Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
86. Nadya


__ADS_3

Sudah lama sekali kita meninggalkan Nadya. Mari kita tengok Nadia sebentar. Apa yang terjadi kepadanya, saat ini? aAakah dia baik-baik saja di dalam penjara? Ataukah bagaimana? Yuk kita tengok sebentar ya.


"Nadya! Ada orang tuamu menjengukmu! Cepatlah siap-siap! Waktumu cuma sebentar saja!" ucap penjaga di penjara wanita tersebut.


Dengan malas, Nadia Pun bangun. Ya! Sudah beberapa tahun ini Nadia tinggal di penjara. Badannya sekarang sudah kurus, wajahnya juga sudah kusam, karena tidak pernah melakukan perawatan wajah yang mahal lagi. Dia sekarang sama dengan perempuan-perempuan biasa lainnya yang menemani Nadya di penjara sana.


"Nadya, Bagaimana kabarmu Nak Lama sekali ya kita tidak bertemu mama rindu padamu, Nak!" ucap ibunya Nadya sambil menggenggam tangan Nadya. Tetapi Nadia langsung menepisnya dengan kasar. Ada rasa kebencian di matanya, kedua orang tuanya Nadya bisa menangkap itu dengan jelas. Nadya sekarang berubah menjadi lebih matang dan dewasa. Tatapan matanya juga sangat tajam.


Kehidupan keras di penjara, yang telah membentuk pribadi Nadya yang baru. Seorang Nadya yang memiliki pendirian. Tegar, tegas dan kuat. Nampak ambisi di matanya. Tetapi kedua orang tuanya juga bisa melihat kebencian di sana.


"Mau apa Mama dan Papa kesini? Nadya pikir, kalian sudah tidak mau kenal dengan Nadya lagi!" ucapnya kesal.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, Nadya! Kami kan di Jakarta tuh, sibuk! Kami juga baru saja, mempersiapkan pernikahan adikmu. Kamu ingat Bagas, Nadya? Adekmu sekarang menikah dengan Bagas. Dia sudah menjadi seorang dokter sekarang. Apakah kau mau melihat foto pernikahan mereka berdua? Kau pasti akan senang melihat adikmu sekarang. Dia sudah hidup bahagia bersama suaminya yang baik hatinya!" ucap Ayahnya Nadya penuh dengan kebahagiaan. Nadya menatap sinis ayahnya tersebut.


"Kenapa aku harus bahagia dengan pernikahannya Rianti? Bahkan dia tidak mengingat bahwa dia memiliki Seorang Kakak! Apakah dia pernah datang ke sini? Barang satu kali saja? Menengok kakaknya yang sekarang tinggal di penjara. Rianti hanya hidup untuk dirinya sendiri dan tidak pernah memikirkan penderitaanku di sini!" cicit Nadya semakin kesal saja. Mengetahui adiknya sudah menikah.


"Adikmu juga hidupnya tidak mudah, Nak! Dan dia, apa kau tahu? Demi berusaha untuk membalaskan dendammu kepada orang-orang yang sudah menjebloskanmu ke penjara. Bahkan Rianti hampir saja gila, karena perasaan yang malah berbalik menyerang dia. Apa kau tahu? Begitu beratnya menjadi seorang Rianti! Karena berusaha melampiaskan dendammu. Jangan begitu! Riyanti itu adalah adikmu satu-satunya! Dia sudah berusaha untuk membantumu. Hanya saja, memang dia belum ada waktunya. untuk datang ke sini. Tetapi adikmu, dia selalu berusaha untuk membantumu di luar sana. Membantu melampiaskan sakit hatimu terhadap pasangan tersebut. Dulu mereka hampir saja bercerai karena usaha yang dilakukan oleh Rianti, adikmu!" ibunya Nadya berusaha menceritakan kesulitan yang di hadapi Rianti.


"Rianti juga sempat mau bunuh diri karena patah hatinya. Ditolak oleh laki-laki sombong itu! bBrani sekali dia! Apa kau tahu Nadia? Rianti Hampir mati karena hal itu! Tetapi pria itu, sama sekali tidak mau datang untuk menjenguk adikmu. Sehingga akhirnya adikmu bertemu kembali dengan Bagas. Anaknya sopir kita itu? Dan mereka pun jatuh cinta karena dijodohkan oleh ayahmu ini. Mama benar-benar kesal sekali!" sengit ibunya Nadya.


Nadia tampak tidak perduli maupun tertarik dengan cerita tentang adiknya. Hati Nadia tampaknya sudah mati dan tidak memiliki empati lagi. Ya! Kehidupan keras di penjara membentuk seorang Nadia, menjadi apatis dan tidak memiliki rasa kasihan terhadap saudaranya sendiri.


"Beginilah, Nadya! Pengacara Papa sudah mengurus untuk pembebasanmu segera! Tunggulah pembebasan dirimu sedang dalam proses. Karena kamu berperilaku baik di dalam penjara. Jadi kami bisa mengajukan pembebasan kamu jauh lebih cepat!" ucap Ayahnya sangat bahagia.

__ADS_1


"Papa nggak usah memberikan harapan palsu sama Nadia. Nadia tahu itu hal yang tidak mungkin. Bagaimana mungkin, hukumannya Nadya itu bisa dikurangi begitu saja? Hanya karena kelakuan baik. Kasus Nadya itu berat, Pah! Nadya sudah bunuh banyak orang! Kalau Papa lupa!" ucap Nadya dengan nada sinis dan apatis.


"Papa tetap akan berjuang untuk membebaskan kamu! Kamu tidak usah khawatir! Papa rela mengeluarkan berapapun banyak dana, untuk bisa membebaskan kamu dari sini! Papa tidak rela melihat kamu dipenjara terlalu lama, Nak! Kamu harus positif, kamu harus optimis! Bahwa kamu pasti bisa keluar dari sini suatu saat nanti. Ok? Percayalah kepada orang tua kamu ini, Nadya! Begini-begini, kami ini memiliki nama baij dan reputasi yang baik. Kami pasti bisa berjuang dan berusaha untuk bisa segera membebaskan kamu!" ucap Ayahnya Nadya berapi-api.


Hati Nadya seketika menghangat, ketika mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Ya! Sejak dulu ayahnya memang selalu menyayangi dan dia selalu berusaha menyelamatkannya. Apabila dia melakukan kesalahan. Cinta ayahnya ternyata belum berubah hingga sekarang. Walaupun dirinya sudah dipenjara dan membuat malu nama keluarganya.


"Apakah Papa tidak marah? Apakah Bapak tidak malu dengan perbuatan Nadya yang sudah mencorengkan noda hitam ke wajah Papa. Nadya yang sudah merusak nama keluarga kita. Apakah Papa sama sekali tidak marah sama Nadya? Dan, lebih baik, Papa! Lupakan saja Nadya, Pah! Karena Nadya akan mendekam di sini. Nadya akan berusaha untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah Nadya perbuat selama ini. Nadya akan menebus kesalahannya Nadya, Pah! Itu memang layak dan Nadya sudah menerimanya dengan ikhlas. Karena memang Nadya layak mendapatkan ini semua!" ucap Nadya.


Tanpa disadarinya mata Nadya sudah mulai berkaca-kaca. Tampaknya hatinya mulai tersentuh dengan cinta ayahnya yang begitu tulus, tanpa syarat sama sekali. Ya! Sejak dulu Nadya memang selalu menyayangi ayahnya, begitu juga sebaliknya. Ayah dan anak itu selalu saling mendukung.


"Pah! Jangan pernah berpikir untuk membalaskan dendam. Apa yang saat ini diterima oleh Nadya, memang layak Nadya dapatkan. Ini adalah hasil perbuatan dari Nadya. Papa dan Mama lebih baik hidup bahagia saja di luar sana. Akan lebih bagus, kalau kalian bisa untuk melupakan Nadya, yang sudah membuat kalian malu ini!" ucap Nadya dengan suara parau, tercekat di tenggorokan.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu, Nadia? Kami sangat menyayangi kamu, Nak! Kami sedang berusaha agar bisa membebaskan kamu!" ucap ibunya Nadya dengan berderai air mata.


"Mama dan Papa, lebih baik tidak usah datang lagi ke sini. Karena kedatangan kalian, hanya membuat hati Nadya merasakan sakit. Mengingatkan Nadya, bahwa Nadia adalah anak yang tidak berbakti terhadap kalian. Seorang anak yang sudah memberikan nama buruk untuk keluarganya. Papa dan Mama, lebih baik hidup bahagia di luar sana. Dan Lupakanlah Nadya. Satu lagi! Jangan pernah berpikir untuk membebaskan Nadya dari penjara ini! Karena Nadya memang pantas untuk mendapatkannya semua ini! Nadya tenang di sini, Pah!" setelah mengatakan itu. Nadia pun kemudian pergi dari hadapan kedua orang tuanya. Yang kini menangis dengan pilu. Karena menerima penolakan dari putrinya yang mereka sayangi.


__ADS_2