
Setelah acara lamaran sederhana dilakukan. Akhirnya mereka pun merencanakan acara lamaran yang lebih resmi yang akan mendatangkan seluruh keluarga besar mereka yang akan sekaligus dilakukan pertunangan untuk Rehan dan Aurel yang sudah setuju untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius di dalam hubungan mereka.
Tampak Dinda dan Raffi juga hadir sebagai tamu undangan di dalam acara tersebut.
Mereka terbang jauh dari Surabaya untuk bisa menghadiri acara pertunangan Rehan dan Aurel.
Akhirnya Dinda memutuskan untuk menetap di kota Surabaya dalam rangka menghindari Elena yang selalu meneror kehidupan rumah tangga mereka.
Setelah selama satu minggu mereka berkeliling meninjau restoran milik Raffi. Akhirnya mereka pun memutuskan sesuatu yang besar dalam kehidupan mereka yaitu kehidupan mandiri untuk memulai kehidupan rumah tangga mereka tanpa dukungan dari kedua orang tua mereka masing-masing.
Bagas sebenarnya sudah menawarkan sebuah rumah sakit untuk menantunya bisa kelola di Surabaya. Akan tetapi Raffi terus menolaknya mentah-mentah.
Akhirnya untuk membuat kedua orang tuanya tidak kecewa dan merasa tenang. Dengan terpaksa Dinda pun menerima tawaran tersebut dan dia berkecimpung dan terjun sendiri untuk mengelola rumah sakit yang dipercayakan oleh orang tuanya kepada dirinya.
Sementara itu Raffi lebih sibuk dengan bisnisnya sendiri dan menyerahkan semua urusan perihal Rumah Sakit menjadi urusan dan tanggung jawab Dinda.
Setelah acara pertunangan selesai. Mereka pun kemudian sepakat bahwa pernikahan akan dilaksanakan 1 bulan dari sekarang.
Aurel sebenarnya masih ragu untuk memutuskan hal tersebut. Akan tetapi dia pun tidak ingin sampai kehilangan Rehan, pria yang sangat dia cintai.
Tampak Marcella dan Zidane pun hadir di acara tersebut dengan membawa Putra pertama mereka. Abian Abimana.
Tampak Raffi yang matanya sayu ketika melihat keluarga kecil itu yang terlihat begitu harmonis dan bahagia.
Abian yang tampan dan menggemaskan tampak begitu lucu di mata Raffi yang juga sudah merindukan kehadiran seorang bayi di dalam rumah tangganya bersama dengan Dinda.
" Mas?" tanya Dinda sambil menyentuh lengan suaminya ketika dia melihat Raffi yang tampak melamun.
Raffi terkesiap ketika mendapatkan istrinya sudah berdiri di sampingnya sambil tersenyum kepada dirinya.
__ADS_1
" Apakah kau juga menginginkan seorang bayi seperti Abian?" tanya Dinda sambil tersenyum kepada suaminya yang tampak begitu asyik memperhatikan Abian yang sedang bermain dan berceloteh dengan Aurel.
Raffi tersenyum kepada istrinya yang hari ini tampak begitu cantik dengan balutan busana muslimah yang selalu menutupi aurat nya secara sempurna.
Raffi adalah pria yang beruntung karena hanya dialah yang bisa melihat seluruh tubuh sang istri yang selalu terlindung oleh niqab dan jubah besar sang istri tercinta.
" Kalau Allah memang sudah menakdirkan kita untuk memiliki keturunan, pasti kita akan mendapatkannya. Kalaupun tidak diberikan kepercayaan itu, di pondok pesantren banyak anak-anak yang membutuhkan cinta kasih kita sebagai pengasuh pondok. Kita harus selalu berpositif thinking dan memberikan sugesti yang baik untuk kehidupan kita sayang. Karena Allah itu sesuai dengan persangkaan umatnya!" ucap Raffi sambil mengulas senyum kepada istrinya.
Tidak lama kemudian muncul Zidane yang langsung mendekati Raffi.
" Apa kabar Bro? Lama sekali kita tidak bertemu ya?" Sapa Zidane dengan lembut dan sikap yang bersahabat.
Padahal dulu ketika Raffi belum nikah, Zidane selalu menunjukkan wajah selalu marah dan sikap merasa terancamnya apabila Raffi dekat dengan Marcella.
" Alhamdulillah baik seperti yang kau lihat!" ucap Raffi dengan tersenyum.
" Lain kali, mainlah ke rumah kami!" ucap Zidane berbasa-basi terhadap Raffi sebelum mereka berpisah dan meninggalkan kediaman keluarganya.
" Besok kami akan kembali ke Surabaya. Entah kapan lagi kami akan kembali ke Jakarta!" ucap Raffi.
Tampak Zidan yang terkejut mendapatkan informasi tersebut yang sejujur yang memang baru dia ketahui.
" Saya pikir kau akan membantu kedua orang tuamu untuk mengurus pondok pesantren!" dan sambil menatap serius kepada Raffi yang sedang menundukkan kepalanya.
Tampak Dinda yang kemudian menarik tangan suaminya untuk meninggalkan Zidan yang sepertinya kepo dengan urusan rumah tangga mereka.
" Maaf ya Mas Zidane. Saya akan mengajak suamiku untuk berpamitan kepada tuan rumah karena kami sudah mengantuk dan ingin pulang." tanpa menunggu jawaban Zidane denda kemudian menarik tangan suaminya untuk menjauh darinya.
Raffi yang sebetulnya tidak keberatan untuk memberitahukan tentang alasannya. Kenapa dia sekarang lebih memilih untuk tinggal di Surabaya daripada membantu kedua orang tuanya dalam hal mengurus pondok pesantren. Semuanya untuk menghindari Elena agar tidak mengganggu rumah tangga mereka. Hal itu adalah sebuah fakta yang tidak mungkin disembunyikan dari siapapun.
__ADS_1
Bagaimanapun Raffi sedang berusaha untuk menyelamatkan rumah tangganya dari sebuah kehancuran yang diakibatkan oleh obsesi gila seorang Elena yang selalu memaksakan diri untuk menjadi istrinya.
Walaupun mereka cukup bertanya-tanya tentang keberadaan Elena saat ini yang sudah hampir 3 bulan lamanya tidak pernah terdengar lagi.
" Aneh sekali kenapa Dinda harus menyembunyikan alasan mereka pindah ke Surabaya?" tanya Zidane melihat pasangan itu meninggalkannya begitu saja.
" Itu karena mereka sedang menghindari seorang gadis yang bernama Elena yang terobsesi untuk menjadi istri Raffi. Bahkan Gadis itu sampai datang ke pondok pesantren dan mengaku-ngaku sebagai istri mudanya dengan menunjukkan sebuah video pernikahan Kepada adikku. Sehingga akhirnya membuat adikku marah dan meninggalkan Raffi dengan kembali ke kediaman utama keluargaku. Oleh karena itu Raffi memberikan usul untuk mereka pindah ke luar kota untuk menghindari Elena yang selalu mengganggu seperti hantu!" ucap Rehan menjelaskan semua rasa penasaran Zidane.
" Elena yang hadir di pernikahanku dulu?" tanya Zidane merasa penasaran.
Melihat Rehan yang menganggukkan kepalanya membuat Zidane merasa takjub dengan kegigihan seorang Elena dalam memperjuangkan sebuah cinta.
" Dulu karena sibuk dengan pernikahanku, aku tidak terlalu memperhatikan sosok seorang Elena. Aku hanya melihat keributan saja yang diakibatkan olehnya. Tidak disangka ternyata dia cukup berpengaruh untuk mempengaruhi kehidupan orang lain sampai memaksa mereka untuk pindah dari Jakarta!" ucap Zidane seakan tidak mempercayai sebuah fakta yang ada di hadapannya tentang seorang Elena yang kabarnya sekarang sudah menghilang dari peredaran.
" Sudahlah tidak usah sibuk mengurus kehidupan orang lain. Kau uruslah sendiri rumah tanggamu. Jangan sampai Marcella merasa tidak nyaman menjadi istrimu, yang akhirnya lari ke pelukan orang lain!" ucap Rehan yang kemudian meninggalkan calon iparnya yang tampak tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya.
Zidane kemudian mendekati istrinya yang tampak sedang sibuk bermain dengan Putra mereka Abian yang masih berumur 1 tahun.
" Kita pulang sayang? Abian tampaknya sudah mengantuk!" ucap Zidane sambil berbisik di telinga istrinya.
Marcella tampak melihat ke sekeliling di mana banyak tamu yang sudah pulang dan meninggalkan kediaman mertuanya.
" Apa kita tidak menginap saja malam ini Mas? Toh kita juga kan sudah lama tidak pernah mengunjungi kedua orang tuamu mungkin mereka merindukan cucunya!" ucap Marcella sambil mengulas senyum kepada suaminya.
Tampak Zidane yang mengangkat Abyan yang tadi tampak asik bermain dengan sang istri.
" Kita pulang saja kasihan Abian tidak terbiasa tidur di tempat asing!" ucap Zidane tanpa menghiraukan perkataan Marcella.
Marcella hanya menarik nafasnya dengan dalam ketika dia melihat suaminya yang sudah berlalu dari hadapannya dan bersiap untuk meninggalkan kediaman utama keluarga Abimana.
__ADS_1