Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
132. Syukurlah


__ADS_3

Dipta langsung dimasukkan ke dalam UGD begitu masuk ke dalam rumah sakit.


"Untung saja kamu datang ke apartemen Dipta. Kalau tidak, kita pasti tidak akan bisa menolong Dipta yang sedang sakit!" ibunya Dipta sambil menggenggam kedua tangan Bima. Bima hanya tersenyum saja.


"Saya dan Dipta itu sahabat sejak lama Tante! Saya pasti akan selalu menjaga Dipta Tante tidak usah khawatir!" ucap Bima berusaha menenangkan ibunya Dipta yang tampaknya sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya.


"Maafkan Tante ya Bima! Karena sudah meragukan perasaan kalian berdua sebagai seorang sahabat. Tante sekarang tahu dan mengerti bahwa kau memang sahabat yang paling baik untuk Dipta, Putra ibu!" tampak bulir air mata mengalir dari pipi ibunya Dipta yang semakin keriput ditelan usia.


"Tante tidak usah khawatir. Bima yakin dan percaya, Dipta pasti akan baik-baik saja!" Bima berusaha menenangkan ibunya Dipta.


Walaupun sebenarnya di dalam hatinya merasakan was-was dengan kondisi sahabatnya saat ini.


Memang kalau dipikir-pikir, akhir-akhir ini kondisi Dipta sangat lemah. Dipta mudah sekali merasa lelah.


Bima menarik nafasnya dalam-dalam, Bima kemudian mengeluarkan nafasnya secara perlahan. Bima sedang frustasi saat ini.


'Semoga Bima baik-baik saja dan dia tidak mengalami penyakit yang buruk!' doa Bima Untuk sahabatnya.


Walaupun Bima juga bekerja di rumah sakit itu, tetapi saat ini bukanlah shift kerjanya. Oleh karena itu, Bima menyerahkan Dipta kepada rekannya yang sedang bertugas malam ini.


Tidak lama kemudian dokter yang tadi menangani Dipta keluar dari ruang UGD dan menemui mereka berdua.


"Bagaimana keadaan sahabat saya dokter?" tanya Bima dengan kecemasan yang luar biasa saat ini.


"Pak Dipta saat ini baik-baik saja. Dia hanya kelelahan karena selama beberapa hari terus memporsir tenaganya. Setelah beristirahat selama beberapa hari, saya yakin kondisinya akan kembali Fit!" ucap dokter tersebut memberikan laporan pemeriksaannya terhadap Dipta.


"Syukurlah!" ucap Bima merasa bersyukur. Karena ternyata sahabatnya hanya kelelahan saja, sama seperti dugaannya sebelumnya.

__ADS_1


"Syukurlah, Ya Allah! Kalau Putra hamba hanya kelelahan saja. Tadi tante benar-benar takut kalau Dipta mengalami penyakit yang berat!" ucap Ibunya Dipta merasa lega.


"Ayo tante! Duduk dulu di kursi itu, sejak tadi tante terus berdiri!" Bima kemudian dengan telaten menggandeng tangan ibunya Dipta untuk duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari mereka saat ini berdiri.


"Terima kasih banyak ya, Bima! Karena kamu selalu saja memperhatikan Dipta. Selama beberapa tahun ini kalau tidak ada kamu, mungkin tante tidak akan sanggup menjalani hari-hari hanya berdua saja dengan Dipta." ucap ibunya Dipta. Dia sungguh merasa terharu dengan ketulusan yang ditawarkan dalam persahabatan Bima dengan putranya.


"Saya dan Dipta itu sudah lebih daripada sahabat, Tante! Dia sudah seperti saudaraku. Bahkan aku lebih mencintai Dipta daripada apapun di atas dunia ini!" ucap Bima sambil tersenyum kepada ibunya Dipta.


Ketika mendengarkan kata "cinta" yang diucapkan oleh Bima untuk putranya. Seketika ibunya Dipta merasa merinding. Ketika dia mulai memikirkan sesuatu yang berbeda dari pemahaman "cinta" yang diucapkan oleh Bima untuk Dipta.


"Kau mencintai Dipta?" tanya ibunya Dipta merasa ketakutan.


"Ya Tante! Saya sangat mencintai Dipta dan saya rela kehilangan apapun demi dia!" ucap Bima dengan penuh keyakinan dan tanpa keraguan.


Seketika tubuh ibunya Dipta melemas tak berdaya. Seakan tak bertulang rasanya.


"Tunggu sebentar tante! Sepertinya saya harus meluruskan sesuatu di hadapan tante saat ini!" ucap Bima kemudian dia berusaha untuk menggenggam kedua tangan ibunya Dipta yang saat ini gemetar.


"Cinta saya terhadap Dipta. Bukan cinta semacam yang ada di kepala tante saat ini. Saya mencintai Dipta sebagai sahabat saya Tante. Tante jangan berpikir aneh-aneh tentang saya dan Dipta!" ucap Bima.


"Saya sebentar lagi akan menikahi calon istri saya. Jadi tante bisa berpikir dengan tenang tentang hubungan saya dengan Dipta!" ucap Bima memberikan ketenangan kepada ibunya Dipta yang tampaknya sedang berpikir aneh-aneh tentang dia dan Dipta.


'Biarlah, Aku mengatakan akan segera menikahi Sheilla. Tidak apa-apa! Nanti aku bisa mengatur agar Sheilla mau segera menikah denganku!' bathin Bima.


'Sepertinya menikahi Sheilla adalah jalan yang terbaik. Agar semua orang tidak berpikir buruk tentang hubunganku bersama dengan Dipta!' bathin Bima lagi.


Malam itu Bima sudah meyakinkan hatinya. Bahwa dia akan berusaha untuk membuat Sheila mau menerima perjodohan mereka.

__ADS_1


"Siapa calon istrimu Bima? Apakah tante mengenalnya?" tanya ibunya Dipta sangat bahagia sekali dengan kabar berita itu.


"Namanya Sheila Bramantyo, Tante! Dia Putrinya Om Farel Bramantyo dan tante Cansu Anjani." ucap Bima kemudian dia menundukkan kepalanya.


Ibunya Dipta bisa membaca, bahwa ada nada keraguan di dalam suara Bima saat ini.


"Kenapa Kau tampak ragu Bima? Apakah ada masalah?" tanya ibunya Dipta menatap tajam kepada Bima.


"Tadi malam Sheila meminta untuk kami membatalkan rencana pernikahan kami. Saya bingung harus bagaimana untuk membuat dia yakin, bahwa saya siap, bahwa saya siap untuk menikahi dia!" ucap Bima dengan suara terbata-bata.


"Terkadang seorang perempuan itu hanya butuh kepastian. Kau lamar saja Dia segera,, pasti dia akan menerimamu!" ucap ibunya Dipta sambil mengelus telapak tangan Bima yang masih menundukkan kepalanya.


"Apakah benar seperti itu tante?" tanya Bima dengan wajah yang sumringah. Seakan menemukan sesuatu jawaban mutakhir dari pertanyaan hatinya.


"Benar Bima! Terkadang seorang perempuan itu tidak suka dibuat menggantung dalam sebuah hubungan! Perempuan itu suka yang jelas-jelas dan suka sesuatu yang pasti!" Bima seketika tersenyum lalu memeluk tubuh ibunya Dipta.


"Terima kasih tante atas pencerahan yang sudah tante berikan padaku!" Bima kemudian langsung berdiri dan dia langsung berpamitan kepada ibunya Dipta.


"Baiklah tante saya akan pulang dulu. Saya harus beristirahat biar besok saya bisa mempersiapkan acara lamaran untuk calon istri saya!" dengan penuh keyakinan, Bima kemudian meninggalkan ibunya Dipta di rumah sakit.


Bima tidak merasa khawatir dengan keadaan Dipta saat ini karena ada dokter dan suster yang akan merawat Dipta di sana.


Saat ini fokusnya adalah ingin beristirahat agar besok dia bisa fresh saat melamar Sheilla. Wanita yang sejak tadi siang selalu mengganggu pikirannya.


"Aku yakin kalau Sheila juga mencintaiku. Kalau dia tidak mencintaiku, tidak mungkin dia mau menerima rencana perjodohan orang tua kami!" ucap Bima dengan penuh semangat menuju ke apartemennya sendiri untuk bisa segara istirahat.


"Aku harus tidur sekarang. Biar besok fresh dan bisa menyiapkan acara lamaran itu dengan sempurna!" ucap Bima dengan penuh semangat 45 yang sekarang menggebu di dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2