Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
63. Rianti oh Rianti


__ADS_3

Setelah sampai rumah sakit, Dipta dan Nur langsung menuju ruangan Ali, alangkah kagetnya mereka berdua ketika melihat di sana sudah ada Rianti, sedang menyuapi Ali makan. Nur tadinya akan langsung pergi, tapi tangannya di pegang oleh Dipta.


"Sabar, Nur! Apa yang terlihat belum tentu itu yang terjadi. Sabar, Ok?" Dipta lalu menarik Nur untuk masuk ke dalam.


"Bagaimana kabarnya, Mas? Eh, ada Rianti, ko bisa tahu kalau Mas Ali di rawat disini?" tanya Dipta masih dengan senyum terbaiknya. Rianti dan Ali tampak canggung.


"Tadi aku ke rumah sakit, rencananya mau periksa, eh, aku malah melihat Mas Ali yang di gotong ke sini, tanpa ada yang nungguin, ya udah, deh! Jadilah aku nungguin Mas Ali disini!" ucap Rianti sok sok jadi pahlawan super.


Ali tampak menatap dengan kecewa kepada Nur, entah apa yang sudah di sampaikan oleh ulet keket satu itu, sehingga Mas Ali menatap Nur dengan datar saja.


"Tadi Mas Ali memang jatuh di tempat saya. Tidak tahu apa sebabnya, saya tadi yang panggil ambulance. Nur memang tidak ikut masuk ke ambulance, karena saya yang perintahkan, dia harus merawat Rafi dulu. Untungnya pembantu saya bersedia dititipkan Rafi. Jadi dia menyusul ke sini bersama saya. Di jalan, ternyata ada kecelakaan, jadilah kami terhambat disana. Baru sampe sekarang jadinya. Maaf ya Mas Ali, bukannya Nur tidak perduli dengan keadaan suaminya!" Dipta berusaha menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman.


"Udah, Dip! Yuk kita pulang aja! Dia sudah di jagain sama pujaan hatinya! Dia gak butuh kita!" Nur sudah sakit hati melihat Ulet keket itu terus menempel ke suaminya.


Mas Ali yang saat ini memang sedang kecewa dengan niat Nur yang akan menceraikan dirinya, tidak dalam mood untuk memohon ataupun menerangkan apapun. Dia hanya menatap istrinya dengan sendu. Ya bahasa hati yang hanya di mengerti oleh Nur dan Ali.

__ADS_1


"Mas kecewa sama kamu!" itu yang dikatakan Ali kepada Nur melalui tatapan matanya.


"Kamu bajingan, kurang ajar!" itu yang Nur katakan kepada suaminya melalui tahapan matanya. Nur sudah berbalik dan bersiap untuk pergi dari sana, sampai akhirnya Dipta bersuara, "Mba Rianti, bukankah kemarin sudah berjanji tidak akan mengganggu Mas Ali lagi ya? Apa kita harus melaporkan ke polisi atas tindakan tidak menyenangkan?" tanya Dipta dengan tatapan horornya.


"Aku hanya kasihan dengan Mas Ali, yang masuk rumah sakit, tapi tidak ada yang mengurus! Kamu kenapa sih. Kok ikut campur terus menerus, sih? Gak cape apa?" tanya Rianti gak kalah nyolot dari Dipta.


"Udah, Dip! Ayo kita pulang aja! Gue gak mau ganggu pasangan itu bermesraan, saling melepas rindu," sarkas Nur dengan tatapan membunuh.


"Kalian semua pulang saja! Aku butuh istirahat!" Ali lalu menutup matanya. Tampak ada emosi yang dia tahan, tapi mengingat karakter Ali yang pendiam, dia hanya pendam itu sendiri. Ya, ada rasa kecewa yang tidak bisa di tahan di dalam hatinya. Ali sudah kehabisan akal untuk meyakinkan istrinya bahwa dirinya tidak ada hubungan dengan Rianti, murni hanya sebagai teman.


"Ayo pulang! Jangan bikin rusuh rumah tangga orang lain!" ucap Dipta sudah hilang kesadaran.


"Kamu kenapa sih, Dipta! Dari dulu gak pernah berubah! Suka sekali me campuri urusan orang lain! Dasar menyebalkan!" Rianti lalu melotot ke arah Dipta.


"Gue itu tabu sifat loe, yang hobby ngerecoki hidup orang lain, cuma buat kesenangan hati loe! Bisa gak, loe gak usah ganggu mereka? Kasihan mereka, anaknya masih bayi, jangan buat mereka berpisah dan bertarung macam itu! Kalau loe gabut, bosen, pengen sesuatu yang bikin loe happy, cari hal lain! Bukan dengan cara kayak gini!" ucap Dipta sangking kesalnya melihat kelakuan Rianti yang dari kemarin seperti sengaja menabur perselisihan di antara pasangan suami istri tersebut.

__ADS_1


"Loe, senger ya! Nggak usah ikut campur urusan gue! Gue juga nggak pernah ribet urusin hidup loe! Apaan sih loe? Loe pikir loe siapa? Loe bukan siapa-siapa ya! Loe hanya masa lalu yang sudah selesai dan nggak penting buat gue! Loe paham itu?" ucap Riyanti dengan penuh amarah kepada Dipta. Dipta mendesah frustasi.


"Loe nggak usah kepedean deh jadi orang! Gue nggak ada maksud apapun sama loe! Gue cuma nggak mau kalau loe bikin masalah dalam rumah tangga orang lain! Loe nggak mikir apa gimana perasaan istrinya? Ngeliatin loe nempel terus sama suaminya? Pikir dong kalau loe punya otak!" ucap Dipta menatap nyalang kepada Rianti yang benar-benar sudah kelewatan kelakuannya seperti perempuan yang tidak punya etika mengganggu laki-laki yang sudah beristri dan beranak.


" Udahlah gue pusing tau nggak bicara sama loe, dasar manusia rese! Mendingan gue balik!" Rianti kemudian pergi dari rumah sakit dengan kemarahan yang sangat kepada Dipta yang sebenarnya masih dia rindukan.


Ya, Rianti dan Dipta dahulu adalah sepasang kekasih ketika mereka masih duduk di bangku SMA tetapi mereka berpisah karena Riyanti yang harus melanjutkan kuliahnya ke luar negeri atas keinginan kedua orang tuanya.


Sementara Dipta bertemu dengan almarhum istrinya dan kemudian menikah. Tetapi pernikahan Dipta tidak direstui oleh kedua orang tuanya. Istrinya Dipta diusir oleh mamahnya ketika Dipta sedang bertugas keluar kota yang mengakibatkan istrinya Dipta kecelakaan dan kemudian meninggal di tempat bersama anaknya yang baru berusia 3 bulan. Hampir 3 tahun lamanya Dipta terpuruk dalam kesedihannya. Hidupnya hanya tahu bekerja dan bekerja.


Kehadiran Nur dan Raffi benar-benar memberikan kebahagiaan kepada Dipta yang selama ini merasakan kesedihan atas kehilangan istri dan anaknya bagi Dipta Nur dan Raffi adalah sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Dipta akan berusaha menyatukan mereka kembali demi Rafi yang dia sayangi.


Dipta menyusul Nur yang sudah ada di parkiran. Dipta melihat Nur sedang menangis seorang diri di sana. Hatinya mencelos, rasa kasihan kepada wanita itu yang sebenarnya mencintai suaminya tetapi keadaan selalu saja membuat dia berbalik untuk membenci suaminya.


"Nur kamu tenanglah! Tidak semua hal, yang kamu lihat itu sesuai dengan kenyataan! Percayalah, aku yakin kok kalau suami kamu tuh tidak mencintai Rianti! Percaya sama aku Nur!" Tidak lelah juga Dipta meyakinkan Nur agar percaya dengan suaminya yang saat ini terbaring di rumah sakit.

__ADS_1


"Udah, jangan nangis lagi. Ayo kita kembali, pasti suami kamu sekarang sedang menunggu kamu!" Dipta lalu menarik Nur untuk kembali ke kamar suaminya.


__ADS_2