Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
137. Bima oh Bima


__ADS_3

Dengan perasaan penuh kesal dan jengkel, Bima meninggalkan apartemen Dipta.


"Dasar Dipta! Sahabat durhaka! Emangnya kenapa kalau anaknya dia dinikahkan dengan anakku? Bukankah akan sangat bagus? Aku kan memiliki bibit unggul pasti anakku juga merupakan manusia pilihan yang tidak akan mungkin mengecewakan dia!" ucap Bima dengan penuh kekesalan sambil menuju ke area basement apartemen.


Setelah menemukan mobilnya Bima langsung menuju ke apartemen miliknya sendiri dan bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.


Sangking jengkel dan kesalnya terhadap Dipta, Bima sampai lupa untuk sarapan di apartement Dipta. Akhirnya sekarang dia merasakan lapar. Setelah jam 09.00 siang belum juga menemukan makanan yang bisa dia makan. Bima memang selalu seperti itu. Dia selalu lebih mementingkan kesibukan kerjanya daripada mengisi perutnya dengan makanan.


Selama ini Dipta yang selalu memperhatikan makanan Bima dengan selalu mengirimkan makan siang untuk sahabatnya itu.


Tetapi sejak tadi Bima dihubungi oleh Dipta tetapi tidak diangkat juga. Sehingga membuat Dipta merasa bimbang untuk mengirimkan makan siang untuk Bima karena dia tidak tahu keberadaan Bima saat ini ada di mana.


"Bima kenapa dihubungin dari tadi susah sekali? Dia sudah makan atau belum? Tadi pagi disuruh sarapan dia tidak mau, dasar ini orang bikin orang khawatir saja!" ucap Dipta kebingungan di ruangan kerjanya.


"Apa gue datangin aja ya ke rumah sakit? Mungkin dia masih sibuk dengan operasi atau pekerjaan dia yang lain!" ucap Dipta terus bermonolog mengkhawatirkan keadaan sahabatnya saat ini.


Kalau orang lain yang melihat raut wajah khawatie Dipta saat ini, pasti mereka berpikir bahwa Dipta sedang mengkhawatirkan keadaan istrinya.


"Waktu gue sakit kemarin, Bima yang sudah merawat gue dengan telaten dan tulus. Gue nggak bisa menutup mata dengan keadaan Bima saat ini. Walaupun terkadang dia itu absurd dan menyebalkan. Tapi tetap saja, dialah sahabat gue satu-satunya sejak dulu hingga sekarang!" lalu Dipta pun langsung meluncur menuju Rumah Sakit tempat Bima bekerja. Dengan kecepatan maksimal, Dipta melajukan kendaraannya.


Entah kenapa, saat ini Dipta benar-benar sedang merasakan tidak enak hatinya. Entahlah, pokoknya semacam perasaan bahwa Bima dalam keadaan tidak baik-baik saja. Paham ya reader? Author susah menggambarkan perasaan Dipta saat ini terhadap keadaan Bima, sahabatnya.


Begitu sampai di rumah sakit, Dipta langsung berlari menuju ke ruangan Bima. Entah kenapa saat ini jantung Dipta berdetak begitu cepat. Dipta sendiri tidak mengerti apa yang saat ini dia rasakan. Tapi yang jelas, otaknya memerintahkan dia untuk segera menemukan Bima yang sejak tadi siang sangat sulit untuk di hubungi oleh Dipta.

__ADS_1


Dipta sangat hafal dengan sifat Bima. Bukan karakter Bima untuk mengabaikan panggilan dia. Walaupun sesibuk atau semarah apapun, Bima selalu mengusahakan untuk menjawab panggilan yang dilakukan oleh Dipta. Oleh karena itulah, mengapa saat ini Dipta merasa sangat khawatir dengan kondisi Bima.


Begitu masuk ke dalam ruangan Bima. Dipta langsung mencari ke sekeliling ruangan Bima. Mata Dipta sontak melotot sempurna ketika melihat Bima yang saat ini terbaring di lantai tidak sadarkan diri.


"Bima! Loe kenapa Bim?" Dipta berusaha beberapa kali untuk membangunkan Bima yang masih tidak sadarkan diri.


"Aku harus segera memanggil suster kesini agar mereka menolong Bima!" lalu Dipta langsung berlari keluar, mencari para suster yang saat ini sedang berbincang-bincang.


"Suster! Tolong segera bawa tenaga bantuan untuk menolong dokter Bima di ruangannya!" ucap Dipta to the point dan dia langsung berlari kembali ke ruangan Bima karena saat ini perasaannya benar-benar sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya.


Beberapa orang perawat kemudian membawa Bima ke dalam ruangan pemeriksaan untuk dilakukan pemeriksaan oleh dokter.


"Anda tunggu di luar, biar kami bisa fokus untuk memeriksa keadaan dokter Bima!" ucap suster tersebut meminta kepada Dipta untuk menunggu di luar ruangan.


"Baik suster! Anda lakukan yang terbaik untuk menolong sahabat saya, Bima. Saya akan menunggu di luar!" ucap Dipta sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian dia duduk di kursi yang ada di sana.


Dipta kemudian menghubungi kedua orang tua Bima. Untuk mengabarkan keadaan Putra mereka yang saat ini sedang berada di rumah sakit. Kedua orang tua Bima langsung datang ke rumah sakit bersama Sheilla.


"Apa yang terjadi pada Bima? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit?" tanya ayahnya Bima.


"Saya juga tidak tahu Om! Tadi pagi ketika dia keluar dari apartemen saya, dia tidak sarapan mungkin penyakit maag-nya kembali kumat!" ucap Dipta memberikan keterangan kepada kedua orang tuanya Bima.


"Sejak dulu Bima memang paling lemah lambungnya jadi sangat tidak mengherankan Kalau dia sampai pingsan seperti itu!" ucap ibunya Bima merasa cemas.

__ADS_1


"Tenanglah Tante Bima kan, sudah di tangani oleh dokter. Kita tinggal menunggu saja hasil pemeriksaan!" ucap Sheilla berusaha menghibur calon mertuanya.


"Semoga Bima tidak apa-apa! Pernikahan kalian berdua sebentar lagi. Kalau sampai Bima kenapa-napa, pasti akan baik akibat kepada rencana pernikahan kalian berdua!" ucap ibunya Bima merasa khawatir.


"Tenanglah Mah! Kau jangan merusak hatimu sendiri dengan pikiran-pikiran yang negatif. Tolong mamah berdoa yang baik untuk putra kita!" ucap ayahnya Bima sambil menatap tajam kepada istrinya.


"Maaf Pah! Mama bukannya berdoa yang negatif untuk Bima. Mama hanya khawatir saja dengan keadaannya!" ucap Ibunya Bima.


Tidak lama kemudian, dokter pun keluar dari ruangan pemeriksaan dan menemui keluarga Bima yang langsung lega seketika.


"Bagaimana dokter keadaan Putra kami? Apakah dia baik-baik saja?" tanya ayahnya Bima merasa cemas sekali dengan putranya.


"Tenang saja Pak! Dokter Bima hanya kelelahan saja. Seharian ini memang banyak sekali aktivitasnya. Apalagi dia belum makan sejak pagi. Jadi wajar kalau tubuhnya drop dan akhirnya ambruk dan pingsan. Kami sudah memberikan infus kepada dokter Bima. Dia hanya butuh istirahat. Besok dia sudah bisa kembali ke rumah!" ucap dokter yang bertugas menolong Bima. Kemudian dia pun meninggalkan keluarga Bima untuk bertugas di tempat lain.


"Syukurlah kalau Bima hanya kelelahan saja. memang Bima ini suruh makan saja susah sekali akhirnya tubuhnya jadi tidak kuat kan?" ucap ibunya Bima merasa lega.


"Pagi tadi saya sudah menyiapkan sarapan untuk Bima. Tetapi Bima marah gara-gara saya menolak untuk memberikan jawaban tentang keinginannya dan dia meninggalkan apartemen saya dengan amarah yang besar! Mungkin karena hal itu, sehingga membuat Bima jadi lupa dengan makan sehingga membuat dia jadi drop dan jatuh pingsan!" ucap Dipta menerangkan semua kronologis kejadian yang mengakibatkan Bima akhirnya jatuh pingsan di ruangannya.


"Emangnya Bima menginginkan apa darimu? Sehingga kau menolaknya? Biasanya kan kalian itu adalah sahabat yang tidak terpisahkan!" tanya ibunya Bima tampak kesal kepada Dipta.


"Bima meminta untuk kami menjodohkan anak-anak Kami nanti kalau sudah pada dewasa!" ucap Dipta sambil menundukkan kepalanya sangking malunya.


"What the hell?" tanya Sheilla terkejut mendengar ucapan Dipta.

__ADS_1


"Ya ampun! Putramu itu sungguh konyol sekali! Dia menikah saja belum. Tetapi dia sudah memikirkan untuk menjodohkan anaknya. Memang betul-betul itu Bima!" ucap ayahnya Bima gemes sekali.


"Bima berbuat sesuka hatinya! Bahkan kami belum menikah. Tetapi dia sudah memulai untuk merencanakan masa depan anak yang bahkan belum ada di dunia ini. Dia sungguh benar-benar menjengkelkan dan konyol sekali!" ucap shella mengungkapkan perasaan saat ini tentang calon suaminya, Bima.


__ADS_2