
Hari ini kami pergi ke Purbalingga, menemani adikku yang hendak berkunjung ke sana. Tanpa sepengetahuan diriku, adiku ternyata berhubungan dengan sepupuku bernama Retno.
Sesampainya kami di sana, kami memutuskan untuk mengunjungi wahana permainan Owabong. Pacar adikku membawa adiknya juga, karena lama tidak bertemu kami jadi asyik mengobrol berempat. Aku sampai lupa dengan tunanganku sendiri. Bodohnya aku.
"Kemana Mbakmu?" tanyaku pada mereka.
"Tidak tahu, dari tadi tidak memperhatikan dia," adikku membantuku melihat sekitar, aku berpamitan pada mereka, mencari keberadaan Nur, kwatir sama dia. Dia baru pertama kali ke kota ini, kunci motornya saja ada di tanganku kini.
"Aku cari mbakmu dulu," aku beranjak dan mencari dia di seluruh tempat wisata air, namun tidak menemukan dia di manapun. Aku sudah frustasi rasanya. Aku mencoba menelpon, tetapi tidak dia angkat juga. Aku lalu pergi ke area kolam yang paling ujung dari tempat ini, di kursi yang agak tertutup, aku melihat Nur sedang senyum-senyum sambil melihat ponselnya. Dia sedang berkirim pesan dengan seseorang kelihatannya.
Aku penasaran dengan apa yang sedang dia lakukan, aku mendekatinya, "Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kamu disini," aku duduk di sampingnya dan mencoba melihat ke arah ponselnya. Dia hanya melihatku sekilas lalu melanjutkan aktivitas dia tadi, sebelum aku datang.
"Sibuk banget sih, sampai aku di cuekin," dadaku mulai panas karena dia bahkan tidak melihat ke arahku. Karena kesal aku ambil saja ponselnya, lalu mematikan daya dan menaruh di kantungku.
"Apa-apa an sih, ga sopan banget, kembalikan gak?" dia tampak marah padaku, tapi aku tidak perduli. Aku tidak suka dia berbalas pesan dengan siapapun selain aku. Nanti biar aku cek siapa orang yang lancang mengganggu tunanganku.
"Aku mencarimu loh, hampir seluruh tempat ini aku datangi, kamu ternyata malah sembunyi disini dan asyik berbalas pesan dengan orang lain," protesku tapi dia tampaknya tidak perduli.
__ADS_1
"Ngobrol saja sama cewek itu, dia lebih cantik ya, dari pada aku? Aku mau disini sendiri, tinggalkan aku" Dia bicara tanpa menoleh padaku, ada rasa senang ada rasa kesal, bercampur aduk rasanya. Dia sedang cemburu kayaknya, melihat keakraban ku dengan sepupu jauhku.
"Kami lama gak bertemu, jadi wajar kalau kamu ngobrol, kamu marah padaku sayang?" aku mencoba membujuk dan menjelaskan padanya situasiku saat ini.
"Makanya aku pergi dari sana, aku kasih kesempatan padamu, siapa tahu kalian cocok, kamu bisa menikah sama dia, bagus bukan? Kalian bisa jadi dua couple, orang tuamu pasti sangat bahagia." aku kaget mendengar ucapnya.
"Tunanganku kamu, gimana bisa menikah sama dia? Jangan ngawur sayang," aku mencoba memegang tangannya, tapi dia menghindarinya terus, aku mulai frustasi dengan kemarahan dia.
Dia kayaknya marah kepadaku. Dia mengerucutkan bibirnya dan acuh padaku. Hatiku masih panas, melihat dia tadi tampak bahagia berbalas pesan dengan seseorang. Aku cemburu dan marah.
Tanpa berpikir panjang, dengan sigap aku mencium bibirnya, dia tampak kebingungan dan terkejut dengan aksi nekatku ini. Dia memukul dadaku dan lari ke kamar mandi perempuan. Sial, aku jadi tidak bisa masuk ke sana. Bisa di pukuli orang aku kalau nekat.
Dia menginjak kakiku dan lari dari pelukanku. Aku kesal dan mulai panik, dia pergi menjauh dariku, dia memilih pergi ke tempat-tempat ramai dan tetap cuek padaku, marah sekali dia padaku. Saat dia masuk ke sebuah warung makan, aku juga mengikuti dia, kebetulan aku juga lapar, belum makan seharian.
"Sayang, jangan marah lagi dong, maafin Mas ya?" Aku berusaha membujuk dia, tapi dia tetap tidak perduli padaku, tunanganku ini kalau sudah marah sangat bahaya sekali, sudah dua jam dia mendiamkan ku, tidak pernah dia marah padaku selama ini, jadi aku bingung bagaimana menenangkan dia.
"Ngapain sih, ngikutin aku terus, sana cari cewek kamu," semprot dia sambil melotot padaku, gak apa-apa deh, dari pada dia diam saja, bikin aku frustasi. Mending dia marah-marah begitu, jadi aku tahu bagaimana isi kepalanya.
__ADS_1
"Cewek aku kamu loh, dia ga penting buat aku, Ayolah sayang, jangan marah lagi,"
"Mana ponselnya?" dia menjulurkan tangannya, dengan berat hati, aku berikan padanya, dari pada dia marah padaku, bisa berabe urusan jadinya.
"Sudah sayang ya,jangan marah lagi, maafin Mas ya? Mas janji gak akan bicara sama perempuan lain lagi, jangan marah ya," dia masih diam. Pesanan dia datang, dia langsung menyantapnya tanpa menunggu pesananku datang juga, ah. .. dia beneran marah padaku. Aku biarkan dia makan dengan tenang, tak lama pesananku juga datang. Kami makan dalam diam. Setelah makanan dia habis, dia langsung pergi gitu aja ninggalin aku.
"Sayang kamu mau ke mana? makananku masih setengah lagi ini," buru-buru aku ke kasir dan membayar harga makanan kami, tapi kasir bilang makanan dia sudah di bayar sendiri, jadilah aku membayar makananku saja. Aku langsung mencari dia, ah.. cepat sekali larinya. Aku mencoba menelpon dia, masih tidak aktif. Ponsel dia tadi aku matikan, belum dia aktifkan kayanya.
Aku memutuskan ke parkiran saja, siapa tahu dia sudah menunggu di sana. Aku sudah gak peduli dengan adikku itu, biarkan saja, urusanku ini lebih penting, kalau dia marah dan ninggalinbaku, bisa runyam urusan.
Pernikahan kami tinggal dua bulan lagi, masa iya malah putus? kan gak lucu. Di kejauhan, aku melihat dia duduk di motornya, aku lega melihat dia. "Kita pulang sayang?" tanpa melihat ke arahku dia naik ke jok dan aku paham maksudnya.
Aku langsung tancap gas, aku gak perduli dengan adikku, biarkan saja lah, dia bawa motor sendiri, paling nanti juga pulang. Sepanjang perjalanan Nur hanya diam seribu bahasa. Aku meminta dia berpegangan pun dia gak perduli.
Aku sengaja mengendarai motor dengan kecepatan maksimum, niatnya bikin dia takut, supaya mau pegangan padaku, tapi gagal. Dia lebih memilih pegangan besi jok motor dari pada pegangan padaku.
Kekasihku ini kalau marah menakutkan, baru aku lihat kemarahan dia. Selama ini dia selalu ramah dan malu-malu setiap bertemu denganku. Kami sampai juga ke Purwokerto, aku berhenti di depan masjid SPN, aku niatnya mau memberikan motor dia, jadi aku bisa jalan kaki ke pondok. Belum aku turun, dia sudah berlari saja, aku menyalakan motor dan mencoba mengejar dia, karena sudah dekat dengan pondok, aku tinggalkan dia dan melanjutkan ke pondok, aku taruh kunci dan motor di parkiran dekat kamarnya. Berkali-kali aku mengetuk pintunya tetapi dia tidak nyahut atau membukakan pintu kamarnya.
__ADS_1
Aku lihat pak Kiai keluar rumah, mau ke warung kayaknya, aku memutuskan meninggalkan kamar Nur, gak enak juga sama Pak Kiai, sudah pergi seharian masih juga berdiri di depan kamar Nur.