
Aku tahu kalau temanku Nadya sedang mengincar calon suamiku. Tapi aku biarkan saja. Itung-itung aku menguji cinta Mas Ali. Aku juga penasaran dengan dia. Apakah benar dia mencintai aku? Apakah dia layak menjadi calon imam ku? Semoga kalau kami memang berjodoh, semuanya di permudah. Aku melalui cobaan cinta kami dengan kehadiran Nadya dengan santai saja.
"Nad, aku ke kampus dulu, ya! Kamu kalau masih betah di pondok sini, gapapa. Bikin nyaman saja. Aku pulang agak sore, karena banyak kegiatan di kampus." aku berpamitan pada Nadya.
Aku sebenarnya tidak benar-benar pergi ke kampus, tapi aku bersembunyi di suatu tempat. Aku ingin melihat aksi Nadya mendekati calon suamiku. Penasaran juga, sama Mas Ali. Apakah dia tahan godaan dari Nadya? Satu yang lupa aku infokan, Nadya termasuk wanita berpenampilan seksi. Dia menggunakan jilbab hanya untuk menghormati pondokku saja. Masa iya, nginep di pondok pakai baju seksi? Bisa-bisa gak diijinkan Pak Kiai buat nginep disini.
Sekitar setengah jam, aku menunggu di dalam masjid SPN. Aku sengaja menyembunyikan motorku, biar ga ada yang curiga. Aku lihat Nadya keluar dari gang pondokku menuju jalan besar. Dia menggunakan motornya, tidak lama setelah itu, aku lihat Mas Ali menyusul di belakangnya.
"Mereka pasti janjian, tuh!" ucapku gemas. Aku menunggu mereka aga jauh dulu. Baru aku mengikuti mereka. Aku melihat mereka masuk ke sebuah rumah makan. Aku mengendap-endap mengikuti mereka, agar tidak dicurigai.
"Ada apa? Kenapa mengajak ketemuan tanpa Nur?" itu adalah suara Mas Ali.
"Ada yang mau aku sampaikan sama Mas. Makanya aku mau kita ketemuan di luar pondok." Nadya mencoba memegang tangan Mas Ali, tapi langsung di tepis olehnya.
"Jaga perilaku kamu! Aku tunangan temanmu. Tanggal pernikahan kami sudah di tetapkan. Jangan coba-coba menggodaku! Kamu malu lah, sama diri kamu sendiri. Kenapa kamu hidup seperti itu? Jangan ulangi lagi hal begini!" Mas Ali akan pergi dari situ, rapi Nadya malah memeluknya dari belakang.
"Tapi aku mencintaimu, Mas! Tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan cintaku kepadamu!" Nadya masih berusaha menggoda.
"Kamu lepaskan aku! Aku gak perduli kamu cinta sama aku atau tidak! Cinta aku cuma buat Nur! Dia calon istriku. Aku gak mau melihat kamu lagi! Segera keluar dari pondok, karena aku muak melihat ular macam kamu!" Mas Ali tampak geram dengan kelakuan Nadya.
Aku keluar dari persembunyianku, pura-pura baru tiba di sana. Mas Ali melihat kedatanganku. Dia langsung mendekati dan menyapaku.
"Kamu sudah lama, sayang?" tanyanya sambil tersenyum manis kepadaku.
__ADS_1
"Baru saja datang. Mas sama siapa disini?" dustaku tentunya. Hehehe. Kalau dia tahu aku memata-matai dia, dia marah gak yah?
"Mas Ali datang ke sini sama Aku!" tiba-tiba Nadya tanpa tahu malu menggandeng tangan Mas Ali. Calon suamiku tampak terkejut dan berusaha menepis tangan Nadya.
"Kamu apaan sih? Lepas gak!" Mas Ali sudah hampir habis sabarnya. Dia mengibaskan tangan Nadya dengan kasar.
"Mas kamu ko kaya gitu sih, tadi aja mesra sama aku. Giliran ada Nur, kamu jadi kasar sama aku!" rajutnya manja di samping calon suamiku.
Nadya memang ratu acting. Pintar sekali dia bersandiwara. Kalau dari awal aku tidak melihat interaksi mereka berdua, aku pasti sudah ke makan akal-akalan dia. Aku hanya tersenyum saja melihat Nadya yang mengerahkan segala kemampuan dia, untuk memecah hubungan ku dengan calon suamiku.
"Sayang, aku gak pernah mesra sama dia. Dia fitnah Mas sayang. Percaya sama Mas, Mas cuma cinta sama kamu!" Mas Ali menjauh dari Nadya dan berdiri di sampingku. Dia mengajak aku untuk pergi dari sana. Tapi Nadya tiba-tiba menangis histeris, membuat pengunjung rumah makan jadi melihat ke arah kami.
"Mas, kamu selesaikan urusan kamu sama Nadya. Aku tunggu kamu di luar!" ucapku santai. Aku juga malu jadi tontonan orang-orang.
"Sayang, kita ke toko pakaian saja ya, cari-cari pakaian buat seserahan pernikahan kita." ucapnya.
"Terserah Mas saja." ucapku sambil memeluk pinggangnya. Jangan di tiru ya. Maklumlah, kami sama-sama baru memulai hubungan, jadi masih mau mesra-mesraan. Padahal mah gak boleh dalam agama. Meskipun pernikahan kami hanya menghitung minggu. Tapi hubungan kami gak pernah melampaui batas kewajaran. Hanya sekedarnya saja. Sentuhan fisik sedikit-sedikit saja. Sekedarnya, tidak berlebihan.
"Mas, ko kamu tadi kasar sih, sama Nadya. Nadya kan cantik dan seksi Mas!" godaku padanya.
"Aku gak butuh dia. Aku cuma mau kamu!" gombalnya, tapi aku hatiku jadi nyes rasanya.
"Kamu gak mau nyobain berhubungan dengan cewek lain, Mas?" tanyaku lagi, masih penasaran.
__ADS_1
"Udah deh, sayang! Pernikahan kita udah di depan mata. Besok aku antar kamu pulang. Biar kamu bisa fokus siapin pernikahan kita." Dia mengelus tanganku yang memeluk pinggangnya.
"Gak bisa besok, Mas! Aku ada janji sama pembimbing skripsi ku. Aku juga masih sibuk dengan penelitian." protesku.
"Kapan selesai penelitian kamu?" tanyanya.
"Sekitar seminggu lagi. Baru aku bisa minta ijin sama pembimbing aku buat fokus siapin acara pernikahan kita." Dia menghembuskan nafas kasar. Tampak frustasi.
"Pernikahan kita sudah di depan mata, tapi kamu masih sibuk dengan kampus kamu! Nyaris gak ada waktu buat Mas!" aku terkejut, calon suamiku ternyata bisa merajuk juga. Hehehe. Aku syock!
"Resiko dong, Mas! Suruh siapa Mas gak sabar? Kan Pak Kiai juga bilang, kita nikahnya habis aku wisuda aja. Mas yang minta pernikahan kita dipercepat. Orang sampe ngira kalau aku MBA. Amit-amit deh!" protesku gak kalah manja dari dia.
"Mas hanya ga sabar, buat halalin kamu. Apa kamu tahu, berat banget kalau kita berdekatan kayak gini sama kamu. Pengennya di bawa ke ranjang, tapi belum halal! Hehehe!" ucapnya sambil tertawa renyah. Aku mencubit pinggangnya. Gemes jadinya.
"Awas kalau berniat macam-macam sama aku!" ancamku. Dia hanya mengelus tanganku yang tadi cubit pinggangnya.
"Mas masih bisa bersabar kok, jangan khawatir. Tapi kamu harus janji, jaga hati kamu. Jangan sampai ada pria lain di sana!" ancamnya.
"Yang ada aku yang harus bilang gitu! Siapa coba, yang barusan dapat pelukan dari Nadya?" tanyaku balik. Tapi dia biasa aja nanggepinnya.
"Kan dia yang godain Mas! Mas gak nanggapin dia kok! Demi Allah! Mas cuma cinta sama kamu!" ucapnya mantap.
"Ternyata Pak jenderal juga bisa ngegombal juga ya?" godaku, tapi aku sangat bahagia.
__ADS_1
"Mas cuma gombalin kamu doang, sayang!" ucapnya. Kami berbelanja pakaian untuk seserahan pernikahan nanti. Nyicil, biar nanti di bungkus dan dipersiapkan di rumah liliknya.