Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
88. Berkunjung Ke Kampung Halaman Besan


__ADS_3

Ketika kedua orang tuanya Riyanti melewati kampung halaman mertuanya Rianti, yaitu Mang Diman. Ayah dan ibunya Rianti pun, memutuskan untuk berkunjung dan menyapa keluarga Bagas di sana. Yang kebetulan masih berlibur. Bagas meminta cuti dari rumah sakit selama satu minggu, untuk honeymoon di kampung tersebut, dan mereka baru 5 hari tinggal di sana.


Mang Diman dan istrinya memang diberikan izin khusus oleh ayahnya Riyanti. Dalam rangka menemani Riyanti di kampung tersebut, agar Riyanti tidak merasakan terlalu kesepian. Ayahnya Rianti memang sangat menyayangi Rianti dan Bagas.


"Assalamualaikum, Papa, Mama! Senang sekali melihat kalian berada di sini! Sudah rindu rasanya!" ucap Rianti,menyambut kedatangan kedua orang tuanya.


Bagas yang baru saja pulang dari sawah, setelah membantu ayahnya pun, kiji menyambut kedatangan kedua mertuanya, dengan bahagia. Awalnya, Bagas merasa sungkan untuk menyalami Ibu mertuanya, tetapi melihat ibu mertuanya tersenyum ke arahnya dengan lembut, Bagas pun akhirnya memberanikan dirinya untuk menyalami dan menyapa sang ibu mertua yang biasanya selalu ketus terhadapnya.


" Ayahmu di mana Bagas?" tanya Ayahnya Rianti.


"Aby masih di sawah, Pah! Kebetulan baru memulai menanam padi lagi, jadi sedang sibuk-sibuknya." ucap Bagas, salah tingkah dengan ibu mertuanya yang terus menerus menatapnya.


"Mas, kamu bebersih dulu, sana! Badan kamu kotor sekali!" tegur Rianti kepada suaminya.


"Oh, ya! Hampir lupa. Rianti, kamu ambilkan minuman dan juga beberapa camilan untuk ayah dan ibu! Jangan lupa, siapakan makan saing juga!" perintah Bagas kepada Rianti. Ibu mertuanya terus saja memperhatikan Bagas, sehingga Bagas jadi kikuk dan gugup.


"Pah, saya bebersih dulu!" tanpa menunggu jawaban, Bagas langsung masuk ke rumah. Mandi dan mengganti pakaian yang nyaman di gunakan di dalam rumah.

__ADS_1


Rianti pergi ke dalam dan menyiapkan minuman serta camilan untuk kedua orang tuanya beserta sopir ibunya sementara Bagas pergi ke belakang sebentar untuk membersihkan dirinya karena saat ini dia sangat kotor setelah pulang dari sawah.


"Lihatlah, Mah! Bagas bisa membimbing Putri kita, sehingga menjadi istri yang baik. Bukankah, selama ini, Rianti paling susah di atur? Mamah lihat, betapa menurut Rianti terhadap Bagas!" ucap suaminya.


"Mama tetap saja sedih. Putri kita yang berharga, sekarang mengerjakan pekerjaan seorang pembantu!" ucap ibunya Rianti mulai sedih lagi.


"Mah, ini di desa, mau cari pembantu di mana? Mama ini suka aneh-aneh aja pikirannya. Diplongin, Mah! Coba di ikhlaskan! Riyanti menjadi istrinya Bagas! Dengan begitu, hati Mama jadi lega dan senang!" nasehat suaminya.


Tidak lama kemudian, datang Mang Diman yang baru pulang dari sawsh, bersama istrinya. Tampak badan mereka begitu kotor dengan lumpur. Sehingga membuat mereka merasa tidak enak, untuk bersalaman dengan majikan mereka di kota.


"Eh, ada Tuan dan Nyonya! Bagaimana kabarnya? Maaf ini, tidak ada penyambutan sama sekali. Kami tidak tahu kalau Tuan mau datang ke sini. Ada kehormatan apa ini, kami sampai menerima kunjungan dari Tuan dan Nona!" sambut Mang Diman dengan bahagia.


"Mamah!" tegur suaminya.


"Pah, maksudnya Mama, mereka gak usah panggil kita Tuan dan Nyonya lagi, memang apa salahnya?" protesnya.


"Ya, gak salah! Hanya saja, cara bicara Mamah, gak enak di dengar!" protes suaminya.

__ADS_1


" Aduh Mang Diman! Sejak Rianti menikah dengan anakmu semua yang saya katakan tuh semuanya salah di mata suami saya. Saya bingung harus bagaimana ini!" keluh ibunya Rianti sambil mengelus dada.


"Tidak apa-apa Tuan, Eh, maksud saya, Pak Susilo! Kami sudah biasa ko, dengan nada bicaranya Nyonya, maksud saya, Bu Hastuti. Tidak apa-apa, kami baik-baik saja. Tidak apa-apa!" ucap ayahnya Bagas sungkan.


Beliau tampaknya tidak terbiasa. Memanggil nama majikannya, yang selama 20 tahun lebih, telah memberikan pekerjaan kepadanya dan juga istrinya. Ya, istrinya Mang Diman juga bekerja sebagai pembantu di kediamannya Rianti. Tetapi, mereka berdua pulang ke rumah mereka, apabila magrib telah datang.


Sementara Bagas selama ini tinggal di apartemen yang dekat dengan rumah sakit. Sehingga memudahkan aktivitasnya dalam bekerja. Karena, tempat tinggal ayah dan ibunya terlalu jauh dari rumah sakit. Dan untuk meminta kedua orang tuanya untuk tinggal di apatementnya pun itu tidak mungkin, karena pastinya akan mengganggu aktivitas kerja mereka berdua di kediaman Rianti, yang jauh rumahnya dari rumah sakit tempat Bagas bekerja. Bagas pulang ke rumah ayah ibunya Setiap malam Minggu. Kalau liburan dari pekerjaannya.


Bagas sudah berulang kali, meminta kepada kedua orang tuanya untuk berhenti bekerja. Agar mereka beristirahat dan menikmati masa tua mereka. Tetapi kedua orang tuanya yang tidak mau. Mereka tidak mau hidup tanpa pekerjaan dan menjadi beban anaknya. Apalagi masih ada dua orang anak yang menjadi tanggungan mereka yang sekarang tinggal di pondok pesantren.


"Pah, Mah, Aby dan Umy! Ayo kita makan siang dulu! Semuanya sudah siap di dalam!" ucap Rianti, memecah keheningan di ruang tamu itu.


Mereka pun akhirnya beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing. Dan memulai makan siang sederhana yang disediakan oleh Rianti. Makanan ala kampung yang terasa aneh di lidah ibunya Riyanti, yang selama ini sudah terbiasa dengan makanan kota. Tetapi tampaknya ayahnya Rianti menikmati saja makanan tersebut.


" Wah, Mah! Dalam sekejap saja Anak kita sudah menjadi istri yang sholehah, yang pandai memasak dan pintar mengurus rumah. Papa benar-benar sangat bangga sekali sama kamu Rianti!" ucapannya Rianti memuji putrinya yang kini telah tumbuh dewasa. Dan menjadi seorang istri yang baik bagi Bagas.


" Terima kasih, Pah! Atas pujiannya! Rianti masih berusaha kok, terus belajar untuk bisa menjadi istri juga menantu yang baik bagi Mas Bagas dan juga bagi Abi dan Umi. Doain terus ya, Pah! Supaya Rianti bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi!" ucap Rianti sambil melirik ke arah suaminya. Bagas tampak tersenyum melihat sang istri yang kini telah menjadi wanita elegan dan sopan.

__ADS_1


"Bagas, Mang Diman dan juga Bu Tarmi! Mohon maaf ya, kalau selama ini, saya sebagai ibunya Rianti. Juga sebagai besan kalian. Sudah bersikap kasar terhadap kalian. Ya? Mohon maaf ya? Mungkin, memang butuh waktu untuk menerima keadaan ini. Tapi, ya sudahlah! Jodohkan memang Allah yang mengaturnya. Saya akan berusaha sebaik mungkin, untuk menerima takdir kita. Yang telah menjadi besan dan menjadi mertuamu." ibunya Rianti diam sejenak, melihat semua orang di sana.


" Bagas! Pokoknya, Mama berpesan sama kamu. Untuk memperlakukan Riyanti dengan baik. Kalau tidak, kamu akan berhadapan dengan Mama. Dan Mama tidak rela Putri Mama diperlakukan tidak baik oleh suaminya maupun mertuanya!" peringatan keras yang diberikan oleh ibu mertuanya, membuat Bagas tidak bisa berkutik.


__ADS_2