
Setelah mendengarkan apa yang diinginkan oleh Mamahnya, Dipta kemudian masuk ke dalam kamarnya. Mengambil buku cek dari dalam nakas di samping ranjangnya. Kemudian Dipta keluar untuk menemui Mamanya kembali di ruang tamu.
Tanpa banyak cakap, Dipta kemudian menulis angka 500 juta, pada selembar cek yang tadi Dipta ambil dari kamarnya. Dipta kemudian menandatanganinya. Setelah itu Dipta menyerahkan cek tersebut kepada Mamanyam Mamanya tampak bingung dengan apa yang dilakukan oleh anaknya. Matanya menatap sang anak, bertanya apa yang sedang dilakukan oleh Dipta.
"Ini cek 500 juta, bisa Mama cairkan hari ini juga. Tanah itu dan rumah itu dengan ini Dipta beli dari tangan Mamah. Jadi mulai sekarang, Mama tidak punya hak lagi untuk marah-marah ataupun mengamuk. Ketika tanah itu Dipta wakafkan untuk pembangunan pondok pesantren atas nama almarhum istri dan anakku. Mama paham?" Dipta lalu pergi meninggalkan Mamahnya yang masih bengong terlongong di sana. Bingung harus bagaimana.
"Bukan seperti ini yang Mama maksud Dipta!" Ibunya Dipta berusaha untuk mengejar Dipta, tetapi Dipta sudah pergi dengan menggunakan taksi. Entah pergi ke mana.
Merry dan Layla yang menyaksikan kejadian itu sampai bercak terkagum-kagum dengan majikan mereka yang memang the best. Mereka berdua makin jatuh cinta dengan pesona seorang Dipta yang sungguh luar biasa.
"Heran ya, Pak Dipta itu, luar biasa baiknya. Masya Allah! Pria idaman pokoknya! Tapi kenapa ya? Bisa punya Mama yang seperti Mak Lampir seperti itu?" ucap Merry merasa kesal melihat majikannya dipukuli oleh ibunya.
"Iya, saya juga heran! Kok bisa ya, Pak Dipta yang begitu lembut. Memiliki seorang Mama yang begitu kasar dan galak! Bahkan pemikirannya, aduh! Masya Allah udah melebihi seorang Dajjal!" ceplos Layla.
"Eh, memang kau tahu pemikiran seorang Dajjal? Kok bisa-bisanya,kamu mengatakan kalau pemikiran Nyonya Besar itu melebihi Dajjal? Hati-hati lho! Kalau Kamu bicara,nanti jangan-jangan ada yang mendemo kamu!" seketika wajah Laila memucat sudah ketakutan.
__ADS_1
"Ih, yang bener Mbak Merry? Masa sih saya ngomong kayak gitu aja, bakalan di demo sama orang-orang? Emang apa hubungannya kata-kata saya dengan mereka?" tanya Laila sudah ketakutan maksimal.
Merry merasa lucu dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Layla. Merry terus tertawa terpingkal-pingkal, karena merasa berhasil mengerjai temannya tersebut.
"Ko Mba Merry malah tertawa, sih? Apa yang lucu, Mba?" Laila misuh-misuh karena ditertawakan oleh sahabatnya.
"Udah ah! Ayo kita kerja aja! Nanti kalau Nenek Lampir itu kembali lagi ke sini, dan melihat kita merumpiin dia, bisa-bisa kita dipecat loh!" Merry sudah bergidik ngeri.
"Ayo Mba, mau kemana lagi kita cari pekerjaan sebaik disini? Punya bos yang luar biasa baiknya!" mereka berdua kemudian melanjutkan pekerjaan mereka dan melupakan kejadian yang baru saja mereka saksikan.
Sementara itu, Mamanya Dipta sekarang sudah kembali ke rumahnya yang sangat mewah, dengan membawa cek 500 juta tersebut. Dia terus menatap cek tersebut. Bingung dan marah? Tidak! Tapi lebih ke perasaan malu. Dirinya protes masalah tanah warisan ke dua orang tuanya, yang memang secara hukum sudah di wariskan kepada Dipta.
"Mas, apakah aku memang lebih baik mewakafkan tanah tersebut ya? Atas namamu. Mungkin dengan begitu akan menjadi amal jariyah untukmu di kuburan sana." Tanpa terasa air mata merembes tanpa bisa di bendung lagi.
Wanita paruh baya itu, yang selama ini selalu berjuang untuk membesarkan putranya seorang diri tanpa suaminya. Dia mengingat semua perjuangannya setelah kepergian suaminya yang meninggal tiba-tiba. Perjuangan yang tidak mudah, sehingga akhirnya dia berhasil menaklukkan dunia dengan pemikiran dan ambisinya. Sehingga bisa mendirikan perusahaan yang begitu besar dan megah dan memiliki cabang di beberapa negara.
__ADS_1
"Aku akan menyerahkan uang ini kepada mereka, untuk membantu pembangunan pondok pesantren tersebut." setelah membereskan penampilannya mamanya Dipta kemudian kembali ke rumah lama keluarga besar mereka yang kini telah diwakafkan oleh Dipta kepada pasangan yang baru saja dia kenal selama beberapa bulan ini.
Di sana, terlihat Dipta sedang berbincang-bincang dengan kedua pasangan tersebut. Hatinya merasa terhiris melihat Dipta yang tampak begitu bahagia berada diantara mereka. Selama ini dirinya selalu melihat Dipta yang selalu bersedih dan tidak bisa melupakan kematian istri dan anaknya. Dikarenakan perbuatan dirinya yang sudah keterlaluan mengusir menantunya karena tidak merestui pernikahan Dipta dan menantunya itu.
"Dipta, bisa Mamah bicara dengan kamu?" ucapan Mamahnya yang begitu lembut, mengagetkan Dipta. Selama ini Mamahnya selalu keras dan tegas.
Mamanya adalah tipe bisnis women yang selalu tampak dingin dan arogan di hadapan para karyawan maupun rival bisnisnya. Oleh karena itu Dipta merasa heran melihat Mamanya, dengan tatapannya yang begitu teduh dan suaranya begitu lembut.
"Ada apa, Mah?" tanya Dipta setelah pamit kepada Nur dan Ali. Dipta mengajak Mamahnya ke teras rumah.
Para pekerja masih sibuk bekerja, tidak memperdulikan kedatangan Mamanya Dipta. Karena kedatangannya sekarang tidak berteriak-teriak lagi seperti kedatangan yang sebelumnya. Jadi para pekerja tidak merasa terganggu dengan kehadiran wanita paruh baya itu.
"Dipta Mama sudah sadar, kalau perbuatan Mama itu salah. Ini cek yang tadi kamu berikan kepada Mama, serahkan kepada mereka untuk di donasikan dari Mama atas nama almarhum Ayah kamu. Gunakan uang ini untuk pembangunan dan pengembangan pondok pesantren ini. Mama berharap uang ini akan menjadi amal jariyah bagi Ayahmu di kuburan sana. Ini adalah hadiah Mama Untuk Ayah kamu di kuburan sana." Air mata terus mengalir di kelopak mata wanita paruh baya tersebut. Ya walaupun tampak garang di luar sana, tetapi Dipta tahu, bahwa Mamahnya mempunyai hati yang lembut dan seorang wanita yang kuat dan tegar.
"Apakah Mama serius dengan niat Mama ini?" sungguh, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar, selain melihat Mamahnya insyaf dan menyadari kesalahannya.
__ADS_1
"Iya, sayang! Mama sangat serius. Nanti setiap bulan, Mama akan mendonasikan sejumlah dana, untuk menopang kegiatan di pondok pesantren ini! Tolong kamu sampaikan sama mereka, ya?" Mamanya sudah bersiap untuk pergi, tetapi tiba-tiba Dipta memeluk Mamahnya, mereka akhirnya menangis bersama.
Ali dan Nur, yang melihat ibu dan anak tersebut, saling berpelukan dan menangis, tanpa terasa ikut terharu juga. Para pegawai yang tadi melihat Mamanya Dipta mengamuk, kini ikut menitikkan air mata. Apalagi tadi mereka sudah mendengar sendiri niat wanita paruh baya itu. Yang akan menjadi donatur tetap di pondok pesantren yang sedang mereka bangun.