
Bagas tersenyum kepada Rianti kemudian sejenak dia mencium bibir sang istri yang saat ini masih berada dalam pelukannya.
"Tidak apa-apa sayang! Justru mas senang kalau kamu mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran kamu. Sehingga kita bisa menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan!" Bagas sambil mencium kening sang istri.
"Lebih baik mencegah daripada mengobati. Lebih baik kita menghindari hal-hal yang akan membuat rumah tangga kita menjadi berantakan!" ucap Riyanti berusaha meyakinkan Bagas bisa memahami pemikirannya saat ini.
"Sayang, tidak apa-apa! Mas mengusulkan untuk mengambil ART baru biar kamu tidak terlalu lelah dan bisa fokus dengan kehamilanmu. Karena Mas tidak mau kalau kamu sampai kenapa-napa karena lelah ngurus rumah dan juga mengurus Mas!" ucap Bagas sambil tersenyum kepada Rianti.
"Ya sudah! Ayo kamu istirahat dulu. Biar kita bisa segera berangkat ke kediaman kedua orang tuamu. Tidak baik juga kalau kita melakukan perjalanan di malam hari!" ucap Bagas sambil membimbing istrinya untuk masuk ke dalam kamar mereka dan disuruh untuk tidur siang.
"Tidurlah dulu sayang!Mas akan mempelajari beberapa berkas operasi yang besok akan Mas jalankan. Mas ingin mempelajarinya dulu. Supaya besok tidak gugup!" ucap Bagas sambil mencium kening Riyanti kemudian dia langsung pergi ke meja kerjanya yang tidak jauh dari ranjang mereka.
Kamar utama milik Rianti dan Bagas memang terbilang besar dan menyatu dengan ruang kerja Bagas. Sehingga Riyanti bisa melihat kesibukan suaminya yang saat ini sedang sibuk mempelajari berkas-berkas operasi yang akan dia lakukan besok di rumah sakit.
Karena Riyanti pun memang merasakan lelah dan kantuk. Akhirnya dia pun tidur juga. Sementara Bagas masih sibuk mempelajari data-data pasien dan juga penyakitnya. Agar besok saat dioperasi bisa siap dan tidak melakukan kesalahan!
Hari ini Bagas memang tidak ada jam tugas di rumah sakit. Karena kemarin sudah dia rapel pekerjaannya. Jadi dia bisa bersantai untuk hari ini setelah mengantarkan Riyanti check up tentang kehamilannya.
Setelah masuk jam dzuhur. Bagas kemudian membangunkan istrinya untuk salat berjamaah dan bersiap-siap untuk mengunjungi rumah mertuanya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman mereka.
"Sayang Ayo bangun! Sudah waktunya salat zuhur. Ayo kita salat dulu. Setelah itu kita langsung makan siang dan kita bisa pergi ke rumah kedua orang tuamu dengan tenang!" membangunkan Riyanti yang tampak masih lelap dalam tidurnya.
"Aku masih mengantuk Mas! Bisa nggak kita berangkatnya setelah sholat Ashar saja? Biar nanti kita nginep saja di rumah Papa dan Mama. Sudah lama juga kan kita tidak menginap di sana?" tanya Rianti sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
"Ya sayang! Tapi setelah kau salat zuhur dan makan siang dulu. Setelah itu, kalau kau mau tidur lagi terserah. Mas tidak akan memaksa kamu sayang!" ucap Bagas berusaha untuk membangunkan Riyanti.
"Tapi aku masih ngantuk Mas!" ucap Rianti dengan suara manjanya sambil memeluk tubuh Bagas yang saat ini duduk di sampingnya.
"Ayolah sayang! Jangan mengajarkan kemalasan kepada calon bayi kita. Apalagi malas dalam hal ibadah. Nanti kita akan kerepotan saat mendidiknya kalau anak kita sudah lahir?" ucap Bagas sambil menarik Rianti untuk bangun dari tidurnya.
Akhirnya dengan terpaksa Rianti pun bangun dan mengikuti Bagas untuk salat berjamaah dengannya.
Setelah makan siang dan juga mandi. Tampak Rianti sudah mulai segar dan dia sudah bersemangat untuk segera berangkat ke kediaman kedua orang tuanya.
"Ayo mas kita berangkat sekarang saja nanti kalau terlalu malam tidak baik juga untuk kita!" ucap Rianti dengan semangat membara karena dia sangat bahagia akan memberikan kabar tentang kehamilannya kepada kedua orang tuanya.
"Ayo kita berangkat! Mas juga sudah siap dari tadi!" Bagas kemudian mempersiapkan dirinya untuk segera menemui mertuanya.
Akhirnya Bagas dan Rianti pun berangkat ke kediaman kedua orang tuanya. Begitu sampai mereka langsung disambut oleh ayah dan ibunya Riyanti yang sangat bahagia sekali melihat kedatangan menantu dan juga putrinya yang sudah lama tidak berkunjung ke kediaman mereka.
"Oh ya, Papah punya kejutan untuk kalian berdua kamu pasti senang Rianti dengan kejutan ini!" ucap ayahnya Rianti dengan senyum sumringahnya.
"Kami juga punya kejutan untuk Papa dan Mama dan itu sangat membahagiakan?" Rianti sambil melirik sekilas kepada Bagas yang saat ini sedang tersenyum ke arahnya.
"Kejutan apa? Cepat katakan sama mama! Mama tidak sabar!" ucap ibunya Rianti mendesak agar Rianti segera mengatakan kejutan apa yang mereka bawa untuk kedua orang tuanya.
"Rianti sedang hamil Pah, Mah! Alhamdulillah sudah masuk bulan pertama!" ucap Bagas dengan wajah penuh kebahagiaan.
__ADS_1
"Alhamdulillah! Akhirnya penantian panjang kalian berakhir juga. Tolong dijaga cucu kami berdua ya? Kamu harus ingat Rianti! Sekarang kamu akan segera jadi seorang ibu. Kamu tidak boleh bertindak sembrono ataupun gegabah lagi. Karena ada nyawa di dalam perutmu saat ini!" ucap ayahnya Rianti memberikan nasehat kepada putrinya.
"Ya Pah! Jangan khawatir! Rianti pasti akan selalu menjaga amanah yang sudah diberikan oleh Allah kepada kami. Papa tidak usah khawatir. Apalagi mas Bagas yang sangat posesif ini selalu menjaga Rianti melebihi apapun?" ucap Rianti sambil melirik kepada suaminya yang saat ini sedang menatap ke arahnya dengan lekat.
"Oh ya! Kejutan apa yang tadi Papah dan mama bilang? Rianti sudah tidak sabar!" Rianti bertanya kepada kedua orang tuanya tentang kejutan yang tadi dikatakan oleh mereka kepadanya.
"Rianti!" tiba sebuah suara keluar dari kamar kakaknya Rianti yaitu Nadya.
Sontak Rianti menolehkan kepalanya untuk melihat Siapa yang tadi memanggil namanya.
"Kak Nadia? Ya Allah! Sejak kapan Kak Nadya keluar dari penjara?" Rianti langsung berlari untuk memeluk kakaknya yang sudah lama tidak dia temui.
"Sayang hati-hati! Kau tidak boleh berlari selalu saja begitu!" sontak Bagas langsung memperingati Rianti untuk tidak berlari mengingat kondisi Rianti saat ini yang sedang hamil trimester pertama.
"Maaf Mas! Rianti terlalu senang karena tadi melihat Kak Nadya, jadi lupa kalau sedang hamil!" ucap Riyanti cengengesan sehingga membuat Bagas saya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya yang masih seperti anak kecil.
"Wah Selamat ya Rianti! Kamu akan menjadi seorang ibu. Kakakmu ini benar-benar kalah oleh kamu!" ucap Nadia dengan senyum kebahagiaan terpancar di wajahnya.
Sejak keluar dari penjara, memang banyak perubahan yang terjadi pada Nadia dia menjadi pribadi yang lebih tenang dan juga lebih menghargai orang lain.
Tampaknya penjara telah menjadi tempat terbaik bagi Nadia untuk belajar dan juga lebih mawas diri. Tampak ketenangan di wajah Nadia dan itu sangat terasa oleh Rianti yang saat ini sedang memeluk kakaknya dengan penuh rasa rindu.
"Apa kabar dek, lama kita tidak bertemu?" ucap Nadia sambil mengelus perut Rianti.
__ADS_1
Nadya sekarang sudah bertobat jadi kita bisa tenang dengan kehadiran dia berada diantara keluarganya. Kita tidak perlu merasa takut kalau Nadia akan melakukan sesuatu yang jahat terhadap orang yang ada di sekitarnya.
Nadya sudah banyak belajar di penjara dan dia sudah banyak merasakan pahit getirnya kehidupan di sana. Jadi dia tidak mungkin mengulangi kejahatan yang sama, kembali mencicipi hidup di dalam penjara.