Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
225. Berunding


__ADS_3

Kyai Ali dan Nur yang saat ini sedang berbincang di serambi rumahnya tampak sedang membicarakan hal yang serius.


" Kita tidak bisa membiarkan Raffi dan Dinda seperti ini terus. Entah kita harus berdiskusi dengan Riyanti dan Bagas, atau kita bicara dengan mereka berdua. Umi rasanya tidak tega kalau membiarkan mereka harus jauh dari kita. Sudah seminggu mereka pergi dari pondok, ga jelas pergi ke mana. Umi benar-benar sangat khawatir sekali!" ucap ibunya Raffi sambil menatap sang suami yang masih diam.


" Apakah Umi tahu kalau Raffi memiliki banyak bisnis di luar sana?" tanya Kyai Ali.


" Bisnis apa?"


" Yang Aby dengar bisnis restoran. Ya Aby juga belum terlalu mengetahuinya. Selama ini Raffi tidak pernah bercerita kepada kita tentang kegiatan dia di luar sana." ucapnya.


" Selama ini kita terlalu membebaskannya. Selama itu adalah sesuatu yang baik, Umi pasti tidak akan pernah melarangnya. Kalau benar memang Raffi memiliki bisnis di luar sana umi pasti akan mendukung. Apalagi itu adalah sesuatu yang positif!" ucapnya.


Kyai Ali kemudian bangkit dan mencari ponselnya berniat untuk mengundang kedua besannya untuk datang ke kediaman mereka.


" Di mana ponselku Umi?" tanyanya.


" Memangnya Abi menyimpannya di mana? Umi tidak pernah memperhatikan ponselmu!" ucap Nur sambil mendekat ke arah suaminya.


Kyai Ali kemudian pergi ke kamarnya dan kembali dengan ponsel di tangannya.


" Ya sudah Umi pergi dulu ke dalam!" ucapnya.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dokter Bagas. Apakah bisa kalau besok datang ke pondok? Kami ingin membicarakan sesuatu dengan kalian perihal anak-anak. Baiklah saya tunggu besok ya!" setelah mengucapkan salam Kyai Ali pun langsung menutup panggilan telepon tersebut dan kembali ke aula pondok pesantren untuk mengajar anak-anak santri yang sudah menunggunya untuk mengaji.


Semenjak Raffi meninggalkan pondok, tugas Pak Kyai menjadi double karena dia harus menggantikan jadwal putranya untuk mengajar. Walaupun banyak tenaga pengajar yang lain, akan tetapi ilmu pelajaran yang dipegang oleh Raffi tidak bisa di serahkan kepada orang sembarangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sementara itu Bagas setelah menerima telepon dari besannya dia langsung menemui Riyanti, sang istri yang saat ini masih sibuk ngobrol dengan Rehan yang sedang curhat tentang Aurel kekasihnya yang sejak kemarin minta putus darinya.


" Udah kalau memang dia minta putus darimu putuskan saja Mas. Perempuan tuh bukan cuman dia saja!" ucap Riyanti mulai kesal karena sikap Aurel yang sudah membuat anaknya beberapa hari ini uring-uringan terus.


" Padahal dulu dia yang terus mengejar-ngejar mu. Sekarang seenaknya saja minta putus setelah merasa bosan denganmu Mas!" Ucap Riyanti merasa kesal karena putranya telah diperlakukan semena-mena boleh Aurel.


Bagas mendekati istrinya yang tampak masih misuh-misuh. " Sudah mah nggak usah ikut campur urusan anak muda biarkan mereka yang mengurus sendiri. Nanti kalau Rehan mau melamar baru kita ikut campur. Untuk sekarang biarkan saja mereka berproses sendiri untuk mencari cinta sejati mereka! Oh ya, tadi besan menelpon Papa dan minta kita untuk datang ke pondok besok!" ucap bagas membicarakan undangan yang tadi disampaikan oleh besan mereka.


Rianti tampak mengerutkan keningnya.


" Ada urusan apa ya? Ko tumben-tumbennya Kita diundang ke sana sih?" tanya Rianti merasa penasaran.


Bagas hanya menggelengkan kepalanya kemudian Dia mendekati putranya yang masih sibuk dengan ponselnya.


" Tanya pada kekasihmu. Kalau kami datang melamarnya. Apakah dia bersedia atau tidak? Kalau dia tidak bersedia, putuskan saja dia Mas. Kau tidak usah buang-buang waktumu untuk perempuan yang hanya ingin bersenang-senang denganmu tanpa menginginkan masa depan bersamamu!" ucap Bagas sambil menepuk bahu Rehan.


" Rehan sudah berkali-kali memintanya untuk menjadi istriku. Tetapi dia tidak mau. Katanya dia masih ingin meraih cita-citanya menjadi seorang dokter!" ucap Rehan dengan lesu.


" Ya Pah. Besok Rehan akan menemui Aurel dan menanyakan semuanya secara jelas. Apa keinginan dia yang sesungguhnya agar nantinya tidak ada kesalahpahaman di masa depan! Karena Rehan pun tidak ingin memaksakan sebuah hubungan yang sudah tidak sehat lagi!" Rehan kemudian bangkit dari duduknya dan pergi ke kamarnya.


Rianti menatap punggung putranya yang tampak menunduk menandakan bahwa putranya saat ini sedang sedih.


" Sudah lama kita tidak usah ikut campur masalah Rehan dan juga Aurel biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Sekarang kita pikirkan bagaimana kita akan menyikapi Raffi dan Dinda yang kemungkinan besar akan memilih untuk tinggal di luar kota. Papa bisa yakin 100% pasti besan kita ingin berbicara tentang mereka berdua yang sudah satu minggu ini pergi ke luar kota bersama untuk meninjau restoran milik Raffi yang selama ini dirahasiakan dari kedua orang tuanya!" ucap Bagas berusaha untuk menebak masalah apa yang akan dibicarakan oleh kedua orang tua dari menantunya.


" Cobalah telepon Raffi. Apakah kita perlu memberitahukan kedua orang tuanya perihal bisnis yang sedang dia geluti saat ini atau tidak. Mama khawatir nantinya kalau kita melakukan kesalahan, malah akan berdampak buruk untuk keluarga Putri kita." ucap Riyanti.


Bagas kemudian mencari ponselnya dan berusaha untuk menghubungi Raffi maupun Dinda tetapi sejak tadi siang mereka berdua sangat sulit untuk dihubungi sehingga membuat mereka menjadi khawatir.

__ADS_1


" Tetap tidak ada jawaban sama sekali. Mungkin kedua orang tua Raffi juga mengalami hal yang sama. Oleh karena itu besan kita jadi khawatir dengan keadaan mereka berdua!" ucap Bagas sambil menaruh kembali ponselnya. Setelah dia memberikan pesan singkat untuk menantunya.


" Apakah mungkin mereka sedang meninjau daerah yang tidak terdapat sinyal?" tanya Rianti merasa heran.


Bagas menarik nafasnya dengan dalam kemudian dia menatap sang istri dengan lekat.


" Kita berdoa saja yang terbaik untuk mereka berdua. Papa harap tidak akan ada hal yang buruk yang akan mengikuti mereka di dalam perjalanannya untuk mencari tempat tinggal bagi mereka bisa menjalani kehidupan rumah tangga secara normal. Papa pun sangat prihatin kalau sampai rumah tangga mereka terganggu gara-gara kehadiran Elena yang selalu meneror mereka berdua! Semoga saja setelah mereka meninggalkan kota ini kehidupan mereka menjadi lebih baik!" ucap Bagas memberikan doa terbaik untuk anak dan menantunya yang sedang berjuang membangun rumah tangga yang sakinah mawadah dan warohmah.


" Ya sudah ayo kita tidur Pah. Besok pagi-pagi kita harus ke pondok dan kita harus mempersiapkan segudang alasan dan juga argumen. Kalau besan bertanya tentang anak dan menantu kita yang sekarang entah ada di mana!" ucap Rianti sambil melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam kamar yang diikuti oleh Bagas.


Bagas merasa bahagia karena Rianti sampai saat ini masih menjadi seorang istri yang bisa diandalkan dalam segala situasi dan kondisi.


Setelah banyak cobaan yang mereka lewati di masa lalu. Sekarang mereka bisa menarik nafas dengan lega dan hidup dengan bahagia tanpa harus berpikir keras untuk menjalani kehidupan rumah tangga mereka.


Anak-anak mereka sudah dewasa dan sudah memiliki kehidupan mereka masing-masing. Walaupun masih harus membutuhkan bimbingan dan juga nasehat dari mereka berdua. Akan tetapi mereka sudah bisa bernafas dengan lega melihat mereka yang sudah mulai mandiri dan berdikari.


Rehan bahkan sudah bisa dipercaya oleh Bagas untuk mengelola satu buah Rumah Sakit mereka yang berada di luar kota. Rehan akan kembali dari luar kota setiap satu minggu sekali untuk bertemu dengan mereka sekaligus melaporkan pekerjaannya di rumah sakit cabang yang dipercayakan kepadanya.


Karena hal itulah, yang membuat Rehan semakin sibuk dan tidak memiliki waktu untuk Aurel. Sehingga membuat Aurel merasa bahwa dia tidak dibutuhkan lagi oleh kekasihnya. Sehingga akhirnya dengan berat hati Aurel kemudian memutuskan untuk minta berpisah dari Rehan.


" Kamu kenapa sih Aurel? Mana perhatikan sejak kemarin kamu melamun terus. Kalau kau memang mencintai Rehan seharusnya kau berusaha untuk mengerti kesibukannya saat ini. Apalagi Rehan adalah seorang pewaris dari keluarga besarnya yang memiliki begitu banyak cabang Rumah Sakit di Indonesia. Seharusnya kau merasa bangga karena kekasihmu lebih mengutamakan pekerjaannya daripada sekedar hubungan asmara dengan seorang perempuan!" ucap Bima menasehati putrinya yang sedang galau karena hubungannya bersama Rehan saat ini sedang tidak jelas statusnya.


" Kalau memang Rehan benar-benar mencintai Aurel, dia pasti akan berjuang untuk tetap bersamaku. Akan tetapi sejak kemarin dia tidak mengatakan apapun dan membuat Aurel menjadi bingung tentang hubungan kami saat ini!" ucap Aurel sambil menentukan kepalanya dan tampak sesegukan.


Sheila mendekati putrinya dan memeluknya dengan erat.


" Apakah perlu kami berdua ikut campur dalam hubungan kalian?" tanya Sheila sambil menatap putrinya yang mulai menangis terisak.

__ADS_1


" Biarkan saja Rehan mau melakukan apa dengan hubungan kami. Toh rasanya Dia pun tidak terlalu mencintaiku!" ucap Aurel sambil sesegukan dipelukan ibunya.


" Siapa bilang kalau aku tidak mencintaimu?" Aurel langsung terkejut ketika mendengarkan suara kekasihnya yang tiba-tiba sudah ada di antara mereka.


__ADS_2