Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
166. Pernikahan


__ADS_3

Bima yang sudah sampai di ballroom pernikahan langsung mencari Dipta sahabatnya.


Bima langsung mendekati Dita ketika dia melihat Dipta sedang bersama dengan Nadia dan juga beberapa teman lainnya yang hadir di dalam pesta pernikahannya.


" Bagaimana Bim gugup atau tidak?" tanya Dipta sambil menepuk bahu yang tampak senyum kepadanya.


" Biasa aja sih, biasa!" ucap Bima sambil terkekeh menatap sahabatnya yang sejak tadi berusaha untuk menggodanya.


" Santai aja Bim! Daripada kalau kau gugup nanti semuanya gagal!" ucap Aditya sambil tersenyum, Aditya adalah rekan sesama dokter bersama Bima di rumah sakit tempat Bima bekerja saat ini.


" Doakan saja semuanya lancar dan aku juga berdoa semoga kau segera menyusul Dit!" ucap Bima sambil tersenyum kepada Aditya, sahabatnya yang bekerja di satu tempat bersama dengannya.


" Udah sana pergi ke ruang make up dandan dulu biar ganteng! Jangan sampai nanti kau jadi pengantin burik yang menjadi viral di Indonesia!" ucap Dipta sambil mendorong tubuh Bima untuk segera menuju ke ruang make up. Di mana Sheila saat ini juga sedang bersiap-siap untuk ijab kabul mereka berdua.


" Sabar dong Dip! Nanti gue jatuh nih!" ucap Bima kepada sahabatnya.


Suasana di ballroom hotel milik Bramantyo group sudah sangat ramai dengan kehadiran para undangan yang sudah memenuhi ruangan tersebut. Tampak kedua orang tua Bima dan juga Sheila yang sangat sibuk. Mereka sedang menyambut para tamu yang datang dari berbagai kalangan.


" Alhamdulillah tampaknya acara ini lancar walaupun dipersiapkan secara mendadak!" ucap Cansu tampak bahagia.


" Dulu waktu pernikahan kita hanya sederhana saja. Gara-gara kakek sama Papa yang tidak merestui pernikahan kita!" ucap Farel dengan wajah sendunya sehingga membuat Cansu akhirnya hanya bisa tersenyum saja.


" Pernikahan kita walaupun sederhana. Bukankah sekarang sudah sangat bahagia sayang ? Untuk apa juga sebuah pernikahan mewah kalau ujung-ujungnya tidak menyenangkan dan hanya ribut saja dengan pasangan?" ucap Cansu sambil menata Farel.


" Ya Allah, aku benar-benar beruntung karena menikah denganmu!" ucap Farel.


" Sudah nggak usah ngegombal terus dong Pah! Ih dari tadi juga! Ayo kita bersiap untuk menyambut para tamu!" ucap Cansu.

__ADS_1


Tampak Bima dan Sheilla yang keluar dari ruang make up dan sudah bergabung di antara para tamu yang tampak terpesona dengan mereka berdua yang bagaikan raja dan ratu sehari.


" Akhirnya Bima menikah juga. Setelah mereka melewati begitu banyak cobaan dan rintangan. Akhirnya mereka berhasil melewati semua itu!" ucap Dipta sambil melirik kepada Nadia yang tampak berkaca-kaca matanya.


"Eh, kamu kenapa?" tanya Dipta sambil melirik kepada Nadia.


" Tidak apa-apa. Aku hanya merasa terharu saja menghadiri pernikahan mereka berdua. Ya Allah ternyata begini ya rasanya?" ucap Nadia sambil mengulas senyum kepada Dipta. Dipta menggenggam tangan Nadia berusaha untuk memberikan kekuatan kepada tunangannya untuk bisa bertahan.


" Dulu ketika aku di dalam penjara aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan bisa terjun kembali ke masyarakat Jujur aku sangat minder saat ini hadir di antara orang-orang hebat seperti kalian! Menghadiri pernikahan orang hebat seprti Bima dan Sheilla. Mas, ini benar-benar di luar ekspektasiku selama ini!" ucap Nadia sambil menghapus air mata yang menetes tanpa izinnya.


" Setiap manusia memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki hidup mereka yang sebelumnya salah. Kau sudah menebus kesalahanmu dengan meringkuk di dalam penjara. Sekarang belajarlah untuk menerima kehidupan barumu dan lupakanlah masa lalu yang buruk itu!" ucap Dipta dengan suara yang begitu lembut sehingga membuat Nadia merasa tenang.


" Aku benar-benar beruntung bertemu denganmu. Kau mengenalkanku dengan dunia yang baru yang sebelumnya tidak pernah ku injak!" ucap Nadia.


" Kak Nadya harus percaya diri. Lupakanlah yang lalu Kak! Tolong jangan terus terperosok di dalam kenangan buruk itu. Kakak sekarang sudah harus mulai belajar untuk menerima kehidupan Kakak saat ini!" ucap Rianti kepada kakaknya yang kini memeluk tubuhnya.


" Percayalah Kak. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidup mereka semua. Hanya saja, ada hal yang membedakan. Apakah orang tersebut menyadari kesalahannya dan mau berubah, ataukah orang tersebut tetap dengan kesalahan yang sama dan semakin terperosok ke dalamnya!" ucap Rianti dengan bijaksana.


Dipta tampak melirik kepada Bagas yang sedang menatap kepada Nadia sejak tadi.


" Ada apa?" tanya Dipta kepada Bagas.


" Aku melihat sebuah sosok yang menempel di tubuh calon istrimu!" ucap Bagas berbisik kepada Dipta.


Dipta terkejut ketika mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bagas kepadanya.


"Laki-laki atau perempuan?" tanya Dipta.

__ADS_1


" Tampaknya itu adalah penunggu susuk yang dipasang oleh Nadia di wajahnya!" ucap Bagas dengan penuh keyakinan.


" Apakah kau bisa melihat hal-hal semacam itu?" tanya Dipta seakan tidak mempercayai kemampuan Bagas.


Bagas menatap Dipta dengan lekat. "Kau tanyakanlah kepada Kiai Ali. Lihatlah beliau pun sedang memperhatikan Nadya saat ini!" ucap Bagas sambil menunjuk kepada Kiai Ali dan istrinya yang sekarang mulai mendekati mereka berdua.


" Dipta! Apakah saya boleh untuk berbicara dengan calon istrimu?" tanya Nur sambil mendekati Dipta yang menatapnya dengan penuh pertanyaan.


" Silakan saja. Akan tetapi tolong untuk tidak mempermalukan dia di hadapan publik!" ucap Dipta sambil menatap Nur wanita yang pernah menjadi sahabat dan juga orang yang paling dekat dengannya.


" Jangan khawatir Dipta! Saya hanya ingin mengkonfirmasi saja. Jangan sampai apa yang saya lihat ini salah!" ucap Nur mengulas senyum kepada Dipta.


Nur tampak mendekati Nadia yang saat ini sedang sibuk bercakap-cakap dengan sahabat-sahabatnya yang dulu pernah bersamanya ketika dia belum masuk ke dalam penjara.


" Maafkan saya Nadia. Apakah boleh kalau kita bertemu sebentar?" tanya Nur sambil mendekati Nadia.


"Mba?" tanya Nadia terkejut ketika dia melihat seorang wanita yang dulu pernah dia sakit di hatinya karena berniat untuk merebut suaminya.


"Apa kabar Mba?" tanya Nadia dengan gugup.


" Alhamdulillah saya baik-baik saja. Apakah kita bisa bicara di tempat lain? Karena ada yang harus saya tanyakan padamu!" ucap Nur sambil menatap kepada suaminya dan juga Dipta yang saat ini terus memperhatikan mereka berdua.


Nur menggenggam tangan Nadia kemudian dia pun langsung mengucap istighfar.


" Astaghfirullahaladzim! Apakah Mbak Nadia menggunakan susuk di wajahmu?" tanya Nur sambil menatap kepada Nadia yang saat ini sedang bingung.


" Maksud Mba apa sih, ko bertanya seperti itu?" tanya Nadia tampak kebingungan.

__ADS_1


" Ada sesosok makhluk yang mengikutimu sejak tadi dan itu adalah penunggu sosok yang ada di dalam wajah!" ucap Nur jujur mengatakan apa yang dia lihat saat ini.


Nadia tampak terkejut mendapatkan kenyataan bahwa ternyata ada seseorang yang mengetahui bahwa dirinya pernah menggunakan susuk dan sampai saat ini belum dia cabut dari wajahnya.


__ADS_2