Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
33. Perpisahan


__ADS_3

Hari ini Rencananya aku akan pulang ke Cirebon. Pernikahan kami seminggu lagi, jadi aku harus mulai berpuasa mutih, supaya panggling, kata orang tua jaman dulu. Aku di antarkan oleh Pak Lurahku, calon suamiku.


Pagi-pagi dia sudah menemui Pak Kiai, meminta izin kepada beliau. Mas Ali merasa harus menjamin keselamatan ku sampai ke rumah, makanya dia bersikeras mengantarkan aku pulang. Kami pulang menggunakan motorku, nanti dia kembali ke Purwokerto dengan bus umum.


"Mas kita cari makan dulu, yuk! Lapar nih!" pintaku saat kami sudah keluar dari kota Purwokerto.


"Iya, nanti kita cari warung makan!" ujarnya.


Aku memeluk pinggangnya. Senang rasanya bepergian bersama seperti ini. Waktu pertemuan kami hanya singkat setiap harinya. Itu juga harus pintar-pintar mencuri waktu.


Siapa yang menyangka, keputusan aku untuk mondok, malah membuat aku bertemu dengan jodohku. Padahal dari awal aku kuliah, aku paling anti dengan namanya pondok pesantren.


Mungkin benar ya, nasib kita itu sudah ada yang atur. Jodoh, maut dan rejeki semuanya urusan Allah. Aku mencintai Majid bertahun-tahun tapi tidak bersama, bertemu dengan Mas Ali, hanya dalam hitungan bulan, malah sekarang akan menikah. Sungguh rahasia Ilahi.


Setelah menemukan warung makan, kami berhenti sejenak, lalu makan bersama.


"Sayang, Mas besok pulang ke Sulawesi. Mau bekerja di sana. Kamu kan kemarin bilang, ingin mahar pernikahan berasal dari hasil kerja Mas!"


"Pernikahan kita tinggal seminggu, kok malah pulang sih? Nanti kembali lagi ke sini tidak?" tanyaku sambil cemberut.


"Iya dong, sayang! Mas nanti kembali bersama keluarga Mas, sekalian menghadiri pernikahan kita. Kamu nanti baik-baik ya, jangan nakal!" pesannya sambil mengelus kepalaku.


"Paling, Mas yang bakalan nakal disana!" cibirku.


"Percayalah sama Mas! Mas pulang ke Sulawesi demi penuhi harapan kamu, sayang! Cari uang buat mahar. Mas kembali dua hari sebelum pernikahan kita. Kamu jangan khawatir sama Mas!" ucapnya meyakinkan diriku.


"Ya udah, ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Nanti Mas kemalaman kembali ke Purwokerto." ucapku.


"Iya, ayo!" ucapnya, lalu pergi ke kasir dan membayar makanan kami berdua.


Mas Ali tidak pernah membiarkan aku membayar makananku sendiri, apabila kami makan bersama. Tapi aku yang kadang tidak enak, suka gantian bayarin kalau dia sedang lengah.


Ya, pasangan memang harus saling pengertian. Saling memberi dan menerima. Biar tidak ada yang dirugikan. Dia anak perantau, jauh dari orang tuanya, jadi aku kadang tidak tega sama dia.


Setelah perjalanan sekitar 4 jam, kami akhirnya sampai juga ke rumahku. Dia hanya mengantarkan aku sampai rumah, bicara sebentar dengan orang tuaku, lalu kembali ke Purwokerto.


"Saya mau berpamitan sekalian, rencananya besok saya akan pulang dulu ke Sulawesi. Menjemput keluarga saya. Mereka akan datang untuk menghadiri pernikahan kami nantinya!"

__ADS_1


"Hati-hati di jalan, salam untuk orang tua kamu, ya!" pesan Mamah dan Papahku.


Mas Ali di antarkan Papahku sampai ke pasar Gebang. Aku dan Mas Ali hanya bertemu untuk berpamitan sekitar lima menit, dia langsung pergi.


Setelah Mas Ali pergi, Mamahku langsung menemui ku di kamarku.


"Mulai besok harus mulai puasa mutih, ya? Biar nanti panggung dan cantik!" ucap mamahku.


"Iya, Mah! Aku mau istirahat dulu, lelah sekali!" aku langsung tidur sampai ashar tiba.


dreeeeeetttt


Saat aku bangun, ada notifikasi pesan masuk.


"Lagi apa? Baru pisah sebentar sudah kangen!" pesan dari Mas Ali.


"Baru bangun tidur." jawabku.


"Ko kangen nya gak di balas?" tanyanya.


"Baru ketemu tadi, masa sudah kangen sih? Dasar raja gombal!" jawabku.


"Hmmmm" jawabku.


"Kok cuma Hmmmmm?" tanyanya.


"Maunya jawab apa?" jawabku.


'Duh, ini kalau diladeni terus gak akan berhenti!' bathinku. Aku lalu menonaktifkan ponselku dan pergi mandi lalu sholat ashar.


Setelah sholat ashar, aku membantu Mamah untuk jaga warung. Kalau jam segini memang banyak pelanggan. Mamahku orangnya baik.hati, suka membantu orang lain. Jadi banyak pelanggan yang belanja sama Mamahku.


"Adikmu pulangnya nanti dua hari lagi. Lagi ada ujian katanya." ucap Mamahku.


"Iya, Mah! Gak apa-apa." aku lihat Papah sudah kembali dari kebun. Tadi setelah mengantar Mas Ali ke pasar Gebang, Papahku langsung ke kebun.


Orang tuaku kerjanya sebagai petani, punya penggilingan padi, punya warung sembako juga. Alhamdulillah dari sana orang tuaku berhasil menguliahkan semua anak-anaknya.

__ADS_1


"Mah, apa semuanya sudah siap?" tanyaku.


"Iya, besok tinggal sebarin undangan saja." jawab mamah di sela-sela melayani pelanggan.


"Jadi Nur nikah tanggal 14 nanti?" tanya tetangga ku yang sedang belanja.


"Insya Allah, mohon doanya,semoga semuanya lancar!" jawabku.


"Amien! Ya udah, bibi pulang dulu. Mau siap-siap buat dagang besok di sekolah!" ucap bibi itu.


"Nur, kemarin Aditya datang ke sini. Dia protes tentang kamu yang mutusin dia secara sepihak. Katanya kamu keterlaluan." ucap Mamahku, saat warung sudah sepi.


"Biarkan saja, Mah! Gak usah diladenin orang kaya dia! Bikin pendek umur saja!" jawabku kesal.


Aku mending pergi ke kamarku, dari pada bicara tentang Aditya. Masih kesal rasanya tentang masalah kecelakaan dulu. Dia yang bikin aku celaka, tapi orang tuaku yang suruh menanggung semua kesalahan dia.


Orang tuanya sama sekali tidak ada itikad baik untuk mibra maaf atau apapun. Katanya keluarga Kiai, kelakuan minus! Sudah gitu, Mamah bilang, Pamannya suka ambil beras tanpa mau membayar. Bikin kesal saja.


Belum jadi keluarga saja sudah lancang macam itu, apalagi kalau sudah jadi keluarga? Malas saya walaupun cuma mikirin hal itu.


Aku sudah mantapkan hati untuk menikah dengan Mas Ali. Walaupun pertemuan kami terbilang singkat, tapi aku yakin, dia kelak akan menjadi imamku dan ayah bagi anak-anak kami.


Aku masih ragu dengan orang tuanya. Apakah mereka bisa menerima aku sebagai menantu mereka? Aku belum pernah bertemu mereka.


Dahulu saat awal ta'aruf dengan Mas Ali, minta dipertemukan dengan orang tuanya, Mas Ali menolak, dengan alasan orang tuanya jauh, di luar pulau Jawa. Apa mau di kata? Aku gak bisa memaksakan kehendak diriku sendiri.


Dreeeeeetttt


"Mas sudah sampai Purwokerto. Sekarang lagi siap-siap mau berangkat ke Surabaya menuju Sulawesi. Naik pesawat dari sana. Tolong doakan perjalanan Mas lancar sampai tujuan dan kembali dengan selamat di saat hari pernikahan kita!"


Hatiku menghangat saat membaca pesan singkat dia. Dia mau berjuang demi cinta kami. Bahkan lautan dia sebrangi demi diriku. Aku memang meminta dia memberikan mahar dari hasil kerja dia. Tidak tahu kenapa harus jauh-jauh ke sulawesi hanya untuk bekerja.


"Hati-hati, Mas!" jawabku.


"Kamu juga, jaga hati kamu buat Mas! Awas jangan nakal!" pesannya.


"Iya!" jawabku.

__ADS_1


Hari sudah malam, sebaiknya aku segera tidur, karena nanti harus bangun untuk sahur. Besok aku harus mulai puasa mutih. Jadi harus bangun tengah malam buat sahur, biar kuat puasanya.


__ADS_2