
Setelah selesai makan malam, Dipta dan Bima kemudian berbincang-bincang sejenak. Untuk membicarakan keperluan Bima untuk menemui Dipta malam ini.
"Cepat katakan, apa yang kau butuhkan! Aku sudah mengantuk!" ucap Dipta dan kini dia bahkan berbaring di sofa.
Berkali-kali Dipta menguap, menahankan rasa kantuk yang telah menyerang dirinya.
"Kayaknya besok aja deh! Lu juga nggak kondusif untuk dengerin masalah gue!" ucap Bima pada akhirnya dan ketika dia melirik kepada Dipta, ternyata sahabatnya itu sudah tidur di sofa.
Bima hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu. Yang benar-benar membuatnya jadi kesal.
Bima kemudian mengambil selimut untuk Dipta dan dia sendiri, kemudian tidur di bawahnya, tepat di dekat Dipta yang kini tidur di atas sofa.
Karena Bima pun sudah mengantuk Akhirnya dia pun dengan cepat terlelap dalam tidur. Dipta sudah melupakan tujuannya untuk datang ke apartemennya Dipta saat ini.
Keesokan paginya, Bima yang bangun duluan pun, setelah salat subuh, Bima langsung mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua. Dimas sangat handal dalam hal masak-memasak.
Bima adalah seorang pria paket komplit yang memiliki segalanya bagi seorang perempuan untuk mencintainya.
Entah apa yang membuatnya sampai sekarang masih bertahan menjadi seorang pria lajang. Walaupun sebetulnya banyak wanita yang mengantri untuk menjadi istrinya.
Dipta mulai bergerak, saat mencium aroma masakan yang begitu sedap dan enak. Dia pun melihat ke arah dapur yang ternyata Bima yang sedang memasak di sana.
"Pagi-pagi kau sudah memasak. Memangnya kau tidur di sini?" tanya Dipta sambil berjalan menuju kamarnya.
"Cepatlah mandinya nanti makanan yang dingin!" teriak Bima ketika melihat sahabatnya masuk ke kamarnya.
Sekitar 15 menit kemudian, Dipta sudah keluar dari kamarnya. Sudah rapi dan wangi. Dipta juga sudah menggunakan setelannya dan sudah bersiap untuk pergi ke kantor.
Bima mengerutkan keningnya melihat penampilan Dita yang begitu luar biasa.
__ADS_1
"Kau mau berangkat ke kantor?" hanya Bima sambil mendekati Dipta yang saat ini sedang duduk di meja makan.
"Ya, lah! Emangnya mana lagi? Pekerjaanku kan memang di kantor!" jawab Dipta sambil mulai memakan masarapan yang sudah disiapkan oleh Bima.
"Duduklah di sini, Bima! Ayolah kita makan sama-sama!" ucap Dipta memanggil Bima yang masih sibuk mencuci alat-alat masak bekas dia memasak tadi.
Karena sedang tanggung, akhirnya Bima mengacuhkan panggilan Dipta. Dia masih saja melanjutkan pekerjaannya mencuci perkakas masak.
Dipta hanya menarik nafas dengan dalam. Kemudian dia melanjutkan makan sarapan yang sudah dipersiapkan oleh Bima.
"Kau tahu? Kalau orang lain melihatmu seperti itu, mereka pasti akan salah paham dengan kita berdua. Pasti mereka akan mengira kalau kita ini orang-orang nggak normal!" ucap Dipta sambil mengunyah makanannya.
"Aku tidak peduli dengan pikiran orang lain. Selama aku tidak berbuat salah dan aku juga tidak pernah merugikan siapapun!" ucap Bima, kemudian dia mendekat kepada Dipta yang tampaknya sudah mulai selesai dengan makanannya.
"Persahabatan kita adalah ketulusan dan saya tidak pernah berpikir positif negatif terhadap kamu. Saya menganggapmu sebagai saudara saya!" ucap Bima dan dia mulai mengambil makanan untuk sarapannya.
"Ya, sudah! Kau lanjutkan dulu makanmu ya? Aku akan menyiapkan beberapa berkas untuk nanti aku bawa ke kantor dan setelah itu kita bicara tentang apa yang ingin kau bicarakan tadi malam!" motif tas ambil bangkit dari duduknya kemudian dia pun pergi ke ruang kerja miliknya.
"Capat katakan! Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" ucap Dipta begitu dia sudah berhadapan dengan Bima.
Bima tampak menarik nafas dengan dalam, kemudian dia menatap Dipta secara intens. Bima tampak kesulitan untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan kepada Dipta sahabatnya.
" Apa yang ingin kau katakan? Kenapa sulit sekali?" ucap Dipta sudah tidak sabar menunggu apa yang ingin disampaikan oleh Bima. Karena waktu semakin cepat berjalan. Kalau semakin lama dia bisa-bisa terlambat datang ke kantor.
"Kau memiliki hubungan apa dengan Anjani?" tanya Bima sambil menatap kepada Dipta.
Dipta mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang akan ditanyakan oleh sahabatnya itu.
"Kenapa tiba-tiba bertanya tentang Anjani?" tanya Dipta merasa keheranan melihat Bima.
__ADS_1
"Kau itu kebiasaan sekali! Kalau ditanya orang malah ikut balik bertanya!" protes Bima misuh misuh kepada Dipta.
Dipta tampak tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bima.
"Aku dan Anjani Itu hanya berteman biasa saja! Bahkan kami baru bertemu cuma dua kali!" jawab Dipta yang sejujurnya mengenai hubungannya dengan Anjani.
"Baguslah! Aku kira tadinya dia itu adalah orang yang penting dalam hidup kamu. Aku sudah sangat khawatir sekali!" ucap Bima sambil menarik nafas dengan lega.
Dipta merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Bima saat ini.
"Sebenarnya kau ini mau mengatakan apa, sih? Kenapa berputar-putar begini? Cepatlah waktuku sempit!" ucap Dipta sudah mulai hilang kesabarannya.
Bima kemudian tersenyum kepada Dipta
"Ya Allah! Lihatlah! Bahkan kau sekarang tersenyum. Kenapa sih? Kok kamu aneh sekali hari ini? Cepatlah apa yang kau ingin katakan?" ulang Dipta kembali bertanya kepada Bima.
Tiba-tiba saja wajah Bima berubah menjadi serius. Sehingga membuat Dipta jadi bingung sekarang. Sebetulnya ada masalah apa, yang ingin dibicarakan oleh sahabatnya itu? Yang tampaknya sangat kesulitan untuk mulai mengungkapkannya pada dirinya.
"Tadi malam, aku mendapatkan laporan dari dokter yang menangani Anjani! Kondisi Anjani Itu parah. Kalaupun operasi berhasil, itu ada kemungkinan bisa mengakibatkan kemungkinan buta maupun lumpuh!" ucap Bima kini dengan wajah yang serius.
"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Dipta kebingungan.
"Ya! Aku khawatir saja, kalau Anjani Itu calon istrimu ataupun sesuatu seperti itu!" ucap Bima sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Dipta melipat kedua tangannya di depan dada kemudian dia menatap Bima secara serius.
"Emangnya kenapa kalau pun aku menjadikan dia sebagai calon istriku? Emangnya ada masalah denganmu? Anjani itu gadis yang baik! Walaupun dia punya penyakit parah dan semacam itu. Tetapi dia gadis yang baik dan mempunyai semangat hidup!" ucap Dipta sambil menatap kepada Bima.
"Gue cuma khawatir aja, kalau lu nanti akan sedih lagi karena kehilangan wanita yang Kau cintai. Kalau kau bersama dengan Anjani, karena kehidupannya akan selalu dalam bahaya! Penyakit kanker yang dia derita bisa balik lagi kapan saja, walaupun berhasil dalam operasi!" ucap Bima menjelaskan kondisi Anjani saat ini.
__ADS_1
"Gue hanya menganggap Anjani sebagai sahabat, sebagai teman. Tidak pernah berpikir akan menjadikan dia sebagai calon istriku. Gue memperhatikan dia hanya merasa prihatin dan kasihan saja. Tidak lebih dari itu!" ucap Dipta yang membuat Bima menjadi lega