
Bima berusaha menghubungi kedua orang tuanya. Tetapi sama saja, tidak diangkat juga. Dia benar-benar kesal sekali. Kenapa hari ini semua orang membuat dia marah.
"Ada apa dengan semua orang hari ini? Kenapa mereka semuanya membuatku kesal?" Bima kemudian memutuskan untuk menuju ke rumah kedua orang tuanya.
Begitu sampai di dalam rumah, Bima langsung mencari kedua orang tuanya tetapi ternyata tidak ada.
"Bi, ke mana Papa dan Mama?" tanya Bima kepada pembantu yang bekerja di rumah kedua orang tuanya.
Bima memang sudah lama tinggal di apartemen. Dan dia hanya pulang satu bulan sekali untuk menjenguk kedua orang tuanya. Jadi dia sangat jarang sekali mengunjungi rumah kedua orang tuanya.
"Oh, tuan dan nyonya besar sedang pergi! Memangnya ada apa Den?" ucap Bibi sambil tersenyum kepada Bima.
"Aku tahu kalau orang tuaku sedang pergi maksudku Mereka pergi ke mana?" tanya Bima dengan tidak sabar.
"Tuan dan Nyonya besar sedang pergi untuk menjemput orang tuanya Nona Sheila yang akan mengunjungi rumah kita nanti malam!" ucap bibi pembantu yang bernama Mbok Darmi itu. Wanita paruh baya yang sudah bekerja di rumah kediaman kedua orang tuanya Bima selama 30 tahun lebih.
"Apa maksudnya mereka akan datang ke sini?" tanya Bima tidak mengerti.
"Kalau menurut yang Bibi dengar dari pembicaraan Nyonya dan Tuan mereka akan membicarakan tentang rencana pernikahan dan Bima dengan Non Sheilla!" ucap si bibi dengan suara yang pelan.
"What?" tanya Bima dengan sangat terkejut demi mendengar apa yang di sampaikan oleh pembantu keluarganya.
"Papa dan Mama pergi ke mana? Maksudku mereka menjemput orang tuanya Sheila di mana?" tanya Bima tampak penasaran dan sudah tidak sabar lagi mendengarkan jawaban dari Mbok Darmi.
"Saya tidak terlalu jelas mendengarkannya tadi. Udah Den! Kalau penasaran tunggu saja di sini. Paling sebentar lagi Nyonya dan Tuan pasti datang. Ini kan sudah mau masuk jam makan malam." ucap Mbok Darmi.
__ADS_1
"Ya sudah, Den! Saya pergi dulu ke belakang. Karena sebentar lagi jam makan malam sudah mau datang! Kalau sampai tamu-tamu sudah datang dan makanan tidak siap pasti nanti mbok dimarahin sama tuan dan nyonya!" Mbok Darmi kemudian langsung meninggalkan Bima sendirian di ruang tamu.
"Sungguh lancang sekali mama dan papa, membicarakan masalah pernikahanku, tanpa berdiskusi sama sekali denganku!" kemudian Bima duduk di sofa ruang tamu dia tampak tidak sabar menunggu kedatangan kedua orang tuanya yang katanya sedang menjemput kedua orang tua Sheila.
Sepintas lalu Bima mengingat tentang orang tuanya Sheila. Mereka adalah seorang pengusaha yang terkenal di Jakarta. Farel Bramantyo dan Cansu Anjani.
Dua nama besar itu terkenal di Jakarta sebagai pengusaha bertangan dingin. Bima mengenal mereka berdua secara dekat.
Dahulu perusahaan rahasia yang dia miliki pernah memiliki hubungan kerja bisnis dengan perusahaan milik Farel Bramantyo.
"Bahaya! Kalau sampai Om Farel ataupun Sheilla memberitahukan kepada kedua orang tuaku kalau aku mempunyai perusahaan rahasia. Aku jangan-jangan dimarahi oleh orang tuaku!" ucap Bima dengan frustasi.
Bima sejak dari tadi terus bolak-balik menatap pintu utama kediaman keluarganya. Bima berharap ayah dan ibunya segera datang dan dia akan bertanya perihal rencana pernikahan dirinya dengan Sheilla.
"Dip bisa nggak lu, datang ke kediaman keluarga gue? Gue butuh bantuan lu!" ucap Bima dengan frustasi dan putus asa.
"Emangnya ada masalah apa sih Bima? Kok tumben-tumbennya lu datang ke rumah kedua orang tuamu?" tanya Dipta merasa penasaran.
"Kedua orang tua gue, mau merencanakan pernikahan gue. Tapi mereka tidak mau berdiskusi dengan gue dulu! Kau harus membantuku Dipta!" ucap Bima memohon kepada Dipta untuk mau membantunya.
"Emangnya bantuan apa yang bisa gue berikan sama lu? Ya udah mendingan lu terima aja! Gue yakin kok kalau selera orang tua itu bagus!" ucap Dipta berusaha untuk menasehati sahabatnya itu agar mau menerima perjodohannya.
"Lu datang ke sini aja! Ntar gue yang ngatur!" senyum licik terbit di wajah Bima
"Enggak ah! Atau jangan-jangan lu punya rencana yang jelek-jelek pakai nama gue. Gue males tau nggak? Bima, Lu tahu nggak sih? Gara-gara perbuatan lu, sekarang semua karyawan gue mengira gue itu adalah seorang gay. Oh Tuhan! Kerusakan apa yang sudah kau buat padaku?" ucap Dipta yang sungguh sangat frustasi dengan kondisi dirinya saat ini. Sekarang semua karyawannya berpikir bahwa dirinya adalah seorang gay dan memiliki pacar seorang Bima.
__ADS_1
"Ayolah Dipta! Bukankah kau ini adalah sahabatku? Kau tolonglah aku Sekali Ini Saja!" ucap Bima dengan suara memelasnya minta kepada Dipta untuk membantu dirinya menggagalkan rencana pernikahan itu.
"Maafkan gue ya, Bro! Untuk kali ini gue nggak bisa bantu. Bagaimanapun niat kedua orang tua lu baik. Mereka ingin lu hidup bahagia dan memiliki seorang Istri. Saya rasa itu adalah sesuatu yang baik dan saya tidak ingin menjadi penghambat dari niat baik itu!" ucap Dipta kemudian langsung menutup telepon dari Bima.
Bima melemparkan ponselnya ke atas sofa samping jengkelnya dia kepada Dipta yang tidak mau membantunya saat ini.
"Ah kurang ajar Kenapa semua orang meninggalkan gue padahal gue butuh banget Dipta untuk membantu!" tiba-tiba Bima terdiam ketika dia mengingat tentang berkas yang dikirimkan oleh Sheilla ke ruangannya.
"Dari mana Sheila memiliki berkas-berkas itu dan kenapa dia mengirimkannya ke ruanganku? Apakah dia akan memerasku menggunakan berkas-berkas itu?" tanya Bima kepada dirinya sendiri.
Seharian ini Bima benar-benar pusing dibuatnya. Gara-gara Sheila yang telah mengirimkan berkas tentang perusahaan Rahasianya ke kantornya.
Hal itu membuat Bima mengalami kesulitan untuk konsentrasi bekerja. Bahkan dia membatalkan rencana operasi dari pasiennya karena dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Pikirannya selalu tertuju kepada berkas-berkas itu.
Bima memang memiliki sebuah perusahaan rahasia. Yang dia kendalikan dari jarak jauh. Yaitu tentang game online.
Karena Bima sangat menyukai tentang aplikasi game online. Sehingga dia membuat perusahaan itu tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.
Kedua orang tua Bima menginginkan Bima untuk melanjutkan Rumah Sakit milik keluarganya. Sehingga mereka selalu memaksakan Bima untuk menjadi seorang dokter terbaik di kota itu. Sehingga kelak bisa menggantikan kedua orang tuanya mengelola manajemen rumah sakit milik keluarganya.
Bima juga memiliki impiannya sendiri yaitu ingin memiliki sebuah perusahaan game online. Sehingga dia secara rahasia membangun perusahaan itu dengan uang miliknya sendiri. Dari gajinya bekerja sebagai seorang dokter di rumah sakit milik keluarga.
"Aku harus bicara dengan Sheila! Jangan sampai Sheilla membongkar tentang perusahaanku itu kepada kedua orang tuaku. Aku bisa habis dimarahi oleh mereka!" ucap Bima mulai gelisah karena kedua orang tuanya belum datang juga ke rumah.
Padahal waktu sekarang sudah menunjukkan pukul 18.00 tetapi kedua orang tuanya Bima belum juga datang ke rumah. Bima sudah gelisah luar biasa di buatnya.
__ADS_1