
Paginya, jam 5 pagi, setelah sholat shubuh dan sarapan pagi. Aku langsung di make up untuk acara ijab Qabul. Keluarga calon suamiku sekarang ada di rumah samping, rumah tetanggaku. Alhamdulillah mereka baik sekali.
Jarak Cirebon- Purwokerto lumayan jauh. Untuk mengantisipasi keterlambatan, mereka datang satu hari sebelum pernikahan, selain karena sorenya harus melakukan acara siraman dan sungkeman dengan orang tua masing-masing.
Kami, pihak mempelai wanita, menyediakan dua rumah untuk tempat peristirahatan keluarga suamiku, yang hadir dengan satu mobil Avanza dan satu buah bus angkutan umum. Mereka tinggal di rumah tetangga depan dan sampingku, kebetulan mereka orang kaya, rumahnya besar dan hanya tinggal berdua saja, suami istri. Alhamdulillah memiliki tetangga yang sangat baik.
Di desaku ini memang termasuk unik, bisa dikatakan, satu desa ini masih satu keturunan dari Kiai Mbah Asyari. Tokoh yang ternama di desa kami. Yang babad alas ketika masa jaman para Kiai di buru dan di bantai, Kiai Asyari kabur ke desa ini, lalu membangun desaku saat ini.
Menurut rumor, desaku ini empat penjuru nya di jaga oleh hewan mistis. Penjaga yang pernah aku lihat adalah seekor Kuda, kerbau, harimau. Hewan-hewan tersebut adalah peliharaan Kiai Asyari di masa beliau hidup.
Desaku tidak diperkenankan adanya organ pernah ada orang yang nekat bikin hajatan mengundang organ dengan para penyanyi yang seksi, akhirnya hujan besar datang dan meruntuhkan panggung acara. Sampai akhirnya acara bubar karena banjir.
Saat Pernikahan ku, kami memanggil Group qasidah dan malamnya mengadakan pengajian Akbar dengan mengundang seorang Kiai ternama dari kota Bandung, Jujun Junaedi. Ramai jama'ah.
Setelah di rias, kami bersiap ke masjid untuk melakukan prosesi akad nikah. Jarak rumahku dan masjid ada sekitar 50 meter, dengan iringan sholawat dan hadrah, dari para santri tempat kami berdua mondok, kami berdua berjalan kaki menuju masjid. Sholawat dan hadrah bergema menggiring kami berdua. Suasana sakral dan haru sangat terasa, aku lihat Calon suamiku tersenyum padaku, tampak takjub dengan dandananku yang berbeda dari biasanya. Ya lah, namanya mo jadi ratu sehari, jadi make up nya cetar membahana.
"Kamu cantik!" bisiknya perlahan ketika kami berdua melangkahkan kaki ke masjid.
Di masjid, para undangan sudah memenuhi seluruh ruangan, Alhamdulillah banyak yang hadir. Mamah dan Papahku bisa di bilang orang bisnis, punya banyak kolega dan teman di banyak daerah. Papahku punya pabrik penggilingan gabah, dan menyuplai beras ke pasar dan warung di sekitar kami. Alhamdulillah, sukses menguliahkan anak.
Setelah sampai, penghulu sudah menunggu kami.
"Bagaimana, pengantin, sudah siap untuk menghalalkan calon istrimu?" tanya beliau dengan nada kelakar yang di sambut tawa para tamu.
"Insya Allah siap!" jawab Mas Ali mantap.
"Baiklah, bagaimana ayah dari mempelai wanita, apakah akan menikahkan anaknya sendiri atau mau diwakilkan kepada wali hakim?"
"Insyaallah akan saya nikahkan sendiri, Pak!"
__ADS_1
jawab papahku mantap.
"Baiklah, mari mendekat kemari!" Papah kemudian beranjak dari tempat duduknya semula, dan duduk di hadapan calon suamiku.
Rasa deg-degan dan gemetar di hatiku, semuabrasa bercampur aduk. Aku berdoa semoga semuanya lancar, Amien.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Ananda Ali bin Abdul Jalil dengan anak saya bernama Nurhapidoh binti H. Komarudin dengan Mas Kawin seperangkat alat sholat dan uang Rp. 100.000 serta cincin emas seberat 3 gram, di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Nurhapidoh binti H. Komarudin dengan Mas Kawin tersebut di bayar tunai!" ucap Mas Ali dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana semua yang hadir, apakah sah?" tanya penghulu yang menikahkan kami.
"Sah!!!" serempak undangan yang hadir berteriak.
"alhamdulillah, akhirnya!" ucapku dalam hati, lega dan plong. Setelah akad nikah, Mas Ali yang kini telah berstatus sebagai suamiku, mencium keningku. Setelah ceramah pernikahan dan menandatangani sigat taklik, serta berfoto dengan keluarga, kami semua kembali ke rumahku.
Kami berdua langsung di giring ke kursi pelaminan. Akan berperan sebagai raja dan ratu sehari. Sejak duduk di pelaminan, suamiku terus tersenyum padaku, membuat diriku jadi salah tingkah dan malu.
"Kenapa melihatku terus? Apa ada yang aneh di wajahku?" Tanyaku heran dan grogi.
"Tidak ada. Aku hanya mengagumi kecantikanmu. Terima kasih, sudah mau menjadi istriku. Aku janji akan selalu mencintaimu!" aku tersipu mendengar janjinya. Jujur ya, dia adalah pria pertama dalam hidupku, yang begitu dekat dengan ku.
Selama ini, aku selalu menjauh dari laki-laki. Selalu gugup dan takut. Sejak kecil, Papah dan Mamah selalu menekankan padaku untuk tidak boleh pacaran.
"Kalau kamu pacaran, langsung Papah sama Mamah nikahkan!" selalu itu yang mereka katakan.
Itulah yang menjadi sebab aku tidak pernah dekat dengan pria, kalau aku lihat ada seseorang tertarik padaku, aku pasti langsung menjauh darinya.
Acara berlangsung dengan khidmat. Para tamu undangan berdatangan silih berganti. Group qasidah yang di sewa sejak pukul 10.00 sampe 17.00 juga sudah kembali ke tempat mereka.
__ADS_1
Kami sekarang ada di kamar pengantin, beristirahat sampai Maghrib tiba. Kami makan bersama untuk pertama kali dengan status suami istri. Rasanya sungguh luar biasa.
"Mas suapin, ya?" tawarnya padaku.
"Aku bisa makan sendiri." ujarku tersipu.
"Cie Cie.. pengantin baru!" goda adikku dan sepupuku. Malu rasanya hatiku, berduaan dengan seorang laki-laki.
Setelah makan dan sholat Maghrib, kami di dandani kembali, bersiap dengan gaun malam. Persiapan pengajian Akbar juga tengah berlangsung. Sudah ramai para jama'ah berduyun-duyun dari berbagai desa di sekitar rumahku. Alhamdulillah, pesta pernikahan kami di penuhi doa para jamaah yang sangat ramai, ada lebih 2000 jama'ah yang hadir, yang memenuhi halaman rumah kami bahkan sampai ke ujung jalan desa. Kursi dan terpal yang di sediakan keluarga kami, terisi penuh sesak oleh para jama'ah. Begitulah desaku, antusias dengan yang namanya pengajian. Alhamdulillah.
Tepat jam 22.00 aku dan Mas Ali sudah berada di kamar pengantin, setelah sholat dan makan malam kami minta kepada pihak WO untuk melepaskan pakaian pengantin dan make up.
Diluar sana masih ramai dengan pengajian, tapi Suamiku malah mengajak aku langsung ke kamar. Grogi dan rasa malu tidak mampu aku tutupi.
"Sayang, kok masih malu-malu sih? Kita kan sudah resmi menjadi suami istri." ucap Suamiku sambil meremas telapak tanganku.
"Tidak apa-apa, hanya belum terbiasa saja. Maaf. ya?" ucapku gugup.
"Sayang, kalau Mas minta hak Mas sebagai seorang suami, apa kamu marah?" tanyanya.
"Tidak, itukan memang hak Mas. Setelah ijab Qabul tadi, semua yang ada padaku adalah hak Mas!" jawabku sambil menunduk malu.
Malam itu, menjadi saksi sejarah perjalanan kehidupan kami, yang akhirnya melepas masa lajang. Malam pertama yang syahdu, kami lalui dengan malu-malu dan tak berpengalaman. Hehehe, lucu kalau ingat malam itu.
Suamiku yang lugu dan manis sekali, satu Minggu baru gold. Hehehe. Patut aku banggakan, itu artinya dia laki-laki yang menjaga Marwah nya sebagai seorang laki-laki, tidak sembarangan menyebar benih di mana-mana. Mencari pengalaman haram yang mengundang neraka.
Pengumuman:
Season 1 tamat ya, nanti kita lanjutkan dengan season 2 yang pastinya lebih seru, karena kita akan mulai masuk dunia halunya author.
__ADS_1