Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
111. Masa Lalu


__ADS_3

Bima kini sedang berbaring di tendanya, ingatannya menerawang ke beberapa tahun yang lalu.


Masa-masa dirinya bersama Dipta dan Rianti mengenyam bangku pendidikan.


Flash back on


"Apa? Kau mencintai Rianti?" tanya Bima terkejut ketika mendapatkan pengakuan dari Dipta, sahabatnya.


"Ya, Lu bantu gue ya? Buat dapetin dia!" ucap Dipta sambil menepuk bahu Bima.


"Tapi apakah Riyanti juga suka sama Lu?" tanya Bima sambil menatap lurus ke arah sahabatnya.


"Ya, gua nggak tahu. Makanya gue minta bantuan sama lu, kan lu biasanya selalu sama dia!" ucap Dipta tersenyum.


"Tapi gue gak pernah membicarakan tentang cinta sama dia. Jadi gue nggak bisa memberikan pendapat apa-apa!" Bima kepada sahabatnya.


Mereka yang sedang berada di kantin saat ini, kini mulai memperhatikan Rianti yang sedang asyik berbicara dengan teman-temannya.


"Yuk dekatin mereka!" ajak Dipta sambil meraih tangan Bima untuk mengikutinya.


"Lu aja deh! Gue lagi males!" kemudian meninggalkan Dipta seorang diri di kantin.


Saat ini, perasaan Bima benar-benar kalut dan bingung. Sejujurnya dia pun merasa memiliki perasaan untuk Rianti. Tetapi dia sampai sekarang belum berani untuk mengakuinya.


"Aku harus gimana sekarang?" tanya Bima kepada dirinya sendiri.


"Aku gak mungkin kehilangan sahabat demi sebuah cinta!" ucap nya lagi.


Bima saat ini sedang berada di atas atap sekolahnya, hanya sendirian.


Tiba-tiba saja Dipta mengagetkan Bima yang sedang asyik melamun seorang diri di sana.


" Ya ampun Bro, gue cari lo kemana-mana, ternyata malah ngelamun di sini. Ngapain sih lu?" hanya Dita sambil menepuk bahu Bima.


Bima yang terkejut dengan kedatangan Dipta, hanya tersenyum saja, kemudian dia bangkit dari duduknya.


"Ke kelas yuk!" ajak Bima sambil menarik tangan Dipta.

__ADS_1


" Yaelah Bro gue juga baru datang udah diajak lagi pergi!" ucap Dipta kepada sahabatnya Tetapi dia tetap mengikuti Bima walaupun tadi sempat protes.


"Gimana pendekatan lu sama Rianti? Sukses nggak?" tanya Bima sambil berjalan menuju kelasnya.


"Bima!" tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara Rianti yang sudah ada di belakang mereka.


"Ada apa?" tanya Bima kepada Rianti dengan suara dingin. Rianti cemberut ketika melihat Bima yang tampak cuek kepadanya.


"Nanti setelah jam sekolah. Mamamu meminta aku untuk datang ke rumahmu!" ucap Riyanti.


"Untuk apa Mamaku menyuruhmu untuk datang ke rumahku?" tanya Bima keheranan.


"Ya mana ku tahu? Nanti aku ikut sama kamu ya!" ucap Rianti kemudian meninggalkan Bima bersama Dipta.


"Ya ampun cantik sekali!" Dipta tampaknya begitu terpesona dengan Rianti.


"Perempuan ya pasti cantik kalau laki-laki baru tampan!" ucap Bima kemudian masuk ke kelasnya.


"Ah nggak asik loh!"ucap Dipta.


Mereka pun kemudian fokus untuk belajar setelah guru mereka masuk ke kelas.


"Gue juga mau ikut ke rumah lu!" tiba Dipta sudah ada di sebelahnya.


Bima yang terkejut dengan kehadiran Dipta, hanya bisa menggelengkan kepalanya dan dia berlari menuju parkiran untuk mengambil mobilnya dan pulang ke rumahnya.


Tidak lama kemudian, tampak Riyanti yang berlari ke arahnya. "Gue ikut ke rumah lo, nih nyokap lo nelponin terus gue!" ucap Riyanti langsung masuk ke mobil milik Bima.


"Lu, seorang gadis main sembarangan aja naik ke mobil seorang laki-laki. Gimana Kalau gue culik lu. Terus ngapa-ngapain lu?" protes Bima sambil fokus menyetir mobilnya menuju rumahnya.


Dipta yang duduk di belakang, hanya bisa memperhatikan interaksi antara Bima dan Riyanti yang lebih tepatnya seperti kucing dan anjing.


"Kalian berdua kenapa sih? Kalau ketemu selalu aja. Saling cemberut begitu?" tanya Dipta dengan keheranan.


"Gak tahu tuh. Temen Lu. Selalu saja sentimen sama gue. Padahal perasaan gue, gue nggak pernah ngelakuin apa-apa sama dia!" jawab Rianti dengan cemberut.


Bima lirik Rianti sekilas kemudian menatap Dipta yang dia lihat dan memperhatikan Riyanti di spion depannya.

__ADS_1


'Padahal rencananya setelah kelulusan gue, rencananya mau ungkapin perasaan Gue ke Rianti. Siapa yang menyangka, kalau ternyata Dipta juga mencintai dia. Kayaknya gue harus mengalah kepada Dipta, kalau Rianti juga mencintainya!' batin Bima sambil sesekali melirik ke arah Rianti di antara fokusnya menyetir mobil.


"Dip, beneran loe mau ikut ke rumah gue?" tanya Bima kepada sahabatnya.


" Emang kenapa lu nggak mau gue main ke rumah lu?" tanya Dipta sambil melihat sahabatnya.


"Kagak, kagak apa-apa! Kalau lu mau main, main aja. Emang biasanya juga lu main kan ke rumah gue?" tanya Bima.


"Bim berhenti dulu di toko buah itu, gue mau beli oleh-oleh buat Nyokap lu!" ucap Rianti sambil menunjuk sebuah toko buah yang tidak jauh dari tempat mereka saat ini.


" Yaelah Kayak udah mau ngunjungin calon mertua aja!" ceplos Dipta.


"Calon mertua apaan?" tanya Rianti dengan keras.


"Lu, jangan bicara sembarangan ya! Gue sama Bima itu sahabat sejak kecil dan tante Riani itu sudah gue anggap seperti mama sendiri. Nggak mungkin lah kalau dia jadi mertua gue!" ucap Riyanti kemudian turun dari mobil yang Bima.


Deg


Jantung Bima rasanya seperti dihantam oleh Palu godam mendengarkan pernyataan dari Rianti. Bahwa tidak mungkin bagi nyokapnya untuk menjadi mertuanya Rianti.


'Pupus sudah semua harapanku!' rintih hati Bima seketika.


"Lu, Kenapa Bim dari tadi ngelamun terus?" tanya Dipta kepada sahabatnya. Bimahanya menggeleng pelan merasa malas dengan semuanya.


"Nggak papa gue mau tidur ya!" tapi malah lo meninggalkan Rianti dan Dipta Di ruang tamunya.


Dipta dan Riyanti mengobrol dengan ibunya Bima di ruang tamu. Sementara Bima tertidur di kamarnya. Karena saat ini kepalanya sangat pusing sekali, setelah mendengar pengakuan Riyanti bahwa tidak ada harapan untuknya untuk bisa bersama dengan Rianti.


Keesokan harinya Bima dikejutkan oleh Dipta, yang mengatakan bahwa dia telah jadian dengan Riyanti.


Dunia Bima seakan runtuh seketika, ketika mendengar berita tersebut. Tetapi Bima berusaha untuk menguatkan hatinya sendiri, dan dia berjuang untuk bisa melupakan cintanya kepada Rianti, yang sudah sangat lama dia pendam.


"Selamat ya, semoga lu dengan Riyanti bahagia. Ya udah gue ke kelas dulu!" ucap Bima langsung meninggalkan Dipta yang kebingungan melihat sikap sahabatnya.


Bima yang sedang merasakan patah hati itu kemudian memilih untuk menyembunyikan dirinya di atas atap gedung sekolah.


Tampak Bima sedang merokok di sana, padahal untuk usia nya saat ini, tidak diperbolehkan untuk merokok. Bima yang saat ini sedang frustasi sudah tidak mempedulikan hal seperti itu lagi.

__ADS_1


Setiap melihat kedekatan Rianti dan Dipta, hati Bima seperti teriris-iris sembilu, sehingga dia lebih banyak menghindari keduanya daripada membuatnya merasa sedih dan patah hati.


__ADS_2