
Bima mengkerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Dito yang mengatakan bahwa dia adalah orang asing baginya.
"Ya ampun baru pergi ke luar negeri sebentar saja kau sudah bilang sombong sekali mengatakan padaku sebagai orang asing Apa kau lupa dulu kita adalah tugas kawan sewaktu kita masih SMA?" ucap Bima sambil menepuk bahu itu yang saat ini sedang menatap kepada Sheila.
"Sheilla, makhluk astral Ini calon suamimu? Kok bisa sih, kamu mau menikah dengan dia?" tanya Dito dengan wajah tengilnya yang membuat Bima menjadi marah terhadapnya.
" Wah kurang ajar lu bilang gue makhluk astral padahal dulu kita kan sahabat baik yang kemana-mana selalu bersama!" ucap Bima misuh-misuh sambil menatap tajam kepada Dito yang saat ini sedang tertawa terpingkal-pingkal.
" Yaelah nih bocah pakai tertawa juga emang ada yang lucu ya?" protes Bima sambil menggeplak bahu Dito yang sejak dari terus tertawa terhadapnya.
" Ya ampun Bim kau masih tetap tidak berubah masih gampang untuk di prank sama gue! Hahaha!" ucap Dito Sambil tertawa dan memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Ah lu sejak dulu nggak pernah berubah senangnya mempermainkan perasaan gue!" ucap Bima cemberut ke arah Dito.
"Kalian kenal ya satu sama lain?" tanya Sheila menyela pembicaraan antara Dito dan Bima yang terlihat sangat seru sehingga membuat dirinya merasa sebagai orang yang tersingkirkan di antara mereka berdua.
"Iya Sheila! Dia ini sahabat gue sewaktu SMP dulu. Kami berpisah ketika saya memutuskan untuk sekolah dan melanjutkan kuliahku ke luar negeri!" jawab gitu sambil menepuk punggung Bima yang duduk di sebelahnya.
"Kalau dipikir-pikir, lama sekali ya? Kita tidak bertemu. Oh ya Dek lu udah menikah atau belum?" tanya Bima menatap kepada Dito yang saat ini masih memperhatikan salah yang kini tertunduk wajahnya.
__ADS_1
"Mana di mana diriku ini selalu menjadi orang nomor sekian diantara sahabat-sahabatmu!" ucap Sheila dengan menundukkan kepalanya.
Demi mendengarkan apa yang dikatakan oleh salah Dito dan Bima menatap perempuan yang saat ini sedang menundukkan kepalanya di hadapan mereka.
"Kenapa sih yang kamu selalu cemburu dengan sahabat-sahabatku? Aku nggak mungkin kan hidup sendirian dan hanya hidup denganmu saja? Aku juga butuh mereka untuk melengkapi hidupku sebagai makhluk sosial. Bukankah Saya juga tidak pernah melarangmu untuk bergaul dengan teman-temanmu?" ucap Bima sambil menatap kepada Sheila yang kini mulai berkaca-kaca matanya.
"Maafkan aku mungkin aku yang terlalu dalam mencintaimu. Sehingga aku hanya menginginkanmu untuk selalu bersamaku. Aku tidak senang kalau melihatmu tampak lebih asik dengan orang lain daripada bersamaku!" ucap Sheila sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku tidak masalah kok sayang! Kalau kamu melakukan itu. Hanya saja, tolong jangan terlalu berlebihan dalam menyikapi hal ini. Aku juga kan tidak pernah melakukan hal-hal yang membuatmu sakit hati sayang. aku hanya dekat dengan sahabat-sahabatku yang laki-laki dan sepanjang hidupku aku tidak mempunyai sahabat seorang perempuan. Hanya kau perempuan satu-satunya yang pernah dekat denganku sampai saat ini!" ucap Bima mencoba untuk menghibur Sheila yang saat ini sedang bersedih hatinya.
"Maafkan Aku! Tapi memang perasaanku saat ini sedang galau sekali. Apakah mungkin? Karena pernikahan kita sebentar lagi, sehingga membuat pikiranku sangat kacau dan amburadul?" tanya Sheila sambil menatap kepada Bima yang saat ini sedang berusaha untuk menenangkannya.
"Lah kontakmu aja menghilang. Nomor di ganti, alamat nggak tahu dimana. Saya bisa mengantarkan surat undangan untukmu Bro?" protes Bima sambil menatap kepada Dito.
"Shela kan tahu di mana rumahku. Sheila! Emang lu nggak berniat untuk mengundang gue sebagai sahabat lu?" tanya Dito menatap Sheila yang kini mulai tenang dan tidak menangis lagi.
Saat ini Bima sedang merangkul tubuh Sheila dengan mesra. Sehingga membuat Sheila perasaannya mulai tenang karena Bima berada di sampingnya bukan di dekat Dito.
"Pernikahannya saja mendadak! Waktu persiapan kami sangat singkat. Gue tidak pernah berpikir untuk mengundang teman-teman yang lain. Hanya dihadiri oleh keluarga saja. Kalau kebetulan ada teman yang mengetahui berita itu, ya tidak apa-apa. Untuk datang kami tidak menolak undangan!" ucap Sheila menjelaskan kepada Dito.
__ADS_1
"Tapi kalau undangan digital sudah menyebar sih di grup grup WhatsApp yang gue ikuti!" ucap Sheila menjelaskan segalanya kepada Dito agar Dito menjadi tidak salah paham terhadapnya maupun terhadap Bima.
"Ya gimana gue tahu kalau lu mau menikah dan di mana tempatnya kalau kalian tidak memberikan undangan padaku?" protes Dito kepada mereka berdua.
"Lu datang aja ke hotel Royal milik gue! Acara Pernikahannya dilaksanakan di sana kok!" ucap Bima mengatakan lokasi pernikahannya dengan Sheila.
"Lu punya hotel Bim? Gak nyangka gue! Gue kira lu cuma seorang dokter dan keluarga Lu cuma bergerak di bidang rumah sakit!" ucap Dito merasa takjub dengan sahabatnya yang luar biasa.
"Hanya buat iseng doang! Kalau gue penat dengan tugas sebagai orang dokter. Gue pasti lari ke hotel dan memanagenya untuk merefreshingkan otak gue! agar tidak bosen dan spaneng hanya memikirkan tentang kedokteran saja!" ucap Bima sambil mengaduk-aduk minumannya kemudian menyedotnya sampai tandas.
"Emang ya kelasnya seorang konglomerat itu beda. Sampai hotel saja cuma dijadikan barang iseng pembunuh kebosanan. Padahal bagi kami-kami, hal seperti itu sangat sulit dan menyakitkan untuk diperjuangkan!" ucap Dito dengan memasang wajah Memelas Dan sukses dihadiahkan bogem mentah oleh Bima di bahunya.
"Udah stop deh akting lu jelek banget tau nggak sih? Jijik gue lihatnya! Siapa sih memangnya yang tidak mengenal Dito Prawira? Seorang pengusaha hotel yang luar biasa yang namanya sudah terkenal di mana-mana?" ucap Bima sambil menatap tajam kepada Dito yang saat ini sedang tertawa terbahak-bahak melihat dirinya yang misuh-misuh dengan kelakuannya.
"Itu kan semuanya milik nyokap sama bokap gue. Gue ini apa sih kalau tanpa mereka? Gue ini ibaratnya hanyalah butiran debu yang tak berarti di tengah jalan!" ucap Dito sok-sok puitis sehingga membuat timah memutarkan bola matanya dengan malas melihat kelakuan sahabat yang sejal dulu tidak pernah berubah.
"Dit sekarang lo udah menikah atau belum?" tanya Sheila benar-benar merasa penasaran tentang kehidupan pribadi seorang Dito Prawira.
"Sebenarnya gue pernah menikah satu kali di Jerman. Akan tetapi gagal karena istri gue berselingkuh dengan managernya. Akhirnya gue minta bercerai dengan dia daripada harus makan hati setiap hari!" ucap Dito dengan wajah Murung sehingga membuat Sheila dan Bima menjadi tidak enak hati, karena sudah mengingatkan masa terburuk di dalam hidup Dito, sahabat mereka.
__ADS_1
"Maafkan kami ya Dit! Tanpa sengaja kami sudah membangkitkan luka lamamu dan mungkin sekarang tambah berdarah gara-gara kami bertanya kepada kamu!" ucap Bima menyesali apa yang ditanyakan oleh Sheilla tadi kepada Dito.