
Sheilla terkejut ketika Bima menyadarkan dia dalam lamunannya dan dia melihat Bima saat ini tersenyum kepadanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan kenapa dari tadi kau terus menatapku seperti orang linglung begitu?" tanya Bima lagi, sekarang dia bahkan mencium telapak tangan Sheilla.
"Jangan begitu! Malu ah, kepada kedua orang tuamu!" Sheilla menarik telapak tangannya dari genggaman Bima yang membuat Bima malah tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Sheila dengan wajah memerah karena dia merasa malu ditertawakan oleh Bima.
"Jadi bener ya! Dari tadi kamu tuh mulamun? Bahkan sampai Dipta dan kedua orang tuaku meninggalkan ruangan ini, kamu juga tidak tahu. Padahal sejak tadi kamu ada di sini!" ucap Bima sambil tersenyum menatap Sheilla yang tampak salah tingkah.
"Aku memang sedang melamun. Ada sesuatu hal yang membuat penasaran di hatiku!" ucap Sheila akhirnya jujur karena memang itu jauh lebih baik daripada dia menyembunyikan apa yang saat ini dia rasakan.
"Apa yang kau lamunkan sayang? Sehingga membuatmu tidak sadar dengan semua yang ada di ruangan ini?" tanya Bima sambil kembali membawa telapak tangan Sheilla ke dalam pelukannya.
Bima menepuk tempat di sebelahnya, meminta agar Sheilla duduk di sampingnya.
"Aku duduk di sini saja! Malu kalau tiba-tiba suster masuk dan aku ada di atas ranjangmu!" ucap Sheila menolak keinginan Bima untuk Sheila duduk di samping dirinya.
"Oh, Ayolah sayang! Semua orang di rumah sakit ini tahu kalau aku adalah tunanganku dan kita akan menikah sebentar lagi!" ucap Bima mendesah frustasi dengan Sheilla yang terlalu kaku menurutnya.
"Maaf tapi aku tidak mau mengundang fitnah diantara kita berdua. Lebih baik aku duduk di sini, tidak apa-apa kok Bima! Aku masih bisa mendengarkan perkataanmu!" ucap Sheila sambil tersenyum kepada Bima.
"Bahkan kau masih memanggil namaku. Apa kau bisa memanggilku sayang, honey atau semacamnya? Aku akan sangat senang sekali!" ucap Bima sambil tersenyum berusaha menggoda Sheilla yang sejak tadi wajahnya begitu serius di matanya.
__ADS_1
"Oh Ayolah Bima! Jangan bersikap begitu menggelikan. Aku tidak akan memanggilmu seperti itu. Kita belum resmi menikah dan sebaiknya tetap menjaga hal-hal yang bisa menimbulkan fitnah di antara kita!" ucap Sheilla mulai bisa relax.
"Baiklah! Baiklah! Baiklah! Sudah lupakan saja. Kau bisa pulang dari ruanganku, kalau kau merasa bahwa kedekatanmu dan kedekatanku. Hanya mengundang fitnah untuk dirimu!" Bima kemudian memalingkan wajahnya dan menarik selimutnya.
Bima mulai memejamkan matanya sehingga membuat Sheilla merasa bahwa Bima saat ini sedang marah kepadanya.
"Apa kau marah kepadaku?" tanya Sheilla.
Tetapi Bima tetap diam dan tidak mau melihat Sheilla. Dia malah sekarang mulai serius memejamkan matanya dan mengacuhkan keberadaan Sheilla yang ada di sampingnya.
"Aku ingin bertanya padamu! Apakah kau dan Desta adalah pasangan gay?" tiba-tiba saja Sheilla langsung menanyakan hal yang sejak tadi ingin dia tanyakan kepada Bima.
"What the hell?" tanya Bima seketika membuka kelopak matanya dan menatap tajam kepada Sheila.
"Ya ampun kau bahkan sudah tidak mempercayaiku. Tidak mempercayai orientasi seksku! Apa kau percaya bahwa aku manusia semacam itu? Kau sungguh menghinaku dan Dipta!" Raung Bima dengan penuh emosi saat ini Bima sedang merasa tersinggung dan sakit hati dengan pertanyaan Sheilla tentang kemurnian hubungannya bersama dengan Dipta.
"Aku hanya bertanya, bukan sedang mencurigaimu maupun Dipta! Itu semua kan gara-gara kalian berdua, yang selalu menampakan hubungan yang terlalu di luar logika. Bagaimana mungkin aku tidak akan bertanya hal seperti ini, huh?" ucap Sheila meraung tidak mau kalah keras dibandingkan suara Bima saat ini.
"Baiklah aku akan menjawab pertanyaanmu! Aku dan Dipta adalah sahabat lebih dari 20 tahun lamanya. Bahkan aku lebih mengenal dia daripada mengenal kamu. Aku lebih baik kehilangan kamu daripada harus kehilangan Dipta sahabatku! Apakah jelas jawabannya aku berikan padamu?" ucap Bima sambil menatap tajam kepada Sheila yang sekarang menundukkan wajahnya.
Tampak bulir-bulir air mata mengalir di pipinya yang mulus, sehingga membuat Bima mengerutkan keningnya dan merasa bingung dengan apa yang saat ini dilakukan oleh Sheila, calon istrinya.
"Apa yang kau lakukan Sheilla? Kenapa kau malah menangis? Aku tidak melakukan hal yang buruk padamu!" tanya Bima gugup.
__ADS_1
Karena jujur saja, Bima memang paling tidak bisa melihat seorang wanita menangis di hadapannya. "Sudahlah jangan menangis! Memangnya kau menangis apa?" tanya Bima sambil berusaha untuk meraih jemari Sheila dan meremasnya dengan penuh cinta kasih.
"Kau bilang, kalau engkau lebih baik untuk kehilanganku daripada kehilangan Dipta. Apakah di dalam hatimu, aku tidak memiliki arti apapun?" ucap Sheila dengan terisak dia benar-benar merasa sakit hati dengan ucapan Bima tadi.
Bima meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Tampak Dia sangat frustasi melihat Sheilla yang tampaknya semakin salah paham terhadap dirinya dengan Dipta.
Bima meraih tengkuk Sheilla dan kemudian dia langsung mengecup bibir gadis itu yang masih bersimbah air mata. Sheilla yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Bima. Sejenak dia hanya bisa pasrah dan menerima apa yang diberikan oleh Bima terhadap dirinya saat ini.
Setelah puas dengan yang ingin dilakukan. Bima kemudian meraup wajah Sheila di hadapannya agar menghadap kepada dirinya.
"Dengarkan Aku sayang dan semoga kau mengerti apa yang aku katakan padamu ini!" ucap Bima dengan nafas yang memburu.
Setelah apa yang dia lakukan bersama dengan Sheilla yang membuat dirinya kini telah kehilangan oksigen yang begitu banyak. Ya, ciuman itu telah memberikan begitu banyak efek kebahagiaan di dalam hatinya.
"Aku hanya melakukan ini denganmu, tidak dengan Dipta! Aku juga hanya akan menikah denganmu, tidak dengan Dipta! Aku hanya akan menghabiskan seluruh sisa hidupku, memberikanmu anak dan juga memberikan kebahagiaan yang tidak pernah aku berikan kepada Dipta. Apa sekarang kau mengerti apa yang aku maksud, hmmmmm?" hanya Bima sambil mencubit hidung Sheila yang begitu mancung dan menggemaskan.
Mendengarkan perkataan Bima, seketika hati Sheilla merasa berbunga-bunga. Seakan-akan dirinya saat ini tengah terbang ke langit ketujuh. Seakan-akan ada ribuan kupu-kupu sedang menari di atas perutnya.
"Apakah kau serius dengan perkataanmu? Jadi benar, kalau kalian berdua hanya sepasang sahabat yang saling menyayangi satu sama lain?" tanya Sheila kembali mencoba untuk mengkonfirmasi apa yang diucapkan oleh Bima kepadanya.
"Benar sayang! Percayalah padaku! Aku dan Dipta itu sudah melalui begitu banyak rintangan dan situasi yang buruk, untuk sampai kepada saat ini. Jadi kau tidak usah cemburu terhadap Dipta. Karena dia adalah sahabat terbaik dalam hidupku dia melebihi saudara yang pernah aku miliki dan dia adalah pribadi yang sangat baik yang selalu mengingatkanku ketika aku melakukan kesalahan dan kau lihat bukan? Dia juga yang telah menyelamatkanku hari ini!" ucap Bima sambil mencium telapak tangan Sheilla dengan penuh cinta. Sehingga membuat Sheilla begitu bahagia karena merasa jadi orang yang istimewa di hati Bima.
"Baiklah aku akan mempercayai apa yang kau katakan dan aku akan tetap melanjutkan rencana pernikahan kita berdua. Aku akan berusaha untuk tidak cemburu lagi dengan hubunganmu dengan Dipta!" ucap Sheilla pada akhirnya.
__ADS_1
Sehingga membuat Bima sangat bahagia dengan Sheilla yang sudah mengerti tentang hubungan dirinya dengan Dipta, sahabatnya!