
Dinda hanya bisa mendengarkan percakapan antara Raffi dan juga Ayah Elena. Hatinya seakan tertusuk sembilu ketika mengetahui ada kemungkinan Raffi akan menikah dengan Elena wanita yang saat ini sedang duduk di sampingnya.
' Ya Allah kalau misalkan kami berjodoh. Mudahkanlah segala urusan kami. Tetapi kalau kami berdua memang tidak berjodoh. Lapangkanlah hati ini untuk bisa melepaskan dia bersama wanita lain!' doa Dinda sambil mengelus dadanya.
" Dinda kau tidak mau mencoba pakaian yang diberikan oleh Raffi?" tanya Rehan kepada adiknya yang dari tadi terus melamun.
" Dinda kau dipanggil sama kakakmu!" ucap Elena sambil menyenggol tangan Dinda yang tampak sedang melamun.
" Oh? Apa Kak? Kakak bicara apa?" tanya Dinda tampak gugup.
" Kau tidak mau mencoba dulu pakaian yang diberikan oleh Raffi atau minimal kau lihat apakah kau cocok dengan modelnya atau tidak?" tanya Rehan.
" Tidak apa-apa Kak. Biar nanti di rumah saja!" ucap Dinda dengan suara lesu.
" Kamu kenapa Dinda? Apakah sedang sakit?" tanya Raffi sambil menoleh ke belakang dan melihat keadaan Dinda yang saat ini menatapnya dengan sendu.
Untung saja Dinda menggunakan cadar kalau tidak pasti Raffi akan melihat bahwa saat ini bibirnya sedang gemetar karena menahan tangis yang siap meledak kapan saja.
Dinda hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Raffi karena dia tidak ada keberanian untuk menatap wajah laki-laki yang dia cintai terlalu lama.
" Betul kau tidak apa-apa kalau kau sakit kita bisa pulang biar kami tidak jadi menghadiri pernikahan Marcella dan juga Zidane!" ucap Rehan meyakinkan adiknya untuk jujur.
" Jangan kayak gitu Kak. Nanti Mama pasti akan marah kalau kita tidak datang ke sana!" ucap Dinda serak karena suaranya yang tersekat di tenggorokan.
" Tapi mukamu yang sedih itu tidak enak untuk dibawa ke pesta Dek!" ucap Rehan sambil melirik kepada adiknya melalui kata spion yang ada di hadapannya.
" Gus Raffi sih, masak kau suruh adikku untuk duduk bersama dengan wanita yang juga menyukaimu? Lihatlah adekku jadi patah hati gara-gara kamu kan?" protes Rehan kesal.
" Sudahlah Kak nggak usah diperpanjang Gus Raffi juga kan tidak berniat untuk melakukan!" ucap Dinda sambil menundukkan kepalanya. Sementara itu Elena yang saat ini sedang menatapnya tampak tidak senang melihat Raffi yang sejak tadi terus memperhatikan Dinda.
" Memangnya kau menyukai Raffi?" tanya Elena di samping Dinda.
__ADS_1
Dinda hanya diam saja tidak mau ribut dengan Elena.
" Elena! Diamlah jangan mencari keributan dengan orang lain!" ucap Raffi melirik sekilas kepada Elena.
" Aku cuma bertanya saja siapa yang mencari keributan?" tanya Elena sambil cemberut.
Akhirnya mereka pun sampai di lokasi acara dan ternyata di sana sudah banyak para tamu yang hadir di acara pernikahan Marcella dan Zidane.
Pernikahan anak dari seorang pengusaha yang terkenal dan seorang dokter yang hebat. Tentu saja menjadi perhatian para relasi bisnis mereka.
" Wah ramai sekali!" ucap Elena dengan mata berbinar.
" Ingat Elena jangan mencari masalah!" ucap Raffi memperingatkan Elena sebelum mereka masuk ke dalam pesta.
" Jangan khawatir Raffi! Kau kira aku ini apa sih emangnya kau pikir aku tidak pernah hadir di sebuah pesta?" tanya Elena terlihat kesal.
" Ya sudah ayo kita masuk Dinda. Apa kau bisa untuk bersama dengan Elena? Karena saya akan menemui tuan rumah bersama Rehan!" ucap Raffi meninggalkan Dinda dan Elena.
" Apakah kita bisa masuk ke dalam bersama?" tanya Dinda menatap Elena.
Elena dan Dinda masuk ke dalam acara mereka hanya menatap kepergian Raffi dan Rehan untuk menemui tuan rumah pemilik acara tersebut.
" Ayo aku kenalkan kau kepada mereka!" Ucap Dinda sekilas kepada Elena.
" Tidak apa-apa. Aku bisa berjalan sendiri kok. Kalau kau ingin menemui mereka. Aku tidak mau sembarangan berkenalan dengan orang lain!" ucap Elena dengan Ketus.
" Mereka itu bukan orang-orang sembarangan. Kalau kau mau tahu. Gadis yang kau bilang sembarangan itu adalah anak dari pemilik sebuah rumah sakit yang berada di seluruh Indonesia dan dia juga anak seorang pengusaha yang sangat terkenal di negeri ini!" ucap Dinda berusaha bersabar dengan kelakuan Elena yang sejak tadi seperti mencari ribut dengan dia.
" Baiklah ayo kita ikuti apa keinginanmu.
Daripada nanti Raffi marah padaku kalau kau mengadu kepadanya!" ucap Elena yang kemudian mengalah kepada Dinda.
__ADS_1
" Aku hanya berusaha untuk bisa akur denganmu. Tolonglah jangan selalu membuat hati orang lain tidak nyaman denganmu!" ucap Dinda pelan.
Mereka kemudian mendekati Aurel dan juga Shello yang saat itu sedang bersama.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Dinda ketika dia sudah berhadapan dengan Aurel dan juga Shello.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Kak Dinda! Loh kok Kak Dinda dengan perempuan asing? Siapa dia?" tanya Aurel kepada Dinda.
" Perkenalkan dia adalah teman dari Gus Raffi namanya Elena. Dia anak dari duta besar Indonesia untuk Mesir!" ucap Dinda sambil melirik ke arah Elena.
" Halo perkenalkan namaku Elena Aku adalah calon istri dari Gus Raffi!" ucap Elena.
" Apa kau bilang? Kau calon istri Gus Raffi?Setahuku kak Dinda adalah calon istri dari Gus Raffi kau jangan sembarangan ya!" ucap Aurel merasa kesal kepada Elena.
" Aku memang calon istrinya. Kalau kau tidak percaya Tanya saja sama Raffi!" ucap Elena sambil menatap kepada Aurel.
" Sudahlah Aurel jangan mencari keributan di acara kakakmu sendiri. Biarkan saja dia mau bicara apa!" ucap Dinda menarik Aurel yang tadi hampir ribut dengan Elena.
Raffi dan Rehan yang melihat keributan itu pun segera mendekati mereka berempat.
Elena langsung menggamit lengan Raffi dengan mesra dan mengatakan kepada Aurel bahwa dia adalah calon suami nya.
" Katakan pada mereka Raffi. Kalau aku adalah calon istrimu!" ucap Elena sambil menatap tajam ke arah Raffi.
" Jangan cari masalah Elena di acara orang lain Aku tidak pernah mengatakan kalau kau adalah calon istriku!" ucap Raffi sambil berusaha melepaskan tangannya dari Elena tetapi Elena tidak mau melepaskan dia.
" Lepaskan aku Elena! Atau Aku tidak akan mengizinkanmu untuk tinggal di pondok!" ucap Raffi dengan tegas sehingga membuat Elena akhirnya menyerah dan melepaskan tangannya.
" Baiklah Ayo kita ke sana mengucapkan selamat kepada mempelai pengantin!" ucap Rehan berusaha menetralisir keadaan yang terasa begitu panas di antara mereka.
" Ingat Elena kalau kau mencari keributan lagi maka aku akan menyuruhmu untuk pulang!" ucap rapi berbisik di telinga Elena.
__ADS_1
" Benarkah?" tanya Elena menatap Raffi.
" Ayahmu dalam perjalanan kesini. Maka sampai dia datang. Tolong kau untuk menjaga sifatmu yang suka merendahkan orang lain itu!" ucap Raffi sambil menatapnya dengan tajam dan menusuk.