Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
220. Berusaha Membujuk


__ADS_3

Raffi tampak masuk ke dalam rumah mertuanya. Dia mencari keberadaan Dinda sang istri.


" Rehan, di mana Dinda?" tanya Raffi kepada sahabatnya yang kebetulan sedang duduk di taman seorang diri.


" Tadi aku lihat dia masuk ke dalam kamarnya dengan menangis. Cobalah kau cari di kamarnya. Apakah kalian lagi ada masalah?" tanya Rehan merasa penasaran.


Raffi mendudukkan pantatnya di kursi yang ada di hadapan Rehan.


" Semuanya gara-gara Elena. Dia datang ke rumahku dengan menunjukkan sebuah video pernikahan yang Aku pun tidak tahu video apa itu. Elena mengklaim bahwa laki-laki di dalam video itu adalah aku dan dia yang sedang melaksanakan pernikahan. Aku sudah berusaha untuk menjelaskan kepada Dinda, tetapi Dinda tidak mau percaya dengan apa yang kau katakan kepadanya!" ucap Raffi bercerita kepada sahabatnya.


" Aku juga belum mendengar cerita apa-apa sih dari Dinda. Karena tadi ketika dia datang ke rumah ini, dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Coba kau temui saja di dalam kamar dan bicarakan baik-baik. Semua masalah pasti ada penyelesaiannya!" bocah Rehan sambil tersenyum kepada Raffi yang terlihat sangat stress dengan masalah yang ada di dalam rumah tangganya.


Bagaimana dia tidak stres? Baru dia mulai menerima pernikahannya bersama Dinda. Baru dia mulai merasa nyaman, tiba-tiba saja rumah tangganya langsung diterjang prahara yang begitu besar.


" Tolong bantu aku bro! Aku takut kalau Dinda tidak mau mendengarkan penjelasanku." bocah Raffi sambil menatap sahabatnya.


" Iya tenang saja aku pasti akan berusaha untuk membantumu. ke sana temui saja aku yakin kok kalau Dinda pasti bisa berpikir secara logis dan tidak mungkin dia percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Elena. Mungkin Dinda pergi ke sini hanya untuk menenangkan diri saja. Kau tidak usah khawatir. Keluargaku bukanlah keluarga Barbar yang selalu bertindak tanpa berpikir dulu!" ucap Rehan berusaha untuk menyemangati sahabatnya.

__ADS_1


" Baiklah aku akan ke rumah kamar Dinda dulu. Semoga saja dia mau mendengarkan apa yang aku katakan!" Raffi kemudian masuk ke dalam kamarnya Dinda yang kebetulan tidak dikunci oleh pemiliknya.


Raffi merasa terenyuh ketika mendapatkan sang istri yang sedang meringkuk di atas keranjangnya. Bekas air mata tampak mengering di kelopak matanya yang teduh.


" Maafkan aku sayang. Kalau sudah membuatmu menjadi menderita seperti ini. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menjelaskannya kepadamu. Kalau laki-laki yang ada di dalam video itu memang benar-benar bukan aku! Aku juga tidak tahu bagaimana caranya Elena membuat video semacam itu, yang seakan-akan aku menikahinya. Bukankah selama ini aku selalu bersamamu ke manapun? Lalu kapan aku mempunyai waktu untuk menikah dengan Elena?" tanya Raffi dengan putus asa sambil mengelus rambut panjang Dinda yang tergerai saat ini.


Dinda yang sebenarnya tidak tidur, dia terisak di dalam diamnya. Dinda hanya sedang berpura-pura tidur. Karena dia ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh suaminya terhadap dirinya ketika dia tidur.


" Aku tidak mengerti! Kenapa tiba-tiba ada cobaan semacam ini. Ketika aku sudah sekuat tenaga berusaha untuk menjalani pernikahan kita berdua. Ketika aku sudah mulai Ikhlas untuk menerima pernikahan kita. Tiba-tiba saja datang sebuah prahara yang menghancurkan semua mimpi kita!" ucap Raffi dengan bergetar karena suaranya yang tersekat di tenggorokan menahan kesedihan hatinya yang teramat dalam.


" Aku tidak mengerti. Apa yang sudah aku lakukan di masa lalu kepada Elena. Sehingga dia menjadi menggila seperti itu dalam memperjuangkan cintanya padaku. Padahal seingatku, aku tidak pernah memberikan harapan apapun kepadanya. Ketika dulu kami sama-sama kuliah di Mesir!" tanpa terasa air mata sudah berderai di kelopak mata Raffi.


" Demi Allah laki-laki itu bukan saya karena saya tidak pernah merasa menikah dengan dia!" ucap Raffi berusaha untuk meyakinkan sang istri yang tampak sembab matanya.


" Bagaimana caranya kau membuktikan kalau laki-laki itu bukan kamu?" tanya Dinda lagi.


" Aku pun tidak tahu bagaimana cara membuktikannya. Karena aku pun tidak mengerti masalah apa yang sedang ditimpakan oleh Elena kepadaku. Tolong kau percaya padaku, please! Aku hanya meminta itu darimu!" ucap Raffi sambil menggenggam tangan Dinda dengan tulus.

__ADS_1


" Hatiku ingin percaya bahwa laki-laki itu memang benar-benar bukan Kamu, Mas. Akan tetapi, melihat Elena yang menggila seperti itu rasanya aku pun tidak tega." ucap Dinda sambil menatap sang suami.


" Apakah kau tidak berpikir untuk berpoligami ungkin Mas bisa menikahi Erena agar bisa menghentikan semua kegilaan dia dalam mengganggu rumah tangga kita!" ucap Dinda sambil menatap tajam kepada suaminya yang langsung membolehkan mata karena terkejut.


" Aku tidak ingin berpoligami. Lagi pula aku tidak pernah mencintai Elena. Kalau aku memang mencintainya aku dulu pasti akan melamarnya ketika dia berkali-kali datang menyatakan cinta padaku!" ucap Raffi dengan penuh keseriusan.


" Kalau begitu, kenapa Elena bisa berbuat senekat itu, kalau Mas dulu tidak pernah memberikan harapan apapun kepadanya?" tanya Dinda dengan mata sayu.


Raffi merasa senang karena sekarang Dinda sudah mulai bisa diajak komunikasi lagi.


" Aku benar-benar tidak tahu. Kenapa dia bisa melakukan hal-hal yang di luar nalar. Hal-hal yang bahkan tidak pernah bisa ku pikirkan!" ucap Raffi sambil meraup wajahnya dengan kasar Dinda bisa melihat betapa prestasi sang suami dalam menghadapi masalah itu.


" Bagaimana kalau kita berdua tinggal di sini Mas? Hanya untuk sementara waktu. Untuk menghindari Elena yang terus mengejarmu. Aku yakin pasti Elena tidak mengetahui alamat rumah ini, bukan?" tanya Dinda kepada suaminya.


" Tapi aku malu kepada kedua orang tuamu. Kalau harus menumpang hidup bersama mereka. Begini saja, lebih baik kita tinggal di salah satu restoran milikku. Nanti kau tinggal pilih saja mau tinggal di mana, aku akan mengikutimu. Nanti aku akan mengajakmu berkeliling ke restoran ataupun usahaku yang lain. Kau pilihlah kita akan tinggal di mana. Atau mungkin kita bisa membeli salah satu rumah yang dekat dari kediaman kedua orang tuamu?" Begitu banyak option yang ada di kepala Raffi hanya untuk menghindari Elena.


" Baiklah untuk sementara. Kelihatannya tidak apa-apa kalau kita menginap di sini. Aku juga rindu dengan suasana rumah kedua orang tuaku. Bisa kan?" tanya Dinda sambil tersenyum kepada suaminya.

__ADS_1


" Baiklah aku akan menginap di sini juga denganmu jangan sampai nanti kedua orang tuamu berpikir bahwa sedang ada masalah di antara kita sehingga membuatmu menginap di sini tanpa pengawalanku!" ucap Raffi merasa lega karena akhirnya sang istri mau mendengarkan penjelasannya.


__ADS_2