Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
95. Peresmian Pondok Pesantren


__ADS_3

Untung saja Dipta tidak jadi pindah. Kalau tidak dia tidak mengetahui tentang peresmian pondok pesantren yang dia sponsori.


"Oh besok, acaranya? Iya nanti saya akan usahakan untuk hadir!" ucap Dipta ketika Nur menelpon dirinya.


Dipta langsung turun dari ranjangnya. Dan bersiap untuk ke pondok pesantren yang di dirikan oleh dirinya dan sang ibu. Niatnya untuk meninjau segala kebutuhan dan kesiapannya. Ibunya tampaknya juga akan pergi ke sana. Tampak beliau pagi-pagi sudah datang juga ke rumahnya Dipta.


"Apakah kau sudah siap untuk pergi ke pondok juga?" ucap ibunya Dipta setelah mengucapkan salam kepada putranya.


"Ini baru mau pergi, Mah!" ucap Dipta sambil mencium tangan ibunya.


"Mama sangat senang sekali, karena kamu tidak jadi pindah ke Surabaya!" ucap ibunya.


"Iya, Mah! Maaf ya, sudah membuat Mama khawatir." ucap Dipta.


"Ayo kalau mau ke pondok Nanti kalau sudah siang jadi macet jalannya!" ajak ibunya.


Mereka pun kemudian pergi bersama-sama ke pondok pesantren. Di sana sudah banyak orang-orang sekitar sana, yang membantu persiapan untuk acara besok.


"Akhirnya kamu datang juga, Dip!" ucap Nur bahagia karena melihat sahabatnya kembali.


Dipta tersenyum ketika melihat Raffi yang kini semakin besar. Dipta menggendong bocah tampan dan menggemaskan itu.


"Suami kamu di mana, Nur?" tanya Dipta.


"Dia sedang mengatur di belakang. Masih ada yang belum beres. Kenapa memang?" tanya Nur tampak heran dengan Dipta.


"Tidak apa-apa. Saya harap setelah pernikahan Rianti, tidak ada lagi masalah. Di antara kalian berdua!" ucap Dipta.


"Sejauh ini sih, rumah tangga kami baik-baik saja. Saya berusaha untuk membuka diri dan membuka hati. Mencoba untuk memaafkan!" ucap Nur sambil melihat ke sekeliling.


"Mas Dipta apa kabarnya?" tanya Mas Ali ketika melihat Dipta yang sedang asyik bermain dengan Raffi, putranya.

__ADS_1


Kini Nur, pergi ke depan, bergabung dengan ibu-ibu yang sedang asyik mengobrol dengan ibunya Dipta.


"Benar, semoga semua Lancar dan Pondok ini bisa menjadi tempat untuk anak-anak belajar ilmu agama!" ucap ibunya Dipta bahagia.


"Terima kasih loh bu, atas bantuan keluarga Ibu. Pondok ini jadi lancar pembangunannya. Anak saya jadi bisa belajar mengaji dengan mudah dan dekat!" ucap ibu itu.


"Sama-sama Bu, kita kan sebagai sesama manusia harus saling menolong. Kita berdoa semoga pak ustad dan istrinya diberikan kesehatan, sehingga bisa mengelola Pondok ini dengan baik!" ucap ibunya Dipta.


"Ayo kita makan sama-sama di dalam!" ajak Nur kepada para ibu-ibu yang sedang berkumpul di sana.


Setelah bekerja bersama-sama dalam mempersiapkan pondok tersebut. Mereka pun makan bersama dalam kegembiraan dan kebahagiaan. Karena pondok tersebut akan segera diresmikan.


"Alhamdulillah, akhirnya Pondok ini bisa selesai dibangun. Dan besok akan diresmikan oleh kita semua. Untuk penggunaannya. Semoga Pondok ini bermanfaat bagi sekitar dan bagi Agama pada umumnya." Mas Ali memberikan pidato pembukaan, sebelum mereka melaksanakan acara tahlilan dan makan bersama dengan semua warga yang hadir di sana.


Setelah acara tahlilan selesai, semua warga pun kembali ke rumah masing-masing. Dan akan kembali ke besok pagi untuk melaksanakan peresmian dengan pengajian akbar yang akan mendatangkan seorang Kyai ibu kota untuk mengisi tausiah.


Semua merasa bahagia malam itu. Sehingga tanpa terasa Nur berderai air matanya.


"Ya, Alhamdulillah. Semoga kita berdua bisa melaksanakan amanah ini dengan baik." Setelah itu mereka berdua pun beristirahat karena begitu lelahnya setelah seharian mempersiapkan acara tahlilan yang baru saja selesai setelah jam 22.00.


Raffi sudah pulas tertidur jadi orang tuanya bisa tenang tidur dengan nyenyak.


Sementara itu, Dipta yang kini berada di kamarnya. Sedang mengenangkan kembali pertemuannya bersama Anjani.


"Apakah aku harus menghubunginya? Tetapi apakah pantas? Aku takut malah nanti Anjani merasa terganggu dengan teleponku." ucap Dipta merasa ragu-ragu.


"Baiklah, aku hanya akan mengirim SMS saja. Kalau dia membalas syukur, kalau tidak ya sudah!" ucap Dipta pasrah.


"Apa kabar?" tulis Dipta, lalu mengirim sms tersebut kepada Anjani.


Sekitar 10 menit kemudian, terdengar notifikasi balasan. "Baik!" jawabnya.

__ADS_1


Dipta hanya membaca pesan tersebut, setelah itu meletakkan kembali ponselnya di atas nakas di samping ranjangnya. Dipt memutuskan untuk pergi tidur. Karena besok acara peresmian pondok pesantren, pasti akan melelahkan karena banyak orang di sana. Dengan kegiatan yang padat.


Dengan cepat Dipta sudah tertidur pulas karena sangking lelahny di. Sehingga Dipta tidak tahu bahwa ada SMS balasan yang lain dari Anjani.


Anjani terus menimbang-nimbang ponselnya menunggu balasan dari Aditya tetapi tidak juga dibaca SMSnya yang sebelumnya.


Akhirnya karena kelelahan Anjanipun tertidur. Sampai keesokan harinya Anjani memeriksa kembali ponselnya dan ternyata masih di belum juga mendapatkan balasan dari Dipta.


"Tampaknya dia memang tidak tertarik padaku. Makanya dia tidak mementingkan pesanku." ucap Anjani dengan lesu.


Dengan lesu Anjani pun turun dari ranjangnya dan pergi mandi. Setelah selesai mandi Anjani pun keluar kamarnya dan menemui kedua orang tuanya.


"Anjani, Apakah kau akan mengikuti kami untuk menghadiri peresmian pondok pesantren di sekitar sini?" tanya kedua orang tua Anjani yang sudah bersiap untuk berangkat ke pengajian.


" Anjani rasanya malas, Pah. Nungkin mau istirahat saja di rumah!" ucap Anjani seperti kehilangan semangat.


Ibunya Anjani mendekati putrinya kemudian membujuk putrinya untuk ikut bersama mereka. " Ayolah Nak kamu ikut saja daripada kau untuk di rumah. Siapa tahu ketemu jodoh di sana!" bujuk ibunya Anjani.


" Mama ini ada-ada saja masa datang ke pengajian cuma untuk mencari jodoh. Jodoh bisa dicari di mana saja, Mah!" ucap Anjani sambil cemberut.


"Ya kan kita berusaha. Hasilnya kan terserah Tuhan mau seperti apa!" ucap ibunya sambil tersenyum ke arah putrinya.


"Sudah, Mah! Jangan dipaksa kalau tidak mau memang hal-hal seperti itu harus berasal dari hati!" ucap ayahnya Anjani.


"Ya sudah kami berdua berangkat dulu, ya? Kamu hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa kau telepon mama sama papa ya?" ucap ibunya Anjani berpamitan kepada putrinya tersebut.


Anjani yang masih lesu, hanya bisa mengangguk dan melepaskan kepergian kedua orang tuanya untuk ke pengajian.


"Sudahlah, mungkin dia memang tidak peduli padaku. Makanya sampai sekarang belum juga membalas sms-ku!" ucap Anjani akhirnya menyerah untuk menunggu balasan SMS dari Dipta.


Setelah selesai sarapan, Anjani pun duduk santai di depan televisi dan menonton acara favoritnya. Anjani meninggalkan ponselnya di kamar, sehingga tidak mendengar ketika Dipta menelponnya.

__ADS_1


"Ah, mungkin Anjani sedang sibuk. Biarkanlah Aku lebih baik berangkat saja sendiri!" akhirnya Dipta pun berangkat ke peresmian tersebut sendiri karena Ibunya sudah berangkat duluan dari rumahnya.


__ADS_2