Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
135. Mempertanyakan


__ADS_3

Setelah selesai bekerja, Dipta langsung kembali ke apartemennya. Tetapi Dipta sangat terkejut ketika dia sampai di apartemen miliknya, Dipta mendapatkan sosok Bima yang sudah terlelap di atas sofa ruang tamunya.


"Ckck Ya Ampun! Ini orang punya rumah sendiri kayak istana, tapi lebih senang tidur di apartemenku daripada di rumahnya sendiri!" ucap Dipta sambil berdecih melihat Bima yang tampak sangat lelap dalam tidurnya.


"Aku bangunkan dia tidak ya? Dia sudah makan malam belum? Kasihan juga, kalau dia tidur dalam keadaan lapar! Pasti dia habis menjalani operasi yang berat dan melelahkan, makanya dia langsung tidur lelap seperti itu!" ucap Dipta merasa kasihan kepada Bima.


"Baiklah! Sebaiknya aku mandi dulu. Setelah itu baru aku masak untuk makan malam kami berdua. Kasihan Bima! Aku yakin dia pasti belum makan dari siang!" Dipta kemudian langsung mengganti pakaiannya setelah dia mandi dan dia langsung bersiap untuk memasak makanan favorit keduanya.


Setelah selesai memasak Dipta langsung membangunkan Bima untuk segera makan bersamanya. "Bim, ayo kita makan malam dulu! Kau pasti lapar bukan?" Bima berusaha membangunkan Bima yang tak bergeming juga dari tidurnya.


"Nih orang, kebiasaan banget! Pasti kalau tidur selalu seperti mayat saja!" Dipta menyerah membangunkan Bima yang sejak tadi tidak mau bergeming juga.


"Biarlah aku makan sendiri saja! Aku sudah lapar sekali. Nanti dia kalau lapar juga pasti akan bangun dan mencari makanan sendiri!" ucap Dipta lalu beranjak dari kursi tempat Bima masih berbaring saat ini.


"Segitu doang usaha Lu buat bangunin gue? Padahal gue kalau bangunin Lu selalu berusaha sampai lu bangun!" tiba-tiba saja Bima sudah duduk di samping Dipta dengan muka kesalnya.


Dipta tersenyum kepada Bima, Dipta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian bangkit dari duduknya.


"Ya udah! Ayo kita cepat makan! Gue yakin kalau lu belum makan sejak siang kan? Gue udah masak makanan kesukaan lo, ayo!" ucap Dipta sambil menarik tangan Bima untuk segera ke kursi makan.


Tetapi Bima malah menahan tangan Dipta untuk terus menggenggam tangannya. Sehingga mereka beberapa saat lamanya saling menetap satu sama lain dengan lekat.


"Kenapa?" tanya Dipta gugup dengan tingkah Bima yang aneh dan di luar kebiasaan.

__ADS_1


"Dip,lu ngerasain sesuatu yang berbeda nggak sih, kalau kita berdua seperti ini?" tanya Bima seperti orang bodoh.


"Merasakan sesuatu yang beda gimana maksud loh? Perasaan sama aja kayak gitu gitu aja deh! Udah cepat kita makan! Jangan kebanyakan ngelantur! Tidak baik kalau tidur dalam keadaan lapar, nanti kau bisa sakit!" ucap Dipta kemudian meninggalkan Bima yang masih bengong di tempatnya.


"Mau gue bawa ke situ makanannya atau lu yang mau ke sini?" tanya Dipta keheranan dengan kelakuan Bima yang agak aneh hari ini baginya.


"Ada apa? Apa kamu lagi ada masalah di rumah sakit? Kok kayak orang linglung kayak gitu sih?" tanya Dipta tampak bingung dengan Bima yang kini malah bengong di sofa.


"Nih, gue bawa makanan lu ke sini!" ucap Dipta sambil menyerahkan piring dan juga air minum di depan Bima.


"Dipta, Gue rasa, perkataan orang-orang itu tentang kita, kayaknya benar deh, Dip! Apa mungkin kalau kita ini memang adalah gay?" demi mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bima, Dipta serasa disambar petir di siang bolong. Syock luar biasa.


"Lu kesambet setan apa sih? Tiba-tiba ngomongin aneh-aneh kayak gitu! Udah cepat makan! Pasti itu gara-gara lu capek dan laper makanya jadi omongan Lu ngelantur kayak gitu!" Dipta kemudian mulai mengambil makanannya sendiri dan mulai fokus untuk menghabiskannya tanpa mempedulikan Bima yang saat ini sedang menetapnya dengan penuh keheranan di matanya.


"Lu sebetulnya ada apa sih Dipta? Masak lu nggak ngerti pertanyaan gue sih?" tanya Bima dengan kesal sambil menatap Dipta yang masih asyik dengan makanan dia.


Bima kemudian beranjak dari tempat duduknya. Dia malah pergi menuju ke kamar milik Dipta dan membaringkan tubuhnya di ranjang dengan malas.


Dipta kini hanya menatap kelakuan aneh sahabatnya itu. Diaa tidak memperdulikan Bima lagi. Tetapi dia mulai merenung memikirkan apa yang ditanyakan oleh Dipta tadi. " Ya ampun! Kenapa Bima sekarang mulai mempertanyakan status hubungan dan orientasi *** kami berdua! Oh Tuhan! Apa ada hal yang lebih membagongkan daripada hal itu?" ucap Dipta kesal dan jengkel dengan kelakuan Bima yang sangat aneh baginya.


"Satu bulan lagi dia sudah akan menikah dengan calon istrinya. Tapi di sini dia malah mempertanyakan orientasi **** dirinya sendiri. Apa dia nggak aneh?" tanya Dipta keheranan dengan sikap Bima yang menurutnya sangat aneh hari ini.


"Udahlah mendingan gue simpan lagi makanan itu. Biar nanti juga, palingan juga kalau dia lapar akan cari makanan sendiri!" ucap Dipta mulai kesal dengan Bima.

__ADS_1


Setelah membereskan dapur miliknya. Dipta kemudian memutuskan untuk tidur di sofa yang tadi ditempati oleh Bima.


Malam itu kedua pria tampan itu tidak bisa tidur di tempatnya masing-masing. Mereka berdua sama-sama mempertanyakan orientasi *** diri mereka sendiri.


"Apa benar kalau kami berdua pasangan gay?" kalimat itu terus berulang di kepala mereka berdua. Sudah seperti layaknya kaset rusak yang terus berputar, tanpa bisa mereka berdua hentikan lagi.


"Ya ampun! Gue jadi ikut-ikutan gila kaya Bima!" ucap Dipta sangat frustasi.


Sementara itu Bima yang saat ini berada di atas ranjang milik Dipta, dia tidak bisa untuk meminjamkan matanya sama sekali.


"Ah sialan benar! Semua ini gara-gara rumor itu sehingga merusak pikiranku sendiri saat ini! Gue benar-benar enggak ada kerjaan. Kenapa juga gue habisin waktu semalaman ini untuk memikirkan hal yang tidak berguna sama sekali!" desah Bima frustasi sekali.


Bima kemudian bangkit dari tidurnya dan langsung pergi ke area meja makan. Bima melihat makanan yang tadi dimasak oleh Dipta sudah mulai dingin. Tapi karena lapar, Bima menghabiskannya tanpa sisa.


Setelah selesai makan, Bima kemudian mendekati Dipta yang saat ini sedang terlelap dalam tidurnya.


"Bagaimana mungkin gue mau ngerusak hidup laki-laki baik kayak lu dan gue juga tidak akan mungkin mengecewakan kedua orang tua gue dengan melakukan perilaku menyimpang semacam itu!" ucap Bima perlahan sambil terus menatap Dipta.


"Dengarkan gue Bima! Apa yang saat ini sedang lu rasakan. Itu adalah bisikan setan yang terkutuk, yang selalu menghembuskan keraguan di dalam hati setiap manusia, di saat mereka memiliki niat baik untuk menikah untuk menyempurnakan agama mereka! Setan tidak akan pernah menyerah untuk menjerumuskan umat manusia ke dalam lembah dosa yang pada akhirnya akan dia sesali seumur hidupnya!" tiba-tiba saja Dipta sudah duduk di depan Bima.


"Lu bener Dipta! Perasaan gue pasti karena setan yang sudah membuat otak gue jadi error! Sehingga memikirkan hal-hal gila yang aneh dan menyimpang di antara kita. Tolong lu maafin gue ya, Dipta!" ucap Bima penuh dengan penyesalan di wajahnya.


Dipta tersenyum melihat sahabatnya yang seperti merasa bersalah kepada dirinya. "Lu gak salah Dip! Gue yakin kalau Lu pasti tidak pernah ada niat semacam itu. Udah lupakan saja! Kita anggap saja malam ini tidak pernah terjadi apa-apa!" ucap Dipta sambil tersenyum kepada Bima yang kini sudah mulai bisa tersenyum juga kepada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2