Lurah Pondokku Calon Suamiku

Lurah Pondokku Calon Suamiku
117. Dinyatakan Fit


__ADS_3

Tidak lama kemudian, dokter yang sedang menangani Anjani keluar dari ruangan UGD.


"Alhamdulillah! Untuk sementara kondisinya masih bisa diselamatkan. Tetapi kita harus segera melaksanakan operasi, mengangkat seluruh sel kanker yang ada di otaknya. Operasi ini tidak bisa ditunda lagi!" ucap Dokter memberikan keterangan kepada mereka semua. Yang saat ini sedang menunggu Anjani di sana.


Tidak lama kemudian, ayahnya Anjani nampak tergopoh-gopoh masuk ke rumah sakit dan dia langsung menemui istrinya.


"Bagaimana keadaan putri saya dokter?" tanya ayahnya Anjani dengan penuh kekhawatiran terhadap keselamatan putrinya.


"Untuk sementara bisa diselamatkan, Pak! Tapi kita harus segera melaksanakan operasinya tidak bisa ditunda lagi!" ucap Dokter tersebut, sambil menetap ke arah ayahnya Anjani yang sedang khawatir.


"Segera lakukan dokter! Saya ingin yang terbaik untuk anak saya. Tolong segera lakukan dokter!" ucap ayahnya Anjani sambil memegang tangan dokter itu.


"Baiklah, Pak kalau begitu! Saya akan segera mempersiapkan operasi Putri bapak. Kalian harus siap mental untuk menerima segala situasi terburuk dan banyak-banyaklah berdoa untuk Putri kalian!" telah berpamitan dokter itu kemudian meninggalkan mereka semua.


Setelah kepergian Dokter, ayahnya Anjani langsung mendekati istrinya.


"Bagaimana dengan administrasi Apakah sudah di urus?" tanya ayahnya Anjani kepada istrinya.


"Alhamdulillah semuanya sudah saya urus, Pak! Dan saya juga sudah memesankan kamar perawatann untuk Anjani. Semuanya sudah saya bayar! Bapak nanti tinggal membayar untuk biaya operasi saja!" ucap Dipta menjelaskan kepada ayahnya Anjani.


"Terima kasih Nak Dipta, sudah menolong anak dan istri saya. Semoga Allah yang membalas kebaikan Nak Dipta!" ucap ayahnya Anjani sambil memegang tangan Dipta yang saat ini sedang berbicara dengannya.

__ADS_1


"Iya, Pak! Tidak apa-apa.Tenang saja, Pak. Kita sebagai sesama manusia kan, memang harus saling menolong. Apalagi saya dan Anjani adalah teman. Saya tidak bisa menutup mata begitu saja, ketika melihat teman saya membutuhkan saya!" ayahnya Anjani manggut-manggut, sambil memegang tangan Dipta. Kemudian beliau duduk mendekati istrinya yang masih menangis dengan sedih.


"Dipta, Mama tidak bisa lama-lama di sini. Karena mama harus mengurus perusahaan Mama. Ini sejak tadi Sekretaris mama terus menghubungi, minta Mama untuk segera kembali ke perusahaan!" ucap ibunya Dipta kepada putranya.


"Iya, Mah! Mama tidak apa-apa pulang saja. Biar Dipta di sini dulu, untuk menemani orang tuanya Anjani!" ucap Dipta kepada ibunya.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan mu, Dipta? Di sana juga membutuhkan kamu! Setelah kamu pergi ke Kalimantan untuk menolong korban bencana waktu itu. Perusahaan jadi kacau balau. Tengoklah dulu perusahaanmu. Dan setelah semuanya baik-baik saja, kau bisa kembali lagi ke sini!" ucap ibunya kepada Dipta.


Dipta tampak berpikir dan memperhatikan kedua orang tuanya Anjani. Yang saat ini sedang bersedih hatinya. Karena memikirkan keadaan putrinya yang belum juga keluar dari ruang UGD. Padahal dokter dari tadi sudah keluar dari sana.


"Nak Dipta, kalau mau pulang, pulang saja, tidak apa-apa. Om sama Tante bisa menunggu di sini. Nanti kalau ada apa-apa kami akan menghubungi Nak Dipta!" ucap ayahnya Anjani seperti mengerti pemikiran Dipta saat ini.


"Tapi saya tidak akan tenang, kalau belum melihat dengan mata kepala sendiri, Anjani dimasukkan ke ruang perawatan!" ucap Dipta, sambil menatap mereka bertiga.


Tidak lama kemudian, nampak Anjani keluar dari ruang UGD dan langsung ditempatkan di ruangan yang sudah dipesan oleh Dipta.


Ketika Dipta akan berpamitan untuk pulang, kepada kedua orang tuanya Anjani. Tiba-tiba saja Rianti melintas di ruangan perawatan yang ditempati oleh Anjani saat ini.


"Dipta?? Sedang apa kau di rumah sakit? Bukannya harusnya kau sudah pulang? Bukankah kondisimu sudah dinyatakan Fit kan sama dokter?" tanya Rianti tampak penasaran dengan keadaan Dipta saat ini.


"Aku baik-baik saja aku sedang mengantarkan teman yang sedang dirawat di sini Kamu sendiri gimana? Bagas sudah dinyatakan Fit atau belum?" tanya Dipta kepada Rianti.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Mas Bagas juga sudah dinyatakan Fit oleh dokter. Hari ini sih, kita rencananya akan pulang. Nih, Saya mau mengurus administrasinya!" Rianti sambil menunjukkan kertas rekomendasi dokter yang menyatakan suaminya sudah fit dan dibolehkan untuk pulang.


"Syukurlah! Alhamdulillah kalau Bagas sudah bisa pulang semoga kesehatannya tambah baik ya?" ucap Dipta sambil tersenyum.


Kalau orang lain tahu, tentang hubungan antara Rianti dan Dipta di masa lalu, pasti mereka akan terkejut melihat keakraban mereka berdua saat ini. Mereka duduk berdua dulu adalah sepasang kekasih yang berpisah karena kesalahpahaman.


Akhirnya setelah pernikahan Rianti melihat bahwa Riyanti adalah perempuan yang baik, Dipta bisa berdamai dengan perasaannya dan sekarang dia mulai bersikap baik terhadap Riyanti. Padahal dulu, jangankan bertutur sapa, bahkan sekedar melihat di jalan saja Dipta sudah melarikan diri.


"Ya sudah yah, Rianti! Saya harus pulang dulu. Mau kembali ke kantor. Banyak sekali urusan di kantor yang harus saya handle. Setelah kepergian saya ke Kalimantan, semuanya kacau balau!" ucap Dipta.


Dipta kemudian berpamitan kepada Rianti. Rianti pun kemudian mengangguk dan mengizinkan Dipta untuk segera pergi dari rumah sakit.


Sementara Riyanti sendiri, dia langsung pergi ke ruang administrasi untuk mengurus kepulangan suaminya hari ini.


Setelah semuanya beres, Rianti langsung menemui mertua dan juga suaminya yang sudah bersiap-siap untuk segera pulang ke apartemen mereka.


"Ayo, semuanya sudah beres kita tinggal pulang saja!" ucap Rianti sambil menggandeng tangan suaminya. Yang kini sudah mulai kembali cerah. Setelah dinyatakan sehat oleh dokter.


"Hati-hati Bagas! Tidak usah terburu-buru! Yang penting kita selamat sampai rumah!" tegur ibunya Bagas ketika melihat Bagas mengendarai mobilnya dengan ngebut.


"Bagas sudah tidak sabar untuk kembali ke rumah, umi!" Bagas sambil tersenyum ke arah ibunya, yang selama dirinya berada di rumah sakit. Ikut tinggal bersamanya, menemani dirinya dan Rianti di rumah sakit.

__ADS_1


"Kita bisa sampai ke rumah, kalau masih punya nyawa, Bagas! Lah, kalau sudah meninggal, kita tidak mungkin bisa sampai ke rumah, Bagas!" ucap ayahnya Bagas pelan, dia memperingatkan anaknya agar Bagas mengendarai mobil dengan hati-hati dan tidak ngebut. Karena itu sangat berbahaya.


"Betul, Mas, apa kata Abah, Mas! Lebih baik kita pelan tapi selamat daripada ngebut, tapi kita meninggal karena kecelakaan yang diakibatkan karena kecerobohan sesaat. Dan kita akan menanggungnya selamanya! Hanya dibutuhkan satu detik, untuk melakukan sebuah kesalahan. Tapi, dibutuhkan waktu yang berkepanjangan untuk memperbaikinya! Lebih baik kita mencegah sesuatu yang buruk daripada kita harus memperbaikinya!" ucap Rianti, mencoba untuk menasehati suaminya, agar bisa menyetir dengan tenang dan tidak terburu-buru.


__ADS_2