
Mari kita menengok keadaan Dipta saat ini. Setelah berhasil membangun sebuah pondok pesantren bersama dengan Ali dan Nur, Dipta memutuskan untuk pindah ke Surabaya. Dia ingin memulai lembaran baru hidupnya dan berusaha melupakan masa lalunya.
"Tuan Dipta, kalau nanti kita sudah sampai di Surabaya. Apakah tugas kami masih sama seperti keadaan waktu di Jakarta?" tanya Merry.
"Lah, emang ada tugas apalagi untuk kamu, Merry? Selain mengerjakan apa yang sudah biasa kau kerjakan di rumah? Apa kamu kali ini mau alih profesi menjadi sekertaris atau menjadi seorang manajer?" tanya Dita yang sontak mengundang tawa semua orang yang ada di mobil itu.
"Memangnya bisa Tuan? Kalau saya jadi manajer di perusahaannya tuan?" tanya Merry dengan sumringah.
"Bisa kalau saya menginginkan perusahaanku hancur hari ini juga! Hahahaha!" jawaban Dipta sontak mengundang tawa mereka semuanya.
"Mer kamu tuh harus terima nasibmu, jadi babu! Udah, nggak usah banyak gaya. Kerjakan saja tugasmu pasti kamu akan menemukan kebahagiaanmu juga!" ucap sopirnya Dipta sambil terus tertawa.
"Kita kan boleh, untuk bermimpi dan ingin mempunyai kehidupan yang lebih baik. Tidak ada orang yang melarang untuk kita bermimpi dan bercita-cita!" ucap Merry dengan penuh percaya diri.
"Saya tidak melarang kalian untuk bermimpi, maupun bercita-cita tinggi hanya saja, kalian harus___ apa ya___Bahasanya, ya? Kalian harus menyesuaikan dengan kemampuan kalian. Agar kalian tidak merasa kecewa Ketika menemukan kegagalan. Kalian ngerti kan?" ucap Dipta kepada para pekerja yang setia menemaninya selama ini.
"Iya saya paham, Tuan!" jawab mereka semuanya dengan kompak.
Perjalanan jakarta-surabaya bukanlah perjalanan yang singkat. Sehingga mereka harus banyak berhenti di titik peristirahatan. Walau untuk sekedar makan maupun tidur untuk melepas kelelahan.
Ketika Dipta selesai makan dan hendak pergi ke toilet untuk mencuci tangan, tiba-tiba saja Dipta ditabrak oleh seorang perempuan yang asing di matanya.
"Maafkan saya! Saya tidak sengaja menabrak anda! Maafkan saya!" ucap perempuan itu sambil menundukkan kepalanya meminta maaf kepada Dipta.
"Tidak apa-apa! Lupakan saja, saya juga salah karena berjalan tidak melihat ke sekeliling!" ucap Dipta. Tetapi, tiba-tiba saja perempuan tersebut jatuh pingsan tepat di hadapan Dipta, sehingga membuat Dipta merasa terkejut dan khawatir dengan keadaannya.
"Mba, mba! Kamu kenapa?" akhirnya Dita pun memutuskan untuk membawa perempuan itu mobil agar bisa dibentuk oleh Laila dan juga Merry.
"Eh, Tuan kita bawa perempuan!" ucap para pekerja yang bekerja di rumahnya.
" Wah baru kali ini melihat Tuan membawa seorang perempuan!" ketika suasana di mobil itu menjadi heboh, gara-gara melihat kita yang menggendong seorang perempuan di tangannya.
__ADS_1
"Merry, cepat kau telepon seorang dokter atau, atau kita bawa ke rumah sakit saja? Dia tiba-tiba saja pingsan tadi di toilet!" ucap Dipta dengan panik.
"Yah, penonton kecewa! Kirain tadi Tuan membawa calon nyonya besar!" ucap Laila yang sukses mendapatkan tatapan tajam dari Dipta yang merasa kesal dengan pemikiran para bawahannya saat ini.
"Dia Siapa tuan Kenapa bisa bersamamu?" tanya Laila.
"Makanya kalau ada orang bicara itu di dengarkan. Jangan asal saja mengambil kesimpulan!" sengit Dipta merasa kesal.
"Maaf Tuan bukan begitu maksudnya saya!" ucap Merry.
"Ya udah cepet buru, bantu dia biar cepat siuman. Kenapa kok malah di lihatin saja,huh?" perintah Dipta.
"Aduh gimana? Kami nggak ngerti caranya Tuan! Udah kita bawa aja ke rumah sakit daripada nanti salah-salah. Nih anak orang nih, bisa-bisa kita nanti yang disalahkan!" ucap supirnya Dipta.
"Kalian ini, cuma pada pinter ngerumpi saja! Disuruh nyadarin orang pingsan saja gak bisa! coba di cari itu obat kaya putih atau gimana!" perintah Dipta sudah mulai hilang kesabaran.
Marry akhirnya mencari sebuah parfum di dashboard mobil Tuannya, yang selalu tersedia di mobil itu.
"Aduh Tuan! Cuma ini yang ada di mobil ini. Udah deh Tuan nggak usah cerewet! Yang penting kan perempuan bangun dan kita segera bisa melanjutkan perjalanan. Jangan sampai nanti kita dikira menculik anak orang lagi!" ucap Laila mencoba untuk membuat Dipta mengerti apa yang sedang dia lakukan.
"Betul Tuan kalau nanti kita dikiri menculik anak orang bisa bahaya ini!" ucap sopirnya Dipta.
"Lagian Tuan Ini, kenapa sih? Punya hobi sekali menyusahkan diri sendiri. Kenal juga nggak nih sama perempuan. Main bawa-bawa aja ke mobil kita. Kan, jadinya menghambat perjalanan kita lagi!" protes Laila merasa kesal juga.
"Kalian sudah pada berani ya sama saya ya? Dari tadi pada protes terus! Bukannya cepat dikerjain tuh tugasnya!" kesal Dipta.
"Ya maaf tuan! Habisnya Tuan sih, punya hobi kayak gitu! Sukanya nyusahin diri sendiri! Kan, akhirnya kita-kita yang di marahin!" Protes merry.
"Menolong orang itu penting! Bagaimana ini kalo dia nanti di toilet ada yang memperkosa orang, huh? Apa kamu bisa bisa bertanggung jawab seperti itu? Apa sih? Cuman tibang di suruh buat bikin siluman aja pada ribet banget jadi orang! Percuma saya gaji kalian semua! Udah sana, pada minggir!" akhirnya, Dipta yang kini duduk di depan perempuan itu. Semua pekerjanya minggir.
Di saat Dipta akan memberikan minyak wangi ke hidung perempuan itu, tiba-tiba saja perempuan itu bangun, dan mengatakan bahwa kepalanya pusing.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kau sudah bangun! Aku sangat khawatir. Bagaimana dengan keadaan mu sekarang?" tanya Dipta.
"Aku pusing! Maaf ya, tadi tiba-tiba saja blank kayak gitu! Ya udah aku mau pulang ke rumahku!" ucapnya, tapi belum juga melangkah jauh, perempuan itu kembali jatuh. Mungkin karena tidak bertenaga atau mungkin karena masih sakit.
Dipta sontak menahan tubuh Perempuan itu, sehingga tanpa sengaja, pandangan mereka bersirobok. Dipta terpesona melihat kecantikan perempuan itu sehingga membuat dia untuk beberapa saat seperti melamun.
"Maafkan saya! Saya hanya menahan supaya kamu tidak jatuh!" ucap Dipta gugup.
Para pekerjanya sekarang pergi, melihat pemandangan sekitar. Memberikan waktu kepada tuannya untuk menyadarkan perempuan itu.
"Perkenalkan nama saya Anjani nama kamu siapa?" ucapnya sambil tersenyum.
"Nama saya Dipta!" ucap Dipta gugup.
Visualisasi Anjani
"Apakah kamu masih merasakan pusing? Atau mungkin saya bisa membantumu untuk mengantarkanmu ke rumah kamu. Apa kamu masih sakit? Bahaya kalau terjadi apa-apa di jalan!" ucap Dipta khawatir.
"Saya tidak apa-apa! Rumah saya nggak jauh kok dari sini. Kalau kamu mau mengantarkan saya, saya sangat berterima kasih sekali!" ucap Anjani.
"Ya sudah ayo! Kau duduk di depan, biar saya antarkan kamu ke rumahmu!" ucap Dipta.
kita pun kemudian mengantarkan Anjani sampai ke rumahnya. Sampai Dipta lupa untuk membawa para pekerja yang bekerja di rumahnya.
"Tuh kan, kita dilupakan sama Tuan! Gara-gara perempuan itu. Aduh bahaya nih, kalau Tuan nggak balik lagi ke sini. Meni kita nggak bawa uang sama sekali! Barang-barang semua di mobil. Bagaimana nasib kita ini?" Merry sudah merasa sangat khawatir.
"Tidak mungkinlah Tuan Dipta melupakan kita. Sudahlah tuan pasti hanya akan pergi mengantarkan perempuan itu ke rumahnya. Sudahlah kita tunggu saja tuan pasti kembali lagi menjemput kita!"ucap supirnya Dipta.
"Lalu apa yang akan kita lakukan? Kalau Tuan tidak kembali lagi?" ucap Laila.
__ADS_1
"Nggak usah khawatir ini kan masih daerah jakarta. Masih deket ke rumah Tuan Dipta! Nanti aku bisa minta tolong temanku untuk menjemput kita!" ucap Merry.