
Acara makan yang harusnya menyenangkan. Sekarang telah menjadi sebuah acara yang penuh dengan dramatis yang mengharu biru. Air mata Riyanti yang tumpah menjadikan para pengunjung restoran yang hadir seakan sedang melihat sebuah drama di Film ikan terbang yang ada di Indonesia.
" Dipta sebaiknya kita pulang saja. acara makan ini sudah tidak menyenangkan lagi. Lebih baik Mama masak saja di rumah atau kita bungkus aja semua makanan ini biar tidak merugikan pihak restoran!" ucap ibunya Dipta berkata kepada putranya yang langsung mengangguk menyetujui permintaan ibunya.
Dipta pun kemudian memanggil pelayan restoran untuk membungkuskan makanan yang sudah dipesan tetapi belum sempat disentuh oleh mereka. Karena keburu diganggu oleh ibunya Nadia yang marah-marah tidak jelas terhadap mereka.
Kinan hanya menjadi pendengar dalam keributan itu karena dia tidak mau ikut campur dan terlibat di dalam masalah yang dia tidak mengerti.
" Terima kasih Dipta, kamu dan Kyai Ali sudah menolong ku dan juga calon anakku. Insya Allah aku akan berusaha untuk hadir di pernikahan kalian!" ucap Riyanti kepada Dipta ketika rombongannya sudah bersiap untuk meninggalkan restoran.
" Terima kasih. Aku akan berdoa semoga calon anakmu baik-baik saja. Lebih baik untuk sementara kau tidak usah mendatangi rumah kedua orang tuamu dulu. Karena di sana tidak aman untuk janinmu." ucap Dipta memberikan nasehat kepada Rianti sebelum dia benar-benar meninggalkan restoran bersama dengan ibu dan juga calon istrinya.
" Rianti pulang dulu mah!" ucap Rianti pelan. Berpamitan kepada ibunya yang masih terisak dalam tangisnya.
Sejujurnya Rianti benar-benar kecewa kepada ibunya yang seperti menutup mata akan masalah kakaknya yang menjadikan calon anaknya sebagai tumbal untuk sosok yang dia gunakan. Padahal ibunya sangat tahu bahwa dirinya dan keluarga Bagas sudah sangat menunggu kehadiran buah hati mereka berdua.
__ADS_1
Di dalam mobil Riyanti tidak bisa berhenti menangis. Karena dia terus mengingat apa yang sudah terjadi di dalam hidupnya karena wanita yang bernama Nadia.
Dahulu Rianti pernah hampir merebut suami orang lain dan mengganggu rumah tangga orang lain. juga karena Nadia dan sekarang pun Nadia memberikan kembali masalah untuk hidupnya dengan berencana untuk mengambil calon anak yang sedang dia kandung untuk dijadikan tumbal bagi sosok penunggu susuk yang dia gunakan.
" Sudahlah jangan menangis lagi sayang. Itu sungguh tidak baik untuk kesehatanmu dan juga calon anak kita. Itulah yang menjadi sebab kenapa Mas tidak menceritakan yang sesungguhnya kepadamu. Perihal Kak Nadya yang ingin menumbalkan calon anak kita!" ucap Bagas berusaha untuk menghibur hati Rianti yang saat ini sedang sedih.
" Benar apa yang dikatakan oleh suamimu Riyanti. Jangan sampai emosi dan kemarahanmu akan berakibat buruk untuk janin yang sedang kau kandung!" ucap Ibu mertuanya Rianti dengan suara lembut berusaha untuk menghibur menantunya.
" Insya Allah setiap orang yang mempunyai niat jahat terhadap orang lain. Pasti akan mendapatkan karmanya sendiri. Biarkanlah Allah menghapuskan dosamu karena mengikhlaskan apa yang sudah terjadi!" ucap ayahnya Bagas berusaha untuk membuat hati Rianti menjadi lebih lega dan plong dengan masalah yang saat ini sedang menimpa keluarganya.
" Apa kau tahu Mas? Ketika aku berada di dalam ruang ICU itu, betapa gelap dan juga sangat menakutkannya. Aku melihat makhluk yang begitu besar dan menakutka sedang berusaha untuk mencincang anakku dan kehendak memakannya. Aku sangat ketakutan dan selalu menangis dan bersedih! Aku ingin menolong anakku tetapi kedua tangan dan kakiku dirantai dengan besi yang sangat kokoh sehingga aku tidak bisa bergerak sama sekali!" ucap Riyanti menceritakan apa yang dia rasakan ketika dirinya tidak sadarkan diri di ruang ICU.
" Makhluk itu mengurung jiwamu di alam kehampaan. Untung saja Kyai Ali berhasil menyelamatkan kalian. Sehingga kalian bisa selamat dan kembali ke dunia ini!" ucap ayahnya Bagas sambil mengulas senyum kepada Rianti.
" Benar yang dikatakan oleh Dipta untuk sementara kau tidak usah datang dulu ke rumah kedua orang tuamu. Karena di sana keadaannya rawan. Pasti masih banyak makhluk-makhluk yang bergentayangan di sana yang mengincar janinmu!" ucap ibunya Bagas berusaha untuk meyakinkan kepada Rianti. Untuk sementara tidak berkunjung dulu ke rumah kedua orang tuanya apalagi sampai menginap di sana.
__ADS_1
" Aku baru tahu kalau ternyata aku ada orang tuaku berurusan dengan hal-hal semacam itu!" ucap Riyanti dengan berderaian air mata.
" Dulu Abi yang selalu mengantarkan ayahmu untuk melakukan banyak ritual dan juga persembahan. Tetapi setahu Abi, sudah lama beliau tidak pernah melakukannya lagi. Mungkin karena itu para penghuni di dalam rumah mulai menunjukkan pamor mereka untuk meminta hak mereka di dalam perjanjian yang sudah dibuat oleh ayah dan ibumu!" ucap ayahnya Bagas menerangkan segala hal dengan jelas kepada Rianti.
" Kenapa Abi tidak menjelaskannya kepada Bagas? Ketika dulu kita hendak melamar Riyanti? Setidaknya Bagas akan bersiap-siap dan siaga untuk mengantisipasi hal-hal semacam ini!" ucap Bagas kepada ayahnya.
Rianti melirik kepada suaminya dengan mata berderai air mata.
" Apakah sekarang kau menyesal sudah menikah denganku?" tanya Rianti dengan suara gemetar.
" Bukan seperti itu maksudku sayang! Tolong kau jangan salah paham!" ucap Bagas sambil menghentikan mobilnya dan berusaha untuk menjelaskan kepada Rianti semuanya dengan jelas. Jangan sampai nanti Riyanti berpikir bahwa dia tidak mencintainya.
" Bukan seperti itu maksud Bagas Rianti. Tolong kau jangan salah paham. Maksudnya Bagas adalah kalau dia mengetahui perihal sejarah keluargamu. Pasti dia akan berusaha memberikan benteng untuk melindungi kalian agar tidak diganggu oleh makhluk-makhluk yang dipuja oleh ayahmu maupun kakakmu!" ucap ayahnya Bagas menjelaskan kepada menantunya.
" Dulu sewaktu di pondok pesantren. Suamimu pernah belajar tentang hal semacam itu. Untuk membentengi diri dari makhluk-makhluk gaib hanya saja mungkin karena sudah terlalu lama tidak pernah digunakan. Hal itu mengakibatkan sensenya menjadi tumpul dan tidak bisa mendeteksi keberadaan makhluk itu sehingga berhasil mengganggu calon anak kalian!" ucap ayahnya Bagas menerangkan tentang putranya.
__ADS_1
" Bagas sebenarnya sudah merasa tidak enak perasaannya. Ketika pertama kali Bagas menginjakkan kaki di kediaman ayahnya Riyanti. Pada saat Kak Nadya bebas dari penjara. Oleh karena itu sewaktu Riyanti meminta untuk kami menginap disana. Saya berusaha untuk menolaknya. Hanya saja karena Rianti memohon padaku. Akhirnya aku mengabulkannya. Sehingga akhirnya tengah malam kami pun diganggu oleh sinar hijau itu. Untung saja mungkin masih ada sisa-sisa perlindungan yang sudah dibuat oleh Pak Kyai dalam tubuhku. Sehingga masih bisa menyelamatkan kami berdua!" ucap Bagas menceritakan kronologis kejadian pada malam acara lamaran Nadya bersama Dipta.