
"Jangan mengatakan hal seperti itu, Nadia! Kami sebagai orang tua kamu, tidak pernah merasakan hal seperti itu. Memang kamu pernah melakukan kesalahan. Tapi, bukankah sekarang, kamu sudah menebus kesalahan tersebut? Papa berharap, setelah ini kamu akan menjalani hidupmu lebih baik lagi. Dan berusaha untuk memperbaiki pribadimu agar lebih baik lagi. Dan bisa berbaur kembali dengan masyarakat!" ucap Ayahnya Nadya.
"Lupakan saja, Pah! Nadya sudah tidak ingin lagi melakukan hal-hal seperti itu. Nadya sudah pasrah saat ini. Nadya lebih tenang tinggal di sini. Sudahlah, lupakan saja. Papah dan Mama, sebaiknya melanjutkan hidup kalian. Tidak usah ingat lagi dengan Nadya. Nadyadi sini baik-baik saja kok!" ucap Nadya, lalu beranjak dari kursinya, lalu meninggalkan kedua orangtuanya yang kini sedang bersedih hatinya.
"Nadya, kami akan selalu mengingat kamu sebagai putri kami. Baik-baiklah di sana! Kami pasti akan berusaha untuk melepaskan kamu dari sini. Tunggulah, Nak! Kami pasti akan datang lagi!" ibunya Nadya berteriak dengan air mata yang terus menetes.
Nadya pergi dari ruangan itu dengan air mata yang terus menetes, tidak bisa berhenti. Matanya bahkan sampai sembab. Ya, begitulah! Setiap kali kedua orang tuanya datang ,malah membuat hati Nadya merasakan kesedihan yang teramat dalam. Karena dia mengingat, dirinya telah memberikan rasa malu, kepada kedua orang tuanya. Dengan mendekam di sebuah penjara yang pengap dan kelam. Nadya bahkan keluar dari kampusnya. S2 nya gagal total karena dia harus masuk penjara dalam waktu yang sangat lama. Mempertangungjawabkan perbuatan dirinya.
"Maafkanlah Nadya, Mah, Pah! Nadya bukan anak yang berbakti! Hidup Nadya, hanya menyusahkan kalian. Apakah kalau Nadya mati, kalian akan jauh lebih tenang?" ucap Nadya tanpa sadar. Ya, saat ini Nadya dalam keadaan frustasi dan tertekan.
Sementara itu, kedua orang tua Nadya kini sudah bersiap untuk kembali lagi ke Jakarta. Setelah dua hari mereka tinggal di Purwokerto. Rianti dan suaminya sedang pergi ke Kampung halaman Mang Diman, jadi sekarang ayahnya Rianti menggunakan sopir istrinya untuk datang ke Purwokerto. Karena Mang Diman, juga ikut Rianti dan menantunya untuk pulang kampung.
"Kenapa Nadya tampak sangat kurus ya, badannya? Tampaknya tidak terurus. Pah, Kamu harusnya bicara kepada kepala penjara, untuk menjaga Nadya, berikan saja apa yang dia inginkan. Agar Putri kita di sana tidak menderita, Pah!" ucap istrinya sambil terisak-isak.
"Kamu mau anak kita dalam masalah?" tanya suaminya.
"Memangnya kenapa?" tanya istrinya heran.
__ADS_1
"Itu namanya menyuap petugas pemerintah, Mah!" ucap suaminya. Ibunya Nadya menggeram frustasi.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk anak kita, Pah? Mama gak tega melihat Nadya di sana. Hiks hiks!" ibunya Nadya kembali menangis.
"Kita doakan saja, semoga Nadya baik-baik saja di dalam sana. Tidak menemui masalah, dan semoga kesehatan Nadya pun tidak terganggu karena terlalu lama hidup di penjara!" ucap ayahnya Nadya.
"Sudahlah! Sebaiknya Mama istirahat saja. Nanti Papa akan bangunkan kalau kita sudah sampai ke Jakarta!" ucapnya sambil mengelus tangan istri yang sudah hampir 40 tahun lamanya selalu setia mendampingi dirinya.
"Pah, apa kita tidak sebaiknya mampir saja ke kampung halamannya Mang Diman? Kan, nanti kita lewat ke kampungnya. Tegal kan, Kalau nggak salah? Kita mampir saja ke sana sebentar. Sambil menengok keadaan Rianti, jangan sampai Riyanti di sana hidup menderita bersama mertuanya yang miskin itu!" ucapnya sengit.
"Tidak usah, Mah! Kalau Mama hanya akan membawa keributan ke sana. Sudah cukup, Mama membuat Papa malu di depan keluarga Mang Diman. Apa Mama tahu? Kelakuan Mama ini, akan membuat Rianti hidup menderita di sana. Bagaimanapun, sekarang Rianti menjadi tanggung jawab suaminya. Bisakah Mama, tolong, untuk menjaga perasaan Rianti maupun keluarga suaminya itu. Dengan bersikap lebih baik lagi!" ucap suaminya.
"Bagas memiliki segalanya, Mah! Dia memiliki iman dan takwa. Dia juga memiliki pekerjaan sebagai seorang Dokter. Dia juga memiliki harga diri sebagai seorang laki-laki, yang tidak mau menerima bantuan Papa sebagai mertuanya yang kaya dan raya. Dan, dia juga mempunyai cinta Rianti, itu yang terpenting, Mah! Bagas pun mencintai Rianti dengan tulus!" ucap suaminya panjang lebar, berusaha meyakinkan istrinya untuk bisa menghargai pernikahan Rianti bersama dengan Bagas.
"Memang, apa yang Papa lihat dari Bagas?" ucap istrinya mulai melunak hatinya.
"Papa melihat, Bagas itu seorang pria yang bekerja keras dan dia juga baik hatinya. Mang Diman sudah berhasil mendidik putranya, menjadi manusia yang baik dan bermartabat. Dan Papa, sangat bangga memiliki seorang menantu seperti Bagas. Papa harap, Mama bisa menjaga perasaan Bagas maupun keluarganya. Kalau Mama masih inginkan Papa menghargai Mama sebagai istri Papa!" ucap suaminya dengan tegas.
__ADS_1
Ibunya Rianti menelan salivanya dengan kesulitan. Ya, Ini pertama kalinya suaminya itu menentang dirinya. Hanya demi menantu tercintanya itu. Sedikit banyak, ibunya Rianti mulai terbuka hatinya. Dia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri, untuk bisa menerima Bagas sebagai suaminya Riyanti.
"Mama akan berusaha, Pah! Bagaimana pun juga kan Rianti itu anaknya Mama. Mama tidak mau hidup Rianti menderita." ucapnya mulai melunak.
"Oleh karena itu, Mama harus menjaga sikap Mama! Biar Rianti di sana diperlakukan dengan baik oleh mertuanya dan juga suaminya. Mama harus ingat! Putri kita itu memiliki masa lalu yang kelam. Mama harus ingat, sudah baik sekali. Bagas mau menerima anak kita, Mah! Pria yang lain, mana mungkin mau menerima seorang wanita yang pernah, hampir saja, merusak rumah tangga orang lain. Karena Bagas mencintai Rianti, makanya dia mau menerima Rianti apa adanya. Tolonglah, Mah! Tolong hargai keluarganya, Mang Diman! Hargai Bagas sebagai suaminya Rianti!" ucap suaminya dengan penuh permohonan. Istrinya hanya menatap suaminya.
"Baiklah, Pah! Mama akan berusaha sebaik mungkin untuk melakukan apa yang Papa katakan tadi. Tapi, Papa harus membantu Mama. Bagaimanapun juga, hati Mama ini masih belum plong rasanya. Untuk melepaskan Riyanti bersama Bagas. Tolong pahami perasaan Mama, Pah! Mama ini seorang ibu, Mama inginkan yang terbaik untuk anak Mama!" ucapnya lagi.
"Papa juga seorang ayah, mah! Apakah Mama pikir, Papa akan menjerumuskan anak Papa sendiri? Papa juga menyayangi Riyanti. Sama seperti Mama yang juga menyayanginya. Papa juga inginkan yang terbaik untuk Putri kita. Dan Papa sudah sangat yakin, bahwa Rianti akan hidup bahagia bersama Bagas. Bagas itu anak yang baik, Mah! Dia juga anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Dia pasti bisa memperlakukan Riyanti dengan baik, sebagai seorang suami yang bertanggung jawab!" ucap ayahnya Rianti dengan penuh keyakinan.
"Iya Pah! Iya iya iya iya! Mama akan berusaha sebaik mungkin untuk menerima Bagas sebagai menantu Mama. Sebagai suaminya Rianti. Dan Mama juga akan berusaha untuk menerima dengan ikhlas, keluarga Mang Diman sebagai besan kita. Sudah, Papa puas sekarang?" tanya ibunya Rianti sambil mencium pipi suaminya.
Ayahnya Rianti sampai merona pipinya, karena menahan rasa malu terhadap sopirnya, yang di ada depan kemudi. Yang tadi sempat melirik ke belakang. Paati tadi dia melihat perlakuan istrinya yang seperti anak muda itu.
"Mama ini ada-ada saja! Seperti anak muda saja! Tidak malu dengan umurmu?" tegur suaminya. Istrinya hanya tersenyum saja, mendengarkan teguran suaminya.
"Biarkanlah, Pah! Kan cium suami sendiri, lah, kalau saya cium Ranto, baru Mama akan malu!" ucapnya asal saja. Sehingga mengundang suaminya untuk melototi dia.
__ADS_1
"Kan, Mama bilang, misal, Pah!" kelitnya.