
Rafi merasa terkejut ketika dia mendapatkan panggilan dari KBRI yang ada di Mesir bahwa dia mendapatkan panggilan kerja di sana.
" Ada apa Mas? Kenapa kau tampaknya sangat kalut sekali?" tanya Dinda ketika melihat suaminya yang terlihat termenung sendirian.
" Barusan saya menerima telepon dari KBRI di Mesir yang memberitahukan bahwa saya diberikan kesempatan untuk bekerja di sana!" ucap Raffi sambil melirik kepada Dinda.
" Kenapa Mas merasa bingung sih? Kalau Mas mau bekerja di sana. Tinggal terima saja toh? Kalau tidak mau tinggal Mas tolak saja. Apa susahnya Mas?" tanya Dinda sambil duduk di samping suaminya.
" Mas merasa curiga kalau ini adalah keinginan Elena. Soalnya aneh sekali kenapa tiba-tiba saja pihak KBRI menghubungiku?" tanya Raffi merasa bingung.
" Kalau Mas merasa tidak nyaman tinggal Ditolak saja toh? Kita juga tidak terlalu membutuhkan pekerjaan itu. Kalau Mas memang membutuhkan pekerjaan. Aku bisa mengatakan kepada Ayahku untuk memberikan salah satu rumah sakitnya agar dikelola oleh kita berdua!" ucap Dinda kepada suaminya.
" Astaghfirullahaladzim! Di manakah letak harga diriku sebagai seorang laki-laki kalau sampai kau benar-benar melakukan itu?" ucap Raffi sambil mengelus dadanya.
" Memang apa salahnya Mas? Apa yang dimiliki oleh orang tua. Bukankah memang untuk anaknya?" tanya Dinda merasa heran dengan suaminya yang tampak terkejut ketika dia mengatakan keinginannya.
" Tolong kau jangan pernah berpikir seperti itu Dinda! Aku benar-benar tidak nyaman! Kalau kau memang menghargaiku sebagai suamimu jangan pernah memiliki pikiran seperti itu terhadap kedua orang tuamu. Aku seorang laki-laki dan aku pasti akan selalu bertanggung jawab kepadamu sebagai istriku!" ucap Rafi sambil meninggalkan Dinda yang masih bengong di tempatnya.
" Lalu apa yang akan Mas lakukan?" tanya Dinda kepada suaminya.
" Apakah kau tidak percaya kepadaku?" tanya Raffi sambil menatap Dinda dengan serius.
Dinda mendekati sang suami kemudian dia meletakkan kepalanya di dadanya.
" Ketika Aku memilihmu untuk menjadi suamiku. Aku sudah mempercayakan seluruh jiwa ragaku dan kehidupanku di telapak tanganmu!" ucap Dinda sambil tersenyum kepada Raffi yang tampak kikuk dan juga merasa belum terbiasa dengan kemesraan antara dirinya dengan sang istri.
" Baiklah mungkin saat ini aku bisa membuka semua hal yang selama ini kulakukan di belakang Umi dan juga Abi." ucap Raffi sambil tersenyum kepada Dinda.
" Apakah selama ini masih menyimpan rahasia dari kedua orang tuamu?" tanya Dinda mulai kepo dengan kehidupan sang suami.
" Tidak juga sih. Aku hanya tidak mau untuk mengumbarnya ke hadapan banyak orang!" ucap Rafi tersipu malu.
__ADS_1
" Memang apa yang telah kau lakukan Mas?Sehingga kau harus menyembunyikannya?" tanya Dinda semakin penasaran.
" Sudahlah! Ayo kita tidur saja! Tapi yang jelas saya bisa memastikan bahwa saya pasti akan memberikan nafkah untukmu setiap bulannya jadi jangan sekali-kali kau meminta kepada kedua orang tuamu! Ingatlah itu kalau kau memang benar-benar menghargaiku sebagai suamimu!" ucap Rafi sambil meninggalkan Dinda dalam kebingungannya.
Raffi selama ini memang selalu berusaha untuk menyembunyikan tentang usaha yang dia geluti di luar pondok.
Raffi tidak mengetahui bahwa sebenarnya Abinya sudah mengetahui semua yang dia lakukan di luar sana. Nereka hanya pura-pura diam dan pura-pura tidak tahu karena mereka ingin mendengar sendiri dari mulut putranya tentang usaha yang dilakukan oleh Raffi di belakang mereka berdua.
Oleh karena itu kedua orang tua Raffi merasa tidak ragu untuk menikahkan putranya dengan putri dari sahabat mereka.
Mereka berdua sangat mengenal siapa Dinda. Karena Dinda merupakan salah satu santri terbaik di pondok yang dikelola oleh orang tua Raffi.
Dinda menyusul Suaminya ke dalam kamar mereka. Dia masih penasaran dengan keputusan sang suami tentang tawaran pekerjaan di KBRI Mesir.
" Bagaimana tentang pekerjaan di KBRI itu apakah Mas akan menerimanya?" tanya Dinda ketika melihat suaminya yang memegang Alquran dan bersiap untuk murojaah.
" Nanti malam Mas akan istikharah dulu. Adapun untuk hasilnya mungkin akan terlihat beberapa hari ke depan. Sudahlah kita tidak usah membicarakan hal itu!" ucap Rafi lalu mengakhiri pembicaraan antara dirinya dengan Dinda.
Setelah merasa cukup dan lelah. Sepasang suami istri itupun kemudian naik ke atas panjang mereka berdua.
Hingga saat ini Raffi dan Dinda masih belum melakukan kewajiban mereka sebagai suami istri. Karena Dinda yang masih belum merasa yakin dengan cinta dari sang suami.
Entahlah hanya saja perasaan Dinda yang sensitif merasakan bahwa sebenarnya Raffi terpaksa menikah dengannya.
" Berdoalah sebelum tidur agar kita berdua dihindarkan dari gangguan setan yang terkutuk!" ucap Raffi sebelum dia memejamkan matanya.
Sekilas Dinda melirik ke arah suaminya yang sudah mulai terlelap.
" Sudah hampir 2 bulan kita menikah. Akan tetapi kenapa kau masih belum juga meminta hakmu sebagai seorang suami. Apakah bagimu Aku tidak menarik sebagai seorang istri?" ucap Dinda dengan sedih ketika dia melihat suaminya yang tampak acuh kepadanya.
' Maafkan aku Dinda. Aku hanya belum merasa yakin dengan perasaanku sendiri terhadapmu. Aku tidak mau merugikanmu kalau sampai terjadi apa-apa dengan rumah tangga kita di masa depan nanti!' batin Raffi yang sebenarnya tidak tidur dia hanya berpura-pura saja ingin mengetahui apa yang akan dilakukan istrinya ketika dia tertidur.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Raffi merasa tubuhnya seakan tersengat oleh listrik ketika sang istri tiba-tiba saja mengecup bibirnya dengan lembut.
Rafi tahu kalau saat ini Dinda sedang menangis. Karena dia bisa merasakan air matanya jatuh ke pipinya.
" Maafkan aku kalau sebagai istrimu aku belum memuaskanmu dan belum bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku. Aku tahu sebagai seorang wanita aku masih banyak kurangku. Sehingga tidak bisa membuatmu mencintaiku dan menginginkan diriku!" ucap Dinda dengan Lirih dan merasa sedih.
Setelah mengatakan semua isi hatinya. Dinda pun kemudian turun dari atas ranjangnya dan memilih untuk pergi ke balkon yang ada di dalam kamarnya.
Perasaan Dinda yang saat ini sedang kalut dia lebih memilih untuk melihat bintang dan menghirup udara malam yang terasa dingin dan menusuk tulang.
Raffi yang merasakan ada pergerakan di atas ranjangnya. Dia pun secara perlahan lalu membuka matanya dan melihat Dinda yang berjalan ke arah balkon dengan berlinang air mata.
Entah kenapa melihat indah yang menangis perasaan Raffi menjadi tidak enak.
" Ya Allah apakah hamba telah menganiaya istriku sehingga membuatnya menangis sedih seperti itu?" tanya Raffi kepada dirinya sendiri ketika dia melihat indah yang tampak tersedu-sedan di balkon seorang diri.
" Ya Allah! Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus meminta hakku hari ini kepada istriku? Apakah dia bisa menerima kondisiku saat ini yang masih belum bisa mencintainya secara utuh?" tanya Raffi frustasi sambil mengacak rambutnya sendiri karena dia saat ini sedang bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.
Sepanjang hidupnya Raffi memang belum terlalu merasakan apa itu cinta terhadap seorang wanita. Karena ketertarikannya selama ini hanya terhadap ilmu agama dan juga Alquran.
" Baiklah kalau aku tidak juga memberikan nafkah batin untuk istriku, itu sama saja dengan aku menganiaya istriku. Adapun masalah cinta, hal itu bisa datang kemudian. Adapun di kemudian hari terjadi apa-apa dengan rumah tangga kami, aku yakin kalau Dinda pasti bisa memahaminya dengan bijaksana!" ucap Raffi pada akhirnya memutuskan untuk memulai langkah baru di dalam kehidupan rumah tangganya bersama Dinda, istrinya yang telah dia nikahi dua bulan yang lalu dihadapan kedua orang tuanya dan juga di hadapan seluruh para undangan yang menjadi saksi pernikahan mereka berdua.
Dengan penuh kemantapan dan ucapan Bismillah di dalam hatinya. Raffi kemudian mendekati Dinda yang tampak sedang menangis di balkon.
" Sudah malam. Kenapa kau malah berada di luar?" tanya Raffi dengan nafasnya yang memburu karena saat ini dia sangat gugup untuk melakukan perannya sebagai seorang suami.
Dinda tersentak karena mendapatkan Raffi yang sudah ada di belakangnya.
" Tidak apa-apa Mas! Aku hanya ingin menghirup udara malam karena aku tidak bisa tidur." ucap Dinda berusaha menghapus air matanya dengan telapak tangannya yang terasa dingin.
Raffi mendekat ke arah Dinda dan kemudian menggenggam telapak tangannya dengan erat.
__ADS_1
" Kalau aku meminta hakku sebagai suamimu malam ini. Apakah kau mau dan bersedia untuk memberikannya kepadaku?" tanya Raffi dengan suara yang serak dan tampak gugup.