OMG! Kalau ada saja!" ucap Zidan sambil mengelus kepala Marcella yang menggunakan hijab.
" Ibumu menggunakan cadar. Kenapa kau tidak menggunakannya juga?" tanya Zidane.
" Tidak apa-apa aku hanya belum siap saja untuk menggunakannya!" ucap Marcella.
" Kenapa?"
__ADS_1
" Gak kenapa-napa! Hanya belum siap aja!" ucap Marcella.
Karena mengantuk tampak Marcella yang terus menguap sejak tadi.
" Kalau Kau sudah mengantuk tidurlah nanti begitu sampai di restoran aku akan membangunkanmu!" ucap Zidane.
" Tidak mau! Bagaimana kalau ketika aku tidur kau melakukan hal aneh-aneh padaku?" ucap Marcella dengan tatapan horornya sehingga membuat Zidan tertawa terpingkal-pingkal.
" Apa yang lucu?" tanya Marcella.
" Apa kok tahu? Sejak pertama bertemu denganmu sampai saat ini. Aku telah banyak tertawa. Hahahaha! Padahal tadi, ketika aku datang ke sini hatiku sangat kalut dan ingin sekali menangis guling-guling !" ucap Zidane mengungkapkan perasaannya saat ini.
" Ya ampun kau sudah sebesar ini masih ingin nangis guling-guling?" tanya Marcella keheranan.
" Aku bilang kan ingin! Itu belum tentu aku benar-benar ingin melakukannya!" ucap Zidan tidak mau mengalah kepada Marcella yang sejak tadi terus menertawakannya.
" Ya udah tidak apa-apa kalau kau tidak mau tidur. Bagus juga kalau kau bisa menemaniku agar tidak terlalu sepi dalam perjalanan!" ucap Zidane sambil mengulas senyum kepada Marcella yang terus menguap dan mengantuk sejak tadi.
" Sabarlah sebentar. Setelah kita sampai di restoran. Kau bisa mencuci mukamu jadi tidak terlalu mengantuk!" ucap Zidane kepada Marcella.
Ketika Zidane menatap kepada Marcella ternyata Marcella sudah terlelap dalam tidurnya.
" Ya ampun dia benar-benar menggemaskan!" ucap Zidane sambil mengelus pipi Marcella.
" Aku rasa akan sangat mudah untukku untuk jatuh cinta kepadanya!" ucap Zidane sambil fokus menyetir.
" Ya ampun ini bocah! Minta dianterin ke rumahnya, tetapi dia malah tidur. Aku kan tidak tahu di mana alamat Om Dipta! Sudah sangat lama sejak terakhir kali aku mengunjungi rumah mereka dan aku sudah lupa di mana itu!" ucap sedan sambil mengelus tangan Marcella yang sekarang dia taruh di atas pangkuannya.
Sementara tangan satunya dia gunakan untuk mengendalikan setir mobil.
" Aku akan menelpon mama aja untuk menanyakan alamatnya!" kemudian Zidane langsung menghentikan mobilnya agar dia bisa menelpon ibunya.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mama Di manakah rumah Om Dipta?" tanya Zidane kepada ibunya yang tampaknya masih berada di bioskop karena terdengar suara film yang sedang diputar.
__ADS_1
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" ucap Shella menjawab salam anaknya.
" Kenapa kau tiba-tiba menanyakan alamat Om Dipta?" tanya Sheilla heran.
" Zidane saat ini sedang bersama dengan Marcella tetapi dia malah tidur. Jadi Zidane berencana untuk mengantarkannya ke kediaman Om Dipta." ucap Zidane menjelaskan kepada ibunya yang sekarang masih menonton bersama dengan Dipta dan juga Kinan beserta suaminya.
Sheila kemudian menyebutkan alamat Dipta yang letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman mereka berdua.
" Ya udah terima kasih ya mah! Zidane akan langsung ke sana!" ucap Zidane kemudian berpamitan kepada ibunya.
" Siapa sayang?" tanya Bima kepada Sheilla.
" Zidane Dia menanyakan alamatnya Dipta karena mau mengantarkan Marcella yang katanya tertidur di mobilnya." ucap Sheilla menjelaskan kepada Bima.
" Ayo kita sekarang pulang. Kita tidak bisa membiarkan mereka berduaan saja di rumah! Kita harus selalu waspada dan jangan membiarkan mereka sampai melampaui batas keharusan sebelum mereka berdua menikah!" ucap Kinan sudah bersiap untuk meninggalkan bioskop.
" Tenanglah Mah! Papa percaya kau dengan Zidane!" ucap devta sambil menarik tangan istrinya yang sudah bersiap untuk meninggalkan bioskop.
" Nggak bisa pokoknya! Ayo kita harus pulang sekarang Pah! Mama Pokoknya nggak tenang kalau membiarkan mereka berduaan saja di rumah! Akan banyak fitnah di dalamnya!" ucap Kinan tetap bersikeras untuk segera pulang dan tidak membiarkan Zidane dan Marcella berduaan di dalam rumah mereka sebelum resmi menikah.
' Ya Allah sungguh beruntungnya Zidane yang memiliki seorang istri seperti Marcella yang dijaga benar-benar oleh kedua orang tuanya. Semoga pernikahan mereka akan lancar dan juga bahagia suatu saat nanti!' batin Marcella ketika dia melihat Kinan yang bersikeras untuk segera pulang dari bioskop karena harus mengawasi Zidane dan Marcella di rumahnya.
" Bukankah di rumah ada Shello? Sudahlah Mah! Mama tenang saja. Mama percayalah bahwa tidak mungkin Bima mendidik anaknya untuk menjadi pria brengsek?" ucap Dipta berusaha untuk membujuk istrinya agar mau melanjutkan nonton film yang saat ini sedang seru-serunya.
" Papa nih kebiasaan sekali. Sukanya kayak begitu lebih mengutamakan hal yang lain daripada anaknya sendiri. Ya sudah Mama pulang saja sendiri naik taksi?" Kinan kemudian memutuskan untuk meninggalkan suaminya dan juga dua sahabat di bioskop itu.
" Ayo Dipta kita pulang saja jangan sampai nanti istrimu berpikiran negatif tentang putraku!" ucap Bima akhirnya mengalah dan bersiap untuk meninggalkan bioskop.
" Tapi ini filmnya lagi seru loh dan sebentar lagi selesai. Tunggulah sebentar!" Dita berusaha untuk bernegosiasi dengan istrinya agar bisa menunggunya untuk menyelesaikan film yang saat ini sedang dia tonton.
" Ya sudah Mas! Nikmati saja filmmu dan biarkan aku pulang dengan naik taksi. Aku tidak mau sampai anakku melakukan hal yang tidak seharusnya bersama dengan tunangan dia!" Kinan pun kemudian langsung meninggalkan suaminya yang tampak masih bengong di tempat melihat reaksi dan ekspresi Kinan yang luar biasa.
" Tampaknya istrimu sangat melindungi Putri kalian berdua. Aku sangat beruntung karena akan menjadi mertua dari seorang anak yang dijaga betul-betul oleh kedua orang tuanya dari pergaulan yang jelek.
__ADS_1