
Melihat istrinya marah Dipta kemudian langsung bangkit dari duduknya dan tidak memperdulikan lagi film yang sedang dia tonton.
" Ayo Pah kita juga pulang bukankah tadi kita datang ke bioskop ini ikut dengan mobilnya Dipta? Karena mobil kita dibawa oleh Zidane?" ucap Sheila sambil menarik tangan Bima yang masih tampak menginginkan untuk menonton film yang saat ini sedang mereka tonton.
" Tanggung nih Mah! Tinggal dikit lagi. Biarkan saja nanti kita menyusul mereka berdua menggunakan taksi!" ucap Bima masih menatap ke layar bioskop.
" Cepat bangun atau Mama akan melarang Zidane untuk menikah dengan Marcella!" ucap Sheilla dengan menatap horor kepada Bima.
" Ya ampun mama paling hobi mengancam Papa dengan hal seperti itu!" dengan misuh-misuh Bima pun kemudian langsung bangkit dari duduknya dan keluar dari bioskop mengikuti Sheila, Dipta dan Kinan yang sudah pergi duluan.
" Kamu kenapa sih Kinan? Saya yakin kok anakku tidak mungkin akan berbuat macam-macam kepada Marcella! Orang dari kemarin Zidane itu minta untuk dibatalkan pernikahannya. Tidak mungkin dia berbuat aneh-aneh terhadap putrimu!" ucap Bima misuh-misuh.
" Semuanya gara-gara Kamu Bima! Kenapa sih pakai acara jodoh-jodohin anak-anak segala? Pada akhirnya merusak kehidupan kita sendiri!" ucap Dipta tidak kalah sengit.
" Sudahlah jangan berdebat! Ayo cepat kita segera pulang ke rumah! Jangan sampai kita terlambat!" ucap Kinan sambil memasang seat belt.
Dipta segera melajukan mobil miliknya ke rumahnya yang agak jauh dari bioskop. Tidak ada percakapan di dalam mobil. Karena mereka semua tampak sibuk dengan pikiran masing-masing terutama Kinan yang saat ini sedang khawatir dengan keadaan putrinya.
" Tenanglah Kinan Putraku bukan seorang predator yang suka menghancurkan masa depan seorang gadis!" ucap Bima memecah keheningan di dalam mobil tersebut.
" Aku percaya kok! Aku hanya menjaga payung sebelum datang hujan!" ucap Kinan sambil mengulas senyum kepada Bima.
" Apa kita berdua nikahkan saja mereka? Agar kita bisa tenang dan tidak perlu mengawasi Mereka lagi!" tanya Sheila kepada mereka semua yang ada di dalam mobil.
" Marcella saat ini masih kelas 2 SMA bagaimana mungkin kami tega untuk menikahkannya?" tanya Dipta menolak.
" Menikah siri saja dulu. Nanti kalau Marcella sudah lulus kuliah baru didaftarkan!" ucap Bima. Setuju dengan ide istrinya.
" No!" ucap Dipta tegas.
" Sudahlah tidak usah berdebat! Biarkan mereka yang memutuskan. Kapan mereka akan menikah. Pokoknya aku tidak mau memaksakan mereka untuk segera menikah!" ucap Dipta tetap keukeuh dengan semua pendapatnya.
Begitu mereka sampai di kediamannya daftar langsung berlari ke dalam kamar putrinya terlihat mobil Zidane masih terparkir di depan teras rumahnya.
" Tuh lihat! Ada mobilnya, tetapi rumah ini begitu sepi. Apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Kinan sudah khawatir.
Dipta sekilas menengok ke arah garasi. Dia melihat ada motor milik Shello di sana. Dipta bernafas dengan lega.
" Lu kenapa Dip?" tanya Bima heran.
__ADS_1
" Di rumah ada Shello jadi kita bisa tenang!" ucap Dipta sambil mengulas senyum kepada sahabatnya.
" Memang kenapa dengan Shello?" tanya Sheilla keheranan.
" Pasti saat ini Zidane sedang bermain PS dengan Shello. Bukankah sejak dulu hobi mereka itu sama?" tanya Dipta sambil meringis ke arah Bima.
" Iya hobi Putra kita sama seperti kita dulu sewaktu masih seusia mereka!" ucap Bima.
Kinan langsung masuk ke dalam kamar Marcella yang tidak terkunci dan dia mendapatkan putrinya sedang tertidur seorang diri di sana.
Kinan tampak bernafas dengan lega setelah tidak melihat keberadaan Zidane di dalam kamar itu.
Dipta yang memeriksa kamar Shello dia tersenyum ketika melihat kedua laki-laki tampan itu sedang sibuk bermain PS!!
" Halo para jagoan tampanku sudah lama kalian bermain PS?" tanya Dipta sambil menepuk punggung Zidane yang sedang fokus melawan Shello.
" Kami bermain PS sudah 2 jam lebih. Emangnya kenapa Om?" tanya Zidane tampak terheran melihat semua orang sedang menatapnya.
" Kalian sudah makan malam belum?" tanya Kinan ketika dia masuk ke dalam kamar Shello dan melihat putranya sedang asyik bermain PS bersama dengan Zidane.
" Tadi Kak Zidane sudah memesankan Fizza. Tetapi rasanya sekarang lapar lagi. Karena sejak tadi kami bertarung sangat seru di PS!" ucap Shello sambil main tersenyum kepada ibunya.
" Mamamu kenapa sih? Kok aneh banget menatapku?" tanya Zidane sambil menatap kepada Shello.
" Tante Kinan mengira kau sedang di kamar dan ngapa-ngapain bersama Marcella. Makanya dia mengajak kami buru-buru untuk pulang!" ucap Sheila sambil mengulas senyum kepada putranya.
" What the hell?" tanya Zidane merasa terkejut.
" Kamu bersiaplah untuk segera dinikahkan. Karena tante Kinan merasa khawatir dengan kedekatan kalian berdua!" ucap Bima sambil tersenyum tengil kepada putranya.
" Jadi kalau saya ngapa-ngapain bersama Marcella maka kalian akan menikah kami secepatnya?" tanya Zidane tampak bersemangat.
" Kau jangan macam-macam Zidane!" ucap Sheilla memperingatkan putranya untuk Jangan berpikir yang anah-aneh kepada Marcella.
Zidane hanya tersenyum ketika melihat ibunya yang menatapnya dengan horor.
" Apa kalian tidak percaya padaku sampai harus melakukan hal seperti ini? Kalian bisa menikmati bioskop yang kalian datangi ketika kaliam pergi tadi!" ucap Zidane sambil keluar dari kamar Shello dan sudah kehilangan minatnya untuk bermain PS bersama calon kakak iparnya.
" Mau ke mana Kak? Permainan kita belum selesai loh!" protes Shello ketika dia melihat Zidan yang keluar dari kamarnya mengikuti kedua orang tuanya menuju ruang makan.
__ADS_1
" Bangunkan adikmu Shello!" ucap Sheila.
Shello kemudian pergi ke kamar Marcella yang berada di samping kamarnya.
" Dek bangun dek! Ayo kita makan malam dulu!" ucap Shello berusaha membangunkan Marcella yang masih belum berminat untuk bangun.
" Bangun Dek! Itu calon suami dan juga calon mertuamu ada di sini!" ucap syaloh terus mengguncangkan tubuh adiknya agar segera bangun.
Marcella yang tampak masih mengantuk tampak malas untuk bangun dari tidurnya.
" Cepat bangun jangan jadi pemalas! Nanti calon mertuamu melihat keburukanmu ini!" ucap Shello sambil mengguncangkan tubuh adiknya agar segera bangun dari tidurnya.
" Kamu kenapa sih Kak bawel banget!" teriak Marcella karena merasa terganggu oleh kakaknya yang terus membangunkannya.
" Aku cuma menuruti perintah calon mertuamu! Cepat kau bangun sekarang!" ucap Shello mulai kesal ketika melihat Marcella yang tidak mau juga bangun.
" Keluar dari kamarku dan kakak jangan menggangguku!" ucap Marcella dengan kesal karena sejak tadi kakaknya terus saja mengganggu tidurnya.
" Marcella cepat bangun dan segera mandi. Makan malam sudah siap. Apa kau tidak malu dengan calon mertua dan calon suamimu? Mereka sudah menunggumu di bawah untuk makan malan bersama!" ucap Dipta menatap horor kepada putrinya yang misuh misuh karena diganggu waktu tidurnya yang baru saja dia nikmati.
Dengan perasaan malas Marcella pun kemudian menuruti keinginan ayahnya dan langsung pergi ke kamar mandi dan bergegas menyelesaikan semuanya dengan kilat.
Setelah selesai mandi Marcella langsung turun dan menemui semua orang yang ada di ruang makan yang sudah siap untuk mengeksekusi makanan yang disediakan oleh ibunya yang mahir memasak.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, om tante!" ucap Marcella kepada Bima dan Sheilla.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Calon menantu kesayanganku!" ucap Bima begitu bahagia melihat Marcella.
Marcella kesulitan menelan salivanya sendiri mendengar apa yang dikatakan oleh Bima.
Marcella melihat Zidane yang saat ini sedang duduk dan fokus dengan makan malam yang ada di hadapannya.
" Duduklah di sini dekat Zidane!" ucap Bima.
Marcella mengikuti keinginan Bima dan duduk di sebelah Zidane yang masih fokus dengan makan malamnya.
" Ayo makanlah yang banyak biar kau tumbuh sehat dan kuat!" ucap Sheila tersenyum kepada Marcella.
Dipta merasa senang sekali melihat perhatian Bima dan Sheilla kepada putrinya.
__ADS_1