
Ali pergi ke luar untuk membeli makan malam untuk dirinya dan juga istrinya. Namun, saat dirinya akan keluar dengan motornya, Nadya keluar dari rumahnya.
"Mau kemana, Mas? Sudah malam ini, loh!" tanya Nadya sok perhatian.
"Mau beli makan malam, tadi kami pindah buru-buru, belum sempat belanja bahan makanan maupun alat memasak." jawab Ali sudah naik ke motornya. Nadya, tanpa tahu malu sudah nangkring di jok motor Ali. Tentu saja Ali jadi panik, tidak mau nanti terjadi fitnah di lingkungan kost tempat tinggal barunya.
"Kamu mau apa?" tanya Ali gugup.
"Aku juga mau beli makan malam, Mas! Aku ikut sekalian ya?" tanya Nadya memelas, dia sudah memeluk pinggang Ali dengan manja.
"Maafkan saya, kamu bisa titip makanan itu, nanti saya bawakan ke rumah kamu. Tolong kamu turun dari motor saya!" perintah Ali dengan tegas.
Jujur, hati Ali saat ini rasanya sudah mau meloncat saja, takut Istrinya tiba-tiba keluar dan melihat Nadya yang kini menempel dengan dirinya. Ali bahkan bisa merasakan dada Nadya menempel di punggungnya. Keringat dingin sudah bercucuran, dalam hati terus beristighfar.
"Tolong turun dari motor saya, atau besok saya akan pergi dari rumah kamu!" hardik Ali dengan mata merah, menahan marah dan hasrat yang tiba-tiba terbangun gara-gara kenakalan Nadya yang tadi menggodanya. Tangan Nadya dengan kurang ajar mengelus dada Ali dengan perlahan.
"Ali langsung menarik tubuh Nadya dari motornya, lalu secepatnya dia pergi dari sana. Membeli makan malam untuk dirinya. Tidak lupa dia membeli satu bungkus untuk Nadya juga.
Saat sampai ke kost lagi, Nadya tampak menunggu dirinya di teras, Ali sungguh frustasi dengan Nadya. Wanita itu bahkan sekarang menggunakan pakaian tidur yang sangat tipis dan seksi sekali, " Ya Allah, kuatkan diri hamba dari godaan setan yang terkutuk! " doa Ali sambil menundukkan matanya lalu menyerahkan bungkusan tadi kepada Nadya.
Nadya merasa sakit hati, melihat pria pujaan hatinya sama sekali tidak mau melihat dirinya. Dia hendak mendekati Ali, dengan langkah yang sengaja dia buat gemulai, dalam rangka menggoda suami orang lain. Tapi tiba-tiba suara Nur yang memanggil suaminya membuat Nadya mengurungkan niatnya, dia mengambil plastik yang diberikan oleh Ali lalu masuk ke rumahnya.
__ADS_1
"Mas, ko lama banget, aku sudah lapar ini!" Nur berteriak memanggil suaminya.
"Iya, sayang! Mas datang!" Ali lalu mencium istrinya dengan penuh cinta kasih.
Nadya yang masih mengawasi di balik jendela kamarnya, langsung melempar makanan yang tadi di berikan oleh Ali.
"Dasar kurang ajar! Sama aku dia dingin dan selalu mengelak, lihatlah itu! Sama Istrinya sangat romantis! Awas saja, aku pasti akan membuat kamu bertekuk lutut sama aku!" geram hati Nadya melihat pasangan itu begitu mesra dihadapannya.
"Kok tadi kamu lama di rumahnya Nadya, sayang?" tanya Nur hati-hati, takut suaminya tersinggung dengan pertanyaan nya.
"Maaf, sayang. Tadi Nadya mau ikut beli makanan sama Mas, tapi Mas menolak. Mas takut nanti ada fitnah di antara kami. Jadi Mas belikan dia makan malam sekalian. Maaf, ya. Kamu jadi lama nungguin!" Ali sungguh takut kalau istrinya melihat kelakuan Nadya yang selalu menggoda dirinya.
"Ya sudah, ga papa Mas. Tadi aku mau ikut, tapi khawatir dengan anak kita. Kehamilan ku masih muda, masih rentan banget?! Maaf ya, Mas!"
Setelah makan, mereka tidur karena terlalu lelah setelah beres-beres, besok rencananya mau mencari toko untuk bisnis baru yang akan dijalankan oleh istrinya. Setelah urusan toko, dia akan fokus dengan pekerjaannya sebagai penjaga kost yang mengawasi penghuni kost Nadya.
Punya majikan seperti Nadya ada plus minusnya. Plusnya, Nadya bisa ngerti apapun kesibukan Ali, minusnya, Ali harus kuat-kuat iman, dan harus menediakan stock sabar yang banyak dengan kelakuan Nadya yang selalu menggoda imannya.
Dirinya harus banyak istighfar kalau berhadapan dengan Nadya, agar otaknya selalu waras. Ali berniat untuk segera melunasi hutangnya. Jadi dia bisa segera pergi dari rumah Nadya. Nadya menawarkan gaji 3 juta untuk bekerja di rumahnya. Jadi untuk bayar hutang di harus tahan selama 10 bulan, kalau dia bisa menyisihkan laba toko untuk bayar hutang, Ali yakin dirinya bisa segera lepas dari bayang-bayang Nadya yang sedikit banyak telah merusak otaknya.l
"Sayang, Mas kira toko ini lumayan, dekat dengan pasar dan juga tempat tinggal kita. Disini juga ada kamar mandi dan satu kamar kosong. Suatu saat kalau kita pindah dari rumah Nadya, kita bisa tinggal di kamar ini." Ucap Ali sambil menatap sang istri yang berbinar melihat toko baru mereka.
__ADS_1
Tadi mereka sudah membayar kontrakan selama satu tahun, 8 juta. Jadi masih ada uang 22 juta di tangan mereka. Rencana hari ini juga mereka akan belanja sembako untuk toko mereka. Mereka juga sudah mentransfer 12 juta kepada Papahnya Nur, supaya nanti mensuplai beras ke toko mereka.
Nur sangat bahagia sekali, dengan kehidupan baru yang akan dia jalani bersama sang suami. Nur mengelus perutnya yang masih rata.
"Sayang, doakan Mamah sama Babah ya, semoga usaha ini semakin lancar, kita sekeluarga hidup bahagia, selamanya!" Ucap Nur sambil menatap suaminya yang tengah sibuk beres-beres.
"Mas, biar aku saja yang beres-beres, Mas belanja sembako saja, untuk toko kita, jadi besok aku sudah bisa buka toko ini!" ucap Nur sumringah.
"Kita selamatan dulu, sayang! Nanti malam, Mas akan undang beberapa santri untuk berdoa di sini. Agar usaha kita lancar dan berhasil." Ali mencium kening dan perut istrinya yang masih rata.
"Terima kasih, sayang! Kamu mau mendampingi Mas yang miskin ini, bersedia berada di samping Mas, Mas janji akan berusaha bahagiakan keluarga kita. Ingatkan terus Mas, kalau Mas berbuat salah, ok?" Nur mengangguk dan tersenyum melihat suami yang kini malah menitikan air matanya, penuh haru.
"Bagaimana dengan skripsi kamu?" tanya Ali.
"Alhamdulillah, tinggal nunggu sidang. Memperbaiki beberapa saja, gak akan lama lagi, aku sudah bisa wisuda. Jadi bisa fokus dengan toko dan pernikahan kita,"
"Alhamdulillah, ayo kita makan siang, bentar ya, Mas beli dulu di warung makan depan sana!" Nur lalu melanjutkan membereskan toko baru mereka.
Hari ini mereka berdua sungguh sibuk sekali.
Ali juga membeli beberapa papan dan kayu, lalu membuat lemari-lemari yang nantinya berfungsi sebagai gondola dagangan mereka. Setelah makan, Ali sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tidak sadar dengan kedatangan Nadya.
__ADS_1
Duh, Nadya ini kenapa udah kaya kuntilanak aja ya? Ada di mana saja. Bikin gemes author jadinya.