
Setelah dinyatakan sehat oleh Dokter yang menangani nya, Ali kemudian pulang ke rumah yang sudah disediakan oleh Dipta bersama dengan Nur dan juga Raffi.
"Kami akan mengontrak sebuah rumah, tidak enak kalau harus merepotkan Mas Dipta terus!" ucap Ali sungkan.
"Tidak repot, saya melakukan ini karena sayang kepada Rafi! Kalau nanti kalian pergi jauh dari sini, aduh.. nanti kalau saya rindu dengan Rafi, kemana saya akan mencari Kalian?" tanya Dipta dengan wajah memelas nya.
"Baiklah, Dip! Kami akan tinggal di rumah kamu ini. Tapi kami akan mengontraknya setiap bulan, kami akan bayar sama kamu! Bagaimana?" tanya Nur.
"Ya, begitu juga boleh! Yang penting aku gak berjauhan dengan anak tampan yang satu ini!" Dipta lalu mencium Rafi yang semakin besar dan tampak gembul.
"Baiklah, seperti itu juga boleh! Saya setuju!" ucap Ali.
"Apa yang akan Mas Ali kerjakan disini?" tanya Dipta lagi.
"Aku akan membuka sebuah pondok pesantren, tempat anak-anak bisa mengaji dan belajar ilmu agama!" jawab Ali dengan semangat 45. Dipta melihat binar kebahagiaan di mata Ali. Dipta ini seorang pebisnis handal, keahliannya adalah mengenali karakter orang yang akan bekerja sama dengan dirinya. Jadi Dipta tidak pernah meleset kalau soal menilai karakter lawan bicaranya.
"Ya, itu memang cocok dengan karakter dan latar belakang pendidikan Mas Ali. Saya lihat juga, di sekitar sini belum ada pondok pesantren. Baiklah, nanti akan aku wakafkan tanah dan rumah ini untuk pondok pesantren kalian!" ucap Dipta tiba-tiba. Ucapan Dipta sukses membuat Ali dan Nur terperanjat.
"Nanti aku juga akan membangunkan kelas-kelas dan kamar-kamar untuk para santri. Aku nanti akan membawa team perusahaan untuk membangun pondok pesantren tersebut." Nur dan Ali semakin terpesona dengan Dipta.
"Kamu tidak sedang bercanda, Dipta?" Nur mendekati Dipta dan memeriksa suhu tubuh Dipta, dengan memegang kening Dipta.
"Gak panas, kok! Dia sehat, Mas!" ucap Nur. Dipta tertawa.
__ADS_1
"Aku sehat, Nur!" jawab Dipta dengan santai.
"Aku serius akan membantu kalian membangun pondok pesantren tersebut. Akan aku wakafkan atas nama almarhum anak dan istriku! Inilah hadiah yang mampu aku berikan untuk mereka, orang-orang yang paling aku cintai!" tanpa terasa, air mata Dipta sudah menggenang.
Nur jadi terharu dengan niat Dipta. Nur tahu, kalau Dipta sangat mencintai Istrinya, oleh karena itu, walaupun istrinya sudah meninggal sangat lama, Dipta masih betah hidup dengan kesendiriannya.
"Baiklah, Mas! Kami tidak akan menolak niat baik Mas Dipta yang sangat baik itu. Semoga akan menjadi amap jariah yang selamanya tidak akan terputus sampai kelak pada hari kiamat nanti!" ucap Ali merasa terharu dengan niat Dipta tersebut. Setelah Dipta pulang, Nur dan Ali akhirnya mempunyai waktu untuk bersama.
Sudah hampir beberapa bulan. Pasangan tersebut berpisah.Rafi saja sekarang sudah berusia 8 bulan. Ya! Ada kerinduan di mata keduanya. Tapi masing-masing masih gengsi untuk meminta hal yang amat mereka rindukan. Perasaan malu lebih mendominasi di hati Nur.
"Aku ke kamar mandi dulu, Mas!" ucap Nur gugup.
"Ya, Mas akan jaga Rafi! Mas rindu sekali dengan anak kita!" Ali lalu bermain dengan Rafi di kursi depan. Waktu memang sudah agak sore. Sebentar lagi akan Maghrib, Makanya Ali hanya mengajak Rafi main sebentar di luar.
Setelah terdengar suara adzan, Ali juga pergi untuk mandi. Lalu berpamitan dengan istrinya. Untuk sholat di Mushhola terdekat dengan rumah mereka saat ini.
Setelah sholat Maghrib Nur menyiapkan makan malam, saat membuka kulkasnya, Nur kaget, di sana ternyata sudah tersedia banyak bahan makanan.
"Dipta baik banget sih, jadi orang!" ucap Nur. Nur lalu ke kamarnya dan menelpon Dipta, ingin mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan Dipta selama ini kepada dirinya dan juga keluarganya.
"Assalamualaikum, ada apa Nur?" tanya Dipta. Dipta baru selesai sholat Maghrib.
"Waalaikum salam. Yang isi kulkas kamu?" tanya Nur.
__ADS_1
"Ya, tadi siang waktu kalian bersiap berangkat dari rumah sakit, aku menelpon Merry untuk belanja dan mengisi kulkas kalian. Persediaan untuk kebutuhan harian kalian. Aku gak mau nanti jadi resah, kalian di sana makan apa!" ucap Dipta santai. Nur sudah terharu dengan sahabat yang selalu baik kepadanya.
"Terimakasih, Dip! Kamu udah menjadi sahabat terbaik aku!" ucap Nur serak suaranya.
"Dih, udah panggil aku kamu! Gak elo gue llagi!" goda Dipta dengan senyumannya yang khas.
"Ya, aku bersyukur punya sahabat yang baik seperti kamu. Semoga suatu saat nanti, akan tiba waktunya bagiku untuk bisa menolong kamu." ucap Nur mulai syahdu.
"Dengan kamu mau menerima pertolongan dariku, itu sudah menolong aku!" ucap Dipta.
"Dip, terimakasih banget ya, kamu memang is the best!" puji Nur sangat bersyukur memiliki sahabat sebaik Dipta.
"Ya, sudah! Aku masak dulu, buat makan malam. Suamiku sedang di musholla, mungkin selepas isya baru pulang. Aku ada waktu untuk masak dulu." ucap Nur.
"Salam buat Rafi!" ucap Dipta."Ya, nanti aku sampaikan! Jangan lupa makan malam kamu, dan istirahatlah! " ucap Nur kembali cerewet. Ya, sewaktu tinggal di rumah Dipta, Nur selalu mengingatkan Dipta untuk ini itu, sekarang mereka berpisah, sehingga hanya bisa saling telpon saja, untuk saling mengingatkan.
"Ya, jangan khawatir sama gue! Elo urus laki loe aja! Berbakti sebagai seorang istri!" nasehat Dipta. Nur lalu menutup telponnya. Dan pergi ke dapur, bersiap untuk mengeksekusi sayuran dan ikan yang tadi siang di beli oleh Merry. Ya, Dipta selalu mengerti kebutuhan Nur, sebelum Nur angkat bicara, Dipta sudah paham apa yang Nur butuhkan. Sebaik itu pria yang selama beberapa bulan ini menjadi sahabat baiknya.
Dalam hati Nur saat ini, ingin menebus puluhan hari yang telah berlalu karena kesalahan dirinya yang terlalu over cemburu, Nur memasak makanan yang di sukai oleh suaminya. Ah, sebenarnya Nur termasuk wanita yang beruntung. Suaminya sama sekali tidak pernah rewel masalah makanan. Asal dia yang masak, Suaminya selalu menikmati dengan penuh syukur.
Setelah selesai masak, Nur memutuskan untuk mengecek Rafi yang tadi dia tinggalkan di kamar, sambil menunggu suaminya pulang, Nur kemudian mencuci pakaian, agar besok bisa di jemur, ya! Menunggu itu pekerjaan yang paling melelahkan. Makanya Nur memilih mengerjakan beberapa pekerjaan biar tidak bosan.
Setelah selesai mencuci pakaian, Suaminya pulang dari musholla, Nur menyambut suaminya dengan penuh suka cita. Mencium tangan suaminya, Ali sangat bahagia, karena istrinya kini telah kembali bersama dirinya.
__ADS_1
"Ayo Kita makan malam, aku sudah masak tadi!" setelah mengganti pakaian sholatnya dengan pakaian santai, Ali kemudian menyusul istrinya untuk makan. Walaupun makanan sederhana, tapi itu sungguh membahagiakan.
Bukan makanannya yang istimewa, tetapi siapa yang menemani kita makan, itu yang penting. Ya, kadang kebahagiaan itu gak harus mewah, asal hati kita bahagia, apapun pasti akan bisa memuaskan hati kita.