Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
182. Astagfirullah


__ADS_3

" Apa yang sudah terjadi dengan istri Anda pak? Kenapa kondisi jenazahnya seperti ini?" tanya kepala Desa ketika bertakziah di kediaman keluarganya Nadia.


" Saya juga tidak tahu pak! Tiba-tiba saja istri saya sudah seperti ini, ketika saya bangun! Saya sampai kebingungan mencari istri saya!" ucap Ayahnya Nadya jujur tapi tidak 100% jujur. Karena tidak mungkin kalau dia sampai membocorkan tentang Ruang Rahasia yang ada di dalam rumahnya.


Kalau sampai itu dia lakukan. Itu artinya Dia sedang membuka aib keluarga besarnya sendiri dan itu tidak akan pernah dia lakukan.


" Sudah sebaiknya kita segera memakamkan jenazah beliau agar tidak menimbulkan fitnah yang lebih besar lagi!" ucap Kyai Ali.


" Tadi malam saya mendapatkan gangguan Pak Kyai. Apakah itu ada kaitannya dengan kejadian hari ini?" tanya Dipta ketika dia duduk hanya berdua saja dengan Kyai Ali.


" Jadi bukan hanya Kinan yang dia ganggu? Ternyata dia pun mengganggumu?" tanya Kyai Ali sambil menatap Dipta dengan lekat.


" Benar Pak Kyai. Selama semalaman. Saya tidak tidur dan hanya salat dan juga terus membaca ayat suci Alquran. Seketika tubuh merinding saya berangsur menghilang dan kembali normal ketika shubuh menjelang!" ucap Dipta menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya tadi malam.


Ayahnya Nadia yang tanpa sengaja mendengarkan percakapan mereka berdua. Di hanya bisa mengelus dadanya. Karena sekarang dia mengetahui apa yang terjadi kepada istrinya.


" Ternyata istriku meninggal karena berniat ingin mencelakai Dipta dan juga calon istrinya yang hafizah itu!" ucap ayahnya Nadia bermonolog dengan dirinya sendiri.


" Kamu salah mencari lawan Mah! Bagaimana mungkin kau berani untuk melakukan itu? Sementara calon istri Dipta adalah seorang Hafizah yang pasti memiliki banyak tameng dan pelindung di dalam tubuhnya dari godaan setan yang terkutuk!" ucap ayahnya Nadia dengan lesu.


" Ya Allah! Hamba bertobat kepadamu. Dan hamba memutuskan segala perjanjian ghaib dengan mahluk terkutuk itu. Semoga semua ini segera berakhir dan tidak akan ada lagi korban-korban selanjutnya!" tiba-tiba saja keadaan rumah menjadi mencekam. Ketika suara orang-orang yang mengaji dilantunkan. Suasana rumah seketika mencekam dan menakutkan. Bumi seakan bergoyang dan benda-benda tampak berjatuhan ke lantai.


Nampak pada petaziah yang ketakutan dan satu persatu meninggalkan kediaman ayahnya Nadia. Karena mereka tidak mau berurusan dengan hal-hal yang akan mengganggu kehidupan mereka kedepannya.


Sekarang yang bertahan di kediaman itu hanyalah Dipta dan Kyai Ali.

__ADS_1


Bagas dan keluarganya tampak menatap kedua orang yang saat ini sangat serius.


Rianti dilarang untuk datang ke kediaman ayahnya oleh sang mertua untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.


Riyanti dititipkan di pondok pesantren dan dijaga oleh Kinan dan juga Nur.


" Bagas kau bantulah Pak Kyai Ali untuk menghadapi makhluk yang sekarang sedang mengamuk itu!" ucap ayahnya Bagas.


" Tapi Abi lama sekali Bagas tidak pernah melakukan hal-hal semacam ini!" ucap Bagas menolak keinginan ayahnya.


" Berserahlah kepada Allah dan yakinlah bahwa Allah akan selalu menjagamu!" ucap ayahnya Bagas memberikan nasehat kepada putranya.


" Baiklah Abi! Saya akan berusaha untuk menolong Pak Kyai dan juga Dipta!" Bagas pun kemudian bergabung dengan Dipta dan Kyai Ali untuk bertarung melawan makhluk-makhluk yang ada di dalam rumah ayahnya Nadia yang saat ini sedang mengamuk karena ayahnya Nadia yang telah memutuskan hubungan dengan mereka.


Tampak wajah Kyai Ali yang mulai bercucuran keringat karena harus melawan begitu banyak makhluk yang bertebaran di rumah ayahnya Nadia.


" Baik Pak Kyai! Akan segera saya laksanakan!" ucap ayahnya Bagas kemudian dia pun langsung menemui para ibu-ibu yang masih nampak ketakutan.


" Jangan khawatir ibu-ibu. Pak Kyai dan juga anak saya serta Tuan Dipta sedang berusaha untuk menetralkan tempat ini. Ayo kita harus segera menyelesaikan mengurusi jenazah ini agar segera dimakamkan hari ini juga!" ucap ayahnya Bagas memberikan komando kepada ibu-ibu yang sedang ketakutan dengan situasi yang terjadi di dalam rumah ayahnya Nadia.


" Pak! Tolong hubungi istri saya. Minta kepadanya. Segera hubungi beberapa anak pondok yang senior untuk datang kemari agar membantu kami dalam menetralkan rumah ini. Makhluk di sini terlalu banyak. Kalau kami hanya bertiga akan sangat kesulitan untuk melawan!" ucap Kyai Ali kepada ayahnya Bagas.


Ayahnya Bagas kemudian mencari ponselnya dan segera menghubungi Nur untuk minta segera mengirimkan beberapa santri senior yang ada di pondok pesantren untuk membantu mereka bertiga menetralkan kediaman ayahnya Nadia.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh! Bu Nyai! Tolong segera kirimkan beberapa santri senior untuk datang ke kediaman ayahnya Nadia. Ini perintah dari Pak Kyai karena kondisi di sini benar-benar sangat mengkhawatirkan. Tolong segera kirimkan Bu Nyai!" ucap ayahnya Bagas ketika teleponnya diangkat oleh Nur.

__ADS_1


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Baiklah saya akan segera mengirimkan beberapa santri senior ke sana. Karena bagaimanapun keadaan kami di sini pun harus dijaga karena ada Riyanti di sini!" ucap Nur menjelaskan kepada ayahnya Bagas.


" Memangnya kenapa dengan Rianti Bu Nyai?" tanya beliau mulai cemas.


" Tampaknya makhluk itu belum menyerah dan tetap menginginkan calon anak yang dikandung oleh Riyanti!" jawab Nur pelan.


Saat ini santri putri semuanya sedang sibuk membacakan ayat suci Alquran dan Riyanti berada di tengahnya seperti dikelilingi oleh tameng-tameng yang berusaha melindungi bayi yang ada di dalam kandungannya.


Bisa dikatakan bayi yang ada di dalam kandungan Rianti semacam titisan. Oleh karena itu bayi itu sangat diinginkan oleh makhluk-makhluk yang pernah disembah oleh ayahnya Rianti dan juga ibunya.


" Baiklah Pak saya harus segera mengakhiri panggilan ini karena di sini pun kondisi sangat kritis! Saya harus menjaga janin Rianti agar tidak dibawa oleh mereka dan dijadikan sebagai penerus bagi kerajaan Jin mereka!" ucap Nur kemudian langsung menutup panggilan telepon karena saat ini tampak Riyanti sedang kepanasan.


" Kinan sekarang kau bantulah aku untuk meruqyah Riyanti. Tampaknya Rianti pun terpengaruh dengan Aura negatif yang ada di dalam rumah kedua orang tuanya.


" Baik bu nyai! Saya akan membantu anda!" ucap Kinan kemudian dia pun duduk bersila bersama dengan Nur dan mulai membacakan ayat-ayat ruqyah di samping Rianti yang sejak tadi terus menangis dan berteriak kepanasan.


Sementara itu di kediaman ayahnya Rianti tampak para santri senior yang dikirimkan oleh Nur sudah berdatangan dengan menggunakan mobil milik pondok pesantren ada sekitar 30 orang santri yang hadir dan membantu Kyai mereka untuk memerangi kezaliman yang ada di dalam kediaman ayahnya Rianti.


Suasana di dalam rumah yang begitu mencekam ditambah dengan pengurusan jenazah ibunya Riyanti keadaan di rumah itu benar-benar kacau balau.


" Pak sekarang tolong tunjukkan kepada kami di mana ruang ritual di rumah ini. Karena di sanalah pusat segalanya. Kami harus membasminya dari sana!" ucap Kyai Ali kepada ayahnya Nadya.


Untuk beberapa saat. Ayahnya Nadia nampak ragu-ragu untuk menunjukkan ruang rahasia tersebut. Akan tetapi akhirnya setelah dibujuk oleh Dipta dan juga Bagas. Dia pun kemudian menunjukkannya dan menuntun mereka bertiga untuk masuk ke dalam ruangan rahasia milik keluarga besarnya yang turun temenurun di wariskan kepada anak cucunya.


Ayahnya Rianti yang berusaha untuk membantu Kyai Ali dan juga rekan-rekannya dia pun kemudian menunjukkan ruangan ritual yang ada di dalam rumahnya untuk dihancurkan.

__ADS_1


" Astagfirullahaladzim!" ucap Kyai Ali ketika dia melihat suasana di dalam ruangan itu yang penuh sesak dengan segala sesajen dan juga hal-hal berbau mistis.


Tampak Dipta dan Bagas merinding dan mulai ketakutan ketika melihat segala apapun yang ada di dalam ruangan itu.


__ADS_2