Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
128. Ok!


__ADS_3

"Bima sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau seperti orang linglung begitu?" Sheilla kemudian menaruh telapak tangannya di kening Bima. Mencoba untuk memeriksa suhunya jangan-jangan kalau Bima sedang sakit saat ini.


Bima menepis tangan Sheila yang ada di keningnya kemudian dia berkata.


"Aku baik-baik saja! Kau jangan berlebihan seperti itu!" ucap Bima ketus.


Kemudian Bima mengalihkan pandangannya dari Sheilla yang begitu menyilaukan matanya saat ini. Jantung Bima sejak tadi sudah marathon terus.


"Ah, lama-lama bicara denganmu, bisa membuatku jadi stress! Ya udahlah, aku akan menemui kedua orang tuaku. Kami akan pulang! Perjodohan kita sebaiknya dibatalkan saja!" ucap Shella kemudian dia bangun dari duduknya dan berniat untuk pergi dari kamarnya Bima.


Tiba-tiba saja Bima langsung menangkap tengkuk Sheila dan mencium perempuan itu dengan menggebu dan penuh hasrat kegilaan.


Sheilla yang terkejut langsung mendorong tubuh Bima agar menjauh darinya. Kemudian dia langsung meninggalkan Bima di kamarnya dalam keadaan linglung.


Tuhan apa yang sudah kulakukan terhadapnya? Sekarang dia pasti merasa ilfil padaku. Dia pasti berpikir bahwa aku adalah seorang b******* yang seenaknya saja mencium gadis yang bukan milikku yang tidak halal untukku!


Bima menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian dia pun mengikuti Sheila yang saat ini sudah bergabung dengan kedua orang tuanya di meja makan.


"Ayo Bima, kita makan malam bersama, sayang! Nanti kalau makanannya sudah dingin, pasti tidak enak lagi!" ucap ibunya Bima sambil mempersilahkan putranya untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.


Dengan tubuh gontai dan lemas. Bima mengikuti keinginan ibunya untuk duduk di samping Sheila. Yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.


"Tolong kau Maafkan Aku, Sheilla! Aku tidak bermaksud menyakitimu!" bisik Bima di telinga Sheila.


Bima melakukan itu ketika kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Sheilla sedang fokus dengan makan malam mereka.


"Tolong kau harus memaafkanku ya? Aku berjanji tidak akan mengulangi lagi!" ucap Bima lagi, sambil melirik sekilas kepada Sheila. Yang sedang makan makanan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Sheilla tidak mengatakan apapun. Dia mendadak menjadi seorang gadis yang pendiam. Tidak lagi cerewet maupun banyak tingkah seperti sebelumnya.


Tapi justru kediaman Sheila itu malah membuat Bima menjadi frustasi. Karena dia mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan Sheilla yang tiba-tiba saja berubah menjadi pendiam begitu.


"Katakanlah sesuatu Sheilla! Kenapa kau diam saja dari tadi?" ucap Bima kembali berbisik di telinga Sheila.


"Kita sedang makan! Sebaiknya fokus makan saja! Untuk hal-hal yang lain kita bicarakan setelahnya!" ucap Sheilla sambil kemudian menundukkan kembali kepalanya berusaha untuk menghindari tatapan Bima yang seakan hendak mengulitinya.


"Makanlah! Apa kau tidak ingin makan?" ucap Sheila berbisik di telinga Bima.


Namun tiba-tiba saja, mereka berdua memalingkan wajahnya di saat bersamaan. Dan di saat itu bibir mereka bertemu secara sekilas nampak seperti berciuman.


Kedua orang tua mereka menyaksikan kejadian itu dan mereka langsung berdehem untuk menyadarkan kedua insan yang tampaknya belum sadar dengan keadaan mereka saat ini.


"Jadi, kami rasa. Kalian sudah siap untuk menikah bukan?" ayahnya Bima kepada Bima dan Sheila yang saat ini malah saling menatap satu sama lain.


"Kami sudah siap untuk menikah!" ucap Bima sambil tersenyum kepada Sheilla, tentu saja sebuah senyum kemenangan.


"Saya tidak siap untuk menikah dengan Bima! Maafkan karena saya akan mundur dari Perjodohan ini!" ucap Sheilla kemudian dia bangkit dari duduknya dan mengajak kedua orang tuanya untuk segera pulang dari kediaman Bima.


Sikap orang tuanya Bima tampak terkejut ketika melihat sikap dari Sheila yang tiba-tiba saja menolak Perjodohan mereka berdua.


"Bima! Apa yang sudah kau lakukan pada Sheila, huh? Kenapa Sheila jadi berubah pikiran seperti itu?" ibunya Bima sambil mengikut dada putranya yang saat ini sedang kebingungan melihat Sheila yang pergi begitu saja dari dalam kediamannya bersama kedua orang tuanya.


"Sebentar, Mah! Bima akan bicara dengan Sheilla!" Tampak orang tuanya Sheilla masih belum bangkit dari meja makan.


Mereka tampaknya masih menikmati makanan mereka. Tetapi saat ini Sheilla sudah duduk di dalam mobil mereka berdua dan tampak sedang menangis.

__ADS_1


" Tolong buka pintunya! Izinkan saya untuk bicara denganmu!" ucap Bima yang terus menggedor pintu mobil milik kedua orang tuanya Sheila.


"Mau apa lagi? Bukankah kamu menginginkan rencana pernikahan itu dibatalkan? Lalu kenapa sekarang kau heboh?" tanya Sheilla yang mulai jengah dengan kelakuan Bima yang plin-plan itu.


"Maafkan aku kalau kamu terganggu dengan sikapku. Aku janji kepadamu aku pasti akan menikahimu!" ucap Bima menjanjikan sesuatu yang sangat luar biasa untuk Sheila.


Akhirnya dia mau juga menikah denganku?! Tapi aku tidak boleh terlalu senang atau dia akan merasa curiga dengan semua yang terjadi malam ini.


"Katakan padaku? Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu tidak membatalkan rencana pernikahan kita?" tanya Bima dengan suara yang lemah.


"Kau itu benar-benar sangat aneh Tuan Bima Prakoso! Anda menolakku untuk menikah dengan Anda. Tapi sekarang anda memohon kepadaku untuk melanjutkan perencanaan pernikahan kita?" tanya Sheila merasa benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran Bima saat ini.


"Kau percaya padaku! Bahwa aku pasti akan menikahimu. Hanya saja aku meminta waktu padamu agar itu tidak tergesa-gesa!" ucap Bima kemudian dia meninggalkan Sheilla yang sedang bengong.


"Lihatlah mereka berdua! Tampaknya perjodohan kita akan berhasil!" ibunya Bima benar-benar sangat senang sekali karena berpikir bahwa Bima pasti akan menikah dengan Sheila.


"Biarkan saja mereka untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Kalau apa-apa harus dibantu orang tua, nanti jadi kebiasaan buruk. Biarkan mereka saling mengenal satu sama!" ucap Farel sambil menatap keduanya.


"Ya udah ayo! Kita lanjutkan ngobrol kita di ruang keluarga saja. Biarkanlah anak muda menyelesaikan urusan mereka sendiri-sendiri!" ayahnya Bima kemudian mengajak teman-temannya itu untuk bersantai di ruang keluarga sambil menunggu anak mereka selesai berdiskusi.


"Saya harapan mereka berdua bisa berhasil dengan rencana perjodohan kita. Sehingga kita berempat bisa segera menimbang cucu dari mereka!" ucap ibunya Bima yang seperti bahagia sekali memikirkan akan memiliki seorang cucu.


"Kau Lihatlah apa yang sudah kau lakukan terhadap orang tua kita. Mereka berpikir bahwa kita akan menerima pernikahan itu!"


Ucap Sheila kepada Bima yang saat ini terus menatapnya.


"Kau tolong untuk maafkan tentang ciuman ku tadi aku sungguh di luar kontrol!" Bima berusaha keras untuk membujuk Sheilla untuk mau memaafkan dia dan mau melanjutkan kembali rencana pernikahan mereka berdua seperti rencana kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2