
Setelah kepergian Bagas ke ruang operasi. Suasana tiba-tiba menjadi hening. karena masing-masing dari mereka sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya kedua orang tua Bagas datang dengan tergopoh-gopoh karena mereka baru sampai dari Jawa Tengah.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Mang Diman kepada mereka yang saat ini sedang menunggu Riyanti di depan kamar perawatannya.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" ucap Ali dan yang lainnya.
" Pak Kyai. Bagaimana keadaan menantu saya di mana Bagas? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya ibunya Bagas begitu bertemu dengan Nur dan Kyai yang dia kenal dahulu sebagai tetangganya ketika mereka masih tinggal di Jakarta dan bekerja kepada kedua orang tua Riyanti.
" Rianti masih belum sadarkan diri dari pengaruh obat bius. Setelah menjalani operasi." ucap Nur menjelaskan kepada ibunya Bagas yang baru datang dari Jawa Tengah.
" Duduk dulu, Ibu dan Bapak! Kalian pasti sangat lelah setelah menjalani perjalanannya begitu jauh!" ucap Dipta mempersilakan kepada kedua orang tua Bagas untuk duduk diantara mereka.
Tiba-tiba saja ponsel Nur berdering sehingga mengagetkan mereka yang sedang serius.
" Maafkan saya saya akan mengangkat telepon ini karena ini berasal dari pondok!" ucap Nur berpamitan kepada mereka. Nur memberi kode kepada suaminya untuk mengikutinya.
Ali dan Nur kemudian menjauh dari mereka semua dan mengangkat telepon tersebut.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa Ustadz? Apakah ada sesuatu yang penting?" tanya Nur kepada orang yang meneleponnya saat ini.
" Begini Bu Nyai. Sekarang di pondok ada polisi yang mencari Pak Kyai!" ucap Hamid yang menelpon Nur.
" Baiklah katakan kepada petugas polisi bahwa kami akan segera datang ke pondok!" ucap Nur kemudian menutup panggilan tersebut. Ali menatap istrinya.
" Bagaimana ini Bah? Ibunya Nadia sungguhan dan dia benar-benar melaporkan kita ke kantor polisi. Apa yang harus sekarang kita lakukan?" tanya Nur mulai panik.
__ADS_1
" Ada apa Pak Kyai?" tanya Dipta ketika melihat raut wajah Nur yang tampak khawatir.
" Ibunya Nadia benar-benar melaporkan kami ke kantor polisi dan saat ini petugas polisi sudah ada di pondok untuk menangkap kami!" ucap Ali kepada Dipta.
Dipta merasa terkejut dengan berita yang dia dapatkan. " Bagaimana mungkin bisa secepat ini? Bukankah seharusnya dia saat ini sedang sibuk untuk pemakaman Nadia?" tanya Dipta kebingungan.
" Baiklah Dipta kami akan segera ke pondok. Jangan sampai nanti polisi mengira bahwa kami kabur dan itu akan menjadi beban berat untuk kami!" ucap Nur.
" Saya akan menemani kalian dan saya akan menjadi saksi bahwa kalian tidak bersalah!" ucap difta memberikan dukungan kepada pasangan suami istri yang sudah berusaha sangat keras untuk membasmi kezaliman di atas muka bumi ini.
" Terima kasih Dipta. Tapi saat ini kedua orang tuanya Bagas pasti butuh untuk ditemani oleh kamu. Karena mereka pasti masih bingung dengan kondisi Rianti saat ini!" ucap Nur.
" Baiklah kalau begitu Pak Kyai. Saya akan menghubungi pengacara saya untuk bisa menemani kalian dalam menghadapi kasus ini!" ucap Dipta kemudian dia pun langsung menghubungi pengacara perusahaannya untuk membantu mereka berdua lepas dari jeratan kasus yang telah dilaporkan oleh ibunya Rianti.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pak pengacara! Saya ingin anda untuk membantu sahabat saya dalam menghadapi sebuah kasus. Dan tolong anda datang untuk ke pondok sekarang dan usahakan untuk membantunya melawan kasus ini! Nanti saya sendiri yang akan menjadi saksi bahwa keduanya tidak bersalah dalam kasus ini!" ucap Dipta bicara kepada pengacaranya.
" Saya baru tahu! Kita berusaha membantu orang lain dan hasilnya kita malah dilaporkan ke kantor polisi!" ucap Nur dengan kesal.
" Sabarlah memang tidak mudah jalan menuju dakwah dan menebarkan kebaikan di muka bumi. Akan banyak air melintang yang menghadang. Kita harus tetap kuat dan teguh untuk menghadapi semua itu!" ucap Ali berusaha untuk menghibur istrinya yang saat ini sedang resah dengan ulah ibunya Nadia yang melaporkan mereka berdua ke kantor polisi.
" Tenanglah Nur! Team pengacara dari perusahaan saya akan membantu kalian. Kalian bisa tenang menghadapi kasus ini!" ucap Dipta menghibur Nur yang masih kalut.
" Baiklah kami berdua langsung pergi ke pondok. Jangan sampai nanti polisi mengira bahwa kami kabur dan tidak mau bekerja sama dengan mereka!" ucap Ali.
Mereka berdua kemudian berpamitan kepada kedua orang tua Bagas yang tampak bingung melihat mereka berdua yang tiba-tiba pergi setelah kedatangan mereka.
__ADS_1
" Maafkan kami berdua ya Bu. Karena kami tidak bisa menemani kalian disini. Kami harus segera kembali ke pondok pesantren. Karena ada urusan mendesak di sana!" ucap Nur berpamitan kepada kedua orang tua Bagas.
" Hati-hati dan terima kasih karena sudah menjaga menantu Saya di rumah sakit!" ucap ibunya Bagas dengan penuh rasa syukur kepada mereka berdua.
Mereka pun kemudian Langsung kembali ke pondok dan menghadapi polisi yang sudah menunggu mereka berdua.
Dipta benar-benar habis pikir dengan pikiran ibunya Riyanti yang begitu tega melaporkan mereka atas kasus pembunuhan Nadia.
Dipta menatap kedua orang tua Bagas yang masih tampak kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh.
" Dokter Bagas saat ini sedang di ruang operasi. Karena tadi ada pasien darurat yang membutuhkannya. Apakah kalian berdua keberatan? Kalau saya meninggalkan kalian di sini. Karena saya harus mengurus sesuatu yang darurat untuk menolong mereka berdua." ucap Dipta berpamitan kepada kedua orang tua Bagas yang tampak masih bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.
" Sebenarnya ada apa Mas Dipta? Kenapa Saya merasakan ada aura yang tidak baik di tempat ini!" ucap Mang Diman kepada Dipta.
Dipta tampak ragu-ragu untuk menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Tetapi dia pikir mereka berdua memang mempunyai hak untuk mengetahui jejadian yang sesungguhnya. Agar mereka tidak bingung seperti saat ini.
' Tetapi rasanya Dokter Bagas yang lebih berhak untuk menceritakan semua itu kepada mereka. Aku hanyalah orang luar di sini. Biarlah sebaiknya aku segera mengurus tentang laporan itu dan menemui ayahnya Nadia untuk mengkonfirmasi semua yang saat ini sedang terjadi kepada Nur dan suaminya!' batin Bagas memikirkan tindakan apa yang saat ini akan dia lakukan.
" Maafkan saya pak dan ibu. Ini bukan ranah saya untuk menjelaskannya. Nanti kalian bisa bertanya kepada Dokter Bagas. Setelah dia selesai melakukan operasi. Saat ini saya harus meninggalkan rumah sakit untuk mengurus sesuatu yang darurat!" ucap Dipta berpamitan kepada kedua orang tua Bagas.
" Baiklah kami mengerti Mas Dipta. Kau berhati-hatilah di jalan dan semoga urusanmu lancar jaya!" doa ayahnya Bagas Kepada Dipta yang langsung meninggalkan mereka berdua dan pergi ke kediaman Nadia.
Dipta langsung memberhentikan taksi yang kebetulan melintas di depan rumah sakit.
" Tolong ke Hotel Permata!" ucap Dipta memberikan perintah kepada sopir taksi tersebut. Karena dia harus mengambil mobilnya yang ada di basement hotel tempat Bima saat ini sedang melaksanakan resepsi pernikahannya bersama dengan Sheila.
__ADS_1
" Semoga saja ayahnya Nadia bisa membujuk istrinya untuk yang mencabut laporan itu. kasihan Nur dan suaminya. Mereka sudah berusaha sangat keras untuk menolong kami semua dari cengkraman mahluk ghaib itu. Tetapi seperti ini balasannya. Sungguh benar-benar tidak punya akhlak!" ucap Dipta dengan geram ketika mengingat kembali apa yang dilakukan oleh ibunya Nadia yang tidak tahu terimakasih.
"Kita sudah sampai Mas di tempat tujuan!" ucap supir taksi menyadarkan Dipta dari lamunannya.