Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
99. Berjuang Hidup


__ADS_3

Sementara itu Rianti dan Bagas yang telah sampai di Kalimantan. Kini memulai kehidupan baru mereka di sana. Mereka menata kembali tempat yang diberikan oleh pihak rumah sakit, untuk mereka tempati sementara tinggal di Kalimantan.


"Wah tempatnya lumayan juga ya? Walaupun Setelah mengalami bencana, tapi masih ada tempat sebagus ini!" ucap Rianti mengagumi rumah sederhana yang didirikan oleh rumah sakit untuk mereka berdua.


"Iya kita harus bersyukur, karena masih diberikan Rahmat di balik bencana yang terjadi di tempat ini!" ucap Bagas sambil menatap sang istri yang sedang sibuk membereskan barang-barang mereka.


Bagas merasa sangat bangga dengan Rianti, yang walaupun berada di tempat sederhana tetapi dia masih tetap bisa berbahagia.


"Istirahatlah! Kau pasti lelah setelah perjalanan yang begitu panjang. Besok lagi dibereskannya!" ucap Bagas sambil memeluk pinggang sang istri dari belakang.


"Tidak apa-apa, Mas! Ini kan hanya sedikit saja kan kita juga tidak membawa barang banyak. Kalau sudah beres kan kita bisa istirahat dengan tenang!" ucap Rianti sambil tersenyum ke arah suaminya.


"Baiklah Mas akan tidur dulu ya? Kalau kamu lapar Mas akan Carikan makanan di luar!" ucap Bagas sambil meninggalkan Rianti, yang kembali sibuk membereskan barang-barang mereka.


Rianti hanya tersenyum menatap kepergian suaminya. Kembali melanjutkan pekerjaannya yang hanya tinggal sedikit lagi.


"Tampaknya tempat ini dulu ditempati oleh pasangan yang rajin. Kelihatan dari tatanan perabotan yang tersusun dirumah ini!" ucap Rianti tampak mengagumi rumah sederhana yang kini ditempatinya bersama suaminya.


Sementara itu, Bagas kini mencoba untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sebuah ranjang sederhana yang hanya terbuat dari bambu dan sebuah kasur kapuk sederhana yang biasa digunakan oleh orang-orang desa.


"Alhamdulillah ya Allah! Di tengah bencana ini masih kau berikan nikmat kepadaku dan juga istriku dengan memberikan tempat yang nyaman ini!" setelah mengucapkan itu Bagas pun kemudian memejamkan matanya dan langsung terlelap seketika.


Tampaknya perjalanan panjang yang begitu melelahkan, telah membuat Bagas menjadi begitu mudah untuk tidur di tempat baru.


Setelah selesai membereskan barang-barang mereka, Riyanti pun mencoba berusaha untuk memasak bahan makanan yang dia bawa dari Jakarta. Hanya makanan kaleng yang sekiranya akan tahan lama.


Setelah makanan siap, Rianti pun membangunkan Bagas yang tampak begitu lelap tertidur.

__ADS_1


"Mas, bangun mas! Ayo kita makan malam dulu, jangan sampai nanti kamu tertidur dalam keadaan perutmu lapar!" Rianti berusaha untuk membangunkan Bagas.


Tampak Bagas menggeliat dan berusaha untuk bangun. Walaupun dengan mata yang masih memicing karena mengantuk.


"Apakah ada makanan yang bisa kita makan?" tanya Bagas kepada Rianti.


"Alhamdulillah Mas aku memanaskan sarden yang aku bawa dari Jakarta. Besok baru kita bisa belanja ke pasar!" ucap Rianti dengan senyumnya yang bahagia.


"Alhamdulillah kalau seperti itu. Ayo kita makan!" Bagaspun kemudian mencuci muka dan tangannya. Kemudian bersama-sama dengan Rianti kemeja makan.


" Wah makanan sesederhana apapun kalau dimakan di saat lapar terasa sangat nikmat sekali!" ucap Bagas sambil tersenyum ke arah istrinya.


"Iya Mas! Makanan kalau dimakan saat kita lapar pasti akan terasa sangat nikmat!" ucap Rianti sambil mengunyah makanannya.


Setelah selesai makan, Rianti pun kemudian langsung membereskan alat-alat masak dan juga piring yang tadi mereka gunakan. Sementara Bagas tampak ke kamar mandi bersiap untuk sholat Maghrib.


"Ayo sayang! Kita salat magrib bersama!" ucap Bagas ke arah Rianti yang masih sibuk membereskan dapur.


Rumah itu memang sangat kecil dan tidak memiliki mushola pribadi, sehingga mereka pun salat di dalam kamar.


Setelah selesai melaksanakan salat magrib, keduanya kemudian duduk santai di emper rumah baru mereka.


"Besok Mas akan segera melaksanakan tugas di rumah sakit. Apa kamu tidak apa-apa ditinggalkan sendirian di rumah?" tanya Bagas sambil menggenggam jemari tangan Riyanti. Rianti hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan sang suami.


"Betul kau tidak apa-apa ditinggalkan sendirian di rumah?" tanya Bagas kembali.


"Tidak apa-apa, Mas! Aku kan bukan anak kecil lagi. Aku bisa beres-beres juga bisa nonton televisi sambil menunggumu pulang!" ucap Rianti dengan tersenyum.

__ADS_1


Sejak menjadi seorang istri, Rianti memang menjadi bersikap lebih dewasa dan bijaksana. Hal itu benar-benar dirasakan oleh Bagas, dan dia merasa sangat bangga sekali dengan perubahan istrinya itu.


"Apa kau tahu? Mas sungguh merasa sangat beruntung pernah telah menikahimu!" ucap Bagas. Rianti semakin mengeratkan pelukannya kepada suaminya.


"Aku juga beruntung memiliki suami kamu Mas! Kamu yang mau menerima segala kekuranganku. Kamu yang mau memaafkan segala kesalahan yang pernah aku buat!" ucap Rianti dengan suara sendu.


"Setiap manusia itu adalah tempatnya salah dan dosa. Kita sebagai manusia, harus berusaha untuk terus memperbaiki diri kita dan berusaha untuk memaafkan kesalahan orang lain!"ucap Bagas sambil meremas tangan Riyanti.


"Kita tidur yuk! Waktu sudah semakin malam. Besok Mas harus pagi-pagi sekali sudah berada di rumah sakit untuk melapor!" ajak Bagas kepada Rianti.


"Kita salat Isya dulu ya, Mas? Baru setelah itu kita tidur!" ucap Rianti yang hanya di angguki oleh Bagas.


Setelah keduanya selesai melaksanakan salat Isya. Mereka pun kemudian tidur dengan nyenyak. Karena perjalanan yang sangat panjang, memang telah menguras energi mereka sangat banyak.


Sementara itu kedua orang Rianti tampak cemas. Memikirkan putri dan menantunya yang hingga saat ini, belum juga menelpon mengabarkan keberadaan mereka.


"Sudahlah, Mah! Sebaiknya kita tidur saja! Mungkin mereka kelelahan setelah di perjalanan. Mungkin baru besok menghubungi kita!" ucap Ayahnya Rianti.


Mencoba untuk membujuk istrinya untuk segera beristirahat. "Papa pikir, mama bisa tidur? Sebelum mendapatkan kabar dari mereka. Mama sangat khawatir Pah!" jawab ibunya Rianti sambil menatap tajam ke arah suaminya.


Ayahnya Rianti hanya menang menarik nafas dalam-dalam, dia merasa frustasi untuk membujuk istrinya yang tidak juga mau mendengarkan perkataannya.


"Ya sudah Papa tidur dulu ya? Terserahlah Mama mau melakukan apa Papa sudah cape!" ucap ayahnya Rianti dan kemudian meninggalkan istrinya sendirian di ruang tamu.


Ibunya Rianti menatap kepergian suaminya dengan matanya nyalang. Ada rasa geram di hatinya saat ini.


"Keadaan putrinya tidak jelas, bisa-bisanya dia tidur dengan tenang!" ucap ibunya Rianti sambil menatap kepergian suaminya.

__ADS_1


Rianti adalah Putri kesayangannya. Setelah Nadia masuk penjara, kasih sayangnya sepenuhnya dicurahkan kepada Rianti.


Jadi sangat wajar, kalau saat ini ibunya Rianti sangat khawatir dengan keadaan Rianti yang belum juga memberikan kabar kepada dirinya. Tentang keberadaannya di Kalimantan.


__ADS_2