Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
64. Dipta, Sabahatku


__ADS_3

"Bukankah kamu sudah memutuskan untuk bercerai dengan Mas? Lalu untuk apa kamu ada di sini? Pulanglah masih tak ingin melihat mukamu!" ucap Ali dengan wajah memerah karena menahan amarahnya.


" Mas kamu salah paham Nur tidak berniat seperti itu! Dia hanya mengungkapkan perasaannya kepada saya, tolong jangan diambil hati!" ucap Dipta merasa tidak enak melihat hubungan suami istri itu terus saja merenggang.


"Sudahlah kamu tidak usah membela dia lagi! Aku sudah mendengar sendiri dengan telingaku, bahwa dia memang berniat ingin bercerai denganku! Kalau memang dia ingin bercerai denganku, Saya rasa tidak ada hal yang perlu kami bicarakan lagi! Cukup bertemu di pengadilan saja!" Ali lalu memalingkan wajahnya ke tembok.


"Udahlah Dip, kita pulang saja! Aku males tau nggak sih? Berhadapan dengan orang sombong macam dia!" Nur sudah menatap nyalang ke arah suaminya yang saat ini bahkan tidak ingin melihat Nur.


"Baiklah Mas, Kami pergi dulu! Nanti setelah kalian tenang, kalian bisa bicarakan lagi masalah kalian baik-baik. Ingatlah anak kalian! Jangan hanya ego dan kesombongan kalian yang kalian pegang, masa depan anak Kalian sedang dipertaruhkan di sini. Apakah kalian paham?" Ucap Dipta lalu mengajak Nur untuk pulang dan meninggalkan rumah sakit itu. Hati Dipta benar-benar galau sekarang.


"Aku kan sudah bilang, dia pasti ngusir kita. Kamu sih nggak denger apa yang aku katakan!" cicit Nur emosi.


"Udah lupakan itu! Ayo kita makan malam aja, gue yakin kamu pasti lapar kan? Sejak tadi siang kita belum makan loh!" ucap Dipta sambil mengarahkan mobilnya kesebuah restoran yang tampak mewah.


"Aku sebenarnya malas mau makan, tapi nggak papa deh aku temanin kamu!" ucap Nur.


"Nggak bisa, kamu harus ikut makan denganku! Pokoknya aku nggak nerima penolakan kamu, dengar itu!" Dipta menatap Nur dengan mata elangnya.


"Tau nggak sih? Kamu itu lebih galak loh, daripada suami aku sendiri!" Dipt tertawa mendengar pengakuan Nur.


"Aku galak juga kan demi kebaikan kamu! Kalau kamu tidak mau makan, terus anakmu itu mau minum susu apa? Dia tuh masih minum susu ASI loh, kalau kamu nggak mau makan, apa ASI kamu itu ada isinya?" ucap Dipta.


" Iya Bos galak!" ucap Nur, melupakan sejenak kemarahan di hatinya gara-gara suaminya yang sudah mengusirnya.

__ADS_1


"Nur kamu tidak boleh ikut-ikutan emosi seperti suami kamu, kalau kalian emosi terus seperti itu, kapan masalah kalian akan selesai?" tanya Dipta.


"Aku udah nyerah tahu, Dipta! Rasanya memang rumah tangga kami itu udah nggak sehat, mungkin perceraian udah jalan itu baik untuk kami berdua!" Nur menarik nafas dalam-dalam. Merasa pusing dengan masalah rumah tangganya yang tak kunjung usai.


"Kalian berdua itu sebetulnya saling merindukan, saling mencintai! Tetapi nggak ada satu orang pun yang mau mengalah! Semuanya mentingin ego, semuanya mentingin kesombongan sendiri! Gua aja yang lihat ini pusing tau nggak sih?" Dipta geleng-geleng kepala melihat keadaan rumah tangga sahabatnya.


"Dip, Loe itu kan masih muda, kenapa si lo nggak menikah lagi aja?" tanya Nur, sambil membolak balikan buku menu.


"Belum nemu cewek yang bisa menggugah hati gue!" ucap Dipta sambil memesan beberapa makanan.


"Sok kecakapan sih loe! Makanya para cewek pada takut sama Loe!" Dipta tertawa mendengar analisis sahabatnya.


"Udah nggak usah bahas masalah yang nggak penting! Ayo kita makan aja! Kasihan Raffi di rumah sendiri, ditinggal terlalu lama!" ucap Dipta.


"Semoga aja ya, Merry bisa aku titipin Raffi, aku sebetulnya was-was lo! Secara, dari dulu, Merry itu selalu aja sinis dan iri dengki sama gue, selalu aja nggak suka sama gue!"


"Udah lupakan aja! Nggak penting semua itu! Sekarang kamu istirahat, biar besok bisa menghadapi lagi suami kamu! Aku berharap agar kalian cepat bisa menyelesaikan masalah kalian!" Ucap Dipta setelah sampai di rumahnya.


Nur langsung masuk ke rumah dan mencari Raffi. Tampak Raffi sedang bermain dengan Merry dan Layla. Nur merasa senang anaknya baik-baik saja. "Anak mamah! Apa kabar sayang?" Nur mencium Raffi dengan penuh kerinduan.


"Raffi sangat lucu lo mbak, sekarang aku jadi tahu alasan kenapa Pak Dipta begitu sayang sama Raffi!" ucap Merry tersenyum. Nur merasa bahagia mendengar hal itu.


"Terima kasih ya udah jagain anakku! Semoga Allah yang malas kebaikan kalian berdua!" Nur lalu membawa Raffi kedalam kamarnya dan menyusui anaknya.

__ADS_1


"Ini aku bawakan untuk makan malam kalian! Terima kasih ya karena sudah menjaga Raffi dengan baik." Dipta lalu masuk ke kamarnya juga.


Dipta ingin mandi setelah seharian berada di luar tubuhnya serasa sangat lengket. Setelah selesai mandi, Dipta membaringkan tubuhnya di kasur, memikirkan apa saja yang sudah terjadi selama sehari ini.


Ya sejak mengenal Nur dan Raffi, kehidupan Dipta terasa begitu berwarna, mempunyai banyak persoalan dan mempunyai begitu banyak kepelikan. Tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata Mamahnya, " Assalamualaikum Mah ada apa?" Tanya Dipta sambil membaringkan tubuhnya di ranjang. Sebenarnya Dipta ingin tidur, seharian dirinya tidak tidur siang, berlarian kesana kesini mengurus masalah sahabatnya.


" Dipta, mau sampai kapan kamu mengurus perempuan dan anaknya itu huh? Lepaskan mereka! Mama tidak suka kamu masih menyibukan dirimu untuk mengurusi mereka!" mamanya Dipta langsung ngomel-ngomel.


"Kalau mama cuma mau marah-marah doang, Aku tutup ya! Aku capek Mah, ingin tidur! Udah dulu ya, selamat malam!" Dipta langsung mematikan ponselnya kemudian memberikan tubuhnya kembali.


Hari ini adalah hari yang terberat bagi Dipta. Tubuhnya sangat lelah, hanya dalam waktu sejenak Dipta sudah terlelap dalam tidurnya.


Keesokan harinya, Dipta terbangun dengan tubuh yang lebih fresh. Setelah salat subuh Dipta kemudian pergi berolahraga di depan rumahnya. Nur yang melihat Dipta sudah bangun, menyapa Dipta.


"Gimana tidur loe, Nyenyak bukan?" tanya Nur sambil mengulas sebuah senyum. Dipta mengangguk. Saat melihat Raffi, Dipta langsung mencium bocah menggemaskan dan lucu tersebut.


Apabila dilihat dari jauh mereka berdua tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Nur selalu merasa nyaman ketika berada di dekat Dipta. Dipta yang begitu dewasa dan selalu mengayomi selalu berhasil membuat merasa terlindungi.


"Apa kegiatan loe pagi ini Dip?" tanya Nur sambil menyuapi Raffi. "Ke kantor aja, sih! Seperti biasa. Kenapa memangnya?" tanya Dipta.


"Gue pengen nyobain cari kerja. Gue pengen coba untuk mau manfaatin ijazah gue!" ucap Nur.


"Loe kalau mau kerja, bisa di kantor gue. Nanti gue Carikan posisi yang cocok buat loe!" lagi dan lagi, Dipta selalu menjadi dewa penolong bagi Nur.

__ADS_1


__ADS_2