Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
205. Apa itu benar?


__ADS_3

" Apa itu benar?" tanya Elena dengan kesal.


" Apa yang benar?" tanya Raffi.


" Di antara kami berdua, mana yang akan menjadi istri pertamamu dan mana yang akan menjadi istri keduamu?" tanya Elena dengan frontal sambil menatap tajam ke arah Raffi yang saat ini sedang menggelengkan kepalanya.


" Puas kau menimpakan bom atom ke atas kepalaku?" tanya Raffi dengan kesal kepada Rehan yang saat ini sedang tertawa terbahak-bahak.


" Ayolah Bro! Mereka gadis-gadis yang cantik bukan? Yang satu gadia solehah dan yang satu gadis muslihat! Hahaha!" ucap Rehan Sambil tertawa terbahak-bahak.


" Eh Rehan! Siapa yang kau bilang gadis muslihat dan siapa yang kau bilang gadis solehah, huh?" Elena sudah mencak-mencak kepada Rehan yang sejak tadi terus mengolok-olok dirinya bersama Raffi.


" Ya ampun kau jadi gadis sensitif sekali!" ucap Rehan sambil menggelengkan kepalanya.


" Sudahlah Bro! Tolong jangan mulai lagi keusilanmu dan kejahilan kamu untuk menyakiti orang lain tidak semua orang suka bercanda!" ucap Raffi mengakhiri perdebatan di antara Rehan dan Elena.


Akhirnya tidak ada percakapan di dalam mobil lagi. Karena semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing.


Dinda yang tampak cemburu dengan kedekatan Raffi dan Elena. Dia hanya bisa menahan dirinya dengan terus mengucapkan istighfar di dalam hatinya. Agar tidak sampai mengeluarkan kata-kata yang buruk kepada orang lain. Dan menyakiti orang lain.


" Rehan jangan lupa berhenti di butik. Kita mencarikan pakaian untuk Elena dulu!" perintah Raffi kepada sahabatnya.


" Asiap!" ucap Rehan.


Begitu mereka sampai di butik langganan Dinda dan ibunya. Mereka berempat pun kemudian turun dan membantu Elena untuk mendapatkan pakaian yang pantas untuk dia gunakan ke acara pernikahan Marcella dan Zidane.


" Cepatlah Elena. Kau pilih pakaian sesuai dengan seleramu. Tapi ingat! Pakaian itu harus yang menutupi auratmu!" perintah Raffi sambil duduk di sofa yang ada di dalam butik itu yang diikuti oleh Rehan.


Sementara Dinda dia memilih untuk tetap di mobil kakaknya. Karena dia tidak sanggup untuk melihat Raffi memberikan pakaian untuk rivalnya dalam urusan cinta. Hahaha!


" Bagaimana kalau aku membeli yang ini Raffi?" tanya Elena ketika dia membawa sebuah gamis berwarna navi yang Senada dengan pakaian yang digunakan oleh Raffi saat ini.


" Terserah kau! Kalau kau menyukainya gunakan saja. Cepatlah jangan lama-lama Elena! Kau sudah membuang waktu kami lama sekali!" ucap Raffi mulai tidak senang.


Elena tampak bahagia karena Raffi tidak protes dengan pilihan yang diambil.


Elena langsung menggunakan pakaian itu ke pesta. Dia hanya melepaskan bandrol harganya saja untuk diserahkan ke penjaga butik agar di scan dan di bayar.

__ADS_1


" Pergilah kau ke mobil aku akan mengurus yang lainnya!" ucap Raffi.


Raffi kemudian memilih salah satu pakaian gamis yang lainnya yang menarik perhatian dirinya dan membawanya ke kasir.


Setelah selesai membayar dua pakaian itu. Rafi pun langsung masuk ke dalam mobil Rehan. Raffi menyerahkan paper bag yang tadi dia pegang ke tangan Dinda.


" Ini untukmu!" ucap Raffi kepada Dinda.


" Apa?" tanya Dind terkejut.


" Gunakanlah kalau nanti kau merasa cocok dengan pakaian itu. Kalau misalkan tidak cocok kau bisa menukarnya dan pilihlah pakaian yang kau sukai!" ucap Raffi sambil tersenyum kepada Dinda.


" Ya ampun kau betul-betul tipe suami yang adil!" bocah Rehan sambil tersenyum kepada sahabatnya yang kini cemberut menatapnya.


" Berhentilah Bro untuk menggodaku terus. Dari tadi kau selalu mengatakan hal yang sama. Hati-hatilah Bro dengan kata-katamu jangan sampai itu menjadi doa suatu saat nanti kejadian. Maka Adikmu yang akan menderita!" tegur Raffi kepada sahabatnya.


" Semuanya kan kembali padamu. Apakah kau berniat untuk menjadikan mereka berdua sebagai istrimu atau tidak!" ucap Rehan sambil melempar senyum ke arah sahabatnya.


" Aku belum mempunyai niat untuk menikah jadi belum punya gambaran ataupun pandangan apapun masalah pernikahan!" ucap Raffi melemparkan pandangannya ke luar jendela.


" Aku akan meminta kepada kedua orang tuaku untuk melamarmu nanti!" ucap Elena.


" Kau dengar Gus? Elena bilang kalau dia akan melamar kamu!" Dinda mengetikkan kata-kata itu dan mengirimkannya kepada Raffi.


Ponsel Raffi berdering dan kemudian dia pun membuka pesan dari Dinda.


" Jangan khawatir Dinda! Abi dan Umiku masih lama berada di Mekah. Tidak akan ada yang menerima lamaran mereka 😀😀" ketik Raffi kemudian dia mengirimkannya kepada Dinda yang dihadiahi kerlingan mata kesal kepada Elena.


Elena kemudian menghubungi ayahnya ingin mengatakan apa yang saat ini ada di kepalanya. Tentang melamar Raffi kepada orang tuanya.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Elena kepada ayahnya yang saat ini ada di Mesir.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Ya Allah! Elena akhirnya kau menghubungi papa. Di mana kau sekarang?" tanya ayahnya Elena dengan penuh kekhawatiran terhadap sang putri.


" Elena saat ini ada di Jakarta apa Papa bisa nggak datang ke Jakarta?" tanya Elena.


" Mau ngapain Papa ke Jakarta? Di sini banyak pekerjaan yang harus Papa urus!" tanya ayahnya Elena.

__ADS_1


" Tentu saja untuk melamar calon menantu Papa untuk apa lagi emangnya?" tanya Elena.


Sontak Ketiga orang lainnya yang ada di dalam mobil itu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Elena.


Dinda sampai terbatuk-batuk karena terkejut mendengarkan perkataan Elena.


Begitu pula dengan Rehan dan Raffi. Bagaikan disambar petir di siang bolong.


" Elena kau jangan bercanda! Om Jangan dengarkan dia!" ucap Raffi berusaha untuk merebut ponsel di tangan Elena.


" Apaan sih fi? Aku sedang bicara dengan Papaku untuk datang kemari dan melamarmu lalu menentukan tanggal pernikahan kita berdua dengan segera. Agar tidak ada lagi gadis lain yang memimpikan untuk menjadi istrimu. Apa kau mengerti?!" ucap Elena berusaha mempertahankan ponselnya dari tangan Raffi yang hendak merebutnya.


" Berikan ponsel itu Elena! Aku ingin bicara dengan ayahmu! Rehan hentikan dulu mobilnya!" perintah Raffi kepada Rehan.


Rehan kemudian menghentikan mobilnya dan menunggu Raffi bisa mendapatkan ponsel dari tangan Elena.


Setelah Raffi berhasil mendapatkan ponsel itu dia pun langsung kembali memanggil nomor ayahnya Elena.


" Ada apa Elena Kenapa tadi terdengar ada keributan di dalam sana?" tanya Ayahnya Elena keheranan.


" Maaf Om ini saya Raffi tolong untuk perkataan Elena tadi jangan ditanggapi!" ucap Raffi ketika panggilan teleponnya diangkat oleh ayahnya Elena.


" Perkataan yang mana? Tadi dia mengatakan banyak hal kepadaku!" tanya ayahnya Elena tampak tidak senang.


" Masalah Elena yang meminta untuk Om datang ke Indonesia dan datang melamarku! Tolong jangan dengarkan itu om Elena memang senang bercanda tetapi kali ini bercandanya sungguh kelewatan!" ucap Raffi menjelaskan kepada ayahnya Elena.


" Tidak Pah! Elena serius! Elena ingin Papa segera melamar dia kepada kedua orang tuanya dan tentukanlah tanggal pernikahan kami berdua!" ucap Elena sambil berteriak di depan ponsel yang sedang dipegang oleh Raffi saat ini.


" Diamlah Elena! Jangan membuat kegaduhan di dalam mobil ini apa kau akan bertanggung jawab kalau kita sampai mengalami kecelakaan?" tegur Rehan merasa tidak suka dengan kelakuan Elena yang menurutnya terlalu berlebihan.


Mendengar teguran dari Rehan sebagai pemilik mobil itu Elena kemudian kembali duduk di tempatnya dan menatap Raffi dengan jengkel.


" Sekali lagi mohon maaf Om. Saya akan segera menyuruh Elena untuk kembali ke rumah Om!" ucap Raffi.


" Apakah Elena saat ini sedang ada di pondok orang tuamu?" tanya ayahnya Elena.


" Ya Om. Tadi malam tiba-tiba dia datang ke pondok kami dan mengatakan ingin menginap di sana. Karena saya tidak tega membiarkan seorang gadis harus tidur di luar. Maka saya menyuruh dia tidur di kamar saya. Om jangan salah paham! Tetapi saya tidur di asrama putra Om! Jangan salah paham!" ucap Raffi menjelaskan segalanya kepada ayahnya Elena. Agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka yang nantinya pasti akan berbuntut tidak baik bagi hubungan mereka semua.

__ADS_1


Sejak tadi Dinda hanya bisa mengelus dadanya. Menahan kesabaran di hatinya yang pilu. Mendengarkan segala hal tentang Elena dan laki-laki yang dia cintai sejak lama.


__ADS_2