
Keesokan harinya Bima langsung bergegas pergi ke rumah Stella. Karena dia butuh sebuah konfirmasi apakah rencana pernikahan mereka akan dilanjutkan ataukah dibatalkan.
"Ingat Bima jangan utamakan gengsimu buang jauh-jauh itu kalau tidak kau akan kehilangan cinta lagi dalam hidupmu!" ucap Dipta ketika dia mengantarkan Bima untuk pergi ke rumah Shella.
"Tenanglah Bro gue juga tahu kok harus melakukan apa kalau memang dia jodoh gue pasti semuanya dimudahkan kalau memang bukan jodoh ya mau diapain lagi kita bisa pasrah aja!" ucap Dimas sambil senyum kepada Dipta yang mengantarkannya dengan penuh kepercayaan diri bahwa sahabatnya pasti akan bisa melewati masa terberatnya saat ini.
"Gue percaya sama lu bro! Pasti lo bisa menyelamatkan pernikahan lo sama Sheila. Semangat ya! Gue pasti doain yang terbaik buat lu!" Ucap Dipta memberikan kepercayaan diri yang besar kepada sahabatnya untuk bisa melewati semuanya.
Sejak dahulu memang Dipta selalu bisa memberikan mood booster kepada Bima untuk melakukan hal paling mustahil sekalipun.
"Gue Pokoknya nggak boleh nyerah kalau tidak gue pasti akan menyesal seumur hidup! Cukup Rianti yang pernah menghilang dari hidupku!" ucap Dima sambil terus mengemudikan mobilnya menuju kediaman Sheila yang tempatnya tidak terlalu jauh dari apartemen Dipta.
Begitu sampai di kediaman Bramantyo. Seketika Bima merasakan ragu hatinya. Dia terus menimbang-nimbang. Apakah dia akan masuk ke dalam sana ataukah tidak.
"Ya Tuhan! Kenapa sudah di sini tiba-tiba hatiku merasa seperti ini? Apakah ini adalah pertanda bahwa Sheilla memang bukan jodohku?" Bima masih diam di dalam mobilnya menatap kesibukan yang ada di dalam kediaman Bramantyo.
Bima tampak mengerutkan keningnya ketika melihat begitu banyak orang-orang yang sedang hadir di kediaman Bramantyo.
"Ada apa ini kenapa begitu ramai di kediaman ini?" tanya Bima penuh rasa was-was dan juga rasa khawatir.
memenuhi segala insting yang dia miliki Bima akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam kediaman Bramantyo dan melihat ada apa gerangan keramaian yang sedang terjadi di sana.
"Bukankah kembalian Sheilla bilang kalau pernikahan kami akan dibatalkan? Kenapa di sini masih ada ramai-ramai ya Allah? Kenapa ini benar-benar mencurigakan?" Bima terus bermonolog dengan dirinya sendiri merasa khawatir dan takut apabila sesuatu yang ada di dalam pikirannya benar-benar terjadi.
"Tidak mungkin kan kalau Sheilla akan menikah dengan orang lain? Ya Allah tapi kenapa? Apa alasannya?" Bima sudah kehilangan pikirannya saat ini.
__ADS_1
"Mas Bima sedang apa di sini? Kenapa tidak masuk ke dalam?" tanya seorang wanita paruh baya yang Bima ketahui adalah pembantu di kediaman Bramantyo.
"Maafkan saya Bi di dalam lagi ada keramaian apa ya?" tanya Bima dengan suara gemetar karena saat ini dia sedang berpikir bahwa di dalam sana kemungkinan sedang terjadi sebuah pernikahan.
"Oh di dalam Nyonya sama Tuan sedang mengadakan pengajian ibu-ibu. Bukankah besok adalah pernikahan Non Sheilla sama Den Bima?" tanya pembantu tersebut seperti merasa heran dengan pertanyaan Bima yang menurutnya sangat aneh.
"Den Bima ini ada-ada aja! Masa tidak ingat dengan hari pernikahannya sendiri sih? Awas ya, jangan sampai nanti besok Den Bima tidak datang ke sini ya?" ucap pembantu tersebut sambil tersenyum kepada Bima dengan penuh kebahagiaan.
"Apakah Shella ada di dalam rumah?" tanya Bima dia masih belum percaya bahwa kesibukan yang ada di dalam kediaman itu adalah untuk pernikahannya.
'Aku harus mengkonfirmasi semuanya kepada Sheilla. Jangan sampai nanti keluargaku dipermalukan ketika datang kemari!' ucap Bima dalam hati. Sambil terus mondar-mandir di depan pembantu tersebut yang mengkerutkan keningnya karena bingung dengan kelakuan Bima yang menurutnya sangat aneh.
"Den Bima ini kenapa to? Kok aneh sekali. Dari tadi mondar-mandir terus mau saya panggilkan Nona Sheilla?" tanya si Bibi.
"Baiklah Bi! Tolong panggilkan Sheilla ke sini karena saya ingin berbincang sebentar dengannya!" ucap Bima dengan suara gemetar dan rasa gugup yang luar biasa.
"Maaf Den Bima! Nyonya Cansu bilang kalian tidak boleh bertemu, sebelum hari pernikahan besok. Saat ini Non Sheilla sedang dipingit!" ucapnya sambil tersenyum kepada Bima.
'Aku tidak salah dengarkan? Apa benar kalau Sheilla menikah akan denganku? Tapi kemarin Sheilla bilang bahwa dia ingin membatalkan pernikahannya. Lalu apa yang saat ini sedang terjadi ya Allah?" begitu banyak keraguan saat ini yang ada di dalam pikiran Bima sehingga membuatnya benar-benar tidak konsen untuk melakukan apapun karena terlalu pusing memikirkan ucapan salah pada malam terakhir mereka bertemu.
"Bi Apakah saya bisa bertemu dengan Tuan Farel Bramantyo maupun istrinya?" tanya Bima dengan keraguan yang menyelimuti hatinya.
"Sebentar ya Den! Soalnya di dalam tuh lagi ada pengajian. Jadi Tuan dan Nyonya sedang menyertai pengajian tersebut. Nanti saya coba ya. Apakah beliau mau menemui dan Bima atau tidak! Oh iya dan Bima mau minum apa biar sekalian Bibi bawa ke sini!" Bima hanya menggelengkan kepalanya.
Karena saat ini Dia tidak sedang berselera untuk melakukan apapun. Dia hanya ingin mengkonfirmasi tentang acara pernikahan yang besok akan dilaksanakan.
__ADS_1
"Ada apa Bima? Kamu bukannya beristirahat di rumah untuk pernikahanmu besok. Kenapa kau marah datang jauh-jauh ke sini?" tiba-tiba saja Farel sudah berdiri di depan Bima yang sejak tadi hanya melamun saja.
"Maafkan saya om saya benar-benar dalam keadaan yang bingung saat ini. Oleh karena itu saya datang ke sini untuk mengkonfirmasi sesuatu!" ucap Bima dengan suara gemetar Karena bagaimanapun dia merasa gentar berhadapan dengan Farel Bramantyo.
"Bingung kenapa? Sebagai calon pengantin tidak boleh terpengaruh dengan hal yang tidak penting. Sekarang kamu sebaiknya fokus untuk mempersiapkan hari esok, supaya ijab kabul besok lancar. Udah sana pulang istirahat yang cukup. Supaya besok menjadi lebih fresh!" ucap Farel menyuruh Bima untuk kembali ke rumahnya.
"Om saya benar-benar butuh untuk bertemu dengan Sheilla. Apakah bisa Om untuk mempertemukan kami sebentar saja? Saya rasa 5 menit mungkin cukup untuk saya bicara dengannya!" ucap Bima pelan sambil menatap kepada Farel.
"Apakah kamu ingin bertanya tentang keinginan Sheila perihal Untuk membatalkan pernikahan kalian?" tanya Farel sambil menatap dengan serius kepada Bima yang saat ini sedang lemas tak bertenaga rasanya.
"Jadi Sheila bercerita tentang itu kepada Om?" tanya Bima.
"Tadi malam Sheila memang datang kepada om dan tante. Dia menginginkan untuk membatalkan pernikahan kalian. Akan tetapi om dan tante sudah menasehatinya untuk jangan terbawa emosi dan juga terbawa sifat ragu-ragu yang pasti akan selalu hadir di saat seseorang hendak menjalani pernikahan dan sekarang dia sudah tenang!" ucaF farel mengatakan yang sesungguhnya mengenai keinginan Syeilla untuk membatalkan pernikahan mereka berdua.
"Kamu seorang laki-laki Bim kamu harus memiliki hati yang lapang dan kesabaran yang luas. Untuk bisa menghadapi seorang perempuan. Sheila saat ini memang sedang bimbang hatinya mengenai rencana pernikahan kalian. Mungkin dia merasa tidak senang melihat hubunganmu dengan Dipta. Apalagi di kantor Dipta menyebar banyak sekali rumor tentang kalian berdua!" Uca Farel menjelaskan segala situasi yang dirasakan oleh putrinya saat ini.
"Hubunganku dengan Dipta adalah murni persahabatan dan persaudaraan. Tidak ada nafsu kotor di antara kami berdua, Om! Kenapa Syeilla tidak pernah bisa mengerti tentang persahabatanku bersama dengan Dipta?" ucap Bima dengan mata berapi-api.
Bima benar-benar merasa kesal dan juga sakit hati dengan pemikiran Sheilla akan hubungan dirinya dan Dipta.
"Tolong maafkan saya Om. Tampaknya option membatalkan pernikahan mungkin adalah jalan yang terbaik. Tidak akan ada akhir yang baik apabila di dalam sebuah pernikahan tidak ada kepercayaan kepada pasangannya. pasti hanya akan ada saling melukai dan menyakiti satu sama lain!" ucap Bima dengan suara gemetar nampak air matanya sudah lolos begitu saja tanpa dia sadari.
"Kenapa kau pun berpikir seperti itu Bima? Bagaimana dengan pernikahan yang sudah Om persiapkan Bima? Apakah kau pernah memikirkan tentang rasa malu yang akan kami tanggung?" tanya Farel dengan menatap tajam kepada Bima yang saat ini sedang menundukkan kepalanya dan menahan air mata sekuatnya untuk tidak lagi mengalir.
"Tapi saya pun tidak mampu Om untuk menjalani pernikahan semacam ini. Bagaimanapun Dipta adalah sahabat saya selama 20 tahun. Saya hidup bersamanya menjalani segala suka dan duka bersama dia. Bagaimana mungkin saya bisa melepaskan seorang sahabat yang begitu mencintai saya dan menyayangi saya?" ucap Bima sambil menatap nanar kepada Farel yang saat ini sedang menatapnya dengan serius.
__ADS_1
"Saya mencintai Sheila Om! Tetapi kalau Sheila tidak bisa menerima sahabat Bima. Bima tidak akan bisa menerima itu!" ucap Bima kemudian dia pun meninggalkan kediaman Bramantyo dengan perasaan yang hancur lebur.