
Setelah Riyanti dan Bagas makan, kemudian Riyanti pergi menuju tempat tidur yang biasa ditempati oleh Bagas, selama bertugas di situ. Hanya ada sebuah ranjang sederhana di dalam tenda darurat, yang cukup beruntung bisa ditemukan di tempat semacam itu.
Bagas kemudian kembali ke pos tugasnya dan melaksanakan tugas yang tadi dia tinggalkan dan digantikan oleh dokter Bima.
"Apakah Rianti sudah makan dan juga pergi beristirahat?" tiba dokter Bima sudah ada di samping Bagas. Bagas cukup terkejut, tetapi kemudian dia tersenyum melihat Bima yang mendekatinya.
"Alhamdulillah istri saya sudah makan dan juga sekarang sedang beristirahat. Semuanya berkat kebaikan anda, sehingga dia bisa selamat sampai ke tempat ini. Terima kasih banyak dokter!" ucap Bagas dengan tersenyum ke arah Bima.
"Tidak apa-apa, kebetulan Rianti itu adalah teman sekolah saya dulu. Waktu di sekolah dasar maupun Sekolah Menengah Pertama. Kami berpisah karena saya yang harus melanjutkan studi saya di inggris!" ucap Bima menerangkan hubungannya bersama dengan Rianti istrinya Bagas.
" Syukurlah kalau istri saya memiliki teman, seorang yang sangat baik hati seperti anda. Saya sangat bersyukur sekali!" ucap Bagas sambil tersenyum.
Setelah melakukan beberapa percakapan kecil bersama dengan Bima.Aakhirnya Bagas pun meninggalkan Bima dan kembali ke posnya. Di mana dia harus menyelamatkan para korban bencana itu, agar dia bisa segera kembali ke Jakarta bersama Rianti.
Sementara itu, Bima langsung pergi ke dapur umum dan memakan makanan siangnya yang terlambat. Karena tadi membantu Bagas dan Riyanti untuk bisa bertemu melepaskan rasa rindu mereka berdua.
Setelah selesai makan, Bagas pun memutuskan untuk istirahat. Karena perjalanan yang sangat melelahkan tadi. Sebenarnya sangat menguras energinya.
Hanya saja, dia merasa kasihan kepada Rianti yang mungkin saja merindukan suaminya. Sehingga tadi dia menawarkan diri untuk menggantikan Bagas dalam melaksanakan tugasnya di pos keselamatan bencana.
" Oh lelahnya tubuhku Alhamdulillah aku masih diberikan kesehatan serta kekuatan dan masih ada makanan yang bisa dimakan!" ucap Bima mensyukuri segala nikmat yang sudah dia terima hari ini.
Kemudian dia pun membaringkan tubuhnya di kasur sederhana dan darurat.
__ADS_1
Memang dalam segala keterbatasan yang ada di tempat itu. Segala yang bisa dinikmati adalah merupakan sebuah karunia yang sangat besar yang patut mereka syukuri.
Para dokter dan tim relawan yang bertugas dalam menyelamatkan para korban bencana gempa, hidupnya sangat memprihatinkan. Di sana banyak para suster yang ikut jatuh sakit karena kelelahan dan juga kekurangan.
" Ya Tuhan Semoga bencana ini segera bisa ditanggulangi dan kami bisa kembali ke keluarga kami masing-masing." ucap Bima memanjatkan doanya kepada Sang Khalik.
Setelah itu Bima pun jatuh terlelap dalam tidurnya karena sangking lelahnya.
Bagas yang merasa bahagia karena bertemu dengan istrinya. Kini memiliki semangat yang besar untuk kembali bertugas dalam usahanya untuk menyelamatkan para korban bencana. Yang semakin terus bertambah saja setiap harinya.
Setiap tim penyelamat berhasil mengevaluasi dan mengeksekusi sebuah bangunan yang runtuh. Pasti di sana ditemukan beberapa korban yang selamat maupun yang telah meninggal, yang keadaannya sungguh sangat mengenaskan dan sangat menghiriskan hati.
Semua dokter dan suster yang bertugas sudah sangat kelelahan dalam menghadapi korban bencana yang seakan tidak ada habisnya.
Entah kapan mereka bisa kembali ke pelukan keluarga mereka masing-masing dalam keadaan sehat maupun selamat.
Setelah waktu maghrib tiba, Bagas pun lalu masuk ke tenda darurat yang di bangun oleh team medis dari Jakarta, di mana tadi Rianti sedang tertidur di sana.
Bagas menatap lekat Rianti, yang tampak terlihat sangat lelap. Mungkin karena sangat lelah, setelah menjalani perjalanan yang begitu sulit dan panjang.
"Istriku tampaknya sangat lelah, tapi waktu magrib sebentar lagi lewat, kalau aku tidak membangunkannya, dia pasti jadi tidak salat!" ucap Bagas kepada dirinya sendiri.
"Sayang, bangunlah. Waktunya salat magrib. Cepatlah kau salat dulu, sebentar lagi sudah mau lewat waktunya!" ucap Bagas sambil menggoyangkan tubuh Rianti agar bisa terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Apakah sudah waktunya magrib? Tadi aku lupa untuk salat ashar, sangking lelahnya tubuhku!" ucap Rianti sambil menguap karena masih mengantuk.
"Gak apa-apa, kau bisa mengqadhanya saja, salat asharnya, ya? Sudah, ya. Mas Ambilkan makan untuk makan malam ya? Kita bisa makan malam bersama nanti!" Bagas kemudian meninggalkan Riyanti, untuk sholat magbrib, sementara dia mengambil makan malam mereka di dapur umum.
Setelah Riyanti selesai mandi dan juga makan, mereka kemudian berkumpul bersama tim medis lainnya. Untuk merapatkan apa saja yang telah seharian mereka lakukan dan apa yang besok akan mereka kerjakan lagi.
Riyanti melihat begitu banyak kelelahan di mata mereka semua. Para tim relawan dan tim medis yang telah berjuang dengan sekuat tenaga, untuk membantu para korban bencana, yang terus saja bertambah setiap harinya. Entah kapan mereka bisa menemui kembali keluarga mereka.
"Baiklah kalian semua bisa kembali ke tenda masing-masing dan beristirahat. Agar besok kita bisa berjuang kembali, untuk menolong mereka. Dan kita bisa segera menyelesaikan tugas ini. Sehingga bisa kembali ke pangkuan keluarga kita yang sudah menunggu di Jakarta!" ucap Bima memberikan pidatonya memberikan semangat kepada teman-teman dan rekan-rekannya.
Mereka semua pun akhirnya dengan kompak pergi ke tenda mereka masing-masing. Dan beristirahat. Agar besok memiliki tenaga lagi untuk melaksanakan tugas dan amanah mereka sebagai seorang dokter.
"Kasihan sekali semuanya ya, Mas? Mereka tampak sangat lelah. Ini baru hari kedua dari Tugas kalian. Bagaimana dengan hari-hari berikutnya Mas?" Tanya Rianti dengan pesimis terhadap suaminya.
"Sabarlah! Hanya itu yang saat ini bisa kita lakukan dan jangan lupa untuk berdoa agar kita diberikan keselamatan dan kekuatan untuk menjalankan tugas Mulia ini!" ucap Bagas memberikan semangat kepada Rianti.
" Maafkan saya ya Mas sudah pesimis dan membuat semangat jadi turun!" Aprianti dengan penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa sayang! Tugas kita memang harus saling menguatkan satu sama lain. Di saat sulit seperti ini, kita tidak boleh saling menyerah!" ucap Bagas lagi.
" Ya sudah ayo kita istirahat agar besok kita punya tenaga ekstra untuk bekerja dan membantu mereka!" ucap Riyanti kembali bersemangat.
Bagas sangat bahagia sekali, ketika melihat semangat istrinya yang kini menular kepada dirinya.
__ADS_1
Mereka tidak tahu bahwa di luar tenda itu ada hati yang sedang terluka, karena dia melihat kemesraan mereka berdua sebagai suami istri yaitu Bima yang memang pernah mencintai Rianti dalam diam.