
"Iya, sayang! Maafkan, Mas!" ucap Bagas, dia pun kemudian mulai mengurangi kecepatan kendaraannya. Sehingga sekarang mobil mereka melaju membelah ibukota dengan kecepatan standar.
"Abah sama Umi. Senang sekali melihat kalian akur dan juga bisa menerima pernikahan kalian dengan baik. Abah sama Umi berharap, kalian akan segera diberikan momongan, agar rumah tangga kalian lebih sempurna lagi!" ucap ayahnya Bagas sambil menatap Rianti.
"Sudah Abah! Nggak usah membicarakan masalah momongan dulu! Kalaupun memang Allah sudah mengizinkannya, pasti akan datang juga. Kalau ditekan terus, nanti yang di khawatirnya, malah jadi beban bagi mereka berdua!" ucap ibunya Bagas sambil memegang tangan suaminya.
"Abah tidak menekan mereka! Abah hanya berdoa kepada Allah, agar mereka segera diberikan momongan. Memangnya apa yang salah dari itu Umi?" protes ayahnya Bagas kepada sang istri.
"Iya, Umi tahu! Tapi tidak usah selalu membicarakannya, Abah! Kasihan Rianti! Nantinya dia akan berpikir, bahwa kita ini cerewet dan mengharapkan agar dia segera memberikan cucu untuk kita!" ucap ibunya Bagas, sambil melirik ke arah Rianti yang saat ini sedang lurus menatap ke depan.
"Tidak apa-apa, Umi! Rianti baik-baik saja kok. Rianti malah bersyukur, atas doa dan kasih sayang Umy dan Abah. Yang selalu tiada hentinya mendoakan kami agar segera dapat momongan!" ucap Rianti sambil tersenyum kepada ibu mertuanya.
"Abah! Bagas pasti akan berusaha agar kami bisa segera punya anak dan Abah sama Umi siap-siap saja direpotkan oleh mereka!" ucap Bagas sambil tersenyum dan melirik kepada Rianti yang saat ini sedang tersipu malu mendengar ucapan suaminya.
Setelah melakukan perjalanan selama 1 jam, akhirnya mereka sampai di apartemen milik Bagas dan Rianti.
"Alhamdulillah, kita semua bisa kembali berkumpul di rumah ini dan semoga selalu ada kebaikan dan juga kebahagiaan di rumah ini!" doa ibunya Bagas ketika mereka masuk ke apartemen tersebut.
"Amien, ya Allah!" ucap mereka serentak, mengaminkan doa ibunya Bagas.
Mereka pun kemudian membereskan barang-barang yang mereka bawa dari rumah sakit. Mereka bersih-bersih, mandi dan juga makan malam bersama. Setelah itu, mereka beristirahat menikmati kebersamaan mereka kembali. Berkumpul setelah kemarin berpisah dalam kecemasan dan ketakutan. Bahwa mereka tidak akan bisa bertemu lagi dengan anak dan menantu mereka.
Sementara itu, Dipta yang kini berada di kantornya. Dia sedang memeriksa semua laporan-laporan perusahaannya yang tadi diberikan oleh sekretarisnya di atas meja kerjanya. Dipta sangat serius memeriksa semua laporan itu. Dipta memastikan bahwa tidak ada kesalahan di dalamnya.
Setelah semuanya beres, Dipta pun kemudian pulang ke apartemennya. Karena dia ingin tenang dan ingin beristirahat. Dipta tidak ingin pusing dan stress melihat pembantunya yang pada cerewet terhadap dirinya.
Setelah berada di apartemennya Dipta kemudian berbaring di kasurnya. Dipta kembali mengingat hari-harinya seharian ini.
"Aku tidak menyangka, kalau Anjani yang selama ini selalu ceria itu, ternyata dia mempunyai penyakit yang begitu parah dan menyimpan begitu banyak luka di hatinya!" ucap Dipta bermonolog sendiri.
__ADS_1
Saat Dipta sedang sibuk memikirkan tentang Anjani tiba-tiba saja teleponnya berdering dan itu dari Bima. Dipta mengangkatnya.
Telpon on
Dipta : Ada apa Bro malam-malam begini menelpon?
Bima : Lu ada di mana sekarang?"
Dipta : Gue lagi di apartemen! Gue ingin nenangin diri buat sementara. Pusing kepala gue saat ini.
Bima : ya udah! Gue ke situ ya? Lu tungguin gue! Lu jangan tidur dulu! Kerena gue ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan lu.
Dipta : Ya udah lu ke sini aja gue tunggu Oh ya jangan lupa Bawain gue makanan ya sejak tadi siang Gue lupa kalau belum makan apapun! Tadi, waktu pulang dari kantor, gue juga tidak ingat untuk membeli makanan.
Bima : Ya udah nanti gue bawain yang penting lu jangan tidur dulu ya tungguin gue.
Terdengar Bima tertawa di seberang sana.
Bima : Ya udah gue OTW ke tempat lo ya.
Dipta : Ya gue tunggu loh jangan lama-lama ya soalnya gue udah laper banget nih.
Bima : Ahiap Bos, meluncur!😅
Dipta: Sialan lu!
Bima tertawa lagi mendengar umpatan Dipta.
Telpon off
__ADS_1
Setelah itu, Dipta pun kemudian mematikan ponselnya dan menunggu Bima untuk datang ke apartemennya.
Karena kelelahan akhirnya Dipta tertidur di ruang tamu. Karena Bima yang terlalu lama untuk sampai ke apartemennya.
Ketika Bima masuk ke apartemen Bima langsung geleng-geleng ketika melihat sahabatnya itu sudah tertidur di atas sofa.
"Kayaknya Dipta kelelahan! Gimana ini? Apa mau gue bangunin atau gimana ya?" tanya Bima kepada dirinya sendiri. Tetapi kemudian dia mengingat, bahwa ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan Dipta.
"Dipta, bangun, Bro! Nih makanan lo udah datang! Katanya lu lapar!" Bima terus berusaha untuk membangunkan Dipta yang tampaknya tertidur dengan sangat lelap.
"Wah nih bocah! Tidurnya kayak kebo susah sekali bangunkan!" ucap Bima akhirnya menyerah untuk membangunkan Dipta yang sangat sulit sekali untuk dibangunkan.
"Siapa yang lu panggil bocah? Dasar kurang ajar ku, ah! Masa gue setua ini, lu panggil bocah, sih? Lah terus lu apa namanya, oiii?" protes Dipta, kemudian dia duduk di sofa.
Bima yang melihat Dipta kini sudah terbangun dari tidurnya. Dia hanya bisa menggaruk lehernya yang tidak gatal. Sambil tersenyum meringis kepada Dipta yang saat ini sedang misuh-misuh gara-gara dipanggil bocah sama dia. "Nih, makanan lu! Bentar ya, gue ambil piring sama sendok dulu!" ucap Bima.
Bima kemudian beranjak dari hadapan Dipta dan pergi ke dapur. Bima mengambil 2 sendok, 2 piring dan 2 gelas serta air minum ke depan Dipta.
"Lu, kelelahan banget apa Bro? Kalau mau tidur, tidur lagi aja deh, nggak apa-apa! Biar gue bicara sama lu, besok aja. Kalau lu udah sehat dan segar lagi!" ucap Bima.
"Kita makan dulu aja! Gue lapar sekali, Bro! Kalau masalah yang lainnya. Kita lihat nanti aja deh!" kemudian Dipta langsung memakan makanan yang tadi dibawa oleh Bima dan dipersiapkan oleh Bima di hadapannya.
Mereka berdua pun, kemudian makan malam bersama dengan tenang. Tanpa ada pembicaraan apapun. Sehingga akhirnya makan malam mereka pun selesai dengan cepat tanpa hambatan yang berarti 😂.
Bima kemudian membereskan semua alat-alat makan itu. Karena dia sangat mengerti, bahwa Dipta saat ini pasti sedang lelah setelah bekerja di kantor seharian.
Kalau orang lain yang tidak mengetahui hubungan mereka dengan benar. Mereka pasti akan berpikiran salah paham, ketika melihat mereka yang begitu kompak dan tampak begitu akrab satu sama lain.
Bima dan Dipta adalah dua sahabat yang saling mengerti satu sama lain. Sahabat yang selalu menemani satu sama lain di saat suka dan duka mereka selalu bersama.
__ADS_1