Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
55. Bertemu Malaikat penolong


__ADS_3

"Memangnya kenapa, Mba? Apa Mba sedang ada masalah?" tanyanya sambil bermain dengan anakku yang mulai aktif.


"Ya, aku kabur dari suamiku. Suamiku mau menikah dengan perempuan lain, dari pada aku harus berbagi cinta, jadilah aku kabur!" ucapku.


"Ya Allah! Suami macam apakah, yang tega melakukan hal itu? Padahal Mba sudah memberikan dia bayi selucu dan setampan ini!" dia menatap iba kepadaku. Matanya masih tertuju kepada bayiku yang tersenyum ke arahnya.


"Namaku Dipta, Mba namanya siapa?" tanyanya.


"Nur! Anakku bernama Rafi!" ucapku sambil melihat jendela. Banyak mobil di luar yang lalu lalang. Hatiku perih, entah mau kemana diriku saat ini, membawa bayi mungil dalam gendongan.


"Mba, alamatnya dimana? Biar nanti saya antar, kebetulan nanti di terminal saya di jemput!" tanya Difta lagi.


"Saya belum punya tempat tinggal, saya pergi dari suami saya tanpa tujuan. Saya hanya ingin menjauh dari hidup dia!" ucapku sendu.


"Ya Allah, dengan bayi seperti ini, Mba nekat ke Jakarta, apa sudah dipikirkan matang-matang?" dia tampaknya khawatir dengan kondisiku saat ini.


"Aku akan mencari kontrakan dan pekerjaan. Jangan khawatir, rejeki Allah yang atur, aku percaya, selama aku mau berusaha, aku pasti bisa hidup aman bersama anakku!" ucapku yakin. Walaupun kalau mau jujur, hatiku ragu. Bagaimana dengan nasibku kelak di perantauan.


"Mba, aku hidup sendiri di Jakarta, karena kedua orangtuaku semua tinggal di luar negeri. Kalau Mba mau, Mba bisa tinggal di rumah saya, kalau misalkan butuh pekerjaan, Mba bisa kerja di rumah saya. Kebetulan ART saya kemarin baru mengundurkan diri. Mba bisa bekerja apabila Rafi sedang tidur, kalau tidak, Mba cukup urus Rafi saja. Tidak apa-apa!" ucapnya dengan santai.


"Mas kok baik sekali dengan saya. Padahal kita orang asing yang baru bertemu, bahkan kita baru tahu nama masing-masing!" ucapku.


"Saya sayang dengan Rafi, dia anak yang lucu! Mba tahu tidak? Saya ini anak tunggal di keluarga saya. Jadi saya selalu kesepian tanpa saudara. Orang tua saya juga selalu bepergian ke luar negeri sibuk dengan bisnisnya. Jadi saya pasti sangat bahagia kalau Mba mau tinggal di rumahku!" Pria bernama Dipta itu tampak sumringah ketika dia bermain dengan bayiku. Bayiku tampak senang bermain dengan Dipta.

__ADS_1


Hatiku rasanya menghangat, ada seorang malaikat yang sudi menolong diriku yang sedang jatuh dan kalut. Sungguh, tidak ada perasaan yang lebih sakit, dari pada kita kehilangan cinta suami kita. Apa kalian pernah merasakan hal itu?


"Mba, kenapa tadi Mba tidak mau pulang ke Cirebon saja, tinggal bersama orang tua Mba?" tanya Dipta, kini Rafi sudah berpindah ke tangan pria tampan tersebut, kalau dari segi usia, dia tampaknya lebih tua sedikit dariku.


"Aku gak mau merepotkan Papahku yang sudah tua. Aku juga tidak mau suamiku menemukan keberadaan diriku dan anakku!" jawabku dengan sendu. Ya, perasaanku saat ini sedang terluka. Aku hanya butuh waktu sendiri. Aku malas ribut dengan suamiku maupun dengan calon maduku. lebih baik aku pergi, itu pilihan terbaik bagiku.


Kami akhirnya sampai juga di terminal bus kampung rambutan, saat kami berdua turun, tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Dipta menggendong Rafi dengan hati-hati dan juga menuntunku untuk mengikuti dirinya.


"Supirku sudah menunggu di luar, ayo kita pulang ke rumah!" ucap Dipta tampak bahagia. Bayiku merespon apapun yang dikatakan oleh Dipta. Membuat Dipta jadi ke GR an.


"Tahu tidak sih, semua orang yang melihat kita, menatapku dengan iri, karena menggendong bayi selucu Rafi dan menggandeng kamu." Senyum sumringah Dipta membuat aku lupa sejenak dengan penderitaan yang saat ini aku alami.


"Apa kamu tidak malu? Mereka berpikir aku istrimu dan Rafi sebagai anak kamu?" ucapku.


"Itu supirku! Ayo!" Dipta menarik tanganku dan membukakan pintu mobil untuk diriku, aku rasanya malu di perlakuan begitu istimewa oleh pria yang belum lama aku temui.


Supir Dipta tampaknya bingung ketika melihat Dipta yang membawa pulang seorang perempuan dan seorang bayi gembul di tangannya.


"Sejak kapan, Tuan punya bayi dan istri?" tanya Supir tersebut keheranan.


"Sejak hari ini! Hahahaha!" ceplos Dipta, yang sukses membuat diriku kaget bukan kepalang.


"Mas Dipta apa-apa an sih?" protesku. Pria itu hanya tersenyum melihat wajah protesku.

__ADS_1


"Jangan bercanda dengan hal kayak gini. Nanti berakibat fatal buat nama kamu!" ujarku. Dipta hanya senyum saja. Aku di buat kesal olehnya.


"Jangan percaya dengan Tuanmu, kami bukan suami istri. Tuanmu menolong aku yang tunawisma ini! Tuanmu itu berhati malaikat, dia tidak tega melihat aku dan anakku menggelandang di ibu kota!" aku menjelaskan semuanya kepada supirnya Dipta.


"Saling menolong itu kewajiban semua orang, sudah! Jangan terlalu di dramatis, ayo kita pulang, Pak! Kasihan bayiku yang tampan ini, pasti sudah leleh, ya?" Dipta lalu mencium pipi anakku yang sangat lucu dan menggemaskan.


"Kau sangat suka dengan bayi?" tanyaku heran.


Sejak kami turun dari bus, Dipta tidak mau melepaskan Rafi dari pelukannya. Terus menciumi Rafi dengan penuh kasih sayang. Hatiku rasanya menghangat. Merasa sangat bersyukur, ketika suamiku lebih senang memikirkan wanita lain dari pada bermain dengan anaknya, disini. Ada pria lain yang sangat bahagia bermain dengan bayiku yang tampan dan imut.


"Ayo kota turun! Kita sudah sampai di rumah Papah! Rafi pasti suka tinggal disini!" demi apapun, aku dan supirnya merasa terkejut saat Dipta memproklamirkan dirinya sebagai seorang Papah dari anakku.


"Jangan pikiran omongan dia, Pak! Sepertinya dia kesambet setan waktu di jalan, otaknya jadi error!" Bukannya marah mendengar ucapanku yang mengolok-olok dirinya, Dipta malah tertawa terbahak-bahak.


"Kok kamu tahu kalau aku kesbet setan di jalanan? Apa kamu seorang indigo?" tanyanya dengan wajah innocence yang menggemaskan.


"Aku pergi dari sini kalau kau menggoda terus!" ancamku dengan mata melotot.


"Ampun! Aku menyerah! Ayo aku bawa kamu ke kamar kamu dan Rafi!" Supir tadi sudah pergi ke garasi, memasukan mobil lalu dia pergi tidur di kamarnya.


Dipta membawaku ke sebuah kamar yang sangat cantik, ada kamar mandi juga di dalamnya.


"Apa kamar ini tidak berlebihan?" tanyaku heran.

__ADS_1


__ADS_2