
"Gue hanya tidak mampu untuk membuka pintu hati bagi perempuan lain masuk ke sana! Mungkin karena belum ketemu dengan yang klop di hati, kali ya?" tanya Bima sambil tersenyum ke arah Dipta.
"Alah lo mah, sok gaya, kebanyakan bergaya, kebanyakan selera, dankebanyakan milih cewe. Padahal kalau lu mau, tinggal ambil aja tuh satu orang fansmu, bisa deh kamu jadi istrimu!" Bima tertawa mendengarkan celotehan ku yang sebetulnya sedang menyindir dirinya.
Bima bisa dikatakan sebagai seorang Casanova di negara ini. Setiap hari selalu berganti-ganti pacar, tetapi tidak ada yang diakui sebagai pacarnya. Dia hanya suka untuk bersenang-senang dengan mereka, setelah bosan, kemudian meninggalkannya. Karena tampaknya dia telah menambatkan hatinya hanya untuk Riyanti.
Berdasarkan analisis yang kulihat, tampaknya itu adalah cara dari seorang Bima. Untuk melupakan perasaan cintanya yang karam sebelum berkembang, oleh situasi dan kondisi yang terjadi di dalam hidupnya.
"Ya udah deh gue pulang dulu ya? Gue mau bersiap-siap untuk segera berangkat ke Kalimantan. Nanti kalau lu kangen sama gue, lo bisa langsung datang saja ke lokasi. Ok?Soalnya di sana sangat kesulitan dengan komunikasi dan transportasi!" ucap Bima kemudian dia menyerahkan alamatnya kepada Dipta.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya? Kalau kebetulan sedang menemukan sinyal, tolong kau hubungi aku. Supaya aku tidak khawatir dengan kondisimu di sana!" pesan Dipta kepada Bima yang kemudian Langsung kembali ke kediamannya.
Flash back off
Dipta kini menatap sekretarisnya, kemudian dia memberikan perintah kepadanya.
"Saya akan pergi ke Kalimantan selama beberapa hari. Pastikan kalau kamu membutuhkan apapun, untuk bisa berkomunikasi dengan para direktur yang lain. Atau kalian bisa meminta konsultasi persetujuan kepada ibuku. Karena kemungkinan di sana tidak ada komunikasi telepon dan transportasi juga sangat sulit!" ucap Dipta memberikan pesannya kepada sekretaris pribadinya.
"Memangnya Tuan Dipta ke Kalimantan ada acara apa?" tanya sekretarisnya tersebut.
"Saya ingin menemui Sahabat saya di sana. Saat ini dia sedang kesulitan dan pasti sedang membutuhkan pertolongan!" ucap Dipta menjelaskan kepada sekretarisnya.
"Bukankah tempat itu, sedang mengalami gempa dan sangat riskan sekali keselamatan di sana. Akan lebih baik, jika anda tetap di Jakarta saja tuan. Saya sangat khawatir dengan keselamatan anda!" sekretaris Dipta berusaha untuk menasehati agar detail merubah keputusannya untuk pergi ke Kalimantan menengok sahabatnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, saya bisa menjaga diri. Saya percaya bahwa Allah itu ada. Umur saya dan hidup saya, ada di tangan Allah dan saya tidak takut dengan apapun. Selama saya benar!" hak cipta dengan suara yang penuh kemantapan sehingga membuat sekretarisnya tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Haruskah?" ucap sekretarisnya.
"Apa maksudmu? Saya tidak paham dengan pertanyaanmu!" ucap Dipta sambil mengerutkan keningnya.
"Apakah harus Anda datang ke sana? Bukankah bantuan itu, bisa dikirimkan lewat helikopter ataupun petugas SAR yang bertanggung jawab di sana. Tidak harus Anda langsung datang ke sana tuan!" ucap sekretarisnya Dipta mengungkapkan pendapatnya.
Dipta terdiam sejenak memikirkan apa yang dikatakan oleh sekretarisnya itu.
"Tuan kehadiran anda itu sangat berharga untuk kami. Kalau Anda nggak ada, kami pasti akan kelimpungan, bagaikan kapal yang kehilangan nahkodanya. Ribuan karyawan bahkan ratusan ribu karyawan anda, mereka akan terbengkalai nasibnya. Apakah anda pernah memikirkan itu!" ucap sekretarisnya Dipta membuka pemikiran untuk atasannya tersebut.
Kening Dipta semakin mengkerut, dan semakin keras Dipta berpikir. Dipta masih memikirkan apa yang diucapkan oleh sekretarisnya tadi.
"Dia itu sahabat saya, sahabat yang selalu mendampingi saya di saat-saat terberat hidup saya. Saya tidak bisa membiarkan dia berjuang sendirian di sana. Saya akan berusaha untuk menolongnya. Karena saya sangat percaya, bahwa dia saat ini sedang dalam kesulitan. Kau tidak usah khawatir. Saya pasti akan berusaha untuk tetap aman dan kembali ke mari dalam keadaan selamat!" ucap Dipta dengan penuh keyakinan meyakinkan ke sekretarisnya.
"Baiklah Tuan, Saya mengerti perasaan Anda. Lalu apa yang bisa saya tolong, maksud saya. Apa yang bisa saya bantu, untuk membantu anda dalam perjalanan ke sana?" tanya sekretarisnya sambil tersenyum ke arah Dipta.
"Kau siapkanlah selimut, pakai, makanan kering, apa saja yang dibutuhkan di area bencana, obat-obatan mungkin? Saya yakin kau bisa berpikir sendiri, gunakan saja uang perusahaan. Gunakan saja, dana sosial milik perusahaan. Nanti saya yang akan bertanggung jawab!" ucap Dipta memberikan perintah kepada sekretarisnya.
"Baiklah Tuan! Saya akan menyiapkan semuanya. Saya juga akan menyiapkan helikopter. Untuk mengantarkan Anda ke sana. Karena yang Saya dengar, kondisi di sana betul-betul sangat sulit ditembus oleh akses darat, hanya akses udara yang bisa menembusnya!" ucap sekretarisnya kepada Dipta yang akhirnya disetujui oleh Dipta.
"Kau umumkan di media sosial perusahaan, kalau ada dokter maupun tim medis yang ingin ke sana untuk membantu para korban bencana, kita siap untuk memfasalitasi semuanya!" ucap Dipta memberikan tambahan perintah kepada sekretarisnya itu.
__ADS_1
"Baiklah Tuan! Saya sudah mengerti semua perintah Anda. Anda tinggal menunggu semuanya beres dan persiapkanlah diri anda serta mental dan fisik anda, untuk berjuang di sana semangat tuan!" ucap sekretarisnya Dipta memberikan semangat kepada atasannya. Dipta hanya tersenyum melihat sekretarisnya yang selalu bisa membuat dia merasa nyaman.
Setelah kepergian sekretarisnya, Dipta pun langsung mencari ponselnya. Untuk menghubungi sahabatnya yang lain. Ali!
"Assalamualaikum, Pak Kyai. Saya mau minta tolong. Apakah bisa dilaksanakan istighosah dan doa bersama di pondok? Untuk para korban bencana gempa di Kalimantan?" ucap Dipta kepada sahabatnya tersebut.
"Baiklah, Mas Dipta. Anda jangan khawatir, kami pasti akan melakukannya. Kebetulan selama satu minggu ini, kami semua sudah melaksanakan hal itu!" ucap Ali pelan.
"Baiklah Pak Kyai! Saya mengucapkan terima kasih sekali atas apresiasi yang diberikan kepada mereka semua. Semoga semuanya menjadi amal baik untuk kita semua!" kemudian Dipta pun menutup panggilannya.
Dipta kini menatap keluar kantor, melalui jendelanya. Dipta berusaha melihat hiruk pikuk karyawan yang sedang sibuk bekerja. Banyak pikiran yang saat ini berkecamuk di dalam otaknya.
Berbagai kemungkinan terburuk telah dipersiapkan oleh Dipta. Tetapi Dipta sangat yakin, bahwa niat baiknya pasti akan selalu mendapatkan restu dari Allah, dan pasti akan mendapatkan hasil yang baik.
"Lindungilah hambamu ya Allah! Dalam melaksanakan tugas Mulia ini, untuk membantu mereka yang sedang membutuhkan dan lindungilah mereka yang ada di sini, agar mereka selalu sehat!" doa terbaik diberikan oleh Dipta kepada orang-orang di sekitarnya.
Tiba-tiba saja ponselnya Dita berdering dan ternyata itu adalah dari ibu kandungnya sendiri. " Assalamualaikum Mah ada apa?" tanya Dita kepada ibunya.
"Waalaikumsalam, nak! Mama mau tanya, apakah betul yang dikatakan oleh sekretarismu? Bahwa kamu akan pergi ke Kalimantan untuk menolong Bima di sana? Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Kenapa kau tidak diskusi dulu dengan ibumu?" tanya ibunya Dita dengan penuh kekhawatiran.
" Bima membutuhkan saya mah Saya harus menolong dia!" ucap Dipta mencoba untuk meyakinkan ibunya.
"Rumah Sakit milik ayahnya Bima, sudah mengirimkan banyak tim dokter dan juga penyelamat untuk menolong mereka semua. Mereka juga sudah memberikan banyak bantuan ke sana. Jadi kamu bisa menitipkannya saja, kalau ingin memberikan bantuan. tTdak usah kau berangkat sendiri ke sana. Mama betul-betul sangat khawatir dengan kondisimu. Kau Putra mama satu-satunya, Dipta! Apa yang terjadi kepada Mama, kalau kamu tidak ada di Dipta?" ucap mamanya Dipta dengan derai air mata sehingga membuat Dipta menjadi galau.
__ADS_1