
Hari ini adalah perpisahan KKN, sudah 40 hari kami mengabadikan diri kami di desa ini. Alhamdulillah semua lancar jaya. Untuk acara perpisahan, kami mengundang seorang ustadz untuk mengisi tausiah. Tapi ustadz yang kami undang jauh-jauh hari, tiba-tiba menghubungi kami katanya berhalangan hadir.
Dimas mengetahui kalau tunangan Nur adalah ssot anak pondok. Kami akhirnya minta kepada Nur untuk menanyakan apakah tunangannya mau mengisi tausiah di acara perpisahan nanti. Saat dia maju ke atas panggung dan memulai ceramah, aku begitu terpesona dengannya.
Entah kenapa, dalam pandanganku, tunangan Nur itu bersinar dan sangat tampan. 'Ah, sayang dia sudah bertunangan, katanya pernikahan mereka saja sudah ada tanggalnya' bathinku sedih.
Aku sudah kalah sebelum berperang. Nur hanya menang dari timeing. Kalau aku yang duluan ketemu dengan Mas Ali, aku yakin bisa membuat dia jatuh cinta kepadaku. Cinta? Ya, benar. Aku sudah jatuh cinta kepada tunangan temanku.
Aku terpesona dengan dia, saat melihat dia ceramah di acara perpisahan. Aku akan berusaha mendekati dia. Aku akan mencari informasi tentang dia sama Nur. Semoga saja Nur gak curiga kalau aku bertanya tentang tunangan dia.
Siang ini aku janjian sama Nur, di warung bakso dekat kampusnya. Rencana mau bahas laporan KKN kami. Kebetulan aku bisa menggali informasi tentang Mas Ali, pujaan hatiku.
"Nur, kamu sudah lama berhubungan dengan tunangan kamu?" tanyaku kepo.
"Gak ko, aku ketemu dia bulan Agustus lalu kemarin bulan Januari dia melamarku. Tanggal 14 Juli nanti rencananya pernikahan kami akan di gelar." Nur menjawab pertanyaanku dengan santai tanpa curiga sama sekali.
Aku terkejut saat mendengar Nur bilang bahwa pernikahan mereka tanggal 14 Juli. Itu artinya sekitar satu bulan lagi dari sekarang. "Ko kamu gampang banget mutusin mau menikah dengan Dia? Takut nanti gak nyesel?" ujarku sambil makan bakso favoritku.
"Aku gak mau cari pacar, aku memang mencari suami. Makanya dari awal aku bilang sama dia, kalau aku gak mau pacaran. Takut berbuat dosa. Pacaran itu mengundang kita untuk berbuat dosa. Aku gak mau melakukan hal itu!" Nur masih fokus dengan baksonya, sambil tetap menjawab pertanyaanku yang tambah penasaran.
"Kamu yakin, menikah sama Dia?" tanyaku sudah mulai panas hatiku.
"Yakin gak yakin sih. Tapi kalau memang jodohku, semua akan dipermudah. Aku percaya kepada takdirnya!" Nur bicara dengan mantap sekali. Hatiku tambah panas rasanya. Coba aku dulu yang bertemu dengan Mas Ali. Pasti aku yang akan menikah dengan dia.
"Gimana caranya kamu bisa bertemu dengan Dia?"
__ADS_1
"Kami satu pondok pesantren, dia Pak Lurah di pondokku." jawab Nur santai. Aku terkejut, dia ternyata Pak Lurah di pondoknya. Luar biasa.
"Kamu sekarang mau kemana?" tanyaku lagi.
"Mo pulang ke pondok. Mo kerjain laporan KKN kita!" Nur sudah bersiap pulang. Dia juga sudah ke kasir dan membayar makanannya. Aku mengikuti Nur di belakang dia.
"Aku boleh ikut ke pondok kamu, gak?" tanyaku.
"Boleh! Nanti kita berdua bisa kerjain laporan sama-sama." Nur berbinar, bahagia sekali.
"Ah.. kalau kamu tahu niatku ke pondoknya mau ketemu dengan tunangannya, apa dia sebahagia itu?" bathinku. Aku lalu mengikuti Nur di belakang dia. Kami membawa motor masing-masing.
Kurang lebih sekitar 15 menit, kami tiba di pondok, aku melihat suasana disini sangat tenang dan adem. Walaupun sederhana. Aku mengedarkan pandanganku ke segala penjuru pondok ini. Mencari keberadaan pujaan hatiku.
"Nadya, ayo ke kamarku. Kenapa kamu bengong disitu? awas nanti kesambet loh." Nur memanggil ku, aku gugup. Takut kalau Nur melihat tadi aku memperhatikan tunangannya.
Nur membuka pintu kamarnya dan aku lihat disini sangat sepi. Hanya ada seorang gadis sedang tidur siang. Aku memperhatikan kamar ini. Sangat sederhana sekali. Aku memperhatikan ada lima lemari. Itu artinya ruangan ini dihuni oleh lima orang santri. Pasti berdesakan kalau pas mereka kumpul semuanya.
"Ayo duduk. Aku ambil minuman dingin dulu ya, kamu tunggu dulu di sini!" Nur lalu keluar, entahau pergi ke mana.
Aku menoleh ke jendela, ternyata dari jendela langsung bisa melihat ke aula. Kebetulan sekali. Aku bisa menatap wajah pria idamanku dari jendela. Dia tampak serius dengan tugasnya. Ketampanan dia meningkat berratus kali lipat. Hatiku makin kepincut sama dia.
"Aku akan mengambil kamu dari Nur!" tekatku dalam hati. Untung saja Nur lama pergi keluarnya. Aku jadi bisa sepuasnya menatap dia. Aku memfoto dia pakai kamera ponselku. Sayang sekali jarak kami sangat jauh. Hasil fotoku jadi jelek dan buram. Aku jadi kesal.
Dari luar aku dengar suara langkah kaki Nur, aku langsung duduk di karpet yang tadi di gelar oeh Nur. Semoga Nur tidak tahu, kalau dari tadi aku memperhatikan tunangannya.
__ADS_1
"Minumlah. Kamu mau pulang jam berapa?" Tanya Nur padaku Aku kesal, aku baru datang ko sudah ditanya mau pulang jam berapa. Dasar!
"Kalau aku nginep disini boleh?" tanyaku. Aku ingin merasakan bagaimana kehidupan pondok pesantren. Selain itu, aku ingin berlama-lama melihat Mas Ali. Rasa cintaku untuknya semakin besar sekarang. Dia terlihat sangat keren dengan pesonanya. Pria idamanku.
Nur tampak berpikir sejenak, "Boleh sih, nanti aku tanya Mas Ali ya, apa boleh kamu menginap disini!" Nur lalu keluar kamar lagi. Dia sepertinya mau ke Aula pondok. Dimana Mas Ali sedang mengajar di sana.
Aku lihat kelasnya bubar. Semua santri yang tadi belajar berhamburan keluar dari sana. Aku lihat Mas Ali mendekati Nur, dia tersenyum manis sekali. Hatiku rasanya panas sekali. Melihat pria idamanku tersenyum kepada wanita lain.
"Nur ada apa?" aku lihat mereka berdiri di depan aula dan tampak akrab sekali. Kesal aku jadinya!
"Itu Mas! Temanku satu universitas, dia mau ijin untuk menginap di sini. Apa dibolehkan?"
"Perempuan?" tanyanya.
"Ya iyalah! Masa iya, teman laki-laki aku bawa masuk ke kamar? Kamu aneh, Mas!" Nur tampak mengerutkan bibirnya.
"Ah.. sok kecantikan banget!" geramku dalam hati.
Aku memilih duduk saja di karpet, dari pada hatiku tambah kesal lihat mereka. Mesra di depan umum. Padahal ini pondok pesantren, tapi mereka seperti yang bebas begitu. Menyebalkan!
Nur masuk ke kamar kembali, lalu mendekatiku. "Kamu boleh menginap di sini. Tapi jangan bikin kegaduhan ya." Nur berpesan kepadaku.
"Ya, tenang saja. Aku kan ke sini mo bantu kamu kerjakan laporan KKN." dustaku. Padahal mana aku perduli dengan laporan itu.
Tujuanku ke sini adalah supaya bisa bertemu dengan Mas Ali. Tunangannya Nur. Aku sudah bertekad akan merebut dia dari Nur. Aku lebih cocok jadi istrinya Mas Ali. Nur yang kampungan dan sok itu, akan aku buat dia menangis karena ditinggalkan oleh tunangan dia.
__ADS_1