Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
187. Aneh!


__ADS_3

" Baiklah kalau memang mereka nanti ternyata tidak saling mencintai. Aku berjanji tidak akan memaksakan kehendakku untuk menikahkan mereka berdua!" ucap Bima sambil tersenyum kepada sahabatnya.


Flash back off


Marcella segera pergi ke kamar mandi karena dia harus menelpon sahabatnya yang sudah menunggunya di sekolah.


" Halo Fikar! Aku kayaknya akan terlambat untuk datang ke sekolah. Sampai saat ini aku masih ada restoran untuk makan siang. Nanti tolong kau mintakan izin kepada guru! Ok?" ucap Marcella menghubungi sahabatnya yang ada di sekolah.


" Baiklah! Tapi ingat jangan terlalu lama. Kau tahu sendiri kan? Kalau Bu Sintia itu paling tidak senang dengan ketidak disiplinan!" Fikar menyetujui ke permintaan Marcella.


" ya udah terima kasih ya Fikar aku kembali dulu supaya cepat selesai makan siangnya!" Marcella kemudian menutup panggilan telepon tersebut dan dia membasuh mukanya karena terasa sangat panas dan gerah.


" Ya ampun! Kenapa tempat ini begitu panas?" Marcella kemudian mengambil tisu yang ada di dalam tas kecilnya dan mengelap wajahnya yang basah dengan air setelah tadi membasuh wajahnya.


"Ah segarnya!" ucap Marcella sambil menatap wajahnya yang terpantul di cermin yang ada di hadapannya.


Setelah selesai Marcella pun kemudian keluar dari kamar mandi. Akan tetapi dia terkejut ketika mendapatkan Zidane yang ternyata menunggunya di depan kamar mandi.


" Dengar ya! Kamu harus meminta kepada kedua orang tuaku. Untuk membatalkan pertunangan kita berdua. Karena aku tidak sudi untuk menikah denganmu!" ucap Zidane sambil menatap tajam kepada Marcella.


Marcella hanya menetap Zidane dengan tatapan sinis dan dia pun langsung meninggalkan laki-laki itu dalam kebingungannya.


" Aku sedang bicara denganmu Kenapa kau mengacuhkanku?" tanya Zidan sambil menarik tangan Marcella.


Tetapi siapa yang menyangka. Ternyata kaki Zidane menginjak kabel yang terhambur di lantai. Sehingga membuatnya tersandung dan hampir saja jatuh mencium lantai.


Marcella yang terkejut mendapatkan Zidane hampir saja terjatuh dengan refleks dia menarik tangan Zidane sehingga akhirnya mereka berdua pun terjatuh bersama dengan posisi sidang berada di atasnya. Tanpa sengaja bibir mereka akhirnya bertemu. Dan tanpa sengaja Zidane mengecup bibir Marcella yang begitu manis dan mempesona.


Zidane yang merasa terkejut dia berusaha untuk bangkit dari posisi yang membuatnya berdebar dengan sangat kencang.


" Dasar mesum!" ucap Marcella ketika mereka akhirnya terbebas dari suasana canggung itu.

__ADS_1


" Apakah kau memang sengaja untuk jatuh di atas tubuhku?" tanya Marcella ketus.


" Eh jangan bicara sembarangan ya. Bukannya kau yang menarik tanganku tadi? Sehingga membuatku jatuh? Apa kau amnesia atau bagaimana?" protes Zidane merasa tidak senang dikatakan kalau dirinya seorang laki-laki mesum.


" Hah! Kenapa ciuman pertamaku harus diambil oleh kodok burik itu sih? Dasar menyebalkan!" ucap Marcella lirih tetapi itu terdengar oleh Zidane sehingga membuat Zidane merasa jengkel.


" Apa kau bilang tadi? Aku kodok burik? Sembarangan sekali kau bicara! Apa kau tahu di Amerika sana banyak perempuan yang menginginkanku untuk menjadi suami mereka!" ucap Zidane dengan perasaan amarah karena dirinya dipanggil kodok burik oleh Marcella.


" Lah terus, kenapa kau tidak menikah dengan Mereka semua huh? Udah sana minggir! Kau mengganggu pemandangan saja!" ucap Marcella sambil mendorong tubuh Zidan untuk menjauh darinya.


Namun sekali lagi Marcella pun tersangkut dengan kabel yang berserakan di lantai. Sehingga dia pun hampir terjatuh sama seperti Zidane tadi.


Hanya saja bedanya tadi Marcella mencoba untuk menolong Zidane. Tetapi kali ini, Zidane hanya melihat saja dan tanpa diduga tiba-tiba ada seorang pria tampan yang mencoba untuk menyelamatkan Marcella.


Laki-laki itu menarik tangan Marcella dan memeluknya dengan erat. Sehingga Marcella tidak jatuh mencium lantai yang dingin.


" Apa kau tidak apa-apa? Tolong untuk kau berhati-hati kalau berjalan. Restoran ini sedang mengalami banyak perbaikan jadi sangat wajar kalau tampak semrawutan!" ucap pria itu dengan menatap tajam kepada Marcella yang tampak terpesona dengan ketampanannya.


' Ya ampun dia sungguh sangat menawan!' batin Marcella di dalam hatinya.


" Namaku Marcella!" ucap Marcella tersipu ketika Raffi sudah melepaskan tangannya.


" Hmmmmm!" ucap Zidane berdehem ketika melihat Marcella dan Raffi yang saat ini sedang saling menatap satu sama lain.


Keduanya kemudian tersadar dan langsung menjauhkan diri. Ketika melihat Zidan yang menetap tajam ke arah Marcella. Marcella hanya menatap Zidane dengan sinis.


" Ayo cepat kembali kedua orang tuaku sudah menunggumu dari tadi!" ucap Zidane dengan suara tersekat di tenggorokannya.


' Ya ampun apa yang terjadi padaku? Kenapa aku rasanya tidak senang ketika melihat kedekatan mereka berdua?' batin Zidane sambil menatap Marcella yang masih bercakap-cakap dengan Raffi.


" Terima kasih karena kau sudah menolongku. Tapi maafkan aku aku harus segera kembali ke meja aku!" ucap Marcella dengan suara lembut dan membuat Zidane merasa tidak senang mendengarnya.

__ADS_1


" Bicara dengan calon suamimu. Kau sangat ketus dan juga tidak menyenangkan. Bertemu dengan pria lain, suaramu begitu lembut dan halus!" ucap Zidane dengan suara pelan.


Tetapi Raffi bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Zidane.


" Apakah benar kalau pria itu adalah calon suamimu?" tanya Raffi kepada Marcella.


Dengan terpaksa Marcella hanya bisa menganggukkan kepalanya. Karena dia pun tidak bisa mengingkari statusnya sebagai tunangan dari Zidane. Apalagi tidak jauh dari mereka kedua orang tua Zidane sudah menunggunya.


" Kau lihat kan? Dia sudah mengakui bahwa dia adalah calon istriku. Maka pergilah kau menjauhinya. Awas! Jangan kau coba-coba untuk mendekati calon istriku!" ucap Zidane dengan tersenyum penuh kemenangan ketika dia menarik tangan Marcella untuk menjauh dari tempat itu.


" Kalau dia memang adalah calon istrimu. Lalu kenapa kau diam saja ketika tadi dia hampir celaka?" tanya Raffi sambil menatap ke arah Zidane dan Marcella yang saat ini berniat untuk meninggalkannya.


" Bukan urusanmu dan sebaiknya kau tidak usah ikut campur urusan orang lain!" ucap Zidane merasa jengkel melihat Raffi yang terlihat mengikutinya.


Dari kejauhan tampak Dipta dan Kinan yang hendak memasuki restoran.


" Om Dipta apa kabar?" tanya Raffi menyapa Dipta yang baru saja masuk ke dalam restoran yang dia kelola.


" Ya ampun! Kamu Raffi ya? Wah sudah besar kamu! Terakhir OM bertemu denganmu waktu itu kau masih SMP!" ucap Dipta sangat bahagia karena bertemu dengan anak yang waktu kecil pernah sangat dia sayangi dan pernah tinggal di tempatnya juga bersama dengan ibunya. Wanita yang pernah dia tolong. Ketika ibunya kabur dari suaminya karena terjadi kesalahpahaman di antara mereka berdua.


" Iya Om tidak terasa ya kita tidak bertemu hampir 10 tahun lamanya!" ucap Raffi.


" Iya karena om dan tante sempat tinggal di Surabaya untuk mengurus perusahaan milik ibu Om yang bermasalah di sana!" ucap Dipta kepada Raffi.


" Apa kabar tante Kinan? Apakah Tante Masih mengingatku?" tanya Raffi kepada tante angkatnya yang waktu masih muda menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya bahkan orang tuanyalah yang telah menikahkan Dipta dan juga Kinan.


" Alhamdulillah Tante baik sayang! Kapan kamu sudah pulang dari Mesir Raffi?" tanya Kinan ketika melihat Raffi yang sudah besar.


" Belum lama saya kembali dari Mesir tante!" ucap Raffi sambil mengulas senyum kepada Kinan.


" Ayo Tante kenalkan kau ke pada anak Tante dan juga calon menantu tante!" ucap Kinan kepada Raffi yang akhirnya mengikuti Dipta dan Kinan menuju meja yang saat ini ditempati oleh Bima dan juga keluarganya.

__ADS_1


Marcella mengurutkan keningnya. Ketika dia melihat kedua orang tuanya berjalan beringin bersama pemuda yang tadi telah menyelamatkannya ketika dia hampir terjatuh.


'Ya ampun! Kenapa Daddy dan Mama bisa bersama dengan pria itu? Jangan katakan kepadaku, bahwa mereka saling mengenal. Oh my God! Ini benar-benar suatu kejutan yang luar biasa!' batin Marcella sambil matanya terus menatap kepada kedua orang tuanya yang semakin mendekat ke arah mejanya berada.


__ADS_2