Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
208. Tidak Mungkin!


__ADS_3

Elena menghapus air matanya yang terus mengalir tanpa henti ketika mendengarkan sanggahan dari Raffi tentang yang dia dengar malam itu di ruang kerja ayahnya. Yang mengatakan bahwa Raffi akan melamarnya kalau dia sudah selesai kuliah.


" Jelas-jelas malam itu aku mendengarnya bawa kau berjanji kepada Ayahku akan melamarku setelah aku lulus kuliah!" ucap Elena dengan berderai air mata.


" Sudahlah Elena! Jangan berbicara omong kosong lagi karena aku tidak pernah merasa pernah mengatakan hal itu kepada ayahmu!" ucap Raffi tampak kesal kepada Elena.


" Kenapa kau harus mengingkari apa yang sudah kau sendiri huh? Janji yang kau katakan. Jelas-jelas aku mendengarnya dengan telingaku sendiri bahwa kau berjanji kepada Ayahku akan melamarku!" ucap Elena masih kekeh dengan pendiriannya.


" Sudahlah Elena! Sebentar lagi Ayahmu akan datang ke Indonesia. Kau bisa bertanya kepada beliau. Siapakah laki-laki yang telah berjanji untuk menikahimu. Tetapi yang jelas laki-laki itu bukanlah aku. Karena aku tidak pernah bertemu dengan ayahmu secara langsung!" ucap Rafi sambil menatap Elena yang masih menangis tersedu-sedu.


" Ayo kita pulang ke pondok. Orang tuamu nanti akan menemuimu di sana!" ajak Raffi kepada Elena yang masih belum berhenti menangis.


Tampak kekecewaan sangat besar di mata Elena yang ternyata telah memperjuangkan sesuatu yang sia-sia.


" Bagaimana mungkin aku salah lihat Raffi?Jelas-jelas di waktu itu aku melihatmu ada di ruang kerja Ayahku dan berjanji akan melamarku setelah aku lulus kuliah. Tapi bagaimana mungkin kau mengingkari hal ini hari ini!" ucap Elena sambil menatap tajam kepada Raffi yang masih kekeh tidak mengakui apa yang dikatakan oleh Elena.


" Gus dicari sama Om Dipta!" tiba-tiba Dinda sudah berdiri di belakang Raffi.


" Tapi aku harus mengantarkan Elena ke pondok. Memangnya ada apa Om Dipta mencariku?" tanya Raffi kepada Dinda yang saat ini sedang melirik sekilas ke arah Elena yang masih terisak dalam tangisnya yang mengharu biru.


" Aku tidak tahu kau temui saja Om Dipta!" ucap Dinda.


" Apakah kau bisa menemani Elena di sini sementara aku pergi menemui Om Dipta?" tanya Raffi kepada Dinda.


" Baiklah tidak apa-apa. Tenanglah Aku akan menemani Elena sampai kau datang!" ucap Dinda sambil menatap ke arah Raffi yang sudah meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


" Kau tidak boleh untuk memimpikan Raffi sebagai calon suamimu. Karena dia hanya akan menikah denganku!" ucap Elena dengan nada sengit yang membuat Dinda merasa tidak nyaman berada di dekatnya.


" Aku tidak pernah memimpikan Gus Raffi sebagai calon suamiku tetapi orang tua kami yang sudah mengatur perjodohan Jauh sebelum kami mengerti akan sebuah hubungan antara dua orang manusia!" ucap Dinda dengan serius menatap Elena.


" Kau Bohong!" ucap Elena menatap tajam kepada Dinda dan siap untuk menyerang Dinda dengan amukan amarahnya.


" Akan kupastikan perjodohan itu batal dan akan kupastikan Raffi akan menjadi suamiku!" ucap Elena dengan nada permusuhan kepada Dinda.


" Terserah kepadamu Elena! Lakukanlah apa yang kau inginkan. Aku percaya kalau jodoh memang sudah digariskan oleh Tuhan yang maha kuasa! Kalau memang Gus Raffi adalah calon suamiku yang sudah di gariskan. Maka itu akan terjadi tapi kalau dia memang bukan jodohku, apalah mau dikata? Aku pun tidak bisa berkata apa-apa!" ucap Dinda berusaha untuk memberikan ketenangannya yang paling dalam untuk menghadapi wanita seperti Elena yang suka memaksakan kehendaknya kepada orang lain.


" kau tidak usah berpura-pura aku bisa melihat dari laut mukamu bahwa kau memimpikan Raffi untuk menjadi suamimu!" ucap Elena dengan nada amarah yang memboncang di dadanya.


" Aku sudah mengatakan padamu, terserah apa yang mau kau katakan Elena. Bisakah kau bekerja sama denganku? Setidaknya sampai Gus Raffi datang kemari. Tolong untuk menjaga perasaanku yang sedang menjalankan amanah untuk menemanimu!" ucap Dinda sambil menatap ke arah Elena yang kini melotot kepadanya.


" Berhenti untuk berpura-pura menjadi gadis baik! Karena aku tidak menyukainya!" ucap Elena dengan amarah yang membuncah di dadanya.


Elena yang melihat denda pergi meninggalkannya dia pun langsung mendekati Dinda yang menurutnya terlalu sombong dan angkuh.


Ya ampun Padahal dari tadi yang selalu marah-marah itu Elena Tetapi dia mencap Dinda sebagai perempuan yang sombong dan angkuh. Memang aneh ya?


Begitulah karakter manusia yang selalu bisa melihat kesalahan orang lain tetapi tidak bisa melihat kesalahan diri sendiri.


Gajah di seberang lautan bisa terlihat. Akan tetapi belek di mata sendiri tidak bisa dilihat. Itu adalah sebuah kenyataan yang sangat mutlak terjadi kepada kita. Apakah benar reader??


Dinda tidak mau untuk melayani emosi Elena yang tampak cemburu dengan rencana perjodohan Dinda dan Raffi yang sudah diatur oleh kedua orang tua mereka sejak mereka masih kecil.

__ADS_1


" Elena berhenti kau membuat masalah kenapa kau selalu saja mengumbar emosi dan kemarahanmu kepada setiap orang yang kau temui?" tiba-tiba Raffi sudah berada di antara mereka berdua bersama dengan Dipta dan juga Kinan.


" Gus Raffi mengatakan kepada saya bahwa ayahmu dalam perjalanan kemari?" tanya difta kepada Elena yang tampak masih marah kepada Dinda.


" Benar Om! Mungkin sekarang Papa sudah berada di bandara! Karena papa sudah berangkat sejak kemarin dari Mesir!" ucap Elena kepada Dita dengan suara yang mulai melunak. Karena bagaimanapun Elena harus menghormati Dipta sebagai tuan rumah dalam pesta pernikahan antara Marcella dan Zidane.


" Gus Raffi tolong nanti kau hubungi orang tua Elena untuk menginap di kediaman saya saja sekalian menghadiri acara pernikahan Marcella dan Zidane!" ucap Dipta memberikan perintah kepada Raffi.


" Maafkan saya Om! Saya tidak tahu nomor telepon duta besar Indonesia untuk Mesir. Om bisa mengatakan itu kepada Elena karena dialah yang tahu!" ucap Raffi sambil melirik sekilas kepada Elena.


" Baiklah Om nanti saya akan menghubungi Papa untuk datang ke acara pernikahan ini!" ucap Elena menyetujui apa yang diinginkan oleh Dipta.


" Terima kasih Elena semoga kau menikmati pesta yang kami sediakan!" ucap Kinan sambil tersenyum kepada Elena yang kini mendekat ke arah mereka bertiga.


Dinda yang melihat Desta dan Kinan memperlakukan Elena dengan spesial hanya menatap Raffi dengan penuh pertanyaan.


" Gus Raffi! Apakah benar kalau Gus Raffi mengatakan bahwa aku bukanlah calon istrimu?" tanya Dinda dengan suara yang tersekat di tenggorokannya karena merasakan kesedihan yang teramat dalam di hatinya saat ini.


" Dinda! Tolong kau dengarkan aku. Untuk masalah pernikahanku. Aku menyerahkan semuanya kepada Abi dan Umi aku tidak ingin memaksakan apapun kepada diriku sendiri!" ucap Raffi dengan perlahan.


" Katakan padaku! Apakah Gus pernah mencintaiku?" tanya Dinda dengan menundukkan kepalanya.


" Entahlah aku belum terlalu mengerti tentang definisi cinta yang kutahu aku hanyalah mencintai Allah dan rasulku!" ucap Raffi sambil menatap ke arah pesta yang sedang berlangsung tidak jauh dari tempat Mereka berdiri saat ini.


Raffi bisa melihat Rehan dan Aurel sekarang mulai berbincang dengan santai setelah sebelumnya tampak canggung di antara mereka berdua.

__ADS_1


Raffi juga melihat Marcella yang tampak begitu bersinar berdiri di samping Zidane.


__ADS_2