
Mohon dukungan dari semua reader tercinta ya, untuk memberikan like, vote, dan gift seikhlas kalian serta komentar yang membangun agar novel ini menjadi jauh lebih baik lagi. Tanpa dukungan kalian semua, Author bukan apa-apa dan tidak akan sampai ke mana-mana. Dukungan kalian lah yang menjadi penyemangat bagi Author untuk selalu berpikir dan meluangkan waktu dan energi untuk update novel ini setiap harinya untuk menyenangkan kalian semua para pembaca ku yang setia. Terimakasih!
Yuk kita langsung dengan novel kita, yang makin seru saja, alur serta konflik yang ada di dalamnya.
Happy reading for All.
Keesokan harinya, Rianti mendapatkan ranjang di sebelahnya kosong. Ternyata suaminya tidak pulang malam ini. Hatinya sangat resah, ketika memikirkan suaminya yang entah bagaimana sekarang nasibnya.
"Aku berdoa semoga Suamiku di sana baik-baik saja dan dia bisa menjalankan tugasnya dengan sempurna!" ucap Riyanti sambil bangkit dari ranjangnya dan kemudian mandi dan melaksanakan salat subuh.
Setelah selesai salat subuh, Riyanti pun mengaji. Setelah itu memanjatkan doa terbaik untuk suaminya. Agar selalu baik-baik saja di sana dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter.
Setelah selesai Rianti pun memasak untuk dirinya sendiri. Walaupun perasaannya saat ini sangat resah dan kehilangan semangat, karena harus hidup berjauhan dengan suaminya. Tetapi Rianti berusaha untuk selalu berpikir positif. Bahwa suaminya di sana sedang berjuang dalam rangka usahanya dalam menyelamatkan para korban bencana gempa yang terjadi beberapa waktu lalu.
Setelah selesai makan, Rianti pun membereskan semua peralatan masak dan piring yang tadi dia gunakan. Kemudian dia duduk-duduk di depan teras untuk menghibur perasaannya sendiri ya saat ini sedang resah dan juga gelisah. memikirkan keselamatan suaminya yang masih belum ada kabar.
Memang daerah yang saat ini sedang dituju oleh suaminya dalam menjalankan tugas dan baktinya sebagai seorang dokter, adalah daerah rawan gempa. Sangat dikhawatirkan akan terjadi gempa susulan. Itulah yang membuat hati Rianti menjadi ketakutan ketika memikirkan suaminya.
Ketika Riyanti sedang asyik melamun sendirian di depan rumahnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan ternyata itu adalah panggilan dari ibu mertuanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Umy! Gimana kabarnya Umy sama Abah?" tanya Rianti kepada Ibu mertuanya itu.
"Kabar kami semua Alhamdulillah baik-baik saja, lalu bagaimana dengan kabarmu dan suamimu?" ucap ibu mertuanya kepada Rianti.
"Keadaan Riyanti sendiri, baik Umi. Hanya saja saat ini Riyanti sedang resah memikirkan keadaan Mas Bagas!" ucap Riyanti dengan nada lesu.
Terdengar Ibu mertuanya Rianti itu merasa terkejut dengan apa yang disampaikan oleh menantunya.
"Apa maksudmu, Nak? Apakah bagus dalam bahaya?" tanya Umi dengan panik sehingga membuat Rianti merasa sedih seketika.
"Riyanti juga tidak tahu Umi. Karena ponselnya Mas Bagas tidak bisa dihubungi. Mas Bagas sekarang berada di lokasi bencana. Di sana akses jalan serta sinyal mengalami kesulitan. Oleh karena itu kami semua terputus hubungan dengan tim yang dikirimkan oleh pihak rumah sakit ke sana!" Rianti berusaha menjelaskan kondisi terbaru suaminya saat ini, kepada kedua orang tua suaminya.
"Sabarlah Umi, jangan sedih, jangan lemah. Saat ini Mas bagas sedang mengabadikan ilmunya kepada masyarakat yang sedang membutuhkannya. Kita sebagai keluarganya harus selalu kuat dan mendukungnya!" ucap Rianti berusaha menguatkan hati Bu mertuanya yang saat ini sedang sedih memikirkan suaminya.
"Umi tahu, Rianti! Hanya saja, saat ini hati Umi memang sangat sedih sekali. Memikirkan Putra Umi, bagaimana keadaan dia sekarang? Umi benar-benar sangat khawatir sekali. Sejak kemarin, Umi dan juga Abah mencoba untuk menghubunginya, tetapi tidak bisa!" ucap ibumu mertuanya Riyanti dengan isak tangis yang membuat Rianti menjadi sedih.
"Bersabarlah Umi, Perbanyaklah doa untuk putra Umi dan juga suami Rianti. Agar dia di sana selamat dan baik-baik saja. Agar dia bisa menjalankan tugasnya dengan sempurna dan bisa segera kembali ke sisi kita!" ucap Rianti dengan suara gemetar, karena dia sendiri, saat ini sedang menahan kesedihan yang teramat besar dalam hatinya.
Hati istri yang mana, yang tidak akan cemas dan resah. Ketika memikirkan suaminya yang tidak jelas, berada di daerah bencana yang sangat rawan. Sehingga keselamatan mereka yang sedang bertugas saat ini dipertanyakan.
__ADS_1
"Ya sudah, Umi. Sekarang, Riyanti tutup dulu ya, panggilannya. Rianti akan coba untuk mendatangi rumah sakit tempat Mas Bagas bekerja. Siapa tahu mereka mendapatkan berita dari sana, nanti Rianti akan segera menghubungi lagi Umi dan abah!" ucap Riyanti berpamitan kepada Ibu mertuanya yang terdengar masih tengah menangis di seberang sana.
Seketika hati Rianti mencelos, setelah menutup panggilan tersebut. Dia menyalakan televisi. Barangkali ada berita terbaru dari lokasi bencana.
"Tidak ada berita sama sekali di televisi itu artinya di sana baik-baik saja. Aku akan mencoba untuk ke rumah sakit, siapa tahu mereka ada berita terbaru tentang para petugas yang dikerahkan ke lokasi bencana itu!" ucap Riyanti dengan tekad yang membaja di hatinya untuk mencari informasi tentang keberadaan suaminya.
Rianti kemudian mengambil jaket beserta menggunakan hijabnya. Sebelum keluar dari rumahnya. Dia juga tidak lupa membawa ponselnya, berjaga-jaga barangkali ada panggilan yang akan masuk di sana.
Setelah memastikan semuanya siap, Rianti pun kemudian meninggalkan kediamannya menuju Rumah Sakit tempat bekerja suaminya. Menggunakan ojek yang kebetulan melintas di depan rumahnya.
Dengan pikiran positif dan penuh dengan harapan di dalam hatinya, Rianti kemudian melangkahkan kakinya, menuju ke rumah sakit, tempat suaminya bekerja saat ini.
Rianti langsung menuju meja resepsionis dan mencari tim dokter yang dikirimkan oleh rumah sakit dari jakarta, untuk membantu menyelamatkan korban bencana gempa yang terjadi beberapa saat yang lalu.
"Maafkan saya, Kak! Bisakah saya bertemu dengan tim yang dikirimkan dari rumah sakit Jakarta, untuk membantu menyelamatkan korban bencana gempa di sini?" japriyanti berusaha dengan suara senang mungkin.
"Oh mereka semua sedang bertugas di lokasi bencana, tadi pagi tiga orang yang masih tersisa pun, dikirimkan kembali ke sana. Karena di sana keadaannya sangat gawat dan banyak sekali korban yang berjatuhan. Oleh karena itu membutuhkan banyak tenaga medis!" ucap petugas yang menjaga meja resepsionis kepada Rianti.
Seketika hati Rianti mencelos, ketika mendengarkan kabar tersebut. Itu artinya keberadaan suaminya saat ini masih belum jelas dan kemungkinan untuk pulang ke rumah masih dipertanyakan.
__ADS_1
"Lalu saya harus menemui siapa? Untuk bertanya tentang kondisi di sana? Saya ingin mengetahui tentang keadaan suami saya saat ini!" ucap Riyanti kepada petugas reseptionis tersebut.