Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
133. Lamaran Bima


__ADS_3

Keesokan paginya Bima bangun dengan keadaan yang segar dan penuh semangat. Dia sudah yakin bahwa dirinya akan melamar Sheila Bramantyo.


Wanita yang selama beberapa hari ini telah memenuhi hari-harinya dengan rona-rona indah yang berbeda. Rona-rona cinta yang bermekaran di hatinya.


Bima sekarang sudah berhasil melupakan perasaannya terhadap Riyanti dan berubah menjadi rasa cinta terhadap seorang Sheilla Bramantyo yang telah berhasil mencuri selama beberapa hari ini.


Tampaknya nasehat dari ibunya Dipta bekerja dengan baik. Dengan penuh kemantapan hati, Bima telah memutuskan untuk segera melamar Sheila Bramantyo dan akan segera menjadikannya sebagai istrinya.


"Aku harus mendatangi Om Farel dulu. Aku tidak boleh terlalu gegabah semacam ini. Bisa-bisa semuanya gagal total sebelum Aku memulai apapun!" Bima kemudian langsung mandi dan bersiap untuk mendatangi calon mertuanya di kediamannya yang tidak terlalu jauh dari apartemennya saat ini.


"Semoga Om Farel tidak menarik niatnya untuk menikahkan Sheilla denganku!" Bima kemudian melanjutkan kendaraan mobilnya menuju kediaman Bramantyo.


"Aku harus membeli sesuatu tidak baik kalau aku datang dengan tangan kosong!" Bima kemudian mampir di sebuah toko buah-buahan dan toko bunga.


Bima juga datang ke sebuah toko perhiasan untuk membeli sebuah cincin berlian untuk acara lamarannya kepada Sheilla.


Setelah semua persiapan dirasa cukup, dengan penuh kemantapan dan kepercayaan diri, Bima langsung meluncur ke kediaman Bramantyo.


Hatinya sangat bahagia sekali dengan apa yang saat ini dia rencanakan.


Tetapi ketika sampai di kediaman Bramantyo. Bima merasa heran karena di sana banyak sekali mobil yang terparkir. Dengan perasaan penuh gundah gulana, Bima melangkahkan kakinya maauk ke kediaman Bramantyo.


"Ada apa ini kenapa begitu ramai Apakah sedang ada acara!?" itu banyak pertanyaan yang saat ini berseliweran di kepala Bima.

__ADS_1


Dengan langkah-langkah gontai. Bima terus melanjutkan langkahnya ke dalam kediaman Bramantyo. Saat ini berbagai pikiran terus berkecamuk di dalam hatinya.


"Sedang ada acara apa? Kenapa begitu ramai ya di rumah ini?" tanya Bima terus bertanya di dalam hatinya.


Tiba-tiba saja seseorang sudah merangkul bahu nya dari belakang. Mengejutkan Bima sehingga membuat Bima menjatuhkan buket bunga dan buah-buahan yang tadi dia bawa.


"Ya ampun! Calon pengantin kita yang ditunggu sejak tadi baru datang. Ayo cepat pengantinmu sudah menunggumu!" tiba saja Dipta sudah berdiri di belakang Bima dan tersenyum dengan penuh arti.


"Kenapa lu bisa ada di sini Dipta? Apa maksud perkataan lu? Calon pengantin apa?" tanya Bima seperti orang linglung. Sehingga membuat Dipta tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi sahabatnya yang sangat lucu baginya.


"Ya calon pengantin lu! Emang lu punya berapa banyak calon pengantin Bima? Jangan bilang sama gue,kalau lu seorang playboy yah!" ucap Dipta sambil menepuk bahu sahabatnya. Kemudian Dipta langsung membawa Bima ke dalam ruang tamu keluarga Bramantyo. Di mana semua keluarga besar mereka berdua kini sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.


"Ini dia calon pengantin kita sudah datang? Akhirnya setelah ditunggu berjam-jam sampai juga dia di sini!" ucap ayahnya Bima sambil tersenyum kepada putranya.


Bima benar-benar bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Kenapa semua orang terus mengatakan bahwa dia sebagai calon pengantin?


"Sheilla, bisa tolong kau Jelaskan semua ini?Aku sangat bingung!" ucap Bima sambil menatap kepada Sheila.


"Keluarga besarmu sudah melamarku secara resmi untuk menjadi calon istrimu. Sejak tadi kami menunggumu untuk memasangkan cincin pertunangan antara kita berdua!" ucap Sheilla sambil menundukkan kepalanya.


Demi mendengarkan pengakuan yang dikatakan oleh Sheilla. Bima seketika tersenyum bahagia. Karena apa yang menjadi niatnya datang ke kediaman Bramantyo ternyata sudah terlaksana 80% dengan bantuan keluarga besarnya.


Bima kemudian merogoh saku jasnya dan mengambil cincin yang sudah dipersiapkan sebelum dia datang ke kediaman itu.

__ADS_1


Drngan langkah yakin dan penuh kemantapan Bima mendekati Sheilla dan memasangkan cincin yang sudah dia persiapkan di jari manis calon istrinya yang telah resmi di lamar oleh keluarga besarnya hari ini.


"Alhamdulillah akhirnya acara lamaran ini selesai dengan sukses. Semoga kedua calon mempelai ini bisa menjalani pernikahannya dengan bahagia dan menyatukan ikatan Kedua keluarga menjadi lebih baik!" ucap Dipta memberikan sambutan untuk mengakhiri acara lamaran tersebut.


"Terimakasih kepada semua keluarga besar yang sudah membantu saya dalam acara lamaran ini sehingga Semuanya lancar jaya tanpa hambatan apapun!" ucap Bima tersenyum bahagia kepada semua orang yang hadir di acara lamaran tersebut.


"Bagaimana dengan hari pernikahannya? Apakah akan dibicarakan hari ini atau di lain waktu?" hanya ibunya Bima seakan tidak sabar untuk memiliki seorang menantu.


"Kami menyerahkan semuanya kepada pihak perempuan untuk masalah tanggal pernikahan mereka berdua. Kami pihak pria akan mengikuti saja!" ucap ayahnya Bima dengan penuh bahagia. Karena impiannya akhirnya terwujud melihat putranya kini hendak menikah dengan seorang perempuan.


Sungguh, selama ini rumor yang beredar antara Bima dan Dipta benar-benar mengganggu pikirannya. Sehingga acara lamaran ini benar-benar menjadi obat bagi dirinya tentang keraguannya akan orientasi *** putranya.


"Kita akan mengadakan acara pernikahan mereka berdua satu bulan dari hari ini!" ucap Farel, ayahnya Sheila dengan penuh kemantapan.


"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Sheila seakan keberatan dengan keputusan ayahnya tersebut yang begitu tiba-tiba.


Padahal dalam diskusi terakhir bersama ayahnya, dinyatakan bahwa pernikahan mereka akan diadakan 6 bulan lagi. Tapi kenapa tiba-tiba menjadi 1 bulan? Hal itu menjadi sebuah pertanyaan untuk Sheila.


"Tidak apa-apa! Untuk sesuatu yang baik lebih baik dipercepat daripada mendatangkan fitnah dan kemudaratan yang lebih banyak lagi!" ucap ayahnya Bima yang merasa setuju dengan pendapat Farel untuk mempercepat waktu pernikahan mereka berdua.


"Tapi 1 bulan itu terlalu cepat Om! Bukankah salah juga harus menyelesaikan kuliah dulu?" Sheilla tampak protes dengan keputusan keluarga besar keduanya.


Saat ini Sheila memang sedang berjuang untuk segera menyelesaikan pendidikan s2-nya di sebuah universitas negeri di kota Jakarta. Karena itu dia merasa keberatan kalau pernikahan itu dipercepat. Karena pasti akan mengganggu fokusnya dalam meraih gelar magister.

__ADS_1


"Tidak usah khawatir, aku pasti akan selalu mendukung kuliahmu dan tidak akan mengganggu nya!" janji Bima kepada Sheila yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam. Sheilla meminta bantuan Bima agar pernikahan itu diundur sesuai dengan waktu kesepakatan pertama yaitu 6 bulan dari sekarang.


Tetapi Sheila menemukan kekecewaan. Karena ternyata Bima pun setuju dengan pendapat para orang tua mereka, untuk mempercepat pernikahan itu yaitu satu bulan dari sekarang.


__ADS_2