
Nadya masuk ke dalam rumahnya, lalu dia mengambil uang cash miliknya di dalam berangkas, sebanyak 30 juta. Nadya tersenyum saat melihat tumpukan uang tersebut yang dia letakan di sebuah plastik hitam.
Nadya lalu keluar dari kamarnya, dia memanggil Ali agar masuk ke dalam ruang tamu, Ali masuk ke dalam karena Nadya terus saja berteriak memanggil namanya.
"Ada apa, Bu Nadya?" tanya Ali panik.
"Panggil aku Nadya saja, aku gak mau di panggil ibu. Aku masih lajang, belum setua itu!" protes Nadya tidak suka.
"Maaf, saya memanggil kamu Ibu, bukan karena menganggap kamu tua. Tapi karena kamu adalah majikan saya." ucap Ali dengan sopan.
"Aih, duduklah! Kita ini teman, kenapa sungkan begitu? Ayo duduk! Cape leher saya kalau harus melihat ke atas terus!" Ali lalu duduk di sofa yang jaraknya agak jauh dari Nadya.
"Maaf, Bu Nadya!" Ali duduk dengan menundukkan kepalanya, berusaha menjaga pandangan karena saat ini Nadya menggunakan pakaian yang menurutnya sangat sexy, saat ini Nadya hanya menggunakan tank top dan Hot pan sehingga kaki jenjang dan pahanya terekspos sangat jelas dihadapannya. Hatinya sudah kebat kebit.
"Ini uang yang tadi saya janjikan, 30 juta. Mas bisa gunakan uang itu untuk memulai bisnis apapun." ucap Nadya sambil menunduk, auto bongkahan dadanya yang besar seperti mau keluar dari tank top yang kini dia gunakan.
"Terima kasih, saya pasti akan menggunakan uang ini sebaik mungkin, silahkan nanti Anda langsung mengambil semua gaji saya setiap bulannya, saya juga nanti akan menyisihkan laba usaha, agar hutang saya segera lunas." Ali lalu bangkit dari kursi dan hendak keluar dari sana.
"Mas, kok kamu main pergi gitu aja sih? Kan aku belum selesai bicara!" Nadya semakin mendekat dan memepet di samping Ali yang saat ini sudah gemetaran, bahkan keringat dingin sudah membasahi keningnya.
__ADS_1
"Maaf, Nad! Sa sa saya keluar dulu. Terima kasih atas kebaikan kamu, sudah percaya meminjam kan uang ini. Saya janji akan kerja dengan baik. Permisi!" Ali menyambar uang yang ada di atas meja, secepat kilat langsung keluar dari rumah Nadya. Nadya yang gagal menggoda pria pujaan hatinya, merasa sangat jengkel di buatnya.
Ali langsung masuk ke rumah yang akan dia tempati, di lihatnya istrinya sedang tertidur di kamar mereka. Tampaknya kelelahan setelah beres-beres rumah tersebut. Ali bernafas lega.
"Alhamdulillah, istriku tadi tidak melihat kejadian penuh maksiat itu!" ucap Ali sambil mengelus dada. Ali memasukan kresek yang berisi uang pinjaman dari Nadya. Rencananya besok akan ke Cirebon dan memulai bisnis beras dengan mertuanya yang seorang juragan beras.
"Besok aku akan mencari toko untuk Nur jualaan. Jadi nanti aku bisa kerja di sini dengan tenang. Aku gak mau Nur kerja cape dan diperintah-perintah oleh orang lain!" ucap Ali bermonolog sendiri. Malam sudah agak larut. Ali memutuskan untuk sholat isya dulu. Lalu akan tidur di samping istrinya yang amat dia cintai.
Setelah sholat, Ali berdoa dengan khusyuk. "Ya Allah, hamba mohon, lindungi hamba selalu dari kejahatan manusia maupun jin, yang berniat merusak rumah tangga hamba bersama istriku, Amien!" Ali lalu melipat sajadah, mengaji sebentar agar hatinya merasa tenang. Jujur, kejadian dirinya hampir di perkosa oleh Nadya cukup membuat syock. Setelah hatinya tenang, Ali pergi ke kasur dan memeluk sang istri dari belakang.
Nur bergerak dan membuka matanya, "Mas sudah pulang? Tadi dari mana, kok lama sekali!" tanya Nur sambil memeluk sang suami.
"Tadi Nadya memanggil Mas ke rumah dia." jawab Ali, jujur. Sontak Nur bangkit dari tidurnya.
"Kan kamu bilang mau bisnis, tadi Mas sedang merenung sejenak di depan, Nadya melihat Mas, lalu nanya-nanya kenapa sama Mas, ya Mas jawab jujur, kalau Mas lagi butuh uang, buat memulai bisnis. Mas coba hubungi orang tua Mas di Sulawesi. Tapi katanya gak bisa bantu. Nadya menawarkan pinjaman. Nanti langsung di bayar dengan gaji Mas kerja sama dia." Ali lalu bangun dan menuju lemari. Mengambil kresek berisi uang pinjaman dari Nadya.
"Ini uangnya, besok Mas akan mencari toko untuk kamu mulai bisa berbisnis, setelah itu kita ke Cirebon, bertemu sama Papah, untuk bisa mensuplai beras ke sini. Kita kasih uang untuk modal tersebut." jawab Ali sambil menunjukkan uang tersebut pada istrinya.
"Mas, kalau tahu begini, Aku lebih baik gak usah punya toko. Aku gak mau kita berhutang sama Nadya. Aku tahu kalau dia itu ada rasa sama kamu, Mas!" rajut Nur sambil menyembunyikan kepalanya di dada sang suami.
__ADS_1
"Sayang, Mas ini apa sih yang menarik? Hanya pria biasa. Nadya itu gadis muda yang cantik dan juga kaya. Dia bisa mendapatkan pria yang lebih segalanya dari Mas! Udah, jangan khawatir sama Mas, Mas insyaallah bisa jaga diri. Allah akan selalu jaga Mas. Kamu harus yakin dan percaya sama Mas. Ok?" hibur Ali agar istrinya tenang.
Walaupun dalam hatinya kebat kebit tidak karuan. Baru sehari kerja disini, tadi dirinya hampir di perkosa oleh Nadya. 'Aku harus terus berhati-hati, harus banyak berdoa, agar Allah selalu menjaga imanku, agar tidak tergoda dengan bujukan setan yang terkutuk!' bathin Ali sambil mencium pucuk kepala istrinya yang masih misuh misuh.
"Kamu sudah sholat isya?" tanya Ali.
"Sudah, Mas! Hanya belum makan malam saja. Tadi aku nunggu Mas, gak enak makan sendiri!" ucap Nur sambil tersenyum.
"Ya udah, sayang! Kamu tunggu dulu di sini, Mas keluar sebentar, mo beli makan malam dulu." Ali lalu mengambil jaket yang dia gantung dan juga kunci motornya, lalu keluar rumah.
"Hati-hati ya, Mas! Jangan lama-lama, aku dan anak kita sudah lapar soalnya." Nur lalu mencium pipi suaminya sekilas.
Tanpa mereka sadari, di jendela kamarnya, Nadya menatap sinis dan penuh kecemburuan melihat suami istri yang terlalu romantis di matanya. Nadya cemburu saat melihat pria idamannya mencium bibir istrinya dengan lembut.
"Aku pasti akan bisa membuat kamu jatuh ke pelukan aku! Dan lupa dengan istri kampungan kamu!" ucap Nadya sambil mengepalkan tangannya. Kesal dan sebal.
"Nad, apa kamu ada di dalam?" tanya Aisyah.
"Ya, ada apa?" Nadya lalu membuka pintu kamarnya. Aisyah masih termasuk sepupunya Nadya. Makanya Aisyah tinggal satu rumah dengan Nadya. Bukan tinggal di kontrakan atau kost yang Nadya kelola.
__ADS_1
"Nad, aku cuma mau bilang sama kamu. Tolong jangan diteruskan cinta gak masuk akal kamu itu. Mereka masih pengantin baru, bahkan sekarang katanya istrinya sedang hamil dua bulan. Jangan jadi wanita jahat, please!" pinta Aisyah yang ditanggapi sinis oleh Nadya.
"Kamu kalau masih mau tinggal di rumahku, gak usah julid dengan urusan aku. Paham?" Nadya lalu mengunci kamarnya. Kesal dengan sepupunya. Selalu saja nasehat yang sama. Bikin hati jadi pansa dan marah saja.