Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
27. Memaafkan?


__ADS_3

Setelah kebutuhanku selama KKN sudah aku ambil semua, aku langsung berpamitan kepada Aini, kebetulan bertemu Ibu Nyai di warung.


"Berangkat lagi, Mba?" sapa beliau.


"Enggih, Bu! Cuma ambil pakaian ganti dan beberapa buku." Aku turun sebentar sekedar menyapa beliau.


"Mba, bisa kita bicara sebentar?" pinta beliau.


"Ya, Bu. Ada apa?" tanyaku sambil duduk di samping beliau.


"Mba, masih marahan sama Kang Ali?"


"Gak, Bu!" jawabku singkat.


"Kok tadi gak saling sapa? Kasihan loh, Mba. Sejak Mba pergi KKN, dia sakit, kayak sepertinya tidak bersemangat gitu hidupnya."


"Kebetulan lagi sakit kali Bu, bukan karena saya. Kan sekarang memang lagi musim pancaroba, wajar kalau sakit, Bu!"


"Mungkin juga ya, Mba?"


"Ya sudah ya, Bu. Kulo pamit. Tadi ijin cuma sebentar saja, harus balik ke lokasi KKN!" aku berpamitan ke pada beliau, dan segera pergi dari pondok. Kwatir juga, nanti berpapasan dengannya.


Saat sampai di belokan depan SPN, aku lihat Mas Ali berdiri di depan jalan, sepertinya menungguku. Tapi aku gak mau GR, aku melewati dia saja.


Aku kira dia mau menghentikan motorku, ternyata dia hanya melihatku dari kejauhan. Kasihan juga, wajahnya pucat. Tapi biarlah, hatiku masih marah. Dari pada ketemu, ujung-ujungnya malah berantem. Mending kayak sekarang. Biar jadi ajang introspeksi bagi kami.


Sebenarnya aku tadi deg-degan sih, saat melihat dia di belokan tadi. Ada rasa ingin menemui Dia. Tapi rasa gengsi lebih besar dari pada rasa rindu.


Aku sudah sampai ke lokasi KKN, teman-teman sudah bersiap akan pergi ke lokasi penyuluhan. Kami mau membagikan bubuk Abate dan bibit geranium, untuk pencegahan demam berdarah.


Banyak program yang kami rancang demi menyadarkan warga akan pentingnya kesehatan, Alhamdulillah berkat kerjasama semua pihak, KKN berjalan lancar jaya.


"Nur, itu di depan ada tamu." Dimas kemudian duduk di depan laptopnya dan mulai mengerjakan laporan KKN kami.


"Siapa?" tanyaku, masih fokus dengan komputer.


"Katanya calon suami kamu!" ucap Dimas.


Deg


"Apa? Kamu bilang aku ada sama dia?" tanyaku.


"Iya, lah! Kan kamu memang ada disini."


"Aih... Kamu mah... " protesku.


"Udah, temuin sana!" ucap Dimas.

__ADS_1


"Baiklah, sebentar ya." aku beranjak dari depan komputerku, lalu pergi ke teras. Di sana, aku melihat Mas Ali menundukkan kepalanya. Ada kesedihan di matanya. Aku jadi gak enak hati.


"Assalamualaikum." sapaku, aku duduk agak jauh dari calon suamiku.


"Waalaikum salam. Apa kabarmu?" tanyanya lesu.


"Baik. Kamu sendiri?"


"Ya, beginilah. Aku kangen sama kamu." hatiku mencelos tiba-tiba, mendengar pengakuan Dia.


"Kenapa kangen sama Aku? Kangen aja sama adiknya Retno." ucapku ketus.


"Kok kamu gitu sih, sayang. Kan Mas sudah bilang, Mas ga ada perasaan sama Dia. Mas cuma cinta sama kamu!" protesnya sambil menatap mataku dengan sayu.


"Bodo ah, udah pulang sana. Aku lagi sibuk nih, nyiapin laporan KKN." Aku sudah bersiap masuk ke dalam saat dia berdiri dan meraih tanganku.


"Yang, coba ngerti perasaan Mas. Mas gak bisa kita kaya gini terus. Maafin Mas ya? Mas janji, gak sembarangan bicara dengan perempuan lain lagi."


"Bodo amat, bukan urusanku." Aku langsung masuk ke dalam, masih kesal saja kalau ingat waktu itu. "Nyebelin!" Rutukku sambil menutup pintu dan kembali fokus dengan laporanku.


"Nur, ada masalah?" tanya Dimas.


"Gak, kenapa memangnya?" tanyaku heran. Gak biasanya soalnya, Dimas orangnya serius, tiba-tiba nanya masalah pribadi.


"Aku lihat dia lesu banget. Tuh, dia masih disana."


"Mas, kamu pulang saja gih. Kamu kan lagi sakit, istirahat saja di rumah." Dia menatapku dengan sahdu. Ingin mendekatiku, tapi sudah aku stop.


"Mas pulang aja, istirahatlah. Aku gak enak sama teman-teman kalau Mas masih disini."


"Tapi Mas gak bisa tenang, kalau kamu belum maafin Mas."


"Ya udah, aku maafin. Mas pulang ya, istirahat." aku lihat wajahnya sumringah seketika.


"Bener?" aku mengangguk.


"Mas boleh minta peluk? Sebentar saja. Mas kangen sama kamu!"


"Ih... apaan sih? Udah pulang sana. Malu sama teman-teman." Dia tersenyum manis, oh Tuhanku. Dia tampak tampan dengan senyuman itu.


"Ya sudah, Mas pulang dulu ya. Kamu jaga dirimu baik-baik. Jangan dekat sama teman-teman cowok kamu di sini. Mas nanti cemburu!" ucapnya, dia memberikan telapak tangannya untuk aku cium, sebelum pergi.


Aku mencium tangannya, dia tersenyum. Adem banget lihat senyumnya. Dia memang tampan, makanya aku cinta sama dia. Tapi kadang, kemarahan dan rasa cemburu mengalahkan segala logika.


"Mas pulang dulu, ya. Kalau butuh apa-apa hubungi Mas!" aku mengangguk saja, dari pada lama dia gak pulang-pulang. Malu jadi tontonan teman-teman.


"Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Waalaikum salam!" aku langsung masuk dan mulai fokus lagi dengan komputer dan laporanku.


"Betul itu calon suamimu?" tanya Adi.


"Ya." jawabku singkat.


"Wih, beneran! Ada cincin dijari manisnya. Kapan kalian menikah?" tanyanya kepo.


"14 Juli nanti."


"What the hell?"


"Apaan?" tanyaku kaget. Semua teman-temanku menatapku semua.


"Gak nunggu wisuda dulu Jeng?" tanya Andini.


"Kelamaan!" ucapku asal.


"Ya elah.. udah ngebet kawin ya?"


"Sialan loe!" aku lemparin pulpen di tanganku pada Dimas. Sontak semua tertawa dengan kelakuanku.


"Tapi calon laki loe, lumayan ganteng sih." ucap Dimas semangat.


"Ganteng ko. Bukan lumayan lagi!" Andini lebih semangat dari Dimas.


"Ganteng lah! Kalau gak ganteng, aku ya gak mau!" tawaku lepas karena godaan mereka padaku.


"Dia kayaknya cinta banget sama kamu ya, Nek!" ucap Dimas.


"Nek, Nek! Nenek loe!" Dimas langsung nyengir kuda dan bersiap lari, takut kena timpuk lagi.


"Udah yuk, lanjutin bikin laporan aja. Nanti gak keburu loh. Kan tar malam kita ada penyuluhan di rumah Pak RT." ucapku sambil fokus lagi dengan laporan kami.


"Santai saja lah, sumpek tahu. Laporan Mulu. Refreshing sekali-kali gak apa-apa." ucap Dimas.


"Kita bisa refreshing kalau laporan sudah selesai."


"Ya udah, ayo kita selesaikan. Biar besok kita bisa mandi-mandi di sungai. Airnya jernih banget. Enak tuh, buat mandi-mandi." Anton semangat sekali.


"Ah loe! Semangat kalau mau main-main! Kalau kerjain laporan malas!" sungutku kesal.


"Kan kita butuh refreshing. Biar ga boring. Tugas kita banyak loh, wajarlah! Kalau senang-senang sebentar." mereka malah jadi fokus buat refreshing dari pada ngerjain laporan.


"Ya sudah, ayo kita selesaikan laporan, lalu besok kita bisa refreshing." ucap Dimas yang di setujui oleh semuanya. Senang satu team bersama mereka. Mereka teman yang asyik dan pengertian.


Kerja gak terasa lelah, kalau kita bisa sejalan dengan team kita. Satu semangat dan satu tujuan.

__ADS_1


__ADS_2